
Sesampainya di rumah, Zicko segera masuk ke kamarnya dan membersihkan diri. Setelah itu, ia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur sambil menatap langit langit kamarnya.
Dengan pelan, Zicko menarik nafasnya panjang dan membuangnya kasar. Hampa, begitulah yang dirasakan oleh Zicko tanpa adanya sang istri didekatnya. Zicko mulai gelisah memikirkan hubungan pernikahannya itu, ia terus berusaha untuk mencari solusi agar bisa lepas dari masalah yang telah ia rencakan sendiri.
"Zicko, berpikirlah. Kamu harus bisa menyelesaikan masalah kamu sendiri, jadilah seorang suami yang bertanggung jawab." Ucapnya sendiri, kemudian mengacak rambutnya prustasi.
Karena tidak tahu harus berbuat apa, Zicko memilih untuk keluar dari kamarnya. Dengan malas, Zicko menuruni anak tangga.
Sesampainya dianak tangga paling bawah, tidak ada satupun anggota keluarganya yang berada dirumah. Suasana benar benar terasa sepi, ditambah lagi sang istri tidak ada dirumah. Semakin hampa tanpa adanya seseorang yang bisa diajaknya mengobrol, Zicko semakin terasa hampa.
"Maaf Tuan, sudah waktunya untuk makan malam. Oh iya Tuan, apakah Nona muda belum pulang? soalnya tadi Nyonya menelfon dan menanyakan Nona muda." Ucap salah satu palayan rumah.
"Iya mbak, terima kasih. Bilang saja sama Mama, jika istriku sedang menginap di rumah ibunya." Jawab Zicko, kemudian ia berjalan menuju ruang makan.
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi." Ucapnya dan melanjutkan pekerjaannya kembali.
Masih dengan rasa malas, Zicko duduk sendirian tanpa ada satu pun yang menemaninya makan malam. Karena tidak lagi berselera makan, Zicko memutuskan untuk menjemput istri.
Tanpa pikir panjang dengan segala resiko yang terjadi, Zicko tetap pada pendiriannya untuk menemui istrinya.
"Tuan, mau kemana?" tanya pak Yitno yang mengetahui majikannya tengah terburu buru.
"Pak, kunci motornya mana?" tanya Zicko yang sudah tidak sabar ingin segera pergi.
"Sebentar Tuan, akan saya ambilkan kunci motornya." Jawab pak Yitno dan segera mengambilkan kunci motornya, setelah itu menyerahkan kuncinya pada sang majikan.
__ADS_1
Karena rasa ketidak sabarannya, Zicko mempercepat kecepatan laju motornya. Tanpa harus memakan waktu yang cukup lama, Zicko sudah sampai didepan rumah istrinya. Dengan perasaan gundah gulana, Zicko mencoba mengatur pernapasan nya agar dihindarkan dengan rasa gugup serta rasa takut yang tengah menguasai pikirannya yang penuh dengan kecemasan.
Lunika yang berada di kamar ibunya, ia mulai gelisah. Pikirannya pun kembali pada suaminya yang jauh dari pandangannya. Suara motor yang begitu nyaring pun tidak Lunika dengarkan, yang ada hanya memikirkan sejuta lamunannya.
"Kamu kenapa melamun, Lunika?" tanya sang ibu mengagetkan.
"Tidak Bu, Lunika hanya kepikiran dengan kesehatan ibu selama Lunika tidak ada di rumah." Jawab Lunika beralasan.
"Ibu baik baik saja, Nak. Oh iya, sepertinya di luar rumah ada suara motor. Coba kamu lihat, siapa yang datang malam malam begini. Siapa tahu saja, Romi yang datang ke rumah." Ucap sang ibu, kemudian meminta pada putrinya untuk melihat siapa yang datang ke rumahnya itu.
"Sepertinya bukan deh, Bu. Suara motor Romi tidak begitu nyaring suaranya, apa mungkin pak RT? soalnya kemarin itu Lunika mendatangi rumah pak RT untuk memberi keterangan." Jawab Lunika menjelaskan.
"Ya sudah, buruan kamu lihat didepan rumah. Kasihan, jika harus menunggu lama." Ujar sang ibu, Lunika sendiri mengangguk dan segera ke luar dari kamar.
'Jangan jangan ... suamiku yang datang ke rumah, atau ... Aden. Tapi ... ah, mungkin saja pak RT.' Batin Lunika sambil menerka nerka. Kemudian dengan rasa takut dan gelisah, Lunika mencoba mengintipnya dari jendelanya untuk memastikan siapa yang tengah datang malam malam ke rumahnya.
Saat mencoba mengeceknya lewat jendela, sosok laki laki yang sedang jongkok pun tidak menampakkan wajahnya. Lunika semakin gelisah, pikirannya pun tidak lagi tenang. Mau tidak mau, Lunika terpaksa membuka pintunya.
Saat membuka pintunya, sosok laki laki tengah berdiri dihadapannya. Seketika, Lunika tercengang melihatnya.
"Kamu ... ada apa kamu datang kesini? kalau ibuku marah, bagaimana?" tanya Lunika sambil menatap serius pada suaminya.
"Aku mau menjemput kamu untuk pulang ke rumah, aku tidak bisa makan dengan nikmat. Bahkan, aku tidak bisa tidur tanpa di temanimu."Jawab Zicko mencoba untuk merayunya.
"Lunika, siapa yang datang, Nak?" seru sang ibu mengagetkan.
__ADS_1
"Ibu, selamat malam. Maaf, jika saya lancang datang ke rumah ibu. Niat saya kesini hanya ingin ..." ucap Zicko tiba tiba menggantungkan kalimatnya.
"Malam juga, kamu rupanya. Masuk lah, tidak baik bertamu didepan pintu." Jawab ibu Ruminah dan menyuruh menantunya untuk segera masuk ke rumah.
"Iya Bu, terima kasih." Ucap Zicko dengan perasaan lega, kemudian ia segera masuk kedalam rumah.
"Duduk lah, Nak Zicko. Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri. Dan kamu Lunika, buatkan minuman untuk suami kamu."
'Aku tidak sedang dalam mimpi, 'kan? semoga saja.' Batin Zicko harap harap cemas.
"Ada perlu apa kamu datang kemari? bukankah ibu sudah memberikan peringatan padamu?" tanya sang ibu mertua masih dengan dramanya.
"Maaf Bu, kedatangan saya kesini ingin menjemput Lunika. Saya sadar akan sandiwara pernikahan kami, hingga membuat banyak orang kecewa termasuk ibu. Saya terpaksa melakukannya karena saya ingin menghindar dari perjodohan serta menghindari mantan kekasih saya. Saya sadar diri, apa yang saya lakukan sangat lah salah besar. Bu, maafkan saya. Berikan saya kesempatan untuk menebus kesalahan saya ini, saya janji untuk tidak melakukan kebohongan lagi." Jawab Zicko berterus terang.
"Maafkan ibu juga yang sudah membuatmu kesal, ibu hanya kecewa saja. Kenapa tidak berterus terang pada ibu, kenapa mesti berbohong. Tapi ya sudah lah, semua sudah terjadi. Maafkan ibu yang sudah mengancammu untuk menceraikan Lunika, ibu hanya sedikit kecewa saja. Ibu tidak ingin, masa lalu ibu terulang kembali pada Lunika. Maka dari itu, ibu ingin memastikan kamu. Sejauh mana kamu akan membawa hubungan pernikahan kamu bersama putriku? itu saja." Ucap sang ibu mertua yang tiba tiba teringat akan masa lalunya pada kalimat terakhirnya.
"Saya sadar dengan perasaan saya sendiri, Bu. Jika saya sebenarnya ... telah jatuh hati dengan putri ibu yang bernama Lunika. Entah lah, perasaan ini muncul begitu saja. Saya tidak dapat memungkirinya, jika saya benar benar jatuh hati pada Lunika." Jawab Zicko berterus terang akan perasaannya sendiri, kemudian menoleh kearah istrinya dengan tatapan penuh cinta pada istrinya.
Lunika yang mendengar penuturan dari suaminya seakan seperti mimpi, dirinya benar benar tidak menyangkanya.
"Ibu tidak melarangnya, semua keputusan ada pada Lunika. Karena Lunika yang akan menjalaninya, bukan ibu." Ucap sang ibu mertua, kemudian mengarahkan pandangannya pada putri kesayangan.
"Lun," panggil Zicko pada istrinya. Lunika pun menoleh ke arah sang suami yang duduk disebelahnya.
"Lun, saksinya ibu kamu. Apakah kamu mau menerima cintaku ini, cinta yang baru saja menyadarinya akan perasaanku padamu. Aku merasa nyaman berada didekatmu, kamu tempat ternyaman setelah ibuku." Ucap Zicko menatap lekat pada istrinya.
__ADS_1