
Tidak menunggu lama, Arnal telah selesai bersiap siap dengan penampilannya kembali rapi seperti dahulu. Mengenakan setelan kerja kantoran, membuat wajah tampannya terlihat begitu jelas.
Zicko yang memperhatikannya pun hanya mengangguk, ia paling enggan untuk memuji sesama laki laki. Apa lagi soal ketampanan, baginya adalah sesuatu yang pribadi untuk dimiliki masing masing orang.
"Sudah siap kah? jika sudah siap dan tidak ada lagi sesuatu yang tertinggal, ayo kita berangkat." Tanya Zicko mengingatkan sebelum berangkat.
"Sepertinya tidak ada yang tertinggal, karena hari ini aku baru mau memulai datang ke Kantor." Jawab Arnal santai.
"Baik lah, ayo kita berangkat." Ajak Zicko yang tidak suka basa basi, Arnal pun mengangguk dan mengikutinya dari belakang.
Didalam perjalanan, awalnya Zicko dan Arnal saling diam. Namun akhirnya Zicko memulai untuk membuka suara.
"Arnal," panggil Zicko untuk membuka suara agar tidak terasa seperti berada di kuburan. Arnal pun menoleh kesebelahnya.
"Iya Tuan, ada apa?" tanya Arnal.
"Apakah kamu sangat dekat dengan Denra? maksudku Aden." tanya Zicko menyelidik.
"Oooh, Aden. Cukup dekat, itupun karena ..." jawab Arnal menggantungkan kalimarnya. Zicko pun dibuatnya penasaran, segera ia menanyakannya lagi.
"Karena apa, Arnal?" tanya Zicko semakin penasaran.
"Karena Lunika. Maaf Tuan, bukan maksudku membuka masa lalu." Jawab Arnal merasa tidak enak hati.
"Tidak apa apa, ceritakan saja padaku. Aku tidak akan cemburu, itu kan masa lalu kamu. Aku hanya bertanya saja, tidak lebih. Karena aku sendiri mempunyai masa lalu,." Ucap Zicko dengan terang terangan.
"Aku pun sudah mengetahuinya, jika Aden adalah Radenra. Putra pewaris semata wayang, seperti Tuan Zicko. Awalnya aku tidak tahu jika Aden menyukai Lunika, tapi aku bersikukuh untuk mendapatkannya. Maklum, jiwa muda terkadang mengalahkan segala egonya. Ah sudah lah Tuan, aku tidak ingin membahasnya. Lagian juga sekarang Lunika sudah menjadi istri Tuan Zicko, dan aku lihat Lunika terlihat bahagia memiliki suami sebaik dan setampan Tuan Zicko." Sahut Arnal, ia berusaha untuk menyudahi pembicaraan mengenai masa lalunya.
__ADS_1
Bagi Arnal masa lalu adalah sebuah kenangan yang tidak perlu untuk diceritakan jika dapat menimbulkan kesalahpahaman maupun rasa cemburu yang dapat menjadi persaingan sengit diantara salah satunya, bahkan bisa jadi keduanya.
Disaat itu juga, jalanan yang akan dilewatinya mendadak macet total. Zicko pun mulai kesal menunggu lama dalam antrian yang sangat panjang.
"Ini bagaimana Tuan? jalanan macet total." Tanya Pak Supir.
"Kita ikutin saja mobil yang depan, Pak. Sepertinya mereka semua belok ke kiri, dicoba saja Pak. Siapa tahu ada jalan pintas yang lebih mudah untuk kita lewati." Ujar Zicko menunjukan arah pada supirnya.
"Jangan Tuan, kita lebih baik menunggu saja. Jalanan yang orang orang lewati itu sangat bahaya, apalagi dengan cuaca gerimis yang cukup lebat. Jika kita mengikuti mereka, kita akan melewati pinggiran jurang yang sangat membahayakan." Sahut Arnal mengingatkan.
"Iya Tuan, yang dikatakan Pak Arnal itu ada benarnya. Kita tunggu saja antrian ini, jugaan tidak lama jika kita menunggunya." Ujar Pak Supir mencoba mengingatkan Tuan nya.
"Tapi Pak, aku tidak suka memakan waktu yang cukup lama. Sini, biar aku saja yang mengendarai mobilnya. Lebih baik Pak Tama duduk dengan tenang, ok." Ucap Zicko yang tidak lagi sabar dengan supirnya.
"Tapi Tuan, keselamatan Tuan jauh lebih penting dari pada mencari jalan pintas." Ujar pak Supir.
"Iya Tuan, di rumah ada istri yang sedang menunggu Tuan Zicko pulang dengan selamat." Sahut Arnal yang juga mengingatkan.
"Apa! Lunika sudah melahirkan?" Arnaldo sontak kaget ketika mendengar mantan kekasihnya sudah melaharikan.
"Tuan tidak perlu khawatir, bayi Niko dan Nona sudah dijaga ketat didalam kamar. Bahkan tidak ada yang bisa berkutik sedikit pun, percayalah pada saya." Sahut pak supir meyakinkan.
"Iya Tuan, kita tunggu saja antriannya." Ujar Arnal mengingatkan.
'Betapa rumitnya rumah tangga mereka, aku pikir menjadi orang kaya itu enak. Rupanya jauh lebih banyak rasa khawatir dari pada kenyamanan. Semoga saja tidak akan terjadi sesuatu pada Lunika serta anak dan suaminya. Mau bagaimanapun, aku hanya bisa mendoakannya.' Batin Arnal yang begitu rumit ketika melihat kekhawatiran suaminya Lunika.
"Permisi, Tuan." Panggil seseorang lewat kaca mobil sambil mengetuk jendela kaca mobilnya. Sedangkan Pak Supir sedikit membukanya.
__ADS_1
"Ada apa, Pak?" tanya Zicko dengan cepat.
"Maaf sebelumnya, sepertinya Tuan harus lewat jalan pintas. Karena tidak memungkinkan untuk mengantri yang begitu lama dan panjang jarak untuk melewatinya." Jawabnya, Zicko sendiri hanya mengangguk.
"Aku bilang juga apa, lihatlah mereka semua. Tidak hanya kita saja yang diminta untuk melewati jalan pintasnya, mereka semua mengikuti arahan yang sudah ditentukan." Ucap Zicko sambil menunjuk kearah yang dijadikan jalan pintas oleh banyak orang yang mengendarai mobil.
Mau tidak mau, akhirnya Zicko yang mengendarai mobilnya. Karena sifatnya yang sulit untuk dikendalikan, bahkan bersikeras untuk tetap menyetir mobilnya.
"Tuan, hati hati. Jangan gegabah mengendarai mobilnya, jalannya cukup sulit untuk dilewati." Ucap Pak Supir mengingatkan, bahkan sangat takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya.
"Pak Tama tidak perlu takut, aku sudah terbiasa melewati medan yang seperti ini." Sahut Zicko yang terus fokus dengan setirnya. Sedangkan Arnal sendiri hanya bisa diam, ia pun takut jika Zicko akan mudah emosi dan mengakibatkan fatal dalam menyetir mobilnya.
"Awas! Tuan! jalannya sangat licin." Arnal pun mendadak kaget ketika mobil yang ada di depannya hampir saja ketabrak oleh Zicko.
"Tenang, tenang ... kita akan selamat." Sahut Zicko berusaha untuk tetap tenang meski dalam situasi yang sangat genting.
Pak Tama maupun Arnal hanya bisa nurut dan berdoa untuk keselamatan bersama.
Drrttt drrrttt drrttt
Begitu berat saat menanjak dengan tikungan yang sangat terjal. Tidak biasanya Zicko yang handal melewati medan yang sulit, kini ia harus bersusah payah untuk mengendalikan mobilnya sendiri.
Hening, seketika didalam mobil menjadi hening tanpa ada yang bersuara. Zicko yang fokus dengan setirnya, sedangkan Arnal dan Pak Tama fokus dengan doanya.
"Aaaaaaaa!!!!!!" Teriak ketiganya sangat kencang.
BYUUUUURRRRRRR
__ADS_1
Satu mobil telah jatuh kedalam jurang yang dimana begitu deras air yang mengalir dan begitu besar arusnya. Dan dengan mudahnya untuk membawa mobil yang berisi beberapa orang didalamnya.
Semua orang ikut panik melihatnya, bahkan banyak orang yang menyaksikan mobil tersebut hanyut begitu saja dengan mudahnya. Beberapa orang telah menghubungi Polisi untuk segera mengatasi korban kecelakaan tunggal.