Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Meyakinkan


__ADS_3

Usai menikmati sarapan pagi, Zicko kembali masuk kedalam kamar sambil menunggu istrinya selesai membantu sang ibu untuk membersihkan diri.


Alih alih, Zicko menyibukkan diri dengan gawainya. Tiba tiba ia teringat dengan pamannya, yaitu Viko. Tanpa pikir panjang, Zicko segera menghubunginya untuk dimintai bantuan.


Sedangkan Lunika sendiri masih sibuk dengan aktivitasnya. Begitu sabar dan telaten, Lunika merawat ibunya.


"Bu," panggil Lunika sedikit enggan.


"Iya Nak, ada apa?" tanya sang ibu sambil meluruskan kedua kalinya dan bersandar.


"Bagaimana kalau suami Lunika mengajak pulang, Bu?"


"Mengajakmu pulang? maksud kamu, ikut pulang bersama suami kamu?" tanya ibunya lagi dan menatap putrinya dibarengi senyumannya.


"Iya Bu, Lunika kepikiran ibu terus. Jika Lunika jauh dari ibu dengan keadaan yang seperti saat ini, kita tidak mungkin meminta bantuan pada orang lain terus menerus, Bu ... Lunika takut akan menjadi sebuah masalah baru." Jawab Lunika dengan menunjukkan wajah sedihnya.


"Kamu tidak perlu khawatir, ibu baik baik saja. Ibu selalu percaya dengan kebaikan orang lain, itu yang ibu pegang teguh tanpa berburuk sangka. Jadi, kamu jangan larut dalam kekhawatiran tentang ibu. Kamu harus fokus dengan suami kamu serta rumah tangga kamu, ibu melihat sosok Zicko adalah suami yang bisa memberimu kasih sayang yang sempurna dan menjadi tempat ternyaman untukmu." Ucap sang ibu meyakinkan putrinya.


"Benarkah Bu? semoga saja, suami Lunika benar benar tulus menyayangi Lunika dan juga pada ibu. Meski ibu bukanlah ibu kandung Lunika, kasih sayang ibu jauh dari ibu kandung. Biarlah identitas Lunika yang terus berstatus dengan ibu, tidak untuk ibu kandung Lunika. Karena itu sangat sulit untuk bertemu dengan kedua orang tua Lunika, Bu." Jawab Lunika yang tiba tiba menitikan air matanya, sang ibu pun langsung memeluk putrinya dengan erat.


Sesenggukan, Lunika tengah menangis akan nasibnya sendiri yang jauh dari kata sempurna.


"Bu, Lunika rindu ... Lunika kangen. Bu, masih adakah sisa waktu untuk bertemu. Walaupun itu mimpi, bermimpi mendapati sebuah belaian hangat dari orang tua. Jangan bertemu, bermimpi saja tidak pernah Lunika temui walaupun itu bayangan semu." Ucap Lunika dengan tangisnya yang tidak lagi dapat untuk ditahannya.

__ADS_1


"Sudah sudah, kamu jangan menangis. Sekarang, mandilah. Berdoa dan terus berdoa, semoga impianmu untuk bertemu keluargamu bisa terwujud. Apa yang tidak mungkin, jika kenyataannya telah menjadi mungkin." Ucap sang ibu memberi semangat pada putrinya, kemudian menghapus air matanya pelan.


"Iya Bu, Lunika akan terus berdoa dan berusaha. Kalau begitu Lunika mau mandi dulu ya, Bu." Jawabnya dan berpamitan, sang ibu pun mengangguk dan tersenyum.


Sesampainya didalam kamar, Lunika mendapati sang suami yang tengah berdiri didepan cermin sambil mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil. Lunika pun mendekatinya dan berdiri disebelah sang suami.


Terlihat jelas keduanya menatap cermin yang ada dihadapannya.


"Maaf ya, jika di rumah ibuku tidak memiliki fasilitas seperti punyamu. Mengeringkan rambut saja hanya modal dengan handuk, itupun terkadang menggunakan kipas angin. Lucu sekali, bukan? tapi bagi kami itu cara yang mudah untuk mengeringkannya." Ucap Lunika sambil menatap cermin.


"Menurutku nih, ya ... lebih terasa segar menggunakan handuk. Karena apa? karena tidak langsung kering, kita masih dapat menikmati sensasi pada kulit kepala kita yang terasa dingin." Jawab Zicko, kemudian membenarkan posisinya hingga menghadap pada istri yang dicintainya.


"Sudah jam berapa ini? apa kamu tidak mau ikut denganku? ayo, cepetan mandi kalau mau ikut denganku." Ucap Zicko pada istrinya.


"Memangnya kamu mau mengajakku pergi kemana, suamiku?" tanya Lunika terasa lalu saat memanggil suaminya sendiri.


"Sa -- yang, apa kata orang lain yang mendengarkannya? apa tidak terlalu menggelikan?" tanya Lunika yang merasa geli. Meski sebenarnya hal yang lumrah sekalipun, Lunika belum terbiasa memanggilnya. Selama menjalin hubungan dengan Arnal, sebuah kata romantis tidak pernah ia ucapkan.


"Lakukan saja, nanti kamu akan terbiasa memanggilnya, sayang." Jawab Zicko dan mulai memanggil istrinya dengan sebutan sayang, Lunika sendiri tersenyum bahagia mendengarnya.


Meski berawal dari sebuah hubungan sandiwara, Zicko mampu mengubah perasaannya menjadi cinta. Zicko pun memeluknya dengan erat, lalu mencium puncak kepalanya sambil membelai rambut istrinya yang panjang dan hitam lekat.


"Bau asem, buruan mandi." Ucap Zicko dan melepaskan pelukannya, Lunika tersenyum lebar sembari menyambar handuk yang ada ditangan suaminya itu. Kemudian Segera ia keluar dari kamarnya menuju kamar mandi yang letaknya berada didekat dapur.

__ADS_1


Setelah cukup lama Zicko menunggu sang istri yang tengah membersihkan diri, tidak lama kemudian Lunika selesai melakukan ritual panjangnya di kamar mandi. Kemudian, ia mengenakan pakaiannya.


Sedangkan Zicko sendiri masih fokus dengan gawainya, tanpa menyadari keberadaan sang istri yang sudah berada didekatnya.


"Hem, sepertinya sedang sibuk nih." Ucap Lunika mengagetkannya. Seketika, Zicko kaget dibuatnya.


"Oooh ini, aku sedang meminta orang kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang terbengkalai. Karena sekretarisku saat ini sedang cuti, dan aku tidak mungkin memberinya libur hanya satu hari. Jadi, mau tidak mau aku harus memerintahkan salah satu karyawan kepercayaanku untuk menyelesaikan pekerjaan yang terbengkalai." Jawab Zicko menjelaskannya.


'Kirain ada apa, rupanya pekerjaan kantor. Mimpi apa kemarin itu, ya. Bersuamikan yang memiliki latar belakang yang sangat penting, sungguh aku benar benar tidak pernah menyangkanya. Jangan bermimpi, menghayal saja aku enggan.' Batin Lunika dengan lamunannya.


"Kenapa kamu tiba tiba melamun, sayang? kamu tidak lagi sedang memikirkan orang lain, 'kan?" tanya Zicko sambil melambaikan tangannya dihadapan istrinya.


"Aah bukan itu, aku hanya tidak menyangka saja. Jika aku bersuamikan dengan seseorang yang sukses sepertimu, serius. Aku tidak memikirkan orang lain, aku jujur." Jawab Lunika meyakinkan suaminya, ia pun takut jika sang suami akan salah mengartikan apa yang tengah ia pikirkan.


"Aku percaya kok sama kamu, untuk apa aku harus memperpanjang pertanyaanku. Jika hanya akan memperkeruh keadaan, yang ada orang lain akan senang melihatnya. Yang harus kita tunjukan itu, keharmonisan kita. Meski dalam keadaan yang tidak baik baik saja. Karena apa? agar tidak ada lagi orang lain yang mentertawakan kita. Ya sudah kalau begitu, kita bersiap siap untuk pulang." Ucap Zicko yang tidak lupa memberi nasehat kecil pada istrinya.


"Tapi, bagaimana dengan ibu?" tanya Lunika dan teringat pada ibunya yang kesepian bila tidak ada lagi teman dirumahnya.


"Sebentar lagi ada dua orang kepercayaanku untuk merawat ibu serta menemani ibu dua puluh empat jam. Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya, ibu pasti tidak akan merasa kesepian lagi." Ucap Zicko meyakinkan istrinya, sedangkan Lunika sendiei merasa penasaran dengan sosok yang akan menjadi teman ibunya.


Hei readers Setia ... Otor ada Novel baru nih ... Novelnya novel yang sangat sederhana, bukan dari golongan keluarga yang tajir melintir loh. Melainkan suana yang biasa biasa saja, bukan seorang CEO ataupun mempunyai kekuasaan yang tinggi. Hanya pemilik mini market dan seorang montir serta seorang guru PNS.


Penasaran? mampir yuk....

__ADS_1


Judul Novelnya, "Maduku Tidak Semanis Madu"


Semua akan berakhir Happy ending, ya.. selamat membaca...


__ADS_2