Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Kenyataan


__ADS_3

Pagi hari tengah bersiap siap untuk segera berangkat menuju ke lokasi, Tuan Zayen bersama keluarga kini sudah berada didalam mobil.


"Semoga hari ini Zicko dapat ditemukan dengan selamat, ayo kita berangkat. Pak Diwan, jalankan mobilnya." Ucap Tuan Seyn, yang lainnya hanya diam tanpa bersuara.


"Baik, Tuan." Jawab Pak Diwan dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sedangan Tuan Zayen hanya menatap luar sambil melamunkan putranya yang juga belum ditemukan titik terangnya. Orang tua mana yang tidak khawatir, jika putranya belum juga ditemukan keberadaannya. Semua orang tua pasti akan mengkhawatirkan keadaan anaknya, bahkan bisa juga prustasi ketika tiba tiba kabar buruk dari putra semata wayangnya. Bahkan harus berbohong didepan menantunya, dan juga harus bermain drama agar tetap terlihat baik baik saja tanpa mengetahui kebenarannya. Namun jika berurusan dengan yang namanya takdir, kemanapun mengelak akan tetap menjadi target dan tidak menyalahi takdir.


Sampai di lokasi, semua Tim tengah disibukkan kembali mencari korban jatuhnya ke dalam jurang yang terbilang sangat curam. Waktu terus berganti waktu hingga tidak terasa kembali malam. Bahkan malam pun berganti hari, hingga tidak terasa sudah satu minggu korban tidak juga ditemukan.


Tuan Zayen dan Tuan Guntara tidak juga pulang ke rumah selama dalam pencarian Zicko selama satu minggu. Pihak dari kepolisian dan juga jajaran TNI sudah menyerah, sudah dilakukan pencarian yang begitu ketat. Namun, tetap saja tidak juga ditemukan titik terang.


Pandangan dari Tuan Zayen masih tertuju pada sebuah jurang yang sangat curam. Beliau tidak dapat membayangkannya, apa yang harus dikatakannya terhadap istri dan menantunya.


"Tuan! Tuan! ada kabar baru Tuan, yakni mengenai Tuan Zicko."


Tuan Zayen masih tidak meeesponnya, Beliau tetap tidak bergeming.


"Katakan, cepat! katakan." Ucap Tuan Seyn yang sudah tidak lagi sabar.


"Tuan Zicko sudah ditemukan, tapi ..."


Tuan Zayen masih tetap tidak percaya, Beliau tetap tidak bergeming saat mendengar penyampaian dari anak buahnya.


"Tapi kenapa! ha! cepat kau katakan!" bentak Tuan Seyn.


"Lebih baik Tuan segera menyusul ke rumah sakit, karena sekarang korban sudah dibawa ke rumah sakit." Ucap pak Polisi menimpali, Tuan Seyn dan Tuan Guntara mengajak Tuan Zayen untuk ikut ke rumah sakit.

__ADS_1


Dengan kecepatan tinggi, Beliau telah sampai di rumah sakit. Dengan terburu buru, akhirnya sampai di hadapan Kapolri dan yang lainnya.


"Dimana putra saya? cepat beritahu saya."


"Tenang Tuan, tenangkan dulu pikiran Tuan."


"Bagaimana saya bisa tenang, sedangkan saya sangat mengkhawatirkan kondisi anak saya." Ucap Tuan Zayen yang mulai emosi dan sudah tidak sabar untuk bertemu dengan putranya.


"Tuan, maafkan saya jika ini adalah kenyataan pahit."


"Bapak bicara apa? kenyataan pahit yang bagaimana? jangan mengada ngada Pak, cepat beritahu saya sekarang juga."


"Begini Tuan, korban telah meninggal dunia."


"Apa!!!! tidak, tidak mungkin putraku meninggal. Putraku masih hidup, Anda bohong."


"Zayen, terimalah kenyataan ini. Semua ini sudah takdir dan sudah digariskan tentang hidup dan mati. Ikhlaskan, ikhlaskan, ini nyata adanya. Ingat Zayen, tidak ada yang bisa menyalahkan takdir. Bersabarlah, kamu pasti bisa melewatinya." Ucap Kakek Alfan yang ikut berjongkok didekat putranya. Kemudian meraih pundak milik Tuan Zayen, lalu menatapnya dan membantunya untuk berdiri.


"Relakan putramu, agar Zicko tenang di alam sana. Tidak perlu kamu sesali, semua telah terjadi dan juga telah usai tugas Zicko di Dunia ini." Ucap Kakek Alfan mencoba menenangkan putranya.


"Pa, ini semua pasti salah. Zicko masih hidup, 'kan? bagaimana dengan Afna dan Lunika jika mendengar kabar ini? Zayen tidak sanggup, Pa."


"Kenyataan tetap kenyataan, jangan pernah kamu tutupi dihadapan istri dan menantimu. Setelah dilakukan otopsi, jenazah Zicko akan segera dimakamkan. Sekarang lebih baik kamu tenangkan pikiran kamu, ikhlaskan kepergian Zicko." Ucap Kakek Alfan, kemudian memeluknya dan mengusap punnggung milik Tuan Zayen.


Meski terasa sakit dan pilu, Tuan Zayen berusaha untuk kuat. Disaat itu juga, Tuan Seyn langsung memeluk adiknya erat.


"Aku ikut turut berduka cita kak, semoga Zicko tenang di alam sana. Ini semua sudah takdir, kita tidak dapat untuk menolaknya." Ucap Tuan Seyn, kemudian melepaskan pelukannnya.

__ADS_1


Setelah itu dilanjut oleh teman akrab sekaligus besannya, Tuan Guntara ikut memeluk Besannya.


"Bersabarlah, ini semua sudah jalan takdirnya Zicko. Kita hanya bisa berdoa, semoga Zicko tenang di alam sana. Aku turut berdukacita cita, karena tidak cuman kamu yang kehilangan, begitu juga aku dan putriku serta cucuku." Ucap Tuan Guntara bersedih dan juga menitikan air matanya.


Tuan Guntara sendiri tidak dapat membayangkan bagaimana nasib putrinya dan juga cucu kesayangannya yang harus kehilangan sosok yang sangat dicintainya. Sungguh, begitu sulit dan berat untuk membayangkannya.


Usai semua urus urusannya selesai, Kakek Alfan mengajak putranya serta yang lainnya untuk segera berangkat ke pemakaman. Sedangkan Tuan Viko tengah menyusul istri Tuan Zayen untuk menyusul ke pemakaman.


"Viko, kita mau kemana? ada apa yang sebenarnya?" tanya nyonya Afna begitu gelisah saat Tuan Viko tiba tiba datang dan mengajaknya untuk pergi kesuatu tempat.


"Nanti Kak Afna akan mengetahuinya sendiri, mau bagaimana pun Kakak harus ikut hadir."


"Hadir? hadir ke acara apa? hah! katakan Viko, katakan."


"Mama, Mama mau pergi kemana Paman?" tanya Lunika memergokinya.


"Kamu di rumah saja, Lun. Paman ada urusan bersama Mama mertua kamu, tidak lama." Sahut Tuan Viko menimpali.


"Kak Lun dirumah saja dengan Vellyn, biar Omma Zeil dan Mamanya Kak Pun yang menemani Tante Afna." Ucap Vellyn ikut menimpali.


"Ma, jangan bohongi Lunika. Sebenarnya ada apa ini? kenapa kalian tidak pernah bercerita pada Lunika. Kenapa Lunikw tidak pernah melihat Papa Zayen, Papa Guntara, dan juga yang lainnya. Bahkan tidak pernah bertemu dengan suami Lunika. Kenapa, Ma? ada apa yang sebenarnya? sudah satu minggu Lunika tidak pernah mendengar kabarnya?" tanya Lunika memberondong banyak pertanyaan.


Sedangkan Nyonya Afna serta yang lainnya pun tidak bisa menjawab, bingung harus berkata apa dan untuk menjelaskannya.


"Sudah dulu ya Lun, nanti Paman ceritakan. Sekarang ini lebih baik kamu istirahat, jaga kesehatan kamu. Tidak lama kok, nanti kita semua pulang ke rumah ini dan berkumpul." Ucap Tuan Viko yang takut akan diberondong banyak pertanyaan dari Lunika.


"Termasuk suami Lunika, 'kan?" tanya Lunika lagi. Tuan Viko hanya mengangguk, kemudian segera pergi dari rumah dan diikuti nyonya Afna dan ibu mertuanya serta Besannya.

__ADS_1


__ADS_2