
Usai berkumpul bersama keluarga, tidak terasa waktu pun sudah malam. Zicko dan Lunika kembali masuk ke kamarnya. Sampai didalam kamar, Zicko dan sang istri bergantian cuci muka serta menggosok gigi dan ganti pakaiannya.
Setelah selesai dan siap untuk beristirahat, Zicko menjadikan dada bidangnya tempat bersandar untuk istrinya. Kemesraan pada keduanya tidak pernah lepas sedikitpun disaat berdua dalam ruangan.
"Sayang, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada kamu. Apakah kamu siap untuk mendengarkan aku?" tanya Zicko sambil memeluk mesra pada istrinya.
Lunika pun menoleh kearah suaminya yang tengah memeluknya. "Aku slalu siap mendengarkan keluh kesahmu, sayang." Jawabnya sambil mengganti posisinya, hingga keduanya saling beradu pandang.
"Beberapa hari lagi, aku akan pergi ke luar Kota. Aku ada banyak urusan mengenai pengembangan perusahan, aku pun tidak berani untuk meminta Papa yang mendatangi tempat tersebut. Apakah kamu akan mengizinkan aku untuk berangkat? aku janji, aku tidak akan lama. Aku pastikan, sebelum anak kita lahir, aku sudah pulang lebih awal." Ucap Zicko dengan sangat hati hati, Lunika sendiri berdiam diri sejenak dan tidak bergeming sedikitpun.
"Sayang, semua ini demi masa depan anak anak kita. Bukankah kita menginginkan banyak keturunan? percayalah denganku, aku akan selalu memberimu kabar. Aku pastikan tidak akan lama, karena kesempatan ini sangatlah berarti." Ucap Zicko kembali menjelaskan, berharap sang istri akan mengizinkannya.
"Aku tidak mempermasalahkannya, aku hanya takut saja." Jawab Lunika dengan pikirannya yang tidak karuan.
"Takut? takut kenapa, sayang? hanya kamu satu satunya istriku untuk selamanya. Aku tidak akan pernah berpaling darimu, percayalah denganku." Ucap Zicko mencoba memastikan istrinya untuk berpikiran yang positif dan juga dirinya
terus berusaha untuk membuat sang istri mempercayainya.
"Aku takut, takut terjadi sesuatu hal buruk padamu. Entah kenapa, tiba tiba perasaanku menjadi tidak enak. Aku takut, ketika aku mau melahirkan tidak ada kamu disampingku. Aku sangat membutuhkanmu untuk menguatkan aku saat berjuang menyambut kehadiran sang buah hati kita, itu saja. Aku ingin ditemani kamu, aku sendiri takut terjadi sesuatu pada diriku sendiri dan buah hati kita ini." Jawab Lunika yang tiba tiba perasaannya berubah tidak karuan.
Zicko yang melihat istrinya seperti ketakutan, Zicko segera memeluknya lagi dan mencoba untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kamu menjadi ketakutan? buanglah pikiran burukmu itu. Akupun berangkat hanya sebentar, itupun banyak pengawal disekelilingku." Ucap Zicko mencoba meyakinkan serta menenangkan istrinya yang tengah mengkhawatirkan dirinya. Setelah itu, Zicko melepaskan pelukannya dan menatap lekat pada istrinya.
Butiran air mata yang tengah membasahi kedua pipi milik istrinya, segera ia mengusapnya dengan ibu jarinya lembut.
"Aku tidak bisa menahanmu karena itu tugas kamu, aku hanya bisa berdoa untuk kamu. Semoga keselamatan selalu berpihak padamu sampai kamu kembali ke rumah." Jawab Lunika mencoba untuk kuat dan membuang pikiran buruknya, Zicko pun berusaha untuk tersenyum.
"Nah, gitu dong. Buang jauh jauh pikiran negatif kamu, agar pikiran kita tetap tenang. Kasihan buah buah hati kita, jika kamu banyak memikirkan sesuatu yang tidak perlu untuk dipikirkan." Ucap Zicko, kemudian mengecup kening milik istrinya dengan lembut.
"Sudah hampir larut malam, tidak baik untuk kesehatan. Apalagi kamu sedang hamil tua, ayo kita tidur. Besok, aku akan meminta sama Papa untuk libur. Aku ingin menemanimu dalam waktu seharian, aku akan memanjakan kamu sepenuh rasa cintaku padamu." Ajak Zicko untuk segera beristirahat.
"Nanti pekerjaan kamu terbengkalai, bagaimana? kasihan Papa jika harus sendirian melakukan pekerjaan." Jawab Lunika sedikit tidak enak hati ketika suaminya ingin memanjakannya.
"Kamu lupa atau bagaimana sih, sayang? bukankah sudah ada Dey, aku hanya sekedar membantunya." Jawab Zicko dan mencubit gemas milik istrinya.
"Menemaninya? hem, Dey sudah ada sekretaris baru."
"Tapi kan, itu beda."
"Beda yang bagaimana? sama aja, sayang."
"Iya ya deh, aku nurut saja sama kamu."
__ADS_1
"Nah, ini namanya istri teladan. Nurut, dan juga tidak membantah." Sahut Zicko, kemudian memainkan matanya dengan genit. Lunika sendiri bergidik ngeri melihat tingkah aneh pada istrinya.
"Hem, aku sudah ngantuk." Ucapnya dibuat muka cemberut, Zicko tertawa kecil dan memeluk istrinya kembali. Kemudian, Zicko melepaskannya.
"Sini, aku pijat sebentar kaki kamu. Kamu pasti kelelahan seharian tadi, aku akan melayanimu bak ratu bidadariku."
"Terima kasih ya, sayang. Kamu begitu perhatian denganku, bahkan sangat perhatian. Aku sangat beruntung mempunyai suami sebaik dan perhatian penuh denganku. Bahkan saat aku kesal saja kamu tidak ikut emosi, kamu tetap sabar menghadapi sikap aku. Semoga kamu selalu diberi kesehatan dan kemudahan dalam segala urusan kamu." Ucap Lunika yang merasa begitu beruntungnya mendapatkan seorang suami yang menurutnya sangatlah sempurna untuknya.
Dengan telaten dan dengan pijatan yang lembut, tidak terasa Lunika tertidur dengan sandaran pada kepala ranjang tempat tidurnya.
'Sayangku, percayalah denganku. Bahwa aku sangat mencintaimu, dan aku akan selalu menjagamu. Sebagaimana kamu yang telah menyelamatkan nyawaku yang bisa dikatakan tanpa pertolonganmu, mungkin saja aku tidak seberuntung ini. Aku bisa memilikimu dan juga perhatianmu padaku yang tidak bisa aku tukar dengan apapun atas ketulusan kamu untuk mencintaiku serta menjadi pelengkap hidupku.' Batin Zicko sambil menatap istrinya yang tengah tertidur pulas.
Setelah dirasa sudah cukup, Zicko berhenti memijat istrinya dan membenarkan posisi tidurnya. Karena rasa kantuknya yang sulit untuk dikendalikan, Zicko segera menyelimuti bagian tubuh istrinya dan juga dirinya ikut tidur sambil memeluk istrinya hingga terlelap dari tidurnya yang pulas.
Sedangkan di tempat lain, yakni di kediaman keluarga Deyzan. Tepatnya di rumah tuan Viko, adik ipar dari tuan Zayen tengah selesai menikmati kebersamaan walau hanya berjumlah 4 orang.
"Dey, bagaimana dengan keputusan kamu? apakah kamu akan kembali ke Amerika?" tanya sang ayah memastikan putranya.
"Untuk apa, Pa? bukankah tadi sudah jelas. Permintaan kakek Ganan tidak bisa diganggu gugat, meminta Dey untuk menerima permintaannya. Lalu, Dey harus bagaimana? kakek Alfan saja ikut andil dalam rencana kakek Ganan. Tidak hanya itu saja, bahkan kakek Tirta ikutan juga." Jawab Dey yang tidak bisa berbuat apa apa.
"Jadi kamu menerima permintaan kakek Ganan?" tanya sang ayah memastikannya lagi.
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi, lagian kenapa mesti Dey sih Pa. Kenapa tidak cucunya kakek Ganan aja, jugaan kakek Ganan cucunya banyak. Anaknya aja ada tiga tuh, tante Neyla dan juga paman Reynan sama paman Zakka. Atau ... cucunya kakek Tirta, anaknya paman Kazza." Jawab Dey sambil menyebut nama saudaranya.
"Karena kakek buyut Angga pernah berpesan, tetap menyatukan hubungannya dengan para sahabat serta keluarga. Karena kakek buyut Angga tidak ingin menjauhkan keluarga Wilyam dengan kakek buyut kamu, yaitu kakek buyut Zio. Meski anak angkat keluarga Wilyam, kakek Zio tidak pernah dibedakan kasih sayangnya. Sedangkan perempuan yang akan menjadi istrimu adalah bagian dari persahabatan kakek buyut Angga dan kakek buyut Zio." Ucap sang ayah menjelaskan bagian silsilah dari keluarga besarnya.