
Lunika dan Vellyn dalam perjalanan pulang, keduanya nampak cemas. Namun, lebih cemas dengan Lunika yang tengah bertemu dengan seseorang yang ia takuti sejak dirinya tinggal bersamanya.
"Kak Lun, laki laki tadi itu siapa?" tanya Vellyn penasaran.
"Maafkan kakak yang belum bisa menceritakannya denganmu sekarang juga, lain waktu akan kakak ceritakan pada kamu. Kakak mohon, jangan paksakan kakak untuk menceritakannya." Jawab Lunika yang belum siap untuk berterus terang.
"Oooh, tidak apa apa kok Kak. Vellyn dapat mengerti maksud Kakak, Vellyn juga tidak akan memaksa kak Lun untuk bercerita. Karena mungkin privasi kakak, maafkan Vellyn Kak." Ucap Vellyn yang masih menyimpan rasa penasarannya.
'Aneh saja dengan pak Yitno, pasti ada sesuatu dengan Kak Lun.' Batin Vellyn mencoba mencernanya. Sedangkan Lunika sendiri masih dengan posisinya sambil menatap luar sembari melamun.
'Bang Martha, kenapa aku harus bertemu dengannya? apakah bang Martha mau mencelakaiku? apa benar yang dikatakan suamiku. Semoga saja ini semua hanya kebetulan, dan tidak ada maksud lain dari Cece untukku.' Batin Lunika penuh kecemasan dengan lamunannya.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, tidak terasa sudah sampai di depan rumah. Lunika masih dengan lamunannya, tanpa ia sadari telah sampai berada di depan rumah.
"Kak Lun, kita sudah sampai." Panggil Vellyn membuyarkan lamunannya.
"Nona, kita sudah sudah sampai di depan rumah." Panggil pak Yitno ikut membuyarkan sejuta lamunan Nona mudanya.
Zicko yang sudah siap siaga berada di depan rumah menunggu sang istri, Zicko langsung memberikan kode pada Vellyn untuk turun.
"Kakak Pertama, Kak Lun kenapa? kenapa seperti depresi begitu? aku panggil tidak mau menyahut. Tadi dia seperti bertemu dengan seseorang dengan ketakutan." Tanya Vellyn dengan rasa penasaran.
__ADS_1
"Masuk lah ke rumah, nanti kamu akan tahu jawabannya. Minggir, kakak mau masuk kedalam mobil." Perintah Zicko pada Vellyn.
"Kasihan sekali Kak Lun, seperti menyimpan trauma yang begitu mendalam. Semoga Kak baik baik saja, aku tidak tega melihatnya." Ucapnya lirih sambil berjalan masuk ke rumah.
Kini, didalam mobil hanya ada Zicko dan istri. Dilihatnya Lunika yang masih terlihat terhanyut dengan lamunannya karena trauma.
Dengan pelan, Zicko menyandarkan istrinya dibagian dada bidangnya dan memeluknya.
"Sayang, ada apa denganmu? ceritakanlah semua beban yang ada pada dirimu. Jangan kamu simpan sendiri masalahmu, apakah kamu bertemu dengan seseorang dimasa lalamu? jmceritkanlah." Tanya Zicko dengan sangat hati hati sambil mengusap lengannya dengan lembut dan mencium pucuk kepalanya.
"Aku seperti ditarik kembali ke masa laluku, entah kenapa aku merasa sangat takut." Jawab Lunika dengan cemas dan ia melingkarkan kedua tangannya dipinggang suaminya.
"Sebenarnya apa mau mereka tentang aku? aku ini orang yang tidak berpunya, bahkan aku tidak mempunyai apa apa yang bisa aku banggakan." Ujar Lunika yang sulit untuk memikirkan tentang dirinya sendiri.
"Kamu tahu? kamu adalah perempuan yang sangat berharga, makanya banyak yang menginginkan kamu. Sebuah kebencian yang di tuangkan padamu, sebagaimana dulu Papaku. Mungkin sama, tapi motifnya aku rasa tidak hanya itu. Entah lah, aku hanya bisa beramsumsi sendiri tanpa aku tunjukkan pada mereka mereka. Aku takut, asumsiku tidak benar adanya." Ucap Zicko yang masih dengan posisinya, ia berusaha untuk membuat istrinya tidak begitu ketakutan dengan seseorang yang tanpa sengaja bertemu.
"Jangan jangan ... Cece masih bergabung dengan bang Martha, lalu memintaku untuk kembali. Aku takut sangat takut jika hal buruk akan terjadi padaku, sayang. Aku takut berpisah dengan kamu, aku takut masa laluku akan terulang kembali." Ujar Lunika dengan cemas dan menangis.
"Sudah, kamu jangan berpikiran yang tidak tidak. Percayalah dengan suami kamu ini, aku akan terus menjagamu. Aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu, aku dan keluarga akan segera menguaknya. Oh iya, malam ini kita akan ada acara jamuan dan pertemuan.Kamu siapkan diri kamu dengan baik, jangan terlalu memikirkan sesuatu yang buruk akan terjadi." Ucap Zicko meyakinkan istrinya, Lunika hanya mengangguk pasrah.
"Jamuan dan pertemuan, maksudnya kamu?" tanya Lunika penasaran, kemudian ia melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Nanti malam akan ada pertemuan dengan ibu kamu, Sore nanti pak Yitno akan jemput ibu. Karena situasi sedang tidak baik, jadi ibu kamu yang akan di jemput. Sebenarnya sih, kita semua berencana untuk mendatangi ibu kamu di rumah. Tapi kita lebih mementingkan keselamatan kamu, mau tidak mau ibu kamu yang akan di jemput." Jawab Zicko memperjelas apa yang dimaksudkan nya.
"Benarkah? tapi aku takut jika ibu yang akan menjadi sasarannya. Kalau di perjalanan ibu di hadang bagaimana? aku takut, sayang."
"Kenapa mesti takut? pak Yitno sudah berangkat, tapi tidak dengan mobil rumah. Penampilannya pun sudah dirubah sedemikian rupa, jadi tidak akan mengenalinya. Kamu jangan khawatir, sebelumnya memang sudah dilakukan dengan cara sedemikian rupa untuk ridak mencurigakan. Jawab Zicko terus berusaha meyakinkan istrinya.
"Semoga saja, aku hanya bisa berdoa untuk keselamatan ibu." Ucap Lunika yang masih khawatir akan keselamatan ibunya.
Sedangkan di sebuah rumah yang cukup megah dan besar, ada sosok yang tengah berhadapan dengan kedua anak buah kepercayaannya.
"Da*sar! kalian berdua memang tidak berguna! nangkap bocah ingusan saja kalian bo*doh! aku tidak mau tahu, bawa bocah ingusan itu kehadapanku! apapun caranya." Bentaknya dengan sorot matanya yang tajam.
"Tapi Bos, bocah ingusan itu sudah masuk ke keluarga Wilyam. Bagaimana caranya kita bisa menculiknya? itu sangat sulit."
"Itu semua akibat kebodohan kalian berdua, tau! hanya mengurus satu bocah ingusan saja kalian sangat bo*doh! sampai berapa tahun coba! Veronika tidak dapat kalian temukan." Bentaknya dengan penuh amarah.
'Gila aja, ngatain aku bo*doh! tanpa dipikir dirinya juga bo*doh. Mencari Veronika saja tidak mampu, tapi menyalahin anak buahnya. Kalaupun aku tidak butuh uang banyak, aku tidak sudi dijadikan budaknya bertahun tahun.' Batin bang Martha penuh kekesalan.
Sedangkan Zicko yang masih berada didalam mobil mencoba merayu istrinya untuk segera turun dari mobil.
"Sayang, ayo kita turun. Kasihan yang lainnya tengah menunggumu, mereka semua juga khawatir denganmu. Maka dari itu, kamu jangan takut tidak selamat. Kamu pasti akan baik baik saja, percayalah dengan suami kamu ini." Ucap Zicko dengan tatapan seriusnya, Lunika mengangguk dan berusaha untuk dapat tersenyum didepan suaminya.
__ADS_1