
Semua yang berada di kamar rawat Lunika mendadak panik ketika Zicko Junior menangis histeris. Tidak hanya itu, salah seorang Dokter segera mendatangi untuk melihat situasi yang digemparkan dengan tangisan bayi yang tidak pernah ia temui selama dinas di rumah sakit tersebut. Bahkan orang orang yang mendengarkan tangisannya pun ikut gemetaran dan dihantui dengan rasa takut.
Lunika yang terasa tersayat hatinya ketika mendengar tangisan dari putranya pun langsung jatuh pingsan diranjang pasien.
"Lunika!! bangun, sayang. Lunika, jangan membuat Mama semakin panik. Lihat lah Niko, dia sangat membutuhkan kamu. Dia membutuhkan ASI kamu, sayang. Jangan pingsan, sayang." Teriak sang ibu mertua serta istri kakek Dana dan istri tuan Guntara semakin panik melihat Lunika jatuh pingsan dan juga putranya yang terus menerus menangis dengan kencang. Bahkan suara tangisannya menggegerkan seisi rumah sakit, semuanya ikut kaget dan mencari sumber suara bayi milik Lunika dan Zicko.
Tuan Guntara yang melihat serta mendengar cucunya menangis histeris segera memintanya pada seorang perawat untuk Beliau gendong dan mencoba untuk menenangkan. Namun sayang disayang, bukannya mereda tangisannya, justru menambah histeris.
Disaat itu juga, Tuan Zayen telah datang. Kemudian meminta pada seorang perawat yang sedang mencoba menenangkan cucunya untuk menyerahkan sang cucu kepadanya. Kemudian Tuan Zayen tidak lupa meminta kepada seorang Dokter untuk memberi obat penenang pada menantunya. Tuan Zayen takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya terjadi.
Saat bayi yang menggemaskan sudah berada di gendongan Tuan Zayen. Seketika, sang cucu berhenti dari tangisannya yang histeris dan terdengar sangat melingking suaranya. Bahkan suasana mendadak hening seketika, benar benar di luar dugaan dari semuanya.
Istri Kakek Dana pun ikut tercengang saat melihat reaksi dari anaknya Lunika dan Zicko yang tiba tiba tangisannya berhenti ketika digendong oleh Tuan Zayen, yang tidak lain sang Kakek. Bahkan Tuan Guntara sendiri tidak mampu menenangkan cucunya sendiri, justru masih terus menangis dan sulit untuk ditenangkan.
"Siapa nama kamu, cucuku? apakah kamu belum di beri nama? sehingga kamu membangunkan semua pasien yang tengah beristirahat? anak pintar, semoga kelak kamu akan menjadi penerus kakek." Ucap Tuan Zayen mengajaknya untuk mengobrol, meski sang cucu belum dapat melihatnya.
"Bayi yang kamu gendong sudah memiliki nama, yaitu Niko Wilyam. Sangat bagus, bukan? lihatlah wajah tampannya. Sangat mirip dengan Zicko, bukan? bahkan aku melihat dari raut wajahnya, kelak dewasa Niko akan memiliki sikap tegas dan membanggakan." Sahut sang istri yang sudah berada didekat Tuan Zayen.
"Benar, sekali. Aku seperti melihat seorang Zicko yang berkharisma, entah lah. Mungkin saja kita belum puas menikmati hari hari kita bersama Zicko dimasa kecilnya, hingga kita terbawa suasana dengan hadirnya Niko bersama kita." Ucap Tuan Zayen yang masih menggendong cucu pertama dan cucu kesayangannya.
__ADS_1
Sedangkan Lunika masih juga belum sadarkan diri, ditambah lagi Tuan Zayen telah meminta kepada Dokter untuk memberikan obat penenang kepada menantunya. Karena Tuan Zayen tidak ingin ketika bangun masih prustasi, ditambah lagi tidak ada seorang suami berada di dekatnya. Tuan Zayen takut kondisi menantunya akan semakin lemah dan lebih lebih kasihan dengan cucunya jika sang ibu masih banyak beban yang dipikirkan.
Hening, bahkan tidak ada satupun yang berani membuka suara selain Tuan Zayen dan istrinya sendiri yang mencoba untuk mengajak cucunya mengobrol.
"Sayang, lihat lah Niko. Dengan mudahnya dia sudah tidur, cepat sekali. Bukankah tangisannya baru saja mereda, sekarang sudah tidur dengan pulas. Apakah kamu memiliki sesuatu hingga Niko langsung tidur pulas dalam gendongan dan dekapan kamu?"
"Mana aku tahu, sayang. Mungkin aku dirasa Zicko, wajar saja ia menginginkan dekapan dari seorang ayah. Darah yang dimiliki Niko, ada darahku yang mengalir di kehidupannya. Jadi, aku serasa memiliki kontak batin dengannya."
"Hem jangan kejauhan, takut kebablasan kedaerah mitos. Nanti kamu bisa dibilang aneh dan aneh aneh." Ujar sang istri.
"Hem, tidak juga. Aku mau menidurkan cucuku terlebih dulu di tempat tidurnya, setelah itu kita lanjutkan obrolan kita bersama yang lain." Ucap Tuan Zayen yang tidak mau jika obrolannya bersama sang istri melebar kemana mana.
Setelah selesai menidurkan cucu kesayangannya, Tuan Zayen dan sang istri mendekati besannya.
"Aku sudah menghubunginya, namun nomornya tidak aktif. Tapi jangan khawatir, aku sudah memberi perintah pada anak buahku untuk tidak lengah menjaga putraku.
"Semoga Zicko selamat sampai rumah, aku pun ikut khawatir. Semoga baik baik saja dan dijauhkan segala mara bahaya."
"Aku salut denganmu, hanya dengan berada di gendongan kamu, Niko berhenti menangis. Apakah kamu memiliki kontak batin? serasa ada gemistri antara kamu dan cucu kesayanganmu." Ucap istri kakek Dana menimpali.
__ADS_1
"Aku sendiri tidak tahu, mungkin karena menginginkan sentuhan dari ayahnya." Jawab Tuan Zayen yang hanya mengiranya saja.
"Hem, terus denganku apaan? bukankah aku juga Kakeknya. Apakah aku ini seorang kakek abal abal? sehingga cucu kesayanganku tidak mau berpihak denganku? menyedihkan sekali nasibku." Sahut Kakek Guntara ikut menimpali, Tuan Zayen dan yang lainnya tertawa kecil mendengarnya.
"Bisa jadi, kamu sang kakek abal abalan. Jadi mungkin saja Niko enggan berada digendong kamu, coba dicukur itu kumis dan brewoknya. Mungkin akan terasa berbeda, dan tidak akan merasa ketakutan bak preman dijalanan." Lagi lagi istri kakek Dana meledek Tuan Guntara dan lupa jika Tuan Zayen sendiri masih dengan kumis tipisnya dan brewoknya yang cukup tebal.
"Kak Elin, jangan menambah mengejekku. Lihatlah, besanku jauh lebih tebal brewoknya ketimbang brewok kepunyaanku." Jawabnya sambil mengusap brewoknya yang tebal, semua kembali tertawa kecil mendengarnya.
"Kalau kamu sangat berbeda, Guntara. Ketampanan kamu masih kurang, maka hapus dulu brewoknya." Sahut kakek Dana yang tiba tiba sudah datang.
"Iya, nanti aku akan mencukurnya sampai habis, biar dikata seperti artis Korea. Siapa itu namanya, Oppa Oppa begitu? ya! biar tambah muda lagi akunya." Ucap Tuan Guntara bergurau.
"Zayen, sudah sampai dimana Zicko?" tanya kakek Dana khawatir.
"Masih dalam perjalanan, akupun sudah meminta bantuan pada Viko." Jawab Tuan Zayen.
"Syukurlah kalau Viko ikut turun tangan, untungnya juga belum berangkat ke luar Negri."
"Justru kalau sudah berada di luar Negri, Zicko pun sudah berada disana lebih aman. Masalahnya aku tidak bisa untuk memisahkan anak dan menantuku serta cucu kesayanganku harus berpisah dengan jarak yang sangat jauh."
__ADS_1
"Lantas, kenapa kamu tidak menyuruh wakilnya untuk menggantikan Zicko? kalau Paman tahu jika Zicko yang berangkat, maka Paman akan meminta Putranya Viko untuk mewakilkannya. Dan kenapa juga bukan kamu sendiri? hem."
"Iya Paman, aku memang salah. Karena aku pikir Deyzan masih baru dan juga baru menikah, dan aku sendiri ingin putraku yang melakukannya. Karena Zicko adalah penerusku, siapa lagi kalau bukan Zicko yang berangkat. Aku pun menyesalinya, disini akulah yang bersalah." Jawab Tuan Zayen tertunduk menyesal.