
Setelah mendengar cerita dari Ibu Yuli, akhirnya Lunika dapat menyimpulkan atas kejadian yang dialami suaminya.
"Kabar sekeluarga baik baik saja, Bu. Kalau boleh tau, apakah Ibu dan Bapak yang menyelamatkan suami Lunika?" jawab Aish dan bertanya.
"Ibu hanya menjadi tempat singgah suami kamu Nak, yang menyelamatkan suami kamu adalah Nak Arnal dan dibantu suami Ibu." Kata Ibu berterus terang.
"Arnal? bagaimana ceritanya, Bu?" tanya Lunika semakin penasaran.
"Saat itu suami kamu di bantu oleh Arnal hingga sampai di daratan, dan disaat itu juga ada Bapak yang kebetulan pas lewat menyusuri jalanan yang cukup terjal. Karena merasa ada yang mengganjal dalam pikiran suami kamu, akhirnya sebuah jas sengaja dihanyutkan untuk meninggalkan jejak. Tapi naas, supir pribadi suami kamu tidak dapat diselamatkan." Kata Ibu Yuli menjelaskan, disaat itu juga Aish tercengang mendengarnya.
"Yang dikatakan Ibu Yuli itu semuanya benar, sayang. Arnal ikut berjasa atas menyelamatkan suami kamu ini, aku sangat berhutang budi dengan nya. Kalau bukan karena Arnal, entah bagaimana nasib suami kamu ini." Ucap Zicko ikut menimpali, disaat itu juga Lunika dapat mendengar kejelasan yang lebih detail.
"Aku baru tahu, rupanya prasangka buruk ku sangat lah salah. Aku sempat mencurigainya, tapi aku tidak berani untuk menuduhnya. Pada kenyataannya, Aden lah dibalik semua ini. Maafkan aku ya sayang, jika aku ada prasangka buruk pada Arnal." Ucap Lunika yang tiba tiba berkata jujur atas prasangka buruknya, Zicko tersenyum mendengarnya.
"Tidak apa apa, jadikan semuanya pelajaran. Pandangan diluar buruk, belum tentu kenyataannya buruk juga. Begitu juga dengan sebaliknya, kita cukup diam dan tidak untuk membenci sesuatu yang belum kita ketahui kebenarannya. Walaupun sampai mati pun, buang lah prasangka buruk yang bisa mengakibatkan diri kita yang mudah dikuasai oleh emosi." Kata Zicko sedikit memberi nasehat kepada istri yang dicintainya.
"Kok rame, ada apaan ini? loh! Nak Zicko." Seorang laki laki paruh baya tengah datang dan mengagetkan keberadaan Lunika dan Zicko, seketika Zicko langsung bangkit dari posisi nya dan disusul sang istri yang juga ikutan bangkit dari posisi duduknya untuk mendekati seorang laki laki paruh baya.
"Pak Rizal, apa kabarnya?" sapa Zicko sekaligus langsung memeluk Beliau dan langsung melepaskan pelukannya.
Dengan santun, Zicko dan Lunika mencium tangan pak Rizal.
"Kabar Bapak sangat baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya? dan juga kabar keluarga kamu di rumah. Oh iya, siapa perempuan ini? apakah istri kamu?"
__ADS_1
"Iya Pak, perempuan ini istri Zicko. Kalau kabar Zicko dan keluarga semua baik baik juga Pak." Jawab Zicko.
"Katanya ada anak, tidak diajak kah?"
"Sedang tidur di kamar depan kok, Pak. Tadi pas sampai rumah Bapak, tidak tahunya sudah tidur pulas." Jawab Zicko.
"Ibu tinggal sebentar, ya. Ibu mau membuat minuman dulu. Kalian lanjutkan saja obrolannya bersama Bapak, jangan sungkan sungkan di rumah Bapak dan Ibu." Ucap Ibu Yuli berpamitan pergi ke belakang.
"Nak Zicko, kamu tidak ajak Nak Arnal?" tanya pak Izal menanyakan soal Arnal yang juga sudah dianggap bagian keluarga Pak Rizal.
"Arnal sedang sibuk dengan pekerjaan nya, Pak. Kebetulan sekarang Arnal sedang menangani beberapa proyek pembangunan untuk dijadikan Mall di beberapa cabang di setiap daerah." Jawab Zicko menjelaskan.
Pak Rizal yang mendengarnya serasa tidak percaya dengan pekerjaan yang tengah dijalani oleh Arnal.
"Mungkin saja belum waktunya, Pak. Jodoh tidak ada yang tahu kapan dan dimana akan bertemu, hanya bisa berusaha dan pasrah." Ucap Zicko ikut menimpali.
Sedangkan Lunika hanya menjadi pendengar setia. Karena merasa bosan hanya duduk duduk saja, akhirnya Lunika memilih untuk pindah posisinya dan segera bangkit dari tempat duduknya untuk menemui Ibu Yuli yang tenang su ku di dapur.
"Maaf Bu, jika Lunika telah lancang masuk ke dapur. Ibu sedang apa? kok kelihatan nya Ibu sedang sibuk."
"Nak Lunika, tidak apa apa masuk aja ke dapur. Ini, Ibu sedang merebus air untuk membuat minuman kopi dan teh sambil membereskan buah yang baru saja Bapak bawa pulang dari kebun sebelah. Sebentar ya, Ibu mau cuci dulu buah buahan nya dulu. Kebetulan masih ada buahnya, ya ... walaupun tidak banyak."
"Rupanya tinggal di kampung sangat menyenangkan ya Bu, masih banyak pepohonan yang cukup rimbun. Udaranya pun masih terasa segar, berbeda dengan kota."
__ADS_1
"Bukannya tinggal di Kota itu sangat menyenangkan, Nak? ramai dan banyak penduduk nya lagi. Tidak seperti di Kampung Ibu, sepi. Semua kebanyakan merantau di Kota, rumah di Kampung dijadikan tempat untuk mudik. Setelah itu, ya ... berangkat ke Kota lagi. Katanya juga nih, kalau tinggal di Kota itu tidak ketinggalan jaman." Kata Ibu Yuli dengan apa yang ia ketahui dari kisah para tetangga sekitar.
"Kalau di Kota semuanya sibuk bekerja Bu, jarang bisa kumpul bersama tetangga. Bahkan bisa dibilang tidak pernah, tidak tahu untuk yang lain nya sih Bu. Pandangan setiap orang tidak bisa disamakan, apa lagi dengan tempat yang berbeda. Maka tidak bisa disamaratakan, hanya saja kalau di Kota terasa gersang ketika mendapati gedung gedung yang menjulang tinggi." Ucap Lunika dengan cara pandangnya lewat apa yang ia jalani selama ini.
"Iya Nak, setiap orang memang memiliki cara pandang yang berbeda beda." Jawab Ibu Yuli sambil membersihkan beberapa buah yang di dapat oleh pak Rizal di kebun sebelah.
"Bu, air nya sudah mendidih." Kata Lunika yang mendapati air yang ada di panci telah mengeluarkan uapnya dan menandakan air nya sudah mendidih.
"Sini sini, biar Ibu aja yang nuangin airnya kedalam gelas. Ibu tidak ingin kamu kecipratan air panas, sayang dengan kulit mu yang mulia itu." Sahut Ibu Yuli bergegas mendekati Lunika.
"Tidak apa apa kok Bu, Lunika sudah terbiasa melakukannya. Karena Lunika awalnya juga hanya anak jalanan, yang dimana semua pekerjaan Lunika tangani sendirian."
DEG
Disaat itu juga Ibu Yuli kaget mendengarnya, perempuan yang disangkanya sama sewajarnya dengan sang suami, rupanya memiliki cerita yang sangat berbeda.
"Anak jalanan?" tanya Ibu Yuli tidak percaya.
"Iya Bu, Lunika pernah menjadi anak jalanan. Cerita sangat panjang, jika ada kesempatan, Lunika akan berbagi cerita dan juga pengalaman Lunika dimasa kecil." Jawab Lunika berterus terang.
"Ibu yakin bahwa kamu adalah perempuan yang sangat hebat, pantas saja Nak Zicko begitu mencintaimu dan takut kehilangan kamu. Rupanya perempuan yang dicintainya sangat cantik dan juga mempunyai sesuatu yang orang lain tidak mengetahuinya." Ucap Ibu Yuli memujinya.
"Jadi, biar Lunika yang melakukannya." Kata Lunika, Ibu Yuli mengangguk dan mengiyakan.
__ADS_1