
Zicko masih memeluk istrinya, mencoba memberikan ketenangan padanya.
Disaat itu juga, tiba tiba Lunika merasakan sesuatu pada dirinya.
"Aw! kepalaku, kepalaku kenapa?"
"Sayang, kamu kenapa?"
"Aku tidak tahu, kenapa penglihatanku menjadi buram? ada apa ini? aw! sakit, aduh ... kenapa ini?" tanya Lunika panik dengan keadaan dirinya sendiri. Zicko sendiri semakin cemas dibuatnya.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Sayang .....!!!" teriak Zicko histeris tatkala mendapati istrinya pingsan di pangkuannya.
Semua menghampirinya, seketika semuanya berubah menjadi panik tatkala mendengar Zicko berteriak histeris.
Tanpa pikir panjang, Zicko langsung menggendong istrinya dan membawanya ke rumah sakit dan diikuti oleh yang lainnya termasuk kedua orang tuanya masing masing.
Didalam perjalan, Zicko terus memanggil istrinya berulang ulang. Bahkan kedua pipi milik Lunika di tepuk tepuk berulang ulang sambil memanggil namanya.
Tidak lama kemudian, kini telah sampai di rumah sakit. Dengan sigap, Zicko membawanya sampai ke ruang pemeriksaan.
"Mohon maaf, lebih baik Tuan menunggunya diluar." Perintah sang Dokter pada Zicko.
"Tidak, saya tetap akan berada disamping istri saya Dok. Apapun itu, saya tidak akan membiarkannya sendirian." Jawab Zicko bersikukuh dengan pendiriannya, Zicko terus memaksa untuk bisa selalu berada di dekat istrinya.
"Baik lah jika Tuan tetap mamaksanya, saya tidak bisa menolaknya. Mari, ikut saya ke ruang pemeriksaan." Ucap sang Dokter yang tidak bisa menolaknya.
__ADS_1
Kini, Lunika dan Zicko tengah berada didalam ruang pemeriksaan. Sedangkan yang lainnya berada di ruang tunggu, semua masih dengan kepanikannya. Bahkan, tidak ada satupun yang bisa duduk dengan tenang.
Tuan Guntara dan istri beserta besannya pun ikut tidak tenang memikirkan keadaan Lunika.
"Mas, putri kita kenapa? ada apa dengan putri kita? aku belum sempat bertemu dengannya? menciumnya? melihatnya? bahkan aku belum sempat membelainya, mengecupnya, memanggil namanya. Aku merindukannya, Mas ... aku ingin memeluknya, aku ingin memeluknya." Tanya istri tuan Guntara dengan nafasnya yang terasa sesak, dan air matanya yang tidak lagi bisa untuk dibendungnya.
Tuan Guntara yang melihat kegundahan pada istrinya, beliau langsung memeluk istrinya dengan erat.
"Keira istriku, berdoalah. Percayalah, putri kita akan baik baik saja. Mungkin, dia sedang shock menghadapi semua ini. Yakinlah, putri kamu akan segera sadar. Dan kita, kita tidak akan lagi kehilangannya." Jawab tuan Guntara menenangkan dan meyakinkan istrinya.
"Aku tidak bisa membayangkannya, apakah selama ini dia hidup dengan bahagia? atau.. dia penuh kesengsaraan. Mas, aku ibunya, aku yang melahirkannya, tapi aku ... aku tidak pernah memberi kasih sayang padanya. Apa putriku mau menerimaku sebagai ibunya." Ucap sang istri dengan isak tangisnya sambil menggoncangkan tubuh suaminya.
"Tenangkan pikiran kamu itu, yakinlah dengan putri kita. Bahwa putri kita adalah anak yang baik, dan akan menerima kita sebagai orang tuanya. Kita harus yakin, kita tidak boleh pesimis. Sekarang, tenangkan pikiran kamu. Berdoalah, semua akan baik baik saja." Jawab tuan Guntara meyakinkan dan mengusap air mata yang ada pada istrinya. Sedangkan istri tuan Zayen pun ikut bersedih dengan kejadian semua ini yang menimpa menantunya.
"Sayang, aku sangat khawatir pada Lunika. Aku takut terjadi sesuatu padanya, apakah dia terluka? aku takut." Ucap istri tuan Zayen dan bertanya.
Semoga saja, Lunika bisa menerima tuan Guntara dan istrinya adalah kedua orang tua kandungnya." Jawab tuan Zayen meyakinkan istrinya, sang istri hanya mengangguk dan menghapus air matanya.
Sedangkan kakek Dana dan yang lainnya tengah duduk berdekatan. Persahabatan, persaudaraan, kini semakin dekat. Meski berawal dari sebuah dendam, namun dapat bersatu kembali.
"Ini semua karena aku, andai saja aku tidak ego dengan emosiku. Mungkin, kejadiannya tidak akan seperti ini." Ucap kakek Dana penuh sesal ketika mengingat masa lalu yang sudah dilakukan demi ambisinya yang merugikan banyak orang.
"Tanpa adanya kejadian seperti ini, semua tidak ada yang merasa kehilangan yang penuh arti. Dan mungkin juga, kita tidak akan pernah mengenal rasanya rindu dan perjuangan yang begitu penuh arti dan banyak pelajaran." Sahut kakek Alfan menimpali.
"Benar, apa yang dikatakan tuan Alfan sangat lah benar. Karena ibuku sendiri pernah mengalaminya, ibuku harus berpisah dengan waktu yang lama bersama keluarganya. Bahkan, belaian dari ibunya saja tidak didapatkannya. Namun, dari sebuah kejadian itu, sebuah pernikahan lah yang membawanya masuk dalam keluarganya sendiri." Sahut kakek Ganan yang juga teringat akan kisah ibunya yang juga pernah dibuang karena masalah asmara.
"Nah, sekarang kita menjadi keluarga tuan Dana. Kalau tidak ada kejadian seperti ini, mungkin saja hubungan kita bisa jadi renggang. Karena apa? karena kita sibuk dengan dunia kita masing masing." Sahut kakek Tirta ikut menimpali.
__ADS_1
"Sudah, cukup dulu pembicaraan kita ini. Lihat lah mereka berempat, tengah cemas memikirkan keadaan Lunika. Ayo, kita temui mereka." Ucap kakek Ganan dan mengajaknya untuk menemui tuan Guntara dan tuan Zayen.
Sedangkan Zicko masih menemani istrinya yang tengah berbaring diranjang pasien. Kemudian, Zicko keluar dan meminta mertuanya untuk segera masuk. Mau bagaimana pun, kedua orang tua Lunika berhak untuk menemui putrinya. Di tambah lagi, sudah sekian lamanya tidak pernah bertemu.
"Paman Guntara, tante, silahkan masuk."
"Paman?" kata tuan Guntara mengernyitkan dahinya.
"Maaf, maksud Zicko Papa dan Mama." Jawab Zicko sedikit kaku.
"Rupanya benar, kamu memang menantuku. Kamu memilih istri yang sangat tepat, bahkan aku sendiri salah menjodohkan kamu. Justru, kamu lah yang benar memilih istri untuk menjadi pendamping hidupmu." Ucap tuan Guntara teringat akan perjodohan antara Zicko dan Jennyta.
"Papa bisa aja, mungkin memang seperti inilah perjalanan cinta Zicko bersama Lunika putri Papa." Jawab Zicko dengan senyum malu.
"Papa dan Mama masuk dulu, ya." Ucap tuan Guntara.
"Iya Pa, silahkan." Jawab Zicko.
Kini, tuan Guntara dan Sang istri tengah berada di ruang rawat putrinya yang sedang berbaring diranjang pasien.
Seketika, istri tuan Guntara menitikan air matanya. Ia benar benar tidak pernah menyangkanya, jika dirinya telah kembali dan bertemu dengan buah hatinya yang sudah lama tidak pernah bertemu.
Begitu juga dengan tuan Guntara, Beliau ikut menitikan air matanya. Benar benar tidak pernah disangka, jika putrinya masih hidup. Bahkan, istri yang dicintainya pun masih hidup. Kini, kebahagiaan tengah dirasakannya. Hanya saja, putrinya masih berbaring lemas tanpa berdaya.
Dengan lembut, sang ibu mengusap rambut milik putrinya. Kemudian, mengecup keningnya dan pipi sebelah kanannya. Lalu, meraih tangannya.
"Sayang ... ini Mama, sayang ... maafkan Mama yang sudah membuatmu menderita. Maafkan Mama yang tidak pernah memberimu kasih sayang, maafkan Mama. Sayang ... sekarang kita sudah lengkap, kamu tidak lagi menjadi anak sebatang kara. Kamu masih mempunyai kedua orang tua, bahkan keluarga. Kamu tidak lagi sendirian, kamu tidak lagi harus menerima cemoohan dari orang orang. Sayang ... bangun sayang ... lihatlah, Mama dan Papa sudah ada dihadapan kamu. Sayang ... bangun, Nak ..."
__ADS_1