Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Seperti bayangan semu


__ADS_3

Lunika yang mendadak lupa jika suaminya sudah pulang, dengan percaya dirinya ia langsung menuju kamar mandi.


BRUG!!


"Aw! maaf, aku tidak sengaja." Dengan reflek da kaget, Lunika mendongakkan pandangannya pada sang suami.


Dengan terpesona, Lunika tak juga mengedipkan matanya. Lagi lagi Rayan tersenyum melihat ekspresi sangat istri yang sudah seperti udang rebus.


"Lain kali diingat ingat, atau ... sengaja mau ngintip? sayangnya aku sudah selesai mandi. Datangnya terlambat sih, coba tadi ngajak mandi bareng." Ledek Rayan dengan senyum menggoda.


"Dih! siapa juga yang mau ngintip kamu, kepedean banget sih. Mandi bareng? mimpi, jangan ngarep." Sahut Lunika dengan ketus, kemudian ia segera menyingkir dari hadapan suaminya.


Naas! dengan sigap, Rayan meraih kedua pundak milik Lunika dengan gesit. Kemudian tangan kirinya menahan tengkuk leher milik istrinya sekuat mungkin, lalu sebuah ciuman mendarat tepat pada bibir sang istri.


"Emp .... lep ... lep -- lepaskan!" Dengan sekuat tenaga Lunika berhasil melepaskan ciuman dari sang suami.


Dengan kuat, Rayan menambah kekuatannya untuk menciumnya lagi hingga Lunika kualahan. Semakin dalam menyesapinya, Lunika akhirnya mengikuti permainan dari suaminya.


Tanpa disadari oleh Lunika, dirinya menjadi lemah. Tiba tiba kekuatannya tidak mampu untuk melawan suaminya, entah kenapa perlakuan suaminya kini telah mengingatnya kembali pada suaminya, yakni Zicko. Perlakuan yang begitu lembut dan dengan cara yang sama, bahkan Lunika tidak pernah lupa dengan gerak gerik suaminya dulu.


Sambil menikmatinya, sang suami menuntun istrinya menuju tempat tidur. Karena masih menyimpan kecemasan dan pikiran buruk, seketika Lunika tersadar jika dirinya dan sang suami sudah semakin jauh kemana mana apa yang dilakukannya.


BUG!!!


Sebuah dorongan dengan sekuat tenaganya, akhirnya sang suami telah terpental ke lantai.


"Maaf, aku minta maaf." Ucap Lunika yang merasa bersalah atas perbuatannya yang mungkin saja tidak baik untuk seorang istri yang berani melawan suaminya, ditambah lagi mendorongnya hingga jatuh. Dengan sigap, ia langsung membenarkan pakaiannya yang hampir ditanggalkan oleh suaminya. Namun sayang disayang, perlakuan dari suaminya telah digagalkan oleh istrinya sendiri dengan cara mendorongnya hingga terjatuh ke lantai.


Rayan yang menerima perlakuan dari istrinya sedikitpun tidak menunjukkan kekesalannya, ia pun sadar diri dengan posisinya dihadapan istrinya sendiri.

__ADS_1


Tanpa bergeming, Rayan hanya membuang napasnya kasar. Namun apa lah daya, ada sesuatu yang menyeruak didalamnya. Mau tidak mau, Rayan terpaksa menahannya. Meski rasa yang ia tahan begitu sakit dan membuat kepalanya terasa pening yang sulit untuk diatasi.


Dengan terburu buru, Rayan kembali untuk ke kamar mandi. Lunika yang melihat ekspresi suaminya hanya bisa kasihan dan tidak bisa untuk berbuat apa apa dan juga tidak bisa untuk melayaninya, ia masih tetap pada pendiriannya. Apapun itu, Lunika akan tetap menjaga dirinya hanya untuk kesetiannya.


Cukup lama Lunika menunggunya, Sang suami juga tidak kunjung segera keluar. Karena khawatir, Lunika mencoba untuk memanggilnya.


Brak!! brak!! brak!!


"Sudah atau belum?" tanya Lunika sambil menggedor gedor pintunya.


Hening, suara apapun tidak ia dengar. Tiba tiba Lunika berubah menjadi panik, pikirannya semakin khawatir jika terjadi sesuatu pada suaminya.


Brak!!


Pintu pun terbuka dengan sangat jelas, dilihatnya sesuatu yang membuatnya tercengang.


"Tidak!!!!" teriak Lunika dengan sangat kencang, dengan cepat sang suami langsung membekap mulut istrinya dengan keadaan yang sulit untuk dijelaskan.


Deg


Detak jantungnya seakan berhenti dan tidak lagi berdetak. Pertanyaan yang seakan telah mengutuk dirinya sendiri.


"Em ... iii --- ii --- iya! aku keluar." Jawabnya, kemudian segera keluar dari kamar mandi.


Karena masih dihantui rasa ketakutan akan perasaannya, Lunika memilih untuk segera keluar dari kamar mandi. Meski perbuatannya itu sudah menyiksa suaminya, Lunika hanya bisa menyingkir untuk menjauhi sesuatu yang ia sendiri masih belum siap.


Rasa cintanya pada sang suami yang bernama Zicko, membuat Lunika tidak mampu untuk membuka pintu hatinya untuk seorang laki laki.


Lunika sendiri tidak dapat memungkiri, jika dirinya sangat merindukan sosok suaminya yang sudah lama berpisah karena sebuah kematian, pikir Lunika.

__ADS_1


Namun, ia juga tidak dapat memungkiri saat kedatangan suami barunya yang dimana perlakuannya begitu mirip dari suaminya. Tidak hanya itu juga, sikap dan apapun yang sudah menjadi kebiasannya telah mampu menghipnotisnya. Bahkan Lunika masuk dalam perangkapnya, dan juga tidak kuasa untuk menolaknya.


Bagi Lunika sudah seperti magnet, bahkan terasa candu untuknya. Namun mau bagaimana lagi, Lunika yang takut akan sebuah jebakan yang mengenai dirinya, ia harus lebih hati hati demi kebaikannya dan juga untuk kebaikan putranya.


Setelah selesai membersihkan diri yang kedua kalinya, Rayan segera keluar dari kamar mandinya. Sedangkan Lunika dengan terburu buru, ia langsung masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya.


Dengan cepat, Lunika segera membersihkan diri. Lagi lagi bayangan suaminya telah bersemayam dikepalanya, berkali kali ia menepisnya, tetap saja tidak bisa menghilang begitu saja. Justru, semakin ia mencoba untuk menepis, semakin tajam ingatannya.


Tanpa drama didalam kamar mandi seperti biasa ia lakukan, dengan cepat kilat Lunika telah selesai melakukan ritual mandinya. Lagi lagi dirinya dibuat sial, ia sendiri belum mengambil handuknya. Dengan terpaksa, ia mencoba mengintip didalam kamar.


"Ekhem ekhem!" tidak punya cara lain selain berdehem dengan keras, akhirnya sang suami mendekatinya.


"Apa? hem, mau minta bantuan?" tanya sang suami dibalik pintu.


"Iya, tolong ambilkan aku handuk. Dan satu lagi, aku mohon keluar dari kamar." Pinta Lunika memohon.


"Ambil saja sendiri, kenapa mesti malu? aku suami kamu. Lagian juga aku sudah melihatmu dengan detail, jadi tidak ada yang perlu kamu tutup tutupi dariku." Sahut Rayan dengan enteng.


"Pokoknya ambilkan aku handuk, cepetan. Dan aku tidak peduli jika kamu sudah melihatku sepenuhnya, cepat! ambilkan. Yang sedang aku butuhkan sekarang itu handuk, bukan masalah yang lain." Ucap Lunika yang semakin geram.


Rayan yang tidak ingin sang istri menunjukkan kekesalannya, segera ia mengambilkan handuk didalam lemari.


"Ini handuknya, cepetan pakai bajumu. Aku sudah sangat lapar, dan aku tidak mau selera makanku menghilang. Jadi, cepat! lakukan sesuai perintahku." Perintah Rayan sambil menyodorkan handuknya.


"Iya ya ya, terima kasih sudah menolongku." Sahut Lunika sambil menerima handuk yang diambilkan oleh suaminya.


Rayan yang merasa sudah tidak dibutuhkan lagi, segera ia pindah tempat posisiya.


Sedangkan setelah merasa lega, Lunika segera mengenakan pakaian sederhana nya. Kemudian ia berdiri didepan cermin sambil menyisiri rambutnya.

__ADS_1


"Aku sedang tidak bermimpi, 'kan?" gumam Lunika sambil menatap pantulan bayangannya pada cermin yang berukuran cukup untuk bercermin dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Setelah merasa sudah tidak ada lagi yang kurang, Lunika segera keluar dari kamar suaminya.


__ADS_2