Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Menyelidiki masa lalu


__ADS_3

Dengan percaya diri, Lunika mencoba menuruti apa kata suaminya. Setelah menerima ajakan dari suaminya, akhirnya Lunika turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.


"Lunika," panggil ibu mertuanya dan memeluk menantunya dengan penuh kasih sayang. Setelah ibundanya Zicko mendengar penjelasan pada putranya, sang ibu begitu sedih mendengar sosok manenantunya tanpa kasih sayang dari kedua orang tua kandungnya.


Setelah mendapatkan pelukan hangat dari ibu mertua, Lunika segera melepaskan pelukannya dan menatap ibu mertua.


"Mama, maafkan Lunika yang sudah membuat semuanya cemas. Maafkan Lunika, jika Lunika menjadikan beban berat." Ucap Lunika sambil menatap wajah ibu mertuanya penuh rasa malu.


"Kamu tidak bersalah, sayang. Lantas untuk apa kamu meminta maaf. Sekarang kamu sudah menjadi bagian keluarga Wilyam, dan tanggung jawab sepenuhnya ada pada keluarga Wilyam. Mama sudah mendengar semuanya tentang kamu dari Zicko, kamu tidak perlu mencemaakannya." Jawab sang ibu mertua, kemudian tersenyum pada menantunya.


"Nak Lunika, apa kamu ada waktu untuk kakek?" tanya kakek Alfan.


"Ada Kek," jawab Lunika masih dengan kecemasannya. Meski ibu banyak yang mensuportnya, pikiran Lunika masih saja belum tenang dan juga lega.


"Zicko, temani istri kamu ke ruang privat. Sebentar lagi kakek Ganan akan segera datang, jangan memaksa Lunika untuk mengingat sesuatu yang kiranya istri kamu tidak sedang mengingatnya." Ucap sang ibu mengingatkan.


"Iya Ma, Mama tidak perlu khawatir. Percaya sama Zicko, semua akan baik baik saja." Jawab Zicko meyakinkan ibunya. Tidak lama kemudian, kakek Ganan telah datang sendirian.


"Selamat pagi semua, maaf jika kedatanganmu terlambat." Sapa Kakek Ganan yang sudah berada disekeliling keluarganya.


Ketika usia menyapa, sepasang matanya tertuju pada sosok yang sudah lama tidak pernah ia temui. Kemudian, kakek Ganan dengan sosok seorang kakek yang masih terlihat muda meski usianya yang tidak lagi muda.

__ADS_1


"Tuan Dana, maksudku Kakek Jordana, apa kabarnya? sudah lama kita tidak pernah bertemu setelah sekian lama kamu menghilang bak pesulap handal." Sapa kakek Dana yang masih suka bergurau layaknya masih muda.


"Tentu saja, kabarku masih seperti yang dulu. Masih sehat dan tidak kalah tampannya denganmu, kakek Ganan. Maksudku, Tuan Besar, yang gagah dan perkasa." Jawab kakek Dana yang masih seperti dulu, namun tiba tiba Beliailu kembali terbesit akan perbuatan kejinya hingga dirinya harus menerima akibatnya. Dan kini harus menerima ujian tanpa tiada hentinya.


Bahkan, kakek Dana harus menerima kenyataan pahit yang begitu dalam. Penyesalan kembali menghantuinya saat berkumpul dengan orang orang terdekatnya dahulu.


"Sudah sudah, jangan banyak melamun. Lebih baik sekarang Tuan Dana istirahat, karena nanti malam Guntara akan datang ke rumah. Tidak hanya itu, ibunya Lunika juga akan datang. Satu lagi, tuan Tirta juga saya undang serta kamu tuan Ganan. Nanti malam akan ada acara reoni atas persahabatan kita yang dulu pernah tertunda karena suatu hal. Dan malam ini, semua akan menjadi istimewa." Ucap kakek Alfan penuh semangat.


"Benar, benar! sekali. Nanti malam kita akan lewati kebersamaan kita selepas liburan di Korea dan di Negri Formosa." Sahut kakek Ganan mengingat akan kebersamaan saat berlibur bersama di dua Negara.


Disaat itu juga, kakek Dana menyingkir dari sahabatnya. Beliau memilih untuk pindah tempat, ia tidak ingin semakin dalam akan perasaan merindukan seseorang yang dicintainya. Penyesalan hingga membuatnya buta akan kebesaran cintanya sendiri.


Kakek Dana memilih bersandar pada dinding pembatas, air matanya kembali jatuh karena kerinduan.


"Tuan Dana, lihat lah siapa yang datang." Suara seorang laki laki yang begitu tidak asing di telinganya.


Seketika, kakek Dana langsung membalikkan badannya dan menatap langsung yang ada dihadapannya itu.


"Tirta!! kamu."


"Ampun Bro! ampun, dah!" ucap kakek Tirta layaknya masih muda sambil mencoba melepaskan tangan milik kakek Dana yang tengah menjewer telinganya.

__ADS_1


"Kamu itu sudah tuwir, kakek Tirta. Kamu sudah mempunyai banyak cucu, berbeda denganku yang masih muda. Jangankan cucu, anak saja tidak sempat memproduksinya." Ucap kakek Dana yang tidak kalah guraunya dengan sahabatnya.


"Cih! masih muda kamu bilang, lihat lah uban kamu itu. Bahkan, cucuku sendiri tidak bisa menghitung jumlah rambut putihmu." Ledek kakek Tirta yang tidak mau kalah.


"Sudah sudah, malu dilihat yang lebih muda dari kita." Ucap kakek Alfan ikut menimpali.


"Ah! payah kamu Tuan Alfan, sikap dingin kamu tidak pernah mencair dari dulu." Ledek tuan Dana yang sedikit terhibur.


"Biarin aja, noh menantuku begitu lengket dengan putraku. Biar dingin dingin begini banyak penerusnya, iya gak?" jawab kakek Alfan dengan menepuk dada bidangnya yang mulai rapuh.


Tuan Zayen, Zicko dan yang lainnya hanya menggelengkan kepala saat melihat kekompakan keempat kakek yang memiliki sifat uniknya masing masing.


Setelah usai bergurau, kakek Alfan dan kakek Ganan mengajak Lunika dan Zicko ke sebuah ruangan privat. Ruangan yang dikhususkan untuk berdiskusi dalam bermusyawarah. Sedangkan kakek Dana di temani oleh kakek Tirta di belakang rumah, tepatnya taman kecil untuk duduk bersantai sambil menikmati kopi panas.


Kini, Lunika serasa seperti sedang menghadapi persidangan ketat ketika ia duduk dihadapan kedua kakek yang baru ia temui.


Zicko yang tidak ingin istrinya terlihat gugup, ia tetap menggenggam tangan milik istrinya dengan erat. Berharap sang istri tetap tenang dan tidak banyak pikiran yang menjerumus yang tidak tidak, pikirnya.


"Lunika, benarkah nama kamu Lunika?" tanya kakek Ganan untuk membuka suara terlebih dahulu. Lunika yang mendapati pertanyaan dari kakek Ganan, ia mencoba menarik nafasnya pelan agar hilang rasa gugupnya ketika berhadapan dengan sang kakek.


"Nama Lunika sebenarnya Veronika, Kek. Entah nama itu dari mana asal muasalnya, Lunika tidak mengetahuinya. Karena Lunika tidak begitu memperdulikan apalah arti sebuah nama, Lunika tidak memiliki tujuan hidup dikala masa kecil dulu, Kek. Kehidupan Lunika sudah ada yang mengaturnya, Lunika hanya bisa pasrah layaknya tidak memiliki sebuah tujuan serta harapan." Jawab Lunika dengan tertunduk.

__ADS_1


"Siapakah laki laki yang barusan kamu temui? apakah pengasuh kamu? atau ... atau suruhan?" tanya kakek Ganan yang terus menyelidik.


"Laki laki itu ... Bang Martha namanya, dia adalah suruhan dari seseorang yang berkuasa atas anak anak jalanan. Namun sayangnya, Lunika tidak pernah melihat sosok misterius itu, bahkan nama istri dari bang Martha saja tidak pernah mengetahuinya. Semua nama dari anggotanya begitu sangat dirahasiakan dan sangat privat untuk di publikasikan, Kek." Jawab Lunika berusaha untuk tenang ketika menjawab setiap pertanyaan yang ia terima.


__ADS_2