Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Pertemuan


__ADS_3

Tidak terasa sudah seharian penuh hingga kembali siang lagi, kini Zicko sudah dalam perjalanan untuk pulang. Perasaan khawatir dan penasaran, kini tidak ada lagi yang menghantui pikiran Lunika.


"Sayang, bagaimana perasaanmu saat ini? sudah lega 'kan?" tanya sang suami sambil memangku putranya.


"Iya, sekarang pikiran aku sudah jauh lebih tenang. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, dan aku sekarang aku mulai fokus untuk membagi waktuku bersama mu dan Niko. Maafkan aku ya, sayang. Jika aku sudah pernah membuatmu kesal, atau ... hal yang lainnya tanpa aku sadari." Ucap Lunika sambil menatap wajah suaminya dengan lekat, meski berada didalam mobil.


"Kamu tidak ada salah, dan juga tidak perlu meminta maaf. Semua terjadi karena keadaan, bukan atas dasar kemauan. Lebih baik sekarang kita gunakan waktu kita sebaik mungkin untuk membesarkan Niko dan memberi perhatian penuh pada Niko." Sahut Zicko dan merangkul istrinya, lalu mengecup keningnya.


Sedangkan di tempat lain, ada sepasang suami istri tengah duduk santai dibelakang rumah sambil memperhatikan kupu kupu beterbangan di taman bunga. Siapa lagi kalau buka Vey dan Dey yang tengah menikmati hari liburnya hanya berada di rumah saja.


Vey tengah melamun dengan tatapan entah apa yang sedang dipikirkannya.


"Sayang," panggil Dey sambil memeluknya dari belakang. " Kamu kenapa akhir akhir ini banyak melamun? ayo, ceritalah denganku." Tanya Dey sambil memeluk manja istrinya.


"Aku ingin seperti kak Lunika, sekarang mereka berdua sudah bahagia. Kita kapan akan bahagia seperti mereka? aku menginginkan kehadiran sang buah hati didalam rahimmu ini, sayang. Aku kesepian, terasa hampa tanpa ada tawa dari si kecil." Jawab Vey dengan suara sedihnya.


Dey yang mendengar keluh kesah istrinya, hari kecilnya pun ikut merasakan apa yang tengah dirasakan oleh istrinya. Dirinya pun juga menginginkan hadirnya sang buah hati, namun mau bagaimana lagi, keberuntungan belum berpihak pada dirinya dan sang istri.


"Bersabar lah, mungkin ujian kita ini untuk menguji kesabaran dan untuk saling menguatkan. Aku akan terus berada di sampingmu, apapun keadaannya aku akan selalu bersamamu untuk selamanya. Jangan memandang rumah tangga orang lain itu dari sampulnya, tapi lihat lah ujian yang dihadapinya. Kita hanya diuji untuk menunggu dan bersabar, bukan untuk berpisah." Ucap Dey yang terus memberi nasehat pada istrinya, Vey pun tersadar akan keluhan nya pada sang suami.


Setelah mendapatkan nasehat dari suaminya, akhirnya Vey membalikkan badannya dan menatap lekat pada sang suami.

__ADS_1


"Maafkan aku ya, sayang. Jika selama ini aku yang selalu mengeluh, hanya kurangnya rasa sabar untuk menunggu." Ucap Vey yang merasa terlalu berlebihan ketika mengeluh.


Dey tersenyum saat melihat istrinya, kemudian mengecup keningnya dengan lembut. "Bersabar lah, kita tidak sendirian. Diluaran sana ada yang lebih sabar lagi untuk menunggu sang buah hati, tetap berusaha dan berdoa." Kata Dey menyemangati istrinya.


"Iya sayang, aku terbawa suasana. Bahkan aku sendiri sampai lupa jika kak Zicko dan kak Lunika penuh perjuangan, bahkan nyawa lah taruhannya. Sedangkan kita hanya diuji dengan kesabaran yang tidak segara dengan apa yang dirasakan oleh kak Lunika dan juga kak Zicko, tidak hanya itu saja, Niko yang tidak tahu apa apa harus belajar bersabar tanpa dampingan seorang ayah di dekatnya." Ucap Vey yang teringat perjuangan dari kakak sepupu suaminya.


Dey akhirnya memeluk erat istrinya, keduanya kembali tersenyum dan memulai untuk berusaha kembali agar bisa mendapatkan apa yang selama ini ia tunggu tunggu hingga dua tahun lamanya.


Setelah merasa lega dan tidak ada lagi beban dalam pikirannya, Dey mengajak jalan jalan istrinya.


Sedangkan ditempat lain, Vellyn tengah mengendarai motornya untuk berkeliling keling jalanan. Sesekali ia menghentikan motornya tepat didepan warung makan, rasa lapar pun tengah mengundang perutnya untuk minta diisi. Akhirnya Vellyn memasuki area parkiran didepan warung makan, ingin rasanya menikmati makan siang yang sederhana.


Semua orang yang berada didalam warung makan memperhatikan penampilannya, dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.


"Permisi mbak, mau pesan apa?" tanya pelayan warung makan.


"Ayam geprek sama minumannya es teh ya mbak, sambalnya yang ekstra pedas." Jawab Vellyn menyebutkan pesanannya.


Tidak lama kemudian, datang lah seseorang yang juga mampir ke warung tersebut. Dilihatnya sudah tidak ada lagi tempat duduk yang kosong selain tempat duduk yang satu meja dengan Vellyn. Sebelum menuju tempat duduk, ia memesan satu porsi makanan. Setelah itu, ia segera menuju tempat duduk yang tidak lain satu meja dengan Vellyn.


"Kamu!!" Teriak Vellyn dengan reflek. Semua yang ada warung menoleh kearah Vellyn, sedangkan Vellyn tidak mempedulikannya.

__ADS_1


"Iya Nona, ini saya Arnal. Apakah ada yang perlu dibantu? katakan saja, mumpung saya masih berada di warung ini."


"Dih, aku tidak butuh bantuan dari mu sekretaris Arnal. Eh! tunggu, jangan bilang kalau kamu mengikutiku."


"Jangan kepedean Nona, saya ini mau pulang ke rumah sebelum saya diberangkatkan di luar Kota. Dan jalan ini juga mengarah ke alamat rumah saya. Justru saya yang bertanya pada Nona, apakah Nona yang sengaja mencari alamat rumah saya?" tanya Arnal membalikkan pertanyaan.


"Dih, kepedean banget sih. Ngapain juga aku mencari alamat mu, kurang kerjaan aja." Sahut Vellyn dengan muka masamnya, Arnal hanya tersenyum ketika melihat ekspresi dari Vellyn.


Tidak lama kemudian, pesanan milik Vellyn dan dan Arnal telah sampai di hadapannya.


Seketika, seorang pelayan yang baru saja meletakkan dia porsi yang sama pun kaget dibuatnya.


"Arnal?" dengan reflek, pengucapannya pun telah didengar oleh Arnal maupun Vellyn. Keduanya sama sama terkejut, yang lebih terkejutnya lagi yakni si Arnal. Kedua bola matanya mendadak menatap tajam pada pelayan tersebut.


"Hana, kamu?" Arnal pun dengan reflek menyebut namanya. Vellyn semakin bingung melihat Arnal dan pelayan yang dipanggil Hana itu.


Disaat itu juga, Arnal mendekatkan posisi duduknya lebih dekat dengan Vellyn. Sedangkan Vellyn tidak bisa melepas diri untuk menghindar dari Arnal dengan kondisi lengan kirinya yang tertahan oleh Arnal seraya terlihat merangkul.


Hana yang melihat Arnal duduk berdekatan dengan Vellyn, hatinya terasa panas. Ia kembali teringat saat menerima kegagalan saat menikah dengan Arnal.


"Apa kabar mu, Hana?" sapa Arnal basa basi.

__ADS_1


"Kabarku seperti yang kamu lihat, aku baik baik saja. Kamu sendiri apa kabarnya? siapa perempuan ini?"


"Istriku, cantik 'kan? mana suami kamu?" sahut Arnal dengan cepat sebelum Vellyn menjawabnya. Tidak hanya itu, semakin Vellyn bergerak, maka Arnal akan semakin kuat untuk menahan Vellyn agar tidak bisa kabur darinya.


__ADS_2