
Romi yang mendapati Aden yang tiba tiba datang, membuatnya sedikit kesal sebab tidak memiliki waktu bersama Lunika.
"Lun, kenapa nomor kamu tidak bisa dihubungi? kamu ganti nomor?" tanya Aden yang tiba tiba duduk disebelah Lunika. Namun, Romi sendiri tidak mau kalah dan duduk disebelah Lunika.
"Iya Den, aku ganti nomor dan juga ponselnya. Maaf, jika aku tidak bisa menghubungi kalian berdua." Jawab Lunika beralasan. Dengan cepat, Lunika segera bangkit dari posisinya. Lunika tidak ingin jika sewaktu waktu sang suami yang bisa datang secara tiba tiba dihadapannya.
"Lun, ibu pamit mau pulang. Selama kamu masih berada di rumah, jaga ibu kamu dengan baik. Jika kamu mau pulang ke tempat kerjamu, jangan lupa untuk pamitan dengan ibu." Ucap ibu Arum berpamitan dan juga memberi pesan dengannya, Lunika pun mengangguk mengerti dan mengambil beberapa macam oleh oleh untuk ibu Arum.
"Iya Bu, terima kasih banyak atas kebaikan ibu menjaga ibunya Lunika. Maafkan Lunika jika harus membuat ibu Arum kerepotan, ini ada beberapa oleh oleh untuk ibu." Jawab Lunika dan memberikan oleh olehnya kepada ibu Arum. Setelah itu, Lunika membantu sang ibu untuk kembali kekamarnya agar bisa beristirahat.
Setelah mengantarkan sang ibu sampai ke kamar. Lunika kembali menemui kedua temannya, dan berharap tidak akan ada sesuatu yang tidak diinginkannya.
"Lun, kenapa kamu pindah sih. Aku masih kangen sama kamu, tau. Oh iya Lun, besok pas mau menghadiri acara pernikahannya Hana, aku jemput kamu, ya." Ucap Aden sembari senyum pada Lunika.
"Enak saja, kamu berangkat aja sendiri. Lunika berangkatnya denganku, titik. Karena apa? karena aku lebih dulu yang mengenal Lunika, ngerti." Sahut Romi yang tidak rela jika Lunika dengan laki laki lain.
"Hem, aku mah tinggal keputusan Lunika. Aku yakin jika Lunika akan memberi keadilan, aku percaya itu." Ucap Aden dengan senyum mengembang.
"Aku tidak yakin jika Lunika memilih untuk berangkat denganmu, mustahil." Jawab Romi yang masih dengan rasa percaya dirinya.
"Aku mau berangkat sendirian saja, titik. Sekarang juga, tunjukan alamat yang dimana acara pernikahan Hana." Ucap Lunika dan bertanya alamat kepada kedua teman sekolahnya.
Romi dan Aden hanya saling bertatap muka, keduanya nampak prustasi dan kecewa saat mendengar jawaban dari Lunika.
"Lun, kenapa kamu tidak mau berangkat bersama dengan salah satu diantara kita berdua sih? hem. Bagaimana kalau kita berangkatnya bertiga, mau 'kan?" ujar Aden mencari ide. Berharap, Lunika akan mau menerima ajakannya.
__ADS_1
"Tidak, aku mau berangkat sendiri. Sepertinya akan jauh lebih baik dengan berangkat sendiri, aku bisa bernostalgia akan masa masa dulu." Jawab Lunika beralasan.
"Ya sudah kalau memang itu kemauan kamu, aku dan Romi tidak akan memaksa kamu. Baiklah, aku akan memberi alamatnya." Ucap Aden, kemudian ia memberi alamat kepada Lunika.
Setelah itu, tiba tiba ponsel milik Aden telah terdengar ada yang menelponnya. Dengan malas, Aden segera menerima telfonnya.
"Apa!!! kamu sudah pulang?" dengan reflek Aden sedikit teriak. Kemudian, ia segera mematikan panggilannya.
"Siapa yang menelfonmu? wah ... pastinya seseorang yang sepesial nih, terdengar jelas dari teriakan kamu." Ledek Romi sedikit memancing perasaab Lunika, namun sayangnya tidak mendapatkan respon sedikitpun.
'Kenapa kamu masih tidak meresponnya sih, Lun? penasaran atau apa lah. Tetap saja kamu masih cuek denganku, apakah seorang Arnal begitu istimewa dihatimu. Bahkan aku yang sudah berkali kali menyatakan perasaanku padamu, tetap saja tidak pernah kamu tanggapi.' Batin Aden dengan fokus pandangannya ke arah Lunika.
"Bro, ngelamun aja kamu ini." Ucap Romi mengagetkan, Aden pun tersadar dari lamunannya ketika Romi tengah menepuk punggung miliknya.
"Terima kasih, aku akan menghubungi kamu jika aku membutuhkan bantuanmu. Jika tidak, maka aku tidak akan menghubungimu." Jawab Lunika dan mencoba tersenyum, Aden pun ikut membalas senyumannya.
"Rom, aku pamit untuk pulang. Sampai bertemu dihari pernikahan Hana, kalau ada apa apa jangan lupa hubungi aku." Ucap Aden berpamitan, Romi sendiri hanya mengangguk. Sedangkan Lunika menggenggam sebuah kartu nama milik Aden.
Setelah berpamitan, Aden segera keluar untuk pulang diikuti Romi dan Lunika dari belakang. Saat tidak lagi terlihat bayangan Aden, tiba tiba sebuah mobil mewah telah sampai didepan Lunika dan Romi yang tengah berdiri.
Lunika langsung mendadak kaget dan tercengang tatkala melihat sebuah mobil yang tidak asing dimatanya. Begitu juga dengan Romi yang ikut kaget akan kedatangan sebuah mobil mewah.
'Apakah suami Lunika ikut datang kesini? sepertinya memang benar.' Batin Romi penasaran.
Lunika masih bengong sambil menggenggam sebuah kartu nama milik Aden, sedangkan Romi benar benar tidak percaya akan penampilan sosok laki laki yang tidak lain adalah suami Lunika.
__ADS_1
"Kamu siapanya Lunika? bukan suaminya, 'kan?" tanyanya sambil memberi tatapan yang tajam, Romi pun mengerti akan maksud dari sosok laki laki yang terlihat tampan.
"Aku temannya Lunika, kenapa?" jawab Romi.
"Pulanglah sekarang juga, karena aku melarangmu untuk dekat dengannya." Ucapnya sambil menunjuk kearah Lunika yang tengah berdiri di sebalahnya.
"Baik, aku akan segera pergi. Dan ingat, setatus kamu belum ada laporan dengan kelurahan. Aku ingatkan kepadamu, datangi pihak RT ataupun petugas kelurahan untuk melapor jika kamu mau tinggal di lingkungan sini dengan aman." Jawab Romi mengingatkan tanpa rasa malu atau canggung meski dari keluarga sederhana, kemudian Romi segera pergi dari rumah Lunika.
Lunika hanya menatapnya sedih ketika Romi diusirnya. Namun mau bagaimana lagi selama masih ada perjanjian, Lunika tidak bisa berbuat apa apa. Terkecuali tentang hinaan atau ucapan yang menyakitkan.
Romi yang tidak ingin menambah masalah, dan mengetahui sosok laki laki yang ada dihadapannya itu. Romi pun terpaksa harus rela meninggalkan Lunika bersama sang suami.
"Lun, aku pulang. Sampai bertamu dihari besok, jangan lupa ajak suami kamu untuk menghadiri acara pernikahan Hana." Ucap Romi berpamitan.
"Iya Rom, kamu tenang saja." Jawab Lunika singkat.
"Jaga istri kamu baik baik, karena tidak hanya satu laki laki yang ingin mendapatkan cinta dari istri kamu. Aku hanya mengingatkan, tidak ada maksud yang lain, karena aku sudah menganggapnya sebagai adikku serta bagian dari keluargaku." Ucap Romi berpamitan serta memberinya sebuah pesan layaknya kakak laki lakinya, Zicko pun hanya mengangguk tanpa bersuara.
Setelah bayangan Romi tidak lagi terlihat, Zicko menoleh kearah sang istri dan memperhatikannya. Saat sedang memperhatikan sang istri, kedua matanya tertuju pada salah satu tangaan milik istrinya. Dengan cepat, Zicko langsung merebutnya.
"Apa, ini?" tanya Zicko. Kemudian langsung memeriksanya dengan seksama, seketika kedua matanya mendadak mendelik.
'Sebuah kartu nama milik Aden? cucu dari kakek Revan Karsa, bagian keluarga Jaya Karsa yang tidak lain adalah sahabat dari keluarga Wilyam dan keluarga Danuarta.' Batin Zicko yang mengetahui akan silsilah keluarga Danuarta, Jaya Karsa dan juga keluarga Wilyam. Persahabatan yang telah menjadi musuh karena seorang wanita yang dicintainya dengan berakhir sebuah kematian.
Zicko pun menarik nafasnya pelan dan membuangnya kasar sambil mengingat sebuah cerita dari sang kakek ketika masih memasuki usianya remaja.
__ADS_1