Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Persetujuan


__ADS_3

Vellyn masih tidak percaya dengan apa yang diucapkannya langsung padanya. Kalla yang merasa tidak sendirian pun, dirinya ikut tertawa ketika melihat saudara perempuannya tidak jauh beda yang bernasib sama.


"Kalau begini ceritanya, mana bisa aku mengajak tukaran. Yang ada aku akan tambah sial yang kedua kalinya, tidak jadi deh kalau begitu." Kata Kalla yang akhirnya mengurungkan untuk bertukar posisi.


"Kalla, ayo lah kita tukaran posisi." Rayu Vellyn yang kini dirinya berusaha untuk membujuknya.


"Maaf banget deh, sepertinya aku tidak jadi tukar posisi sama kamu." Kata Kalla yang sudah merubah pendiriannya yang semula ingin sekali bertukar posisi.


Karena saudara perempuannya pun ikut mendapat masalah yang sama, Kalla lebih memilih untuk tetap pada posisi awal.


"Ayo dong, Kalla. Kita tukeran posisi, bukankah tadi kamu memintaku untuk menjadi sekretaris Romi? aku siap menerima tawaran dari kamu." Kata Vellyn yang terus merayu Kalla.


"Sudah lah, kenapa mesti tukar posisi segala. Vellyn sama Arnal, dan Kalla sama Romi. Kalian berdua juga sama pintar dan hebatnya, begitu juga dengan Romi dan Arnal, mereka berdua sama baiknya dan juga tampannya." Kata Dey asal berucap, sedangkan Kalla dan Vellyn saling menatap satu sama lain penuh keheranan dengan apa yang terucap oleh sang Kakak.


"Memangnya kita ini dalam mode perjodohan? pakai bilang sama baik nya lah, sama tampan nya lah." Tanya Kalla asal menebak.


Vellyn sendiri sudah mengetahui jawabannya pun hanya bisa diam, mau lari dari keputusan orang tua atau pun keluarganya, tiba tiba ia kembali teringat saat Bunda Aish memberi nasehat untuknya.


"Vellyn, kenapa kamu mendadak jadi bengong?" tanya Kalla yang merasa aneh dengan saudara perempuannya.


"Tidak apa apa, aku mau ikut gabung bersama Tante Aish, kamu mau ikut?" ajak Vellyn ingin mencari tempat aman. Agar dirinya tidak terus terusan memikirkan sebuah perjodohan.


"Kamu ada masalah?" tanya Kalla penasaran.

__ADS_1


"Hem, jangan pura pura tidak tahu. Lihat tuh,ada sepasang suami istri, aku jadi iri melihatnya." Jawab Vellyn beralasan.


"Ah iya, kenapa kamu tidak bilang dari tadi." Ucap Kalla yang baru menyadarinya jiki diri sendiri masih belum mempunyai pasangan.


"Hem, kamunya aja yang dari tadi tidak ada henti hentinya berbicara." Kata Vellyn, sedangkan Kalla hanya tersenyum pasta gigi.


Disaat mau pindah ruangan, tiba tiba Vellyn maupun Kalla sama terkejutnya saat sepasang matanya bertemu langsung pada orang yang dikenalnya.


"Mau kemana kalian?" tanya Zicko yang mendapati kedua saudara perempuannya yang sudah siap untuk meninggalkan ruangan tersebut.


"Aku mau buang air kecil." Jawab Kalla, disaat itu juga Vellyn langsung menyambar ucapan dari saudara perempuannya.


"Dan aku, mau buang air besar." Jawab Vellyn ikut angkat bicara.


"Alasan yang kompak, sudah sana pergi." Usir Zicko pada Vellyn maupun Kalla, sedangkan Romi dan Arnal tetap bersikap cuek terhadap perempuan yang sudah dikenalinya.


"Arnal, Romi, silahkan duduk." Ucap Zicko mempersilahkannya untuk duduk dan mengajaknya untuk mengobrol.


"Oh iya, aku dan istriku pamit dulu, ya. Aku mau menemui Kakek dan yang lainnya, kalian bertiga nikmati jamuannya." Ucap Dey berpamitan, ia tidak ingin istrinya sendirian karena ulah adiknya yang sudah pergi begitu saja tanpa mengajak kakak iparnya.


"Iya Tuan, silahkan." Jawab Arnal mengiyakan.


Setelah keluar dari ruangan tersebut, kini yang tersisa hanya tiga orang. Yakni, Zicko, Arnal, dan Romi. Ketiganya kini menikmati jamuan yang sudah disajikan di atas meja serta minumannya dari beberapa pelayan yang melayani nya.

__ADS_1


Sedangkan didalam ruangan khusus, Kakek Ganan dan yang lainnya kini tengah membicarakan sesuatu mengenai rencana yang sudah diatur sedemikian rupa.


"Apakah keputusan ini sudah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat?" tanya Tuan Zayen ingin memastikannya.


"Kita tinggal menunggu keputusannya dari pihak bersangkutan." Sahut Tuan Seyn ikut menimpali.


"Tirta, bagaimana pendapatmu?" tanya Kakek Ganan sambil mengusap bagian lututnya yang terasa nyeri karena asam uratnya yang sedang kambuh.


"Aku tetap pada pendirian ku, cucuku akan menikah dihari yang sama dan waktu yang sama bersama cucu dari Alfan." Jawab kakek Tirta dengan yakin.


"Dil ya, apapun keputusan dari cucu cucu kalian nih ya." Ucap kakek Ganan untuk membuat kesepakatan.


"Kalian ini, ngebet banget melakukan perjodohan. Apa kalian sudah yakin jika target kalian mau menerima kemauan kalian semua? pikirkan baik baik untuk kedepannya. Mereka jiwa muda, ada yang kuat mental dan ada pula yang cenderung memaksa diri." Ucap Omma Zeillyn ikut berbicara, Beliau sendiri takut jika diantara salah satunya akan ada yang tersiksa batinnya.


Semua yang ada didalam ruangan tersebut berubah menjadi hening, satupun tidak ada yang angkat bicara ketika mendengar penuturan dari Omma Zeillyn.


"Kenapa kalian semua diam? kalian semua menikah karena perjodohan 'kan? pikirkan lagi. Jangan karena ambisi, kalian semua memaksanya untuk menuruti pilihan kalian semua. Ya ... meski kenyataannya kalian berdua menjadi bucin akut, kalau jadinya bucan, kalian mau apa?"


"Baik lah, aku tidak akan memaksanya. Aku akan pertemukan mereka berdua untuk saling berhadapan, akan beri pertanyaan. Mau menerima atau tidaknya itu, terserah mereka berempat. Setidaknya aku memberi pilihan untuk mereka, bagaimana?" Kakek Alfan ikut menanggapi apa yang dikatakan oleh istrinya.


"Iya, aku setuju dengan pendapat Alfan. Aku akan memberi pertanyaan juga pada cucuku." Ucap Kakek Tirta ikut menimpali, sedang orang tuanya masing masing hanya bisa nurut dengan apa yang menjadi keputusan dari Orang tuanya masing masing. Tuan Kazza yang sebagai anak hanya diam, begitu juga dengan Tuan Viko yang hanya seorang menantu pun hanya ikut diam dan menerima keputusan dari ayah mertuanya.


"Jadi, keputusan nya Dil! ok. Ingat, tanyakan dengan pengucapan yang cukup lembut, agar penyampaian kalian itu bisa diterima dengan baik. Jangan gunakan emosi kalian hanya ingin mengejar ambisi kalian semua. Konyol sekali cara kalian untuk melakukan perjodohan tanpa dilakukan riset perasaan." Kata Omma Zeillyn yang ikut berkomentar serta mengingatkan pada saudara saudaranya maupun keponakan yang lainnya.

__ADS_1


Omma Maura dan Omma Nessa yang merasa hanya menantu dari keluarga Wilyam maupun keluarga Danuarta, Beliau hanya bisa diam dan menjadi pendengar setia.


"Baik lah, kalian bisa berbicara baik baik dengan putri kalian ataupun cucu kalian setelah jam makan malam. Jangan gunakan kalimat paksaan, biarkan jawaban itu mengalir apa adanya. Satu lagi, yang boleh berbicara dengan nya hanya orang yang sudah dekat dengannya. Karena aku yakin jika nasehat nya akan diterima dengan baik, jika penyampaiannya baik juga. Hindari kalimat ancaman, aku tidak suka itu." Ucap Omma Zeillyn dengan tegas.


__ADS_2