Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Pulang


__ADS_3

Usai bersiap siap dan tidak ada lagi yang tertinggal, Lunika dan suaminya segera keluar dari kamar. Kemudian, segera menemui sang ibu yang tengah berada didalam kamar.


"Ibu," panggil Lunika pada ibunya. Lalu, diikuti Zicko dari belakang dan mendekatinya.


"Biar aku yang akan menggendong ibu sampai depan rumah, kamu tidak perlu menuntun Ibu." Ucap Zicko pada istrinya.


"Jangan, Nak Zicko. Ibu bisa berjalan sendiri, kamu tidak perlu menggendong ibu. Keadaan ibu sudah mendingan, dan jauh lebih baik dari hari yang sebelumnya." Ucap ibu mertua yang tidak enak hati.


"Sekarang ibu sudah menjadi tanggung jawab Zicko, apapun itu." Ucap Zicko sebaik mungkin dalam bertutur kata pada ibu mertuanya. Dengan pelan dan hati hati, Zicko menggendong ibu mertuanya sampai didepan rumah.


Sedangkan Lunika yang tengah menyaksikan dengan begitu jelas dan nyata, ia sangat terharu ketika melihat sikap suaminya yang begitu bijak dan penuh perhatian, bahkan tanpa ada rasa beban sedikitpun pada diri suaminya itu. Lunika pun merasa sangat beruntung bisa memiliki suami yang terlihat begitu sempurna dimatanya.


Ketika berada didepan rumah, Sepasang mata milik Lunika mencoba mencari sosok pengasuh ibunya yang dimaksudkan oleh suaminya. Namun, ia sama sekali tidak mendapatinya.


"Sa -- yang, maaf sedikit kaku. Kata kamu, akan ada pengasuh ibu. Dimana sekarang? kok aku tidak melihatnya." Tanya Lunika penasaran, Zicko tersenyum mendengarnya.


"Kok kamu jadi senyum senyum begitu, sih? apakah ada yang lucu dengan pertanyaanku?" tanya Lunika lagi yang masih juga belum mengerti dengan apa yang dimaksud dari senyumnya suami.


"Nah, gitu dong. Kamu harus berani memanggilku dengan sebutan sayang, meski didepan ibu sekalipun. Kamu tahu? kedua orang tuaku selalu memanggil pasangannya dengan sebutan sayang, walaupun sudah berasa di titik paruh baya. Namun, keharmonian dan kemesraan selalu tercipta dalam situasi apapun. Dan aku ingin seperti itu, seperti kedua orang tuaku dan pasangan kakekku." Jawab Zicko menjelaskan dan tersenyum bahagia didepan istri tercintanya.


"Aku jadi penasaran dengan kakek kamu dan juga nenek kamu, pasti hidupnya selalu diberi kebahagiaan yang sempurna." Ucap Lunika yang semakin penasaran dengan keluarga suaminya.

__ADS_1


"Cerita panjang, jika ada waktu luang aku akan berbagi cerita denganmu dan juga ibu." JWab Zicko meyakinkannya.


"Sama, ibu juga penasaran ingin mendengarkannya." Sahut ibu Ruminah ikut menimpalinya. Beliau tidak hanya penasaran, Beliau juga rindu akan masa masa mudanya yang telah ia rangkai menjadi sebuah cinta dan berharap itu nyata. Namun, kenyataannya berbanding terbalik. Apa yang sudah direncanakan dan ditentukan, harus pupus begitu saja.


"Ibu, kenapa ibu melamun?" tanya Lunika mengagetkan ibunya.


"Tidak, ibu hanya rindu yang tidak berujung pada seseorang yang tidak akan pernah tergantikan." Jawab sang ibu berterus terang.


Zicko yang mendengarnya pun berubah menjadi rasa penasaran terhadap ibu mertuanya sendiri. Zicko sendiri merasa ada sesuatu yang telah tersembunyi.


'Aku merasa jika ibu menyimpan banyak rahasia, apakah ibu memiliki masa lalu yang begitu kelam? ah, entahlah. Yang aku hadapi saat ini tidak hanya satu masalah, tapi begitu banyak masalah. Semoga saja aku dan istriku bisa melewatinya, semoga.' Batin Zicko yang mulai banyak pikiran yang bersemayam dalam pikirannya.


"Romi, ibu Arum, mau kemana? kok seperti mau pindahan saja. Tapi, kenapa pak Diwan tidak ikut?" tanya Lunika penasaran.


"Iya, Lun. Kita di usir sama suami kamu, dan memintaku untuk meninggalkan rumah." Jawab Romi dengan ekspresi yang memelas. Dengan tajam, Lunika mendadak menatap tajam pada suaminya. Zicko yang melihat ekspresi istrinya pun hanya menahan tawa, namun tidak dapat dipungkiri dan akhirnya lepas juga tawanya.


Begitu juga dengan Romi dan ibu Arum serta ibunya sendiri ikut tertawa melihat ekspresi Lunika yang justru terlihat menggemaskan.


"Kok kamu tertawa gitu sih! aku ini marah, loh. Kenapa kamu tertawa, ah! tidak lucu." Ucap Lunika, kemudian ia menghentakkan kedua kakinya berulang ulang karena merasa dikerjai.


"Sini, aku jelasin. Kamu ingin tahu 'kan? kenapa Romi dan ibunya terlihat mau pindah rumah? sedangkan ayahnya Romi yang kamu maksud pak Diwan, sebenarnya ..." jawab Romi yang sengaja menggantung kalimatnya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa sih, sayang?" tanya Lunika yang semakin penasaran. Zicko tersenyum puas, ketika mendengar istrinya tengah memanggilnya dengan sebutan sayang tanpa jeda.


"Tuh, kan ... masih tersenyum tidak jelas begitu. Tau ah, bikin kesal saja." Ucap Lunika yang sudah mulai memasang muka cemberutnya.


"Sebenarnya, Romi dan Ibunya yang akan tinggal bersama ibu. Sedangkan ayahnya Romi, sudah aku berikan pekerjaan tetap di sebuah Toko yang tidak jauh dari rumah. Nah, kalau Romi akan ikut bekerja denganku. Tepatnya di kantor cabang Papa yang satunya, disana Romi akan belajar banyak hal dan akan mendapatkan bimbingan khusus. Jadi, kamu tidak lagi khawatir terhadap ibumu dan keluarga keliarga kedua setelah ibumu. Romi dan keduanya layak mendapatkannya, karena sudah ikut menjagamu dan merawat ibumu. Karena apa? karena kamu adalah istriku, dan ibumu adalah ibuku juga. Sudah menjadi kewajibanku untuk membahagiakan kamu dan ibumu." Ucap Zicko menjelaskan hingga panjang lebar.


Lunika yang mendengar penjelasan dari suaminya, kedua peluk matanya menganak sungai hingga tidak dapat lagi untuk dibendungnya. Seketika, Lunika memeluk erat suaminya. Begitu juga dengan ibu Ruminah maupun ibu Arum dan Romi yang mendengarnya pun ikut menitikan air mata bahagianya.


"Sudah, jangan menangis. Lihatlah, ibu kamu saja bahagia. Kenapa kamu menangis? nanti cantiknya hilang loh." Ucap Zicko dan berusaha melepaskannya, kemudian Zicko mengusapnya dengan ibu jarinya dengan lembut.


"Sekarang semuanya sudah jelas dan tidak ada lagi yang kamu khawatirkan tentang ibu, sekarang kamu fokus untuk menjadi istri kesayanganku." Ucap Zicko lagi yang terus berusaha untuk meyakinkan istrinya, Lunika masih berat untuk bersuara. Ia bingung untuk mengutarakan rasa terima kasihnya yang begitu besar, Lunika hanya mengangguk dan tersenyum pada suaminya.


Kemudian, Zicko mengec*up kening milik istrinya lembut. Romi yang menyaksikan kebahagiaan Lunika ikut bahagia melihatnya.


'Akhirnya sekian lamanya kamu bertahan dengan Arnal, kini kamu mendapatkan kebahagiaan bersama orang yang belum lama kamu kenal. Semoga kamu akan terus bahagia, dan kamu berhak untuk mendapatkan kebahagiaan yang seperti ini.' Batin Romi yang ikut bahagia melihat sahabat serta menganggapnya seorang adik perempuannya.


Setelah cukup lama berbicara dengan sang suami, Lunika berpamitan pada ibunya maupun ibu Arum dan Romi untuk pulang ke rumah ke


kediaman keluarga suaminya. Begitu juga dengan Zicko yang juga ikut berpamitan untuk pulang membawa istrinya.


Usai berpamitan, sebuah mobil mewah telah datang dengan tepat waktu. Semua para tetangga dibuatnya heboh ketika melihat keadaan rumah ibunya Lunika yang tengah didatangi mobil mewah yang jarang dilihatnya.

__ADS_1


__ADS_2