Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Masih mencurigai


__ADS_3

Dey meringis kesakitan bagian punggungnya. Ingin tidur dengan pulas, namun kesialan yang ia dapatkan.


"Rasain tuh, makanya jangan mesum. Kamu sengaja ya, tidur disebelahku hanya mau mencuri kesempatan. Dih! dasar mesum, memang kamu pikir aku sudah tidur? aku bukan type perempuan bodoh." Ucap Vey dengan posisi duduk bersila diatas tempat tidur.


"Cih! kamu terlalu kepedean, siapa juga yang mau mesum sama kamu. Lihat noh! body aja tidak ada bagus bagusnya, bagusan juga pantat sapi." Sahutnya tidak mau kalah.


"Terus, ngapain kamu tidur disebelahku, mau mengelak? dih! sudah salah tidak mau mengaku." Ucap Vey dengan kesal.


"Bodoh sekali aku, jika aku tidur di lantai. Ini kan kamarku, seharusnya aku yang tidur ditempat tidur dengan benar. Coba aja kalau kamu berani mengadukan ke paman Zayen, kalau menuntut hakku untuk tidur di tempat tidurku sendiri." Sahut Dey sambil mengeluarkan jurusnya, berharap dia tidak akan tidur di lantai.


Sedangkan Vey yang juga takut akan diadukan oleh pamannya, ia memilih menyerah dan mengizinkan Dey tidur disebelahnya.


"Ok ok, sekarang kamu aku izinkan kamu untuk tidur disebelahku. Tapi ingat, harus ada pembatasnya. Awas! kalau sampai bantal gulingnya melayang, aku pastikan badan kamu kembali encok." Ucap Vey diakhiri dengan kalimat ancaman, Dey sendiri tersenyum puas. Rupanya idenya pun cukup manjur bak jamu yang sangat manjur, pikir Dey sambil senyum puas.


"Cih! kenapa kamu yang memberi izin, ini kan kamarku. Seharusnya aku yang memberi izin ke kamu, ini malah sebaliknya. Benar benar bawel kamu ini, cih. Ada ya, perempuan kek kamu. Udah kek laki aja tenaga kamu, bagaimana jadinya dimalam pertama denganmu. Adu panco kali ya, hih!" ucap Dey dan bergidik ngeri saat membayangkan tenaga super milik istrinya.


"Dasar! mesum, mit amit dah."


"Biarin aja mesum, lagian mesum sama kamu tidak apa apa 'kan?" sahut Dey sedikit meledek.

__ADS_1


"Dih! jangan sampai, mit amit pokoknya." Ucap Vey dengan sungut. Kemudian tanpa pikir panjang, Vey langsung menggulungkan sekujur tubuhnya dan hanya kepalanya yang tersisa. Tidak memakan waktu yang cukup lama, akhirnya Vey terlelap dari tidurnya.


Sedangkan Dey segera berbaring diatas tempat tidur dan memejamkan kedua matanya. 'Perempuan itu? kenapa selalu hadir dalam mimpiku, sedangkan disebelahku ini perempuan aneh sepanjang hidupku.' Batin Dey dengan mata yang terpejam. Karena rasa kantuknya yang begitu berat, akhirnya Dey ikutan terlelap dari tidur panjangnya.


Entah siapa yang memulainya, Vey maupun Dey sama sama terjatuh tanpa disadari oleh keduanya. 'Kenapa terasa dingin, aku tidak sedang tidur dilantai, 'kan?" batin Vey yang merasa pipi sebelah kirinya terasa dingin karena menempel ke lantai.


Begitu juga dengan Dey, ia pun merasakan hal yang sama.


"Kamu!!!! bangun!! sudah aku bilang, aku tidak mau tidur dilantai." Teriak keduanya sangat keras, dan tidak tahunya saling menatap satu sama lain.


Karena merasa malu sudah saling tuduh menuduh, akhirnya keduanya kembali tidur ditempat semula. Keduanya sama sama membelakangi, bahkan tidak bersuara sepatah katapun diantara keduanya. Karena masih terasa ngantuk, akhirnya Vey dan Dey kembali melanjutkan tidurnya.


"Kenapa tidak ada tanda tanda yang mencurigakan? semuanya terlihat sangat normal, bahkan tidak ada satupun yang mencurigakan dari rekaman CCTV. Eh! tunggu tinggi, ini perempuan atau laki laki? kenapa sangat mencurigai. Coba aku memperjelas nya, kemudian aku tangkap wajahnya. Ah! sial, sepertinya bukan. Kenapa aku merasa ada sesuatu pada istriku? atau ... perasaan aku saja, semoga tidak terjadi sesuatu pada anak dan istriku." Gumamnya sambil memeriksa rekaman CCTV.


Karena masih menyimpan rasa penasaran, sampai larut malam pun masih berada diruang kerjanya dengan menatap layar ponselnya.


"Mana sebentar lagi aku harus pergi ke luar Kota, lagi. Apa aku bisa meninggalkan istriku dengan kondisi hamil tua? pilihan yang tidak bisa aku ubah. Aku harus meminta Papa untuk memperketat penjagaannya, aku tidak ingin anakku yang akan menjadi korban orang yang tidak mau bertanggung jawab." Gumamnya lagi yang terus berpikir untuk mencari jalan keluarnya saat dirinya harus jauh dengan istrinya.


Malam semakin larut, waktupun tidak terasa sudah lewat dari jam dua belas malam. Rasa kantuk pun kini tengah menyerang sepasang matanya yang dipaksakan untuk menemaninya bergadang.

__ADS_1


Karena tidak ingin kesehatannya terganggu,


Zicko segera menyudahi aktivitasnya. Kemudian ia masuk ke kamar dan segera tidur. Sampai didalam kamar, Zicko menatap lekat wajah istrinya yang tengah tertidur pulas. Didekati lah sang istri tercintanya, kemudahan ia mengecup keningnya dan mencium pipi kanannya.


"Aku akan selalu menjagamu, meski aku pasrahkan kepada suruhanku. Setidaknya aku akan terus berusaha untuk selalu siaga dengan keselamatan kamu serta anak yang sedang kamu kandung." Ucap Zicko bergeming, kemudian ia tidur disebelah istrinya serta memeluknya penuh kasih sayang.


Tidak terasa, waktu pun telah berganti. Pagi hari dengan sinar matahari yang cukup hangat, Vey dan Dey sudah bangun dari tidurnya yang dirasa tidak lah nyaman. Justru keduanya terasa pegal pegal diseluruh anggota tubuhnya.


"Ini semua gara gara kamu, tidur saja sudah seperti didalam area pertarungan. Gila bener tenaga kamu itu, benar benar membuat badanku terasa sakit semua. Malam pertama bukannya indah, ini malah suram. Mimpi apakah aku ini? sampai sampai dapet istri udah kek laki aja, cih! beli kucing dalam karung seperti ini rupanya." Ucap Dey sambil mengaduk kopi panasnya, sedangkan Vey tidak peduli dengan celotehan dari Dey.


Vey tetap fokus dengan roti panggungnya, kemudian mengolesinya dengan selai kacang. Setelah itu, ia menuang su*su segarnya yang ada didalam kulkas. Lalu, Vey menaruhnya diatas meja makan.


Dengan sigap, Dey langsung merampas roti yang ada ditangan Vey yang hendak disantapnya.


"Eh! sialan, berikan rotinya padaku. Enak saja kamu merampasnya, aku yang memanggangnya juga. Kalau kamu mau, buat sendiri dong. Jangan main serobot aja, enak saja." Ucap Vey dengan sungut dan tentunya sangat geram.


"Heh, dimana mana suami itu dilayani. Sekarang juga, kamu sudah sah menjadi istriku menurut agama dah hukum. Jadi, kamu harus tunduk dan hormat padaku."


"Ye, itu kan menurut kamu. Bagiku kamu hanya suami didalam status, bukan nyata. Lagian juga aku tidak menyukaimu, yang ada eneg mah iya."

__ADS_1


"Cih! kau pikir kamu saja, begitu. Apa lagi aku, seperti mimpi buruk beristrikan kamu. Yang ada tambah kurus saja, aku ini." Sahut Dey yang tidak mau kalah.


__ADS_2