
Dilain tempat, Zicko tengah duduk dikursi kerjanya sambil menatap layar dengan fokus. Namun, seketika dirinya teringat akan sosok perempuan dimasa lalunya. Masa yang dimana nyawanya telah diselamatkan, Zicko masih terhanyut dengan lamunannya.
Terlalu fokusnya dengan lamunannya, sampai sampai Zicko tidak mendengar suara ketukan pintu yang berulang ulang. Zicko tersadar ketika bunyi bel pintunya terdengar yang lumayan cukup keras.
Dengan malas, Zicko menekan tombol agar pintunya segera terbuka.
"Ada perlu apa? katakan," tanya Zicko.
"Maaf Bos, diluar ada seorang perempuan cantik tengah memaksa masuk untuk menemui Bos Zicko." Jawabnya.
"Kenapa kamu tidak mengusirnya, hah? bukankah aku sudah pernah bilang untuk tidak tidak menerima tamu."
"Maaf Bos, kalau yang sekarang ini tetap memaksanya." Jawabnya.
"Suruh dia untuk segera menemuiku, sekarang juga." Perintah Zicko pada bawahannya.
"Baik Bos, saya permisi." Jawabnya.
Sedangkan di sudut lain, seorang perempuan tengah berjalan berlenggak lenggok dengan postur tubuhnya yang se*ksi.
"Maaf Nona, mari saya antar."
"Kamu tidak perlu mengantarkan aku, tunjukan saja dimana ruang kerjanya Zicko." Jawabnya dengan tatapan sinisnya.
"Tapi, Nona."
"Tidak ada tapi tapian, aku pacarnya Bos kamu. Jadi, jangan mengaturku." Ucapnya dengan sinis.
"Iya Nona, maaf. Nona lurus saja, kemudian belok kiri, disitu lah ruang kerja Bos Zicko." Jawabnya sedikit geram.
Tanpa berucap sepatah kata, perempuan tersebut langsung pergi begitu saja tanpa ucapan terimakasih.
'Da*sar perempuan sadis, pakai ngaku ngaku pacarnya Bos Zicko segala. Belum tahu dia, kalau Bos Zicko sudah menikah.' Gumamnya berdecak kesal.
Sedangkan Zicko yang tengah sibuk, tiba tiba terdengar suara ketukan pintu. Tanpa pikir panjang, Zicko langsung menekan tombolnya.
__ADS_1
Pintu pun terbuka dengan sendirinya, seorang perempuan tengah datang dengan penampilannya bak model yang sangat cantik. Seketika, Zicko tercengang melihatnya.
"Sayang ..." seru perempuan itu dengan senyum mengembang mengarah ke Zicko dan memeluknya.
Naas, Zicko lebih sigap langsung menggeser kursinya. Dan ... perempuan itu hampir saja tersungkur, sedangkan Zicko menahan tawanya.
Perempuan yang ada dihadapannya kini terlihat menunjukkan ekspresi kekecewaannya dan juga kekesalannya karena tengah dikerjai Zicko.
Dengan santai, Zicko menatapnya dengan senyum sini. Perempuan tidak ada kata menyerah, justru masih berani untuk merayu Zicko.
"Sayang, kamu jangan jahil deh. Aku sangat merindukanmu, serius." Ucapnya tanpa rasa malu sedikitpun, bahkan tanpa merasa bersalah.
"Kamu merindukanku? omong kosong. Dapat kalimat itu, dari mana? nga*co! kamu." Jawab Zicko dengan tatapan kesalnya.
"Sayang, aku datang menemui kamu itu ... aku mau meminta maaf atas kesalahan aku. Dan aku mohon dengan sangat, maafkan aku. Tidak hanya itu, aku ingin kita kembali seperti dulu." Ucapnya.
"Setelah sekian lamanya, bahkan entah berapa tahun. Kamu masih sempat sempat nya
bilang kalau kamu ingin kembali denganku? apa aku tidak salah dengar, hah?"
Zicko hanya menjadi pendengar setia tanpa merespon sedikitpun.
"Seril ... Seril ... maaf, aku tidak bisa. Aku sudah tidak mencintaimu lagi, dan aku pun sudah Melupakan kamu. Jadi, pergi sekarang juga." Ucap Zicko sambil menatap mantan kekasihnya itu.
"Kamu sedang bercanda kan, sayang. Kamu hanya mengerjai ku, 'kan? aku tahu itu. Kamu sengaja ingin membuatku geram dan kesal, setelah itu kamu akan tertawa setelah aku keluar dari ruangan ini. Baik lah, aku akan pergi sekarang juga." Jawab Seril dengan percaya diri.
Setelah itu, Seril benar benar melangkahkan kakinya dan berjalan keluar. Dengan pelan, Seril menuju pintu. Namun, tetap saja tidak mendapatkan respon dari Zicko.
Seril semakin cemas tatkala Zicko tidak mencegahnya, bahkan tidak terdengar Zicko bangkit dari posisi duduknya.
"Seril," seru Zicko memanggilnya. Seril pun tersenyum mengembang mendengar suara Zicko yang tengah memanggilnya. Dengan cepat, Seril menoleh kebelakang. Berharap akan mendapat pelukan darinya, seperti yang ditangan angannya.
"Hati hati dijalan, jangan kecewa." Ucap Zicko dengan senyum mengejek, seketika Seril mendelik menatap Zicko.
'Sialan! awas saja, aku akan balas semua ini. Rupanya dia memang benar benar dendam denganku. Lihat saja, aku akan membuatnya jatuh cinta lagi denganku. Apa sih yang tidak bisa untuk aku lakukan, Seril ...' batinnya dengan rasa kekesalannya.
__ADS_1
Karena terasa sakit hati, Seril bergegas pergi begitu saja tanpa berpamitan sekalipun. Zicko yang melihat ekspresi mantan kekasihnya itu tersenyum puas karena dapat meluapkan sakit hatinya selama bertahun-tahun.
'Kamu pikir, aku ini bo*doh! Seril. Kamu kira selama ini aku tidak pernah menyelidiki kamu, terlalu bo*doh kamu.' Gumam Zicko dengan senyum sinis.
Setelah merasa cukup lega, Zicko kembali teringat dengan sosok perempuan yang telah menjadi istri sahnya. Seketika, Zicko langsung melihat jam tangannya. Lagi lagi ingatan Zicko tertuju pada dua sosok laki laki yang mengganggu pikirannya.
"Sudah jam berapa ini, aku harus segera pulang menyusul perempuan sialan itu. Aku yakin dengan pasti jika Lunika sedang bersama laki laki itu. Awas saja, jika sampai aku mendapat pesan dari pak Yitno tentang kedatangan diantara dua laki laki itu." Gerutunya, kemudian segera menyelesaikan pekerjaannya agar cepat selesai dan bisa pulang lebih awal, pikir Zicko.
Sedangkan di rumah yang cukup sederhana, Lunika bersama ibunya dan juga ibu Arum tengah berbagi cerita. Pak Yitno sendiri sudah dalam perjalanan pulang untuk menjemput Bos mudanya.
"Lun, tadi itu supirnya Bos kamu?" tanya ibu Arum.
"Iya Bu, namanya pak Yitno." Jawab Lunika, kemudian menyesap teh hangatnya.
"Majikan kamu itu orangnya sekaya apa sih, Lun? padahal kamu bekerja baru beberapa hari. Tapi ... pemberiannya melebihi gajih sebulan, apa kamu tidak takut?" tanya ibu Arum yang masih penasaran.
"Majikan Lunika, orangnya sangat dermawan. Soal kekayaannya sih, Lunika tidak mengetahuinya. Hanya mengetahui rumahnya yang sangat megah seperti istana, Bu." Jawab Lunika yang bingung untuk menjelaskannya.
"Ibu jadi penasaran, seperti apa majikan kamu itu. Semoga kebaikan majikan kamu itu benar benar tulus denganmu, Nak. Ingat, kamu harus jaga kesopanan kamu. Jangan sampai kamu lalai akan siapa diri kamu ya, Nak." Ucap sang ibu sambil mengingatkan putrinya.
"Cie ... yang sudah pulang dan temu kangen dengan ibunya, tidak kabar kabar nih." Ucap Romi yang mendadak sudah ada didekat Lunika.
"Romi, maafkan aku. Maaf, jika aku tidak memberimu kabar. Aku sibuk dengan pekerjaanku, sampai sampai aku tidak ada waktu untuk menggunakan ponselku." Jawab Lunika merasa tidak enak hati.
"Tidak apa apa, aku ngerti dengan kesibukan kamu. Santai aja, yang terpenting sekarang kamu sudah diizinkan pulang untuk menghadiri acara pernikahan Hana. Oh iya, kamu sudah membeli kadonya belum?"
"Sudah, aku sudah membelinya." Jawab Lunika.
"Kirain kamu belum beli, ya sudah kalau begitu. Oh iya, besok kamu mau aku jemput atau ..."
"Atau aku yang jemput, bagaimana?" sahut Aden yang sudah berada dibelakang Romi. Seketika, Romi langsung menoleh kebelakang dan keduanya saling berhadapan.
"Sialan, ngapain kamu kesini? kurang kerjaan?"
"Suka suka aku dong, wek..." jawab Aden sambil menjulurkan lidahnya untuk mengejek temannya.
__ADS_1