
Tidak lama kemudian, mobil yang di kendarai pak Yitno telah sampai didepan rumah yang akan ditempati Joni.
"Jon, ayo kita turun. Dan kamu, tidak usah turun. Aku hanya sebentar, setelah itu aku kembali ke mobil." Ajak Zicko pada Joni, kemudian memberi pesan pada istrinya.
Lunika hanya mengangguk dan tersenyum. Sedangkan Zicko dan Joni segera turun.
"Bro, kita dimana?" tanya Joni yang belum mengerti sambil mengikuti langkah kaki Zicko menuju rumah yang cukup untuk ditempati sahabatnya itu.
"Kamu sudah sampai di rumah yang akan kamu tempati, semua kebutuhan kamu sudah ada didalam rumah. Satu bulan sekali akan ada penyetok kebutuhan kamu, jadi kamu tidak perlu menghambur hamburkan uangmu. Hanya satu yang tidak bisa aku berikan padamu, kamu harus cari sendiri." Ucap Zicko sambil menyerahkan kunci rumahnya serta kunci mobil, kemudian ia menepuk pundak milik Joni berulang ulang dan tersenyum.
"Sialan! kamu, Zick. Nyindir nih, awas! ya. Aku akan secepatnya akan menyusulmu." Jawab Joni, sedangkan Zicko terus berjalan kembali ke mobil.
"Zicko!! thanks, Bro!!" teriak Joni bersemangat. Kemudian melambaikan tangannya pada Zicko, setelah bayangan mobil milik Zicko tidak lagi terlihat. Joni segera membuka pintu rumahnya dan masuk kedalam rumah.
Sedangkan Zicko dan Lunika kini dalam perjalanan untuk pulang. Dengan erat, Zicko menggenggam tangan milik istrinya. Tidak disadari oleh keduanya, rupanya telah sampai di depan rumah. Zicko dan Lunika segera turun dari mobil dan masuk ke rumah.
Sesampainya di ruang tamu, Zicko langsung menggendong istrinya sampai didalam kamar. Banyak sepasang mata tengah memperhatikan sepasang pengantin baru yang sedang dimabuk asmaranya.
Ketika berada didalam kamar, Zicko langsung mengunci pintu kamarnya dan menurunkan istrinya diatas tempat tidur.
Tidak hanya sampai disitu saja, Zicko mulai melepas sepatunya. Kemudian ia juga melepas sesuatu yang melekat pada kaki istrinya.
__ADS_1
Seketika, Lunika mendadak kaget dan tercengang ketika sang suami tengah merabanya. Pikiran Lunika semakin kemana mana, terutama ia teringat akan masa lalunya.
Zicko sendiri tidak berhenti sampai pada kaki istrinya, dengan hati hati dan pelan pelan ia mencoba untuk merabanya kembali pada bekas luka jahitan yang ada pada kami istrinya.
Zicko masih dengan posisi setengah membungkukkan badannya, lalu ia semakin mendekati istrinya hingga jarak keduanya hampir menempel dan Zicko hampir meni*ndih istrinya.
"Aku akan menjawab pertanyaan kamu, sayang." Ucap Zicko berbisik didekat telinga istrinya, Lunika semakin geli tatkala suaminya berbisik.
"Menjawab pertanyaanku? aku tidak mengerti." Tanya Lunika yang lupa apa yang dimaksudkan oleh suaminya.
"Termasuk luka pada kakimu, aku lah orang yang kamu maksud. Aku lah lelaki yang tidak tahu diri itu, aku lah yang sudah kamu selamatkan. Maafkan aku, maafkan aku yang baru bisa berterus terang denganmu. Maafkan aku yang pecundang ini, maafkan aku. Kamu berhak marah denganku, kamu berhak meminta imbalan denganku. Aku akan melakukan apapun yang kamu mau, aku janji." Jawab Zicko penuh harap akan menerima kata maaf dari istrinya, kemudian memeluk istrinya meski dengan cara meni*ndih istrinya.
Seketika, Lunika tercengang dan benar benar kaget mendengarnya. Disaat itu juga, tubuh terasa lemas. Apa yang didengarkan nya adalah seperti mimpi, Lunika tidak pernah menyangkanya jika suaminya berucap dengan jujur.
"Bukankah kamu dapat mencium aroma parfumku? sejak kejadian itu, aku selalu memikirkan siapa gerangan yang sudah menyelamatkan aku. Karena aku harus melanjutkan pendidikanku di luar negri, dengan terpaksa aku berhenti untuk mencarinya." Jawab Zicko menjelaskannya.
Lunika yang mendengar penuturan dari suaminya, tiba tiba ia berdiam diri. Entah apa yang tengah menguasai pikirannya itu, hingga Zicko sendiri melihat istrinya yang mendadak tidak bersuara.
"Kenapa kamu diam, sayang? apakah kamu keberatan untuk memaafkan aku? baik lah, apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku. Sayang, ayo katakan. Kamu jangan cuekin aku seperti ini, sayang. Aku bisa gila kalau kamu tidak mau meresponku." Tanya Zicko dengan perasaan cemas, tatkala sang istri yang mendadak diam.
"Tidak, aku cukup lega sekarang. Karena orang yang aku tolong keadaannya masih baik baik saja. Sekarang aku tidak lagi penasaran dengan sosok laki laki yang sudah aku tolong."
__ADS_1
"Terus ... kenapa kamu diam? apa masih ada yang mengganjal di hati kamu, sayang? jujur saja. Aku akan siap menerima resikonya, serius."
"Kamu terlalu muda dariku, itu saja yang aku pikirkan."
"Maksud kamu apaan sih, sayang? aku lebih muda dari kamu? maksudnya apaan?" tanya Zicko yang semakin tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh istrinya.
"Aku takut kamu akan malu ketika memiliki istri lebih tua darimu, dikala itu kamu masih terlihat seperti bocah. Sedangkan aku ..."
"Hem, kenapa kamu memikirkannya baru sekarang? dari awal menikah, kamu kemana aja, sayang? aku sudah mengetahui usia kamu saat kita mau menikah. Awalnya sangat lucu ketika aku menikahi perempuan yang lebih tua dariku, tapi kenyataannya itu tidak menjadi penghalang bagiku sampai sekarang dan sampai kapanpun."
"Aku percaya sama kamu, maafkan aku yang tiba tiba cara berpikirku tidak jelas." Ucap Lunika merasa malu.
"Besok, aku akan mengantarkan kamu ke rumah sakit dan menemui Dokter spesial. Aku ingin memulihkan luka pada kaki kamu, aku ingin menebus semua kesalahanku. Aku mohon, kamu jangan menolaknya. Aku pun sama, aku akan melakukan pemulihan pada kakiku. Karena janjiku dulu, aku tidak akan menghapus luka ini sebelum bertemu dengan orang yang sudah menyelamatkanku." Jawab Zicko berterus terang pada istrinya.
Lunika tersenyum bahagia tatkala mendapati sang suami telah berani berkata jujur padanya, begitu juga dengan Zicko yang ikut tersenyum bahagia tatkala orang yang tengah menyelamatkan dirinya adalah istrinya sendiri.
"Aku lapar, sayang." Ucap Zicko sambil mengusap perutnya berulang ulang.
"Bagaimana kalau aku buatkan makan siangnya, kamu cukup temani aku di dapur. Aku ingin menyiapkan makan siang spesial untukmu. Selama aku menjadi istrimu, aku belum pernah melayani kamu."
"Memangnya kamu bisa masak? bukankah kamu lebih jago bermain bela diri dari pada memasak? jadi penasaran." Ucap Zicko yang hanya mengetahui istrinya tentang olahraga dan bela diri.
__ADS_1
"Hem, itu lain lagi." Jawab Lunika, kemudian ia segera bangkit dari posisinya dan bergegas berjalan ke dapur. Sedangkan Zicko hanya mengekorinya dari belakang.
'Lengkap sudah kebahagiaanku, memiliki istri yang menurutku sangat sempurna. Ditambah lagi sama sekali tidak membenciku ketika aku terlambat untuk berterus terang. Sekarang waktunya aku untuk mencari identitasnya, aku harus bisa mencari keberadaan keluarganya. Aku janji, aku akan menggantikan kebaikan kamu dengan caraku sendiri.' Batin Zicko sambil menuruni anak tangga.