Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Tidak disangka


__ADS_3

Karena tidak kunjung mengatakan, tuan Zayen menatapnya lebih tajam lagi.


"Katakan sekarang juga, jangan sampai aku melakukan kekerasan." Ancam tuan Guntara pada istrinya sambil mencengkramnya.


"Ba --- ba -- baik, aku akan mengatakannya dengan jujur." Jawabnya dengan terbata bata karena ketakutan.


"Cepat! ayo! katakan." Perintahnya semakin emosi pada istrinya.


"Perempuan itu bernama ... Ve -- ve - Veronika, aku serius tidak bohong."


DUAR!!


Seketika, tubuh ibu Ruminah mendadak lemas dibuatnya. Bahkan kedua kakinya tidak lagi dapat menopang tubuhnya.


BRUGG!!! .


Ibu Ruminah akhirnya hilang kesadarannya dan jatuh pingsan.


"Ibu!!!!!" teriak Lunika berlari mendekat pada ibunya. Sedangkan istri tuan Guntara semakin ketat penjagaannya dan masih ditahan oleh anak buah dari kakek Wilyam dan suruhan dari tuan Viko.


Semua ikut mendekati ibu Ruminah, termasuk kakek Dana yang juga ikut mendekatinya.


"Ibu!!! bangun, Bu. Ibu ..." teriak Lunika sambil memangku ibunya disertai isak tangisnya.


DUAARR!!!


Seketika, kakek Dana berasa tersambar petir disiang bolong.


"E --- Elin!!!" teriak kakek Dana dan menggendongnya. Naas, kakek Dana sudah tidak lagi muda. Akhirnya, Zicko yang menggendong ibu mertuanya ke kamar tamu. Sedangkan tuan Zayen langsung menghubungi Dokter pribadi keluarganya.


Lunika serta beberapa orang yang lainnya mengikuti Zicko sampai di kamar tamu. Kakek Dana masih shock tidak percaya dengan apa yang tengah terjadi pada dirinya.

__ADS_1


Beliau masih terasa mimpi, namun terasa nyata. Berulang ulang, kakek Dana menepuk nepuk kedua pipi milik perempuan yang pernah singgah dihatinya.


"Elin, bangun! Elin." Berkali kali kakek Dana memanggil namanya sambil terisak isak dengan tangisnya, namun tetap saja tidak sadarkan diri.


Tidak lama kemudian, sang Dokter telah sampai di rumah kediaman tuan Zayen. Lalu, segera memeriksa keadaan ibu Ruminah.


Kakek Alfan yang mengerti akan kekacauan perasaan sahabatnya, Beliau mendekatinya.


"Maafkan aku, Tuan Dana. Maafkan kami semua, seharusnya bukan seperti ini kejadiannya. Namun kenyataannya semua berbelok arah, ketika Elin mengenali istri kedua dari tuan Guntara. Kami benar benar tidak mengetahuinya, kami semua sudah merancangnya dengan maksimal, namun tidak sesuai kenyataan yang telah dibuat." Ucap kakek Alfan yang juga tidak mengira akan menjadi lebih serius permasalahannya.


"Iya, Tuan Dana. Maafkan sahabat sahabatmu ini, seharusnya ini momen bahagiamu. Tapi, Elin harus jatuh pingsan." Sahut kakek Tirta ikut menimpali.


"Tunggu! sepertinya Elin mengenal nama Veronika, aku yakin jika anak dari tuan Guntara adalah ..." Sahut kakek Ganan menebaknya.


"Kita tunggu saja sampai Elin sadarkan diri, bersabar lah." Ujar kakek Alfan.


Sedangkan kakek Dana melangkahkan kakinya untuk mendekati perempuan yang telah lama berpisah berpuluhan tahun lamanya.


Setelah sang Dokter memeriksanya, Lunika menatap sedih pada ibunya.


"Dokter Hanan, bagaimana keadaannya?" tanya kakek Alfan pada Dokter Hanan.


"Keadaannya baik baik saja, hanya saja mengalami shock berat. Untuk sementara, jangan berikan pertanyaan pertanyaan yang menganggu ingatannya." Jawab Dokter Hanan memberikan saran, kakek Alfan pun mengangguk.


"Dok, dia baik baik saja kan, Dok?" tanya kakek Dana yang sangat mengkhawatirkannya.


"Tuan tidak perlu khawatir, tidak ada yang perlu dicemaskannya." Jawab Dokter Hanan meyakinkan kakek Dana.


Usai Dokter Hanan memeriksa kondisi pasien, kakek Dana duduk disebelahnya. Sedangkan Lunika mendadak bingung dibuatnya.


"Sayang, ayo kita keluar. Biarkan kakek Dana yang menemani ibu, ayo kita keluar." Ajak Zicko pada istrinya.

__ADS_1


"Tapi ..."


"Nak Lunika, ayo kita keluar. Nanti kamu akan mengetahui kebenarannya, biarkan kakek Dana yang menemani ibumu." Ucap kakek Alfan pada cucu menantunya. Lunika yang merasa penasaran, dirinya hanya bisa nurut saja.


Setelah berada diluar kamar, Zicko mengajak istrinya untuk duduk. Lunika pun hanya nurut dengan ajakan suaminya.


"Kamu pasti menyimpan rasa penasaran tentang ibu dan kakek Dana, 'kan?" tanya Zicko pada istrinya.


"Iya, sedari tadi aku tidak bisa menangkap semua yang telah terjadi di ruang tamu. Aku benar benar bingung dengan semuanya, aku benar benar tidak mengerti. Memangnya, sedari tadi itu membahas masalah apa? aku semakin bingung dibuatnya." Jawab Lunika dan balik bertanya.


"Ibu kamu adalah kekasih dimasa lalu kakek Dana, keduanya terpisah karena sesuatu. Yang intinya, kakek Dana dan ibu kamu adalah sepasang kekasih yang tidak kunjung bersatu dalam sebuah pernikahan. Cobaan demi cobaan tidak pernah selesai, hingga sebuah perpisahan yang tengah menyakiti perasaan masing masing." Jawab Zicko menjelaskannya.


"Lalu, bagaimana dengan ibu ketika menuduh istri dari paman Guntara adalah seorang pembu*nuh. Itu kalimat yang bagaimana? aku masih tidak mengerti." Tanya Lunika yang masih bingung dan tidak mengerti.


"Paman Guntara sebelumnya memiliki seorang istri dan dalam keadaan hamil, namun kebencian telah menguasai pikiran tante Elima. Karena dendam, tante Elima melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Bahkan, tante Elima tidak perduli akibat yang akan terjadi setelah perbuatan jahatnya terbongkar. Dan kini, kebohongan serta keja*hatan tante Elima telah terbongkar." Jawab Zicko menjelaskan, Lunika hanya mengangguk. Bahkan ia tidak sadar diri, jika namanya telah disebutkan oleh istri tuan Guntara.


"Yang dikatakan Zicko itu semuanya benar, nak Lunika. Sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa, semoga semuanya baik bsok saja dan sesuai yang kita semua harapkan." Sahut Omma Zeil, sedangkan Omma Maura dan Omma Nessa hanya mengangguk dan tersenyum memberi isyarat pada Lunika.


Di sebuah ruangan khusus, tuan Zayen dan Romi tengah mengamankan istri tuan Guntara dan Jennyta. Sedangkan tuan Guntara sendiri masih duduk termenenung memikirkan anaknya yang entah berada dimana keberadaannya.


"Kamu tidak perlu cemas, tuan Guntara. Percayalah denganku, bahwa semuanya akan kita temukan siapa dalang yang sesungguhnya. Tujuan kita sekarang hanya pada Elin, yaitu kekasih dari tuan Dana. Karena Elin lah yang mengetahui kejadian itu." Ucap kakek Ganan yang tiba tiba sudah berada dihadapan tuan Guntara.


Sedangkan didalam ruangan, kakek Dana masih setia menemani pujaan hatinya yang pernah berpisah sekian lamannya hingga lebih dari 20 tahun.


Dengan lembut, kakek Dana mengusap pucuk kepalanya. Kemudian mengecup keningnya karena sebuah kerinduan yang teramat dalam. Lalu, kakek Dana memegangi tangan milik pujaan hatinya.


"Elin, maafkan aku. Begitu bo*dohnya aku ini, sampai sampai aku lupa akan tentang dirimu. Aku memilih melampiaskan amarahku dari pada mencari kebenaran tentang kamu, dan ternyata benar yang dikatakan tuan Ganan, bahwa dirimu masih hidup. Andai saja dulu aku meminta bantuan dari keluarga Wilyam, mungkin kita tidak merasakan sesakit ini. Maafkan aku, Elin. Maafkan aku yang tidak pernah mengerti akan tentang dirimu, maafkan aku yang begitu egois dan hanya mengambil satu kesimpulan tanpa mengulasnya." Ucap kakek Dana penuh penyesalan yang begitu dalam.


Pelan pelan, jari jemarinya mulai digerakkan satu persatu. Kelopak matanya mulai terbuka dengan pelan. Dilihatnya langit langit kamar dengan samar, penglihatannya pun belum terlihat sempurna.


Kakek Dana yang melihat pergerakan jari jemarinya terpancar senyum mengembang pada kedua sudut bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2