Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Kenyataan


__ADS_3

Daka yang mendengarnya pun berusaha untuk menahan emosinya. Daka tetap bersikap untuk tenang, meski dalam pikirannya masih merasa sangat bersalah atas sikapnya yang pergi begitu lama tanpa kabar.


"Sudah hampir malam, dan sudah waktunya untuk makan malam. Aku suapin, ya." Ucap Daka sambil meraih piring milik Enja untuk jadwal makan malamnya.


"Aku bisa makan sendiri, kamu tidak perlu menyuapi aku. Dan aku tidak ingin merepotkan kamu, berikan piringnya padaku." Jawab Enja sambil meraba untuk meraih piringnya.


Disaat itu juga, Daka benar benar merasakan sesak di dadanya saat melihat kondisi Enja yang sangat memprihatinkan. Air mata nya pun jatuh membasahi kedua pipinya, Daka menangis penuh sesal dan juga rasa bersalah yang begitu besar.


Daka yang tidak kuat menahan sesaknya didada, ia meletakkan kembali piringnya dan langsung memeluk erat tubuh Enja yang semakin kurus.


"Enja, maafkan aku. Bukan niatku untuk mengabaikan kamu, waktu itu aku terhalang dengan situasi yang sangat sulit. Aku mohon, maafkan aku. Dan aku berjanji, mulai sekarang dan seterusnya aku akan tetap menjagamu. Aku ingin mengajakmu untuk menikah, bukankah itu impian kita dulu?"


Deg!


Detak jantung Enja seakan mendadak terhenti, sebisa mungkin untuk dapat mencerna apa yang diucapkan oleh seorang Daka.


"Kamu jangan bercanda, apa yang kamu dapatkan dari perempuan buta sepertiku? hah. Aku tidak layak untuk kamu nikahi, yang seharusnya kamu nikahi itu wanita yang berkelas, cantik dan juga modis, tidak ca cat sepertiku ini." Kata Enja merasa sedih.


"Kamu jangan bicara seperti itu, kita akan menikah. Tapi ... sebelum menikah, kamu harus ..." Daka menggantungkan kalimatnya.


"Harus bisa melihat dulu, begitu maksud kamu?"


"Bukan, bukan seperti itu maksud aku. Sebenarnya aku ingin memberimu kejutaan, dan kejutannya apakah kamu sudah siap?"


"Kejutan, kejutan apaan yang kamu maksud?"


"Daka yang akan membawa mu ke luar Negri untuk dilakukan operasi mata."

__ADS_1


Deg!


"Operasi mata? tidak, saya tidak mau. Saya memilih dengan kondisi saya yang seperti ini." Jawab Enja yang tiba tiba menolaknya, perasaannya ikut penasaran saat ia menjawab pertanyaan yang bukan dari Daka. Melainkan ayah dari seorang Daka.


"Perkenalkan, saya orang tua Daka. Tepatnya saya ini ayah kandung Daka." Ucap Tuan Kazza yang tiba tiba mengagetkan Enja dan juga Putranya. Disaat itu juga, Daka langsung melepaskan pelukannya dan menoleh ke belakang. Dilihatnya seorang laki laki yang sudah tidak lagi muda, yakni orang tua Daka Sendiri.


"Papa," panggil Daka terkejut.


"Kalian berdua benar benar mempunyai kekuatan cinta yang begitu tulus, Papa lega mendengarnya. Papa dan Mama merestui hubungan kalian berdua." Ucap Tuan Kazza meyakinkan putranya dan juga perempuan yang bernama Enja.


"Papa serius?" tanya Daka untuk meyakinkan ayahnya, kemudian ia langsung berdiri dan mendekati sang ayah. Tuan Kazza memegangi kedua pundak milik putranya.


"Papa serius, Papa percayakan semuanya padamu. Sembuhkan perempuan yang kamu sukai, beri perhatian penuh untuknya. Kamu tidak perlu khawatir, secepatnya Papa akan urus keberangkatan kamu ke Amerika bersamanya. Soal pekerjaan kamu akan ada yang menggantikan mu untuk sementara, jugaan ada Kalla. Yang jelas mulai besok, kamu tidak diizinkan untuk berangkat ke Kantor." Ucap Tuan Kazza meyakinkan putranya.


Daka yang mendengarnya pun terasa bahagia ketika dirinya telah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya. Penantian yang cukup lama, kini telah terjawab sudah semuanya.


"Tunggu, siapa kalian sebenarnya?" kalimat rasa penasarannya pun terucap begitu saja oleh Enja.


Daka yang tidak ingin salah paham, ia langsung mendekati Enja untuk memberi penjelasan.


"Kamu ingin tahu aku yang sebenarnya? nanti, ada saatnya kamu akan mengetahui siapa aku yang sebenarnya. Yang jelas aku bukan orang jahat, bersabarlah." Jawab Daka berusaha untuk tidak membuka identitasnya.


"Kenapa nunggu saatnya? aku akan menolak ajakan kamu, jika kamu tidak mau berterus terang denganku."


"Kalau begitu, Papa pamit pulang. Temani calon istri kamu, biar Kalla pulang bersama Papa. Baik baik untuk kamu, Nak. Semoga lekas sembuh dan segera mendapatkan penanganan yang lebih baik lagi." Ucap Tuan Kazza berpamitan.


"Iya Pak, terima kasih banyak atas kebaikan dari Bapak." Sahut Enja memberi ucapan terima kasih.

__ADS_1


"Hati hati, Pa. Terima kasih atas semua perhatian dari Papa, maafkan Daka yang pernah berpikiran buruk terhadap Papa." Ucap Daka, kemudian Tuan Kazza memeluk putranya dan menepuk punggung milik Daka.


"Kak Enja, Kak Daka, Kalla izin pulang dulu ys. Sampai ketemu lagi, semangat untuk Kak Enja untuk kesembuhannya." Ucap Kalla berpamitan, Enja yang mendapat sikap hangat dari adik calon suaminya pun merasa bersahabat dan juga sangat ramah, pikir Enja.


"Hati hati di jalan, sampai bertemu kembali." Jawab Enja dengan senyum, Kalla pun menggeser tempat duduk kakaknya dan ia ikut duduk disebelah Enja.


Tanpa Enja tahu, tiba tiba Kalla langsung memeluk calon kakak iparnya itu. Keduanya benar benar terlihat begitu akrab, padahal baru bertemu sehari, Kalla sudah merasa nyaman ketika mengenal sosok perempuan yang sangat kuat dalam segala hal kesabaran, kini sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya.


"Kakak yang semangat ya, jangan pernah menolak ajakan Kakak untuk menyembuhkan penglihatan Kakak. Agar Kak Enja kembali seperti dulu lagi, dapat bersenda gurau dan berbagi cerita dengan Kak Daka, dan yang pastinya Kak Enja dapat melihat wajah tampan milik Kak Daka. Kak Enja berhak bahagia, begitu juga dengan Kak Daka yang ingin bahagia bersama Kakak." Ucap Kalla sambil mengusap punggung calon kakak iparnya dengan pelan.


"Terima kasih semua suport nya. Begitu juga dengan mu, semoga kamu mendapatkan kebahagiaan juga." Ucap Enja yang juga ikutan mengusap punggungnya berulang ulang.


Setelah dirasa cukup, Kalla melepas pelukannya. "Kalla pulang ya, Kak." Ucap Kalla berpamitan, Enja mengangguk dan mengiyakan.


Setelah berpamitan, Kalla segera keluar dari kamar pasien bersama sang ayah. Sebelumnya, Kalla berpamitan dengan Ibu Mala yang tengah duduk santai didepan ruang pasien yang bernama Enja.


Saat perjalanan pulang, tiba tiba Kalla teringat sesuatu mengenai dirinya dan yang akan menjadi pengganti di psrusahaannya.


"Pa, serius nih apa yang dikatakan Papa itu, semuanya benar?" sambil menahan rasa capek, Kalla memberanikan diri untuk bertanya.


"Yang mana?" tanya sang ayah yang juga belum mengerti dengan apa yang dimaksudkan dari putrinya.


"Yang mau ada pengganti Kak Daka loh Pa ... memangnya siapa penggantinya Kak Daka, Pa?"


"Sepertinya Romi, orang kepercayaan Paman kamu. Siapa lagi kalau bukan Paman Zayen, kenapa?"


Seketika, Kalla membelalakan kedua bola matanya

__ADS_1


__ADS_2