Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Was was dan khawatir


__ADS_3

Tidak lama kemudian, Enja tengah duduk dengan penampilan yang baru. "Enja, bagaimana kabar kamu pagi ini? apakah sudah siap?" tanya Daka sembari duduk disebelah calon istrinya.


"Kabarku baik baik saja, dan yang pastinya jauh lebih baik dari hari hari sebelumnya. Kamu sendirian? atau ... ada yang menemanimu." Tanya Enja dengan raut wajahnya yang terlihat mulai ceria.


"Tentu saja sendirian, bukankah aku akan mengajakmu untuk mengurus keberangkatan kita ke luar Negri? hem." Jawab Daka dan meraih tangan milik Enja.


"Ah ya, aku sampai lupa. Oh ya, kamu sudah sarapan belum? aku mau sarapan terlebih dahulu. Jika kamu belum sarapan, kita sarapan bareng aja." Ucap Enja.


"Kita sarapannya di luar aja, aku ingin mencari suasana yang berbeda, bagaimana? mau ya?"


"Tapi ... nanti aku membuat mu malu, bagaimana? aku takut akan memperlakukan kamu." Ucap Enja merasa tidak enak hati.


"Ngapain harus malu, aku menerima kamu apapun keadaan kamu." Ucap Daka meyakinkan calon istrinya, Enja sendiri tersenyum mendengarnya.


"Nah, gitu dong. Oh ya, bagaima kalau kita langsung berangkat aja. Takutnya nanti kita terlambat." Ajak Daka yang takut menunggu dengan nomor antrian yang cukup lama untuk menunggu.


"Aku mau pamitan dulu sama Ibu Mala, bagaimana? apakah kamu mau memanggil kan Ibu Mala?"


"Ibu sudah ada didekat kamu, Enja. Kalau mau berangkat, jangan lupa ada yang tertinggal. Termasuk berkas berkas yang kamu butuhkan." Ucap Ibu Mala menimpali serta mengingatkan, takut jika ada yang tertinggal.


"Berkasnya sudah Enja siapkan, Bu." Jawab Enja, kemudian dibantu oleh Ibu Mela untuk mengambilnya didalam lemari. Kemudian diserahkannya ke Daka, setelah itu keduanya berpamitan untuk berangkat.


Sedangkan ditempat lain, Kalla tengah mondar mandir didalam kamar. Vellyn yang melihat tingkah saudara perempuannya pun merasa pusing sendiri.


"Elu kenapa, La? perasaan dari tadi kamu itu mondar mandir dah kek setrikaan aja deh." Ucap Vellyn merasa aneh dengan saudara perempuannya itu.


"Gua lagi bingung, Vel. Lihat nih, udah pagian aja deh. Mana pagi ini aku disuruh ke Ke Kantor Paman Sey, lagi."

__ADS_1


"Oooh, soal keputusan yang mau kamu pilih? tinggal mantapkan aja, kenapa. Fokuskan masa depan kamu, termasuk usia kamu yang sekarang ini. Apa ya, kamu mau bertahan dengan usia kamu yang akan terus terusan sendirian? kalau aku sih, males banget." Kata Vellyn sedikit menggoda.


"Ya juga, ya. Kenapa mesti harus bertahan dengan kesendirian, jugaan kalau aku menemukan lelaki yang aku pilih belum tentu akan mendapatkan restu. Yang ada aku hanya menuruti egoku, dan belum tentu juga orang yang aku pilih akan lebih bagus dari pilihan orang tuaku." Jawab Kalla yang entah kenapa jalan pikirannya yang terasa beban seperti dimalam hari, yang dimana terasa penat.


Setelah mendapatkan nasehat kecil dari Vellyn, akhirnya Kalla dapat memberi keputusan dengan percaya dirinya.


"Ya sudah, buruan mandi. Nanti keburu kesiangan, Paman Seyn bisa murka." Ucap Vellyn menakut nakuti, Kalla sendiri tidak meresponnya. Justru ia langsung bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sedangkan di rumah Romi, dirinya tengah disibukkan dengan sebuah pilihan yang harus ia katakan pada Tuan Seyn.


Romi tidak kalah bedanya dengan sosok Kalla yang juga sedari tadi hanya mondar mandir tidak jelas. Bahkan kedua orang tuanya pun dibuat bingung oleh putranya.


"Romi, kamu ini kenapa lagi sih? dari tadi kamu itu mondar mandir tidak jelas begitu." Tanya sang ibu memergoki putranya karena merasa aneh dan pastinya juga penasaran.


"Iya nih Anak kenapa? perasaan Papa perhatikan, kamu itu sudah terlihat tidak jelas begitu. Kamu itu kenapa? hah." Sang ayah pun ikut menimpali, lagi lagi Romi tidak meresponnya. Jangan merespon, menjawab pun tidak. Kedua orang tuanya hanya menggaruk kepalanya karena ulah putranya itu.


"Eh Mama, ada apa?" tanya Romi yang seakan akan lupa dengan kejadian yang sudah dilewatinya, meski baru saja satu menit. Karena sudah lapar, ayah Romi segera menikmati sarapan paginya.


"Begini loh Ma, Pa, Romi tuh lagi bingung untuk memberi Jawaban pada Tuan Seyn." Jawab Romi sambil menyibukkan diri sambil mengambil porsi nasi gorengnya, dengan lahap Romi menikmati nasi gorengnya.


Berbeda dengan keadaan keluarga Deyzan, kini tengah menikmati sarapan paginya bersama kedua orang tua Deyzan dan juga Kakek Alfan dan Omma Zeillyn. Sedangkan sang adik perempuannya tidak lagi tidur dirumah, melainkan menginap di rumah Tuan Zayen bersama Kalla.


Disaat itu juga, Vey merasakan tidak enak badan dan perut terasa tidak karuan. Tidak hanya itu, kepalanya pun ikut terasa pusing.


Dey yang memperhatikan istrinya yang tidak terbiasa membuat Deyzan berubah menjadi panik.


"Sayang, kamu kenapa? tanya Deyzan dengan cemas.

__ADS_1


"Ya Vey, kamu kenapa Nak? muka kamu kok terlihat pucat?" tanya ibu mertua ikut menimpali yang juga ikutan cemas ketika melihat kondisi Vey yang terlihat sangat pucat.


"Kepalaku pusing, perutku juga mual. Apa karena aku masuk angin apa, ya?" kata Vey balik bertanya.


"Mungkin saja, bagaimana kalau aku antarkan kamu berobat?" tanya Dey menawarkan diri.


"Tidak perlu, aku mau minum obat saja yang ada di rumah." Kata Vey yang tetap bersikukuh dengan pendiriannya yang tidak ingin merepotkan orang orang yang ada didekatnya.


"Lebih baik kamu periksa saja, itu akan jauh lebih baik dan tidak membuat seisi rumah menjadie lebih panik dan was was." Perintah Bunda Adellyn.


Sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, Vey langsung berlari menapaki anak tangga dan segera menuju kamar mandi. Dey yang semakin khawatir, ia langsung mengejar istrinya sampai kamar mandi. Setelah itu, Vey memuntahkan seisi dalam perutnya. Wajahnya terlihat sangat pucat, Dey yang melihatnya pun semakin tidak karuan atas kegelisahannya. Segera mungkin, Dey langsung menggendong istrinya tanpa pikir panjang.


Seisi dalam rumah dibuatnya heboh, semua anggota keluarganya ikut menyusul Dey membawa istrinya ke rumah sakit.


Sampainya di rumah sakit, Vey langsung ditanganani oleh seorang Dokter perempuan. Vey maupun Dey sama sama diberi pertanyaan mengenai keluhan Vey yang tengah dirasakannya.


Setelah berkata jujur dan cukup detail, akhirnya Vey mulai diperiksa dengan pelan pelan dan tentunya juga jeli ketika memeriksanya.


Setelah dilakukan tes dengan lengkap, kedua orang tua Dey maupun kedua orang tua sang ibu tengah duduk menunggu keputusan dari sang Dokter.


"Dey, bagaimana kata Ibu Dokter?" tanya sang Ibu takut jika terjadi sesuatu pada menantunya.


"Hasilnya belum keluar, Ma." Jawab Dey sambil memijat pelipisnya.


"Semoga saja tidak terjadi apa apa pada istrimu, dan semoga baik baik saja." Ucap Sang ibu penuh harap pada menantunya.


Hai readers setia... kita jumpa lagi nih, apa kabarnya kalian semua, semoga sehat sehat semuanya ya... aamiin. Otor mau ucapkan terima kasih banyak atas doa doa kalian yang sudah ikut mendoakan otor lekas sehat kembali. Dan kini Alhamdulillah Otor lekas sehat, meski masih harus banyak istirahat. Setidaknya kondisi Otor sudah lebih baik dari hari sebelumnya.

__ADS_1


Untuk novel Pernikahan Bayaran, sebentar lagi End ya ... sudah mulai dipuncak kebahagiaan untuk para tokoh di novel ini. Mungkin tinggal beberapa Bab Lagi nih..


__ADS_2