
Semua masih menyimpan rasa penasarannya, bahkan ingin rasanya mengetahui wajah perempuan tersebut.
Reina maupun Merry yang sudah tidak sabar untuk melenya*pkan kakek Dana dan tuan Guntara, ingin rasanya melepas pelatuk yang sedang tertekan oleh satu jarinya.
Perempuan tersebut berjalan mendekati kakek Dana, dan sebuah pistol tengah mengarahkan pada Beliau. Senyum mengembang terlihat jelas pada sudut kedua bibir Reina.
'Sekarang aku yakin, perempuan ini adalah suruhan Martha. Tapi! aku seperti mencium kecurigaan, ini jelas ulah kakek Ganan. Iya! kakek Ganan lah biang dari semua ini, terlihat jelas sikap tenangnya.' Batin Reina yang terus berusaha menebaknya.
Begitu juga dengan Merry, ia sudah tidak sabar untuk melakukan aksinya.
"Tunggu!!!!" suara menggelegar tengah menggetarkan orang orang yang tengah berada didalam markas. Semua tercengang saat menoleh ke sumber suara, ya! dia adalah perempuan yang sudah di sandera oleh Reina dan Merry begitu lamanya.
"Keira!!" Panggil Tuan Guntara tidak percaya, jika yang ada dihadapannya adalah istri yang telah dikabarkan meninggal dunia.
Tidak hanya itu, Reina maupun Merry ikut tercengang melihat perempuan yang pernah di sanderanya masih hidup.
'Bukankah Martha sudah mengatakannya, jika Keira tengah jatuh ke jurang. Kenapa masih hidup? da*sar! bo*doh! kau Martha.' Batin Reina semakin geram.
"Kaget, ya! melihat aku masih hidup. Dasar! perempuan licik, pembunuh. Lihat ini, aku akan membalas kematian saudara kembarku."
DOR!!!!
DOR!!
Suara tembakan telah melayang sebuah peluru ke arah Reina tepat pada pergelangan tangan dan kakinya. Tubuhnya jatuh kelantai dan tidak berdaya karena sebuah peluru mengarah padanya.
DORR!!!!
Suara tembakan kini terdengar kembali, namun bukan dari lawan atau musuh yang menghempaskan peluru tersebut.
Seketika, Merry mendadak gemetaran. Ia semakin menekan pistolnya di dagu milik tuan Guntara, Merry semakin ketakutan saat melihat kedatangan rombongan polisi.
__ADS_1
"Jangan mendekat! atau laki laki ini akan aku lenyap*kan!" Ucap Merry sambil mengangkat tubuh milil tuan Guntara dan mengunci lehernya dengan tangan kirinya sambil menariknya kebelakang menuju pintu rahasianya.
"Merry! lepaskan. Atau ... kamu akan menyesal nantinya." Ucap tuan Seyn mengingatkan.
"Tidak! kalian pasti sudah merencanakan sesuatunya, aku tidak bo*doh seperti kalian." Jawabnya yang terus berjalan kebelakang sambil menodongkan pistolnya.
Karena banyak anggota kepolisian yang tengah mengepungnya, sosok perempuan misterius itu ikut melakukan aksinya.
BUG!!!!!
Pukulan pada tengkuk leher milik Merry pun meleset, karena disaat itu pandangan Merry ikut mengawasinya. Dengan sigap, Merry langsung memutar badannya dan mundur dua langkah dan menyepakkan kakinya tepat pada tangan lawannya hingga terjatuh lah pistolnya. Dengan cepat, Merry langsung mengunci leher lawannya dengan satu tangannya dan memindahkan bibir pistolnya yang masih ditahannya tepat di pelipis milik lawannya dan menjatuhkannya ke lantai secara bersamaan.
Semua mendadak cemas dan tercengang, saat yang menjadi sasarannya bukan lagi tuan Guntara. Melainkan perempuan yang masih penuh tanda tanya. Polisi yang ada disekelilingnya berusaha untuk tenang dan mencari aba aba untuk menyelamatkan perempuan itu.
"Hebat! hebat sekali permainan kamu, pasti kamu suruhan kakek Ganan." Ucapnya sambil menekan pistolnya.
Karena rasa penasaran, Merry langsung membuka maskernya serta kaca mata yang masih menempel dengan menggunakan pistolnya untuk menyingkirkannya.
Seketika, Merry tercengang dan mendadak tidak percaya dengan sosok perempuan yang ada didepan matanya.
"Kamu!!!"
"Kenapa? tante kaget?" tanyanya dengan santai.
"Tentu saja tidak! aku akan segera melenya*pkan kamu, Veronika. Karena ibumu sudah mengambil laki laki yang aku cintai."
Tanpa pikir panjang, dengan posisinya yang tengah duduk dan terkunci lehernya. Lunika langsung merebut pistolnya.
DOR!!!
Sebuah peluru tengah melayang ke udara, Lunika langsung memutarkan salah satu kakinya dan menyepak kepala milik Merry dengan sangat kuat dan memutar badannya kembali hingga berhadapan dengan Merry dan memukul tengkuk lehernya hingga jatuh pingsan. Beberapa polisi langsung mengamankan kedua pelaku dan orang orang yang menjadi antek anteknya. Tidak hanya itu, Elima istri tuan Guntara dan anaknya yang bernama Jennyta pun ikut dibawa ke kantor polisi serta Martha beserta istrinya.
__ADS_1
Setelah itu, Nafas Lunika terengah engah usai melakukan perlawanan terhadap orang yang akan melukai keluarganya.
Disaat itu juga, Lunika tertunduk sedih. Lunika termenung sambil meringkuk pada kakinya. Seketika, kedua matanya menganak sungai. Tubuhnya kembali gemetaran, apa yang sudah ia lakukan membuatnya tidak dapat untuk berucap.
Semua dilarang mendekatinya terkecuali Zicko, suaminya. Kakek Ganan tengah menahannya untuk tidak menganggu kondisi Lunika saat ini.
Begitu juga dengan tuan Guntara, dirinya seperti mimpi bertemu dengan istrinya yang dikabarkan telah meninggal dunia.
Dengan langkahnya yang pelan, tuan Guntara dan Keira sang istri saling mendekat. Tangis keduanya pun pecah seketika, dan saling memeluknya dengan sangat erat.
Kemudian, tuan Guntara melepaskan pelukannya. Tuan Guntara mencoba menghapus air mata istrinya dengan jari jemarinya, lalu mencium kening istrinya.
Sekian lamanya tidak pernah bertemu, sekali bertemu di usianya yang tidak lagi muda.
Meski sudah memiliki anak yang sudah dewasa, keduanya masih terlihat muda.
"Keira, benarkah kamu istriku? benarkah kamu masih hidup? Keira, maafkan aku." Ucap tuan Guntara sambil memeluk istrinya dengan erat dan menitikan air matanya.
"Iya, aku masih hidup. Tuan Ganan yang sudah menyelamatkan aku, dan aku sengaja untuk disembunyikan di Villa miliknya. Maafkan aku yang tidak langsung menemuimu. Karena ini semua adalah bagian dari rencana tuan Ganan untuk menangkap satu persatu sekaligus." Jawabnya.
"Lalu, kenapa kamu bisa memiliki saudara kembar?" tanyanya yang masih penasaran.
"Iya, aku memiliki saudara kembar tanpa sepengetahuan kamu. Maafkan aku, jika aku sudah berbohong. Aku tidak tahu jika Merry mengetahuinya, dan saat aku mau dibunuh, Keina datang dan dia lah yang menjadi korbannya. Dan akhirnya mayatnya menggantikanku, dan aku di sandera oleh Merry dan Reina selama berpuluhan tahun." Jawabnya menjelaskan.
"Berarti penglihatan kak Elin benar, hanya saja dia salah menduka. Yang dibunuh adalah saudara kembar kamu, mungkin karena wajah kamu sangat mirip." Ucap tuan Guntara menatap istrinya.
Sedangkan Zicko kini duduk di sebelah istrinya, yang lainnya hanya menjadi saksi dalam penyelesaian masalah yang begitu rumit dan sulit untuk dicernanya kembali.
Zicko yang juga ikut sedih melihat kondisi istrinya, Zicko memeluknya dengan erat.
"Sayang, bagaimana dengan perasaan kamu? apakah kamu baik baik saja? katakan, dan ceritakan semua apa yang kamu pikirkan. Jangan kamu pendam sendiri kegundahan kamu, sayang. Kamu tidak sendirian, disekeliling kamu banyak keluarga yang menyemangatimu. Jadi, tersenyumlah. Bukankah kamu sangat merindukan kedua orang tua kamu? sekarang impian kamu terwujud dengan nyata." Ucap Zicko sambil memeluk istrinya dan mengusap lengannya berkali kali.
__ADS_1