
Lunika yang tidak mampu berkutik, ia hanya bisa memilih untuk berdiam tanpa bergeming sepatah katapun. Bahkan dirinyaa hanya bisa nurut dan pasrah dengan apa yang dilakukan oleh sang suami padanya.
Karena rasa kantuk yang begitu sulit untuk di hindari, Lunika maupun sang suami terlelap dari tidurnya dengan posisi yang masih memeluknya dengan erat.
Sedangkan di tempat lain, yakni disebuah Restoran terdapat beberapa orang yang tengah membicarakan sesuatu.
"Aku minta sama kamu untuk menghentikan rencana kotormu, itu. Aku peringatkan sekali lagi, kamu tidak akan pernah berhasil. Aku pastikan itu, kau! tidak lain adalah seorang ib*lis lak*nat yang menjelma manusia." Ucapnya menantang.
BUG
Sebuah tinjauan telah melayang tepat pada sudut bibirnya hingga memar dan mengeluarkan darah segar.
Dengan senyuman yang menyeringai, sesorang yang rupanya begitu muak melihat dan juga menyaksikannya langsung atas kejahatan yang sudah dilakukan oleh lawan bicaranya tanpa sadarkan diri atas ulahnya yang sudah melampaui batas.
"Kamu mau jadi jagoan, ? hah! jangan mimpi! kau pikir aku akan menyerah. Tidak! aku tidak akan pernah menyerah, dan kau! jangan pernah menghalangiku. Sekali lagi kau ikut campur dengan urusanku, hidupmu hanya tinggal nama. Ingat! camkan itu ucapanku tadi, cuih." Ucapnya dan meludah pada kalimat terakhirnya.
"Terserah! asal kamu tahu, sekarang juga kamu telah masuk dalam permainan kamu sendiri. Nikmati, nikmati saja nasibmu selanjutnya. Aku hanya mengingatkan kamu, selebihnya ada ditanganmu sendiri." Ancam nya, setelah itu ia segera pergi dari lawan bicaranya. Terasa muak dan tiada guna jika dirinya harus berhadapan langsung dengan orang yang sulit untuk dikendalikan.
Dengan sorot matanya yang begitu tajam, membuatnya semakin kesal hingga ke ubun ubun. "Lihat saja, aku pastikan aku yang akan menang. Bagiku sangat mudah untuk menyingkirkan kupret yang tiada guna." Gumamnya sambil mengepalkan kedua tangannya, perasaan kesal serta benci tengah menguasinya.
"Siapa sebenarnya lelaki itu? benarkah orang yang sengaja untuk menjebakku? sengaja untuk melabuiku dengan cara menikahinya? lalu aku murka dan mereka berhasil memancingku untuk muncul dihadapan publik? iya! alasan apa lagi kalau bukan itu alasannya." Gumamnya yang terus berpikir untuk mendapatkan jawaban yang akurat.
__ADS_1
Sayang di sayang, semua sudah dirancangnya kembali olehnya. "Aku harus bisa untuk melawannya." Gumam nya, lagi lagi dirinya harus mengepalkan kedua tangannya kuat dengan penuh amarah yang kini tengah menguasainya.
Karena strategi yang sudah dirancang sedemikian rupa, apapun resikonya ia tidak memperdulikan nya. Yang ada dalam benak pikirannya yaitu, apa yang membuatnya puas dan terbalaskan itulah tekadnya.
Sedangkan di tempat lain, Lunika masih dengan posisi tidurnya. Pelukan yang awalnya erat, kini mulai melonggar. "Akhirnya aku bisa bernapas lega," gumamnya.
Pelan pelan Lunika mencoba untuk menyingkirkan kedua tangan milik suaminya, berharap ia bisa lepas dari dekapan sang suami.
Setelah berhasil, akhirnya Lunika menarik napasnya penuh kelegaan. Sedangkan sang suami kini telah pindah posisi dan tidak meringkuk lagi.
DUAR!!!
Betapa terkejutnya Lunika melihat sesuatu yang benar benar membuatnya tercengang. Percaya atau tidak percaya, Lunika telah melihatnya.
"Sayang, kamu kenapa? kamu mimpi buruk?" tanyanya dengan reflek sambil menatap Lunika yang tengah berdiri di dekat tempat tidur.
"Jangan panggil aku sayang, aku bukan sayang mu. Katakan padaku sekarang juga, siapa kamu yang sebenarnya? lalu, apa tujuan kamu menikahiku? ayo! jawab." Pertanyaan yang Lunika berikan telah membuatnya bingung.
"Aku suami kamu, tujuanku menikahimu? bukankah kita telah ditangkap warga? kenapa kamu jadu lupa?" sahut nya dan kini telah mengerti maksud pertanyaan dari istrinya yang tidakain lain telah penasaran dengan dirinya.
"Omong kosong, kamu banyak drama didepanku. Aku tidak percaya dengan ucapanmu, yang jelas kamulah orangnya yang menjebakku. Kamu pasti sudah merencanakannya untuk menikahiku, ayo! jawab."
__ADS_1
"Sekarang lebih baik kamu cuci muka dulu, biar wajahmu terasa segar. Lihat lah, di luar masih gelap. Kamu jangan mengada ngada, aku tidak mempuyai niat terselubung dalam kejahatan." Ujar sang suami mencoba untuk mengalahkan persoalan yang membuatnya malas untuk dibahas pada waktu yang belum tepat. Ditambah lagi baru juga semalam, pikirnya mencoba mengingatnya.
"Kalau tidak ada niat terselubung, lalu untuk apa kamu meniru kebiasaan suamiku. Bahkan luka pada kakinya sekalipun kamu menirunya, benar benar muak aku melihat sosok sepertimu. Kamu kira itu mudah untuk membuatku suka denganmu? begitu maksud kamu? tidak! kamu tidak akan bisa melakukannya." Ucap Lunika yang dimana emosinya sudah tidak dapat dikendalikan.
Seketika Rayan mendadak kaget ketika mendengar Lunika yang telah melihat luka pada kakinya yang menurutnya begitu mirip dengan suaminya sendiri.
"Kenapa diam? ooh! sayangnya, aku tidak akan pernah percaya denganmu. Lakukan, lakukan saja kebiasaan suamiku kamu ikuti. Tapi jangan harap aku akan bersikap baik denganmu. Sekali kamu sentuh aku, maka aku bisa melakukan hal yang lebih kejam padamu." Ucap Lunika menantang, ia mengira hanya seberapa kebiasaan suaminya yang diikuti. Namun kenyataannya semua tidak ada yang berbeda, bahkan benar benar terlihat satu orang. Hanya saja wajahnya yang berbeda jauh, untuk soal tampan tidak kalah jauh dengan seorang Zicko.
Baik lah, aku akan mengakui semuanya. Tapi ... apakah kamu akan mempercayaiku?"
Sejenak Lunika terdiam, perasaannya tiba tiba menyimpan sejuta penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh seorang lelaki yang kini telah menjadi suaminya yang sah.
Dengan sekuat hati, Lunika akhirnya menganggukkan kepalanya tanpa berucap sepatah kata.
"Ayo ikut aku, kamu akan mengetahui semuanya. Lagi pula tidak ada gunanya berlama lama dalam kebohongan serta kecemasan." Ucapnya, kemudian ia keluar dari kamar menuju ruang kecil yang membuat Lunika penasaran.
'Jadi benar, ruangan ini ada jawaban tentangnya. Siapakah dia sebenarnya? apakah iya dia adalah suruhan Papa? benar benar sangat mengganjal dibenak pikiranku.' Batin Lunika sambil menunggu sang suami membuka pintunya.
"Ayo masuk, kamu penasaran 'bukan? didalam ruangan ini kamu akan mengetahui kebenarannya. Jadi, siapkan mental kamu. Aku berharap kamu akan percaya dengan sebuah kebenaran, siapa dan siapanya orang yang akan aku tunjukkan padamu. Aku sendiri tidak ingin berterus terusan untuk kamu curigai, apalagi dengan sumpah serapah yang bisa saja kamu lontarkan padaku. Jadi, siapkan mentalmu sekuat mungkin." Ajaknya untuk segera masuk, serta mengingatkan agar bisa menerima sebuah kenyataan yang mana suaminya tunjukkan.
"Aku siap untuk mendapatkan penjelasan darimu, soal mental aku sudah persiapkan sejauh hari untuk berhadapan dengan orang yang ingin berurusan denganku." Sahut Lunika dengan percaya diri.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, ayo masuk kedalam." Ajaknya lagi, Lunika pun mengangguk dan segera masuk ke dalam ruangan yang pernah ingin dibukanya.