Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Seperti mimpi


__ADS_3

"Sudah lah, tidak perlu kamu mencemaskan Lunika. Dia sudah dewasa, dia tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Aku pun juga berharap pada Lunika, tapi kita tidak bisa memaksanya. Biarkan waktu berjalan dengan seiringnya waktu, kita tidak patut menuntutnya." Ucap Tuan Zayen.


"Iya juga sih, tapi aku kasihan dengan Niko. Aku rasa Niko membutuhkan figur seorang ayah, apa salahnya jika kita mencobanya. Selagi usia Niko masih dua tahun, dia belum mengerti dengan sepenuhnya." Sahut sang istri mencoba membujuk suaminya.


"Lantas, apakah kita akan menyembunyikan ayah kandungnya? ada ada saja kamu."


"Aku yakin jika Niko sudah besar nanti akan mengerti maksud kita, bagaimana menurutmu?"


"Hubungi Tuan Guntara, apa pendapatnya. Aku rasa sama sepertiku, menggantikan seseorang itu tidak mudah. Jadi, lebih baik kamu bayangkan terlebih dahulu jika kamu berada di posisi Lunika. Maka, disitulah kamu akan mengerti akan perasaan menantumu itu." Ucap Tuan Zayen memberi ketegasan pada sang istri yang masih bersikukuh mencarikan suami untuk menantunya.


Disaat itu juga, nyonya Afna terdiam dan mencoba mencerna setiap kalimat yang terucap di bibir suaminya. Sedangkan Tuan Zayen memilih untuk beranjak pergi dari ruang bermain, ia takut akan meluapkan emosinya lantaran harus menghadapi sikap istrinya yang terus membujuknya.


"Benar juga yang dikatakan suamiku, tapi ... bagaimana dengan Niko? dari bayi sudah menjadi anak yatim." Gumamnya sambil menemani cucu kesayangannya yang tengah bermain dengan permainannya.


Sedangkan Lunika masih berkumpul bersama teman teman sekolahnya, senda gurau begitu riuh untuk didengar. Namun tidak untuk Lunika, pikirannya kini semakin tidak karuan. Berulang kali ia masih terngiang ngiang dengan pengakuan Radenra atas perasaannya padanya.


Saat menoleh kearah sudut ruangan, sepasang mata Lunika tertuju pada sebuah meja yang terdapat minuman beralkohol begitu banyak diatas meja. Tepatnya tempat yang dimana Radenra dan teman yang lainnya berkumpul, sedangkan sosok Arnal tidak ia temukan.


Karena tidak ingin mendapatkan masalah, Lunika akhirnya memilih untuk segera pulang.


"Dew, aku mau izin pulang. Aku kepikiran dengan anakku, perasaanku tidak enak." Ucap Lunika beralasan, berharap ia dapat meninggalkan acara tersebut.


"Aduh Lun, masih seru nih. Kita habiskan dulu minumannya, bahkan kamu belum menyentuh minumanmu ini." Sahut Dewi membujuknya.


"Baiklah, aku habiskan minumannya. Setelah itu aku langsung pulang, ok."


"Iya Lun, tidak apa apa." Jawab Dewi sambil menyodorkan minumannya, Lunika pun meraihnya dan meminumnya hingga tandas tidak tersisa.

__ADS_1


Disaat itu juga, tiba tiba Lunika mendadak pusing pada bagian kepalanya dan tubuhnya terasa sempoyongan. Bahkan Lunika sendiri mampu untuk berjalan dengam normal, ia hampir saja jatuh tersungkur ke lantai.


Dengan sangat hati hati, Lunika berusaha untuk menjaga keseimbangannya. Berharap ia mampu berjalan sampai tempat parkir. Namun sayang disayang, Lunika tidak mampu untuk berjalan dengan benar. Kini pandangannya semakin kabur, warna yang diihatnya pun sudah berubah ubah hingga jatuh tersungkur dan tidak sadarkan diri.


Begitu juga dengan Radenra, ia sendiri sudah mabok berat akibat minumannya yang over dosis. Bahkan ia tidak mampu untuk mengendalikan dirinya sendiri karena ulahnya yang kelewat batas.


"Lunika, Lun! aku men -- cinta -- i -- mu." Dengan susah payah dibarengi ekspresi setengah sadar, Radenra mengungkapkan perasaannya dengan kondisi yang sudahmabok berat akibat minuman alkoholnya yang berlebihan. Setelah itu, ia tidak lagi sadarkan diri.


"Tidak!!!!!"


Teriak Lunika sekencang mungkin, pandangannya tertuju lurus kedepan. Dilihatnya banyak orang orang yang sudah berada dihadapannya. Kemudian sepasang matanya menoleh di sebelahnya.


"Kamu!!!" Teriaknya dengan membulatkan matanya sambil menatap tajam pada seseorang yang ada disebelahnya.


"Bawa mereka berdua ke Kantor Desa, cepetan!" perintah seorang RT dengan nada membentak.


"Kamu jangan mengelak, lihatlah! ini barang apa? hah!" sahut pak RT sambil menunjukkan sesuatu yang menggelikan. Lunika menelan salivanya kasar, bahkan ia sangat jijik melihatnya.


Perasaan dongkol dan kesal kini telah menjadi satu, kedua tangannya pun mengepal kuat serasa ingin melayangkan sebuah tinjauan kearah seseorang yang ada disampingnya.


"Pak, tolong saya. Ini semua pasti sudah di rencakan oleh lelaki kurang ajar ini, bahkan saya sendiri tidak mengenalinya. Tolong Pak, jangan usut saya dari kasus ini." Rengek Lunika yang ingin segera lepas dari permasalahan yang tengah menimpanya. Sedangkan lelaki yang tidak dikenalinya sedikitpun tidak bergeming, diam dan hanya diam.


Dengan sekuat tenaga, Lunika berusaha untuk melepaskan diri. Namun sayang disayang, tenaga Lunika tidak mampu untuk melawannya.


Dengan langkah yang sulit untuk mengimbangi orang yang menariknya, Lunika semakin kualahan. Mau tidak mau, malu tidak malu karena diarak oleh warga sekampung, Lunika hanya bisa pasrah.


'Sialan! ini pasti ada hubungannya di acara reunian, sial! bagaimana ini jika Papa dan Mama mengetahuinya? aku pasti akan dibuang dan dijauhkan dari putraku. Tidak! tidak mungkin, tidak mungkin ini akan terjadi.' Batin Lunika kembali teringat saat dirinya meminum sebuah minuman dari sahabatnya.

__ADS_1


Tidak terasa sekarang sudah berada didepan kantor Desa bersama lelaki yang tidak dikenalinya.


"Ayo! masuk,"


Dengan perasaan dongkol, Lunika hanya bisa pasrah dan menuruti kehendak orang tersebut.


"Duduk lah, jangan banyak protes."


Lagi lagi Lunika hanya menurutinya, meski rasanya ingin segera melarikan diri.


"Sekarang tunjukan identitas kalian berdua, cepat!" perintahnya dengan suara membentak.


Dengan terpaksa, Lunika mengeluarkan identitasnya berupa KTP. Begitu juga dengan lelaki yang ada disebelahnya yang ikut menyodorkan identitasnya.


Dengan seksama, bapak Kepala desa membaca identitas kedua tersangka penggrebekan.


"Lunika, Rayan. Setatus kalian berdua cerai mati?" tanya pak Kades dengan seksama. Keduanya pun sama sama menganggukkan kepalanya, lalu saling melirik satu sama lain. Sedangkan lelaki itu tersenyum menggoda pada Lunika.


"Sekarang juga hubungi keluarga kalian berdua, mau tidak mau kalian berdua harus menikah sekarang juga. Ini semua demi kebaikan kalian berdua agar tidak membuat masalah yang sama." Ucap pak Kepala Desa, sedangkan Lunika hanya membuang napasnya kasar. Mau tidak mau, Lunika segera menghubungi Ibu mertuanya.


"Tapi Pak, kami berdua belum melakukan apa apa. Lihat lah, pakaian kami berdua saja masih utuh. Bagaimana bisa, kenapa juga tidak diselidiki terlebih dahulu. Dan kamu! protes kek, apa kek, berusaha kek. Jangan jangan ini semua kamu yang merencanakan, ayo! ngaku." Ucap Lunika meminta pertimbangan, kemudian ia menoleh kearah Rayan dan mendesaknya.


"Percuma, mau sampai dower pun kita tetap salah dimata mereka." Sahut Rayan dengan enteng, Lunika hanya menatapnya tajam.


"Sudah, terima saja kenyataan ini." Bisiknya dengan senyum yang menggoda, Lunika sendiri merasa geli dan juga risih dibuatnya.


'Dasar lelaki gila, siapa juga yang mau menikah dengannya. Ya Tuhan ... lelaki ini lebih aneh dari suamiku Zicko. Semoga saja, ini mimpi buruk yang pernah aku mimpikan.' Gumam Lunika penuh harap, apa yang dialaminya adalah hanya sebuah mimpi.

__ADS_1


__ADS_2