Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Kenyataan yang tidak pernah diduga


__ADS_3

Tidak lama kemudian, datanglah keluarga dari adik kakek Dana. Siapa lagi kalau bukan tuan Guntara, adik dari istri kedua ayahnya.


"Selamat, malam semuanya. Maaf, jika kedatangan kami cukup lama untuk menunggu." Sapa tuan Guntara dengan ramah, sedangkan sang istri dan putrinya yang bernama Jennyta ikut tersenyum ramah.


"Selamat malam juga tuan Guntara, nyonya Guntara dan Nak Jenny. Mari, silahkan duduk." Jawab tuan Zayen dengan ramah dan mempersilahkan duduk. Tuan Guntara beserta anak dan istrinya segera duduk ditempat yang sudah disiapkan.


Sepasang mata Jennyta tertuju pada sepasang suami istri yang terlihat begitu serasi dan mesra. Hatinya pun terasa panas, perasaan kesal pun tengah menguasai pikirannya.


'Sialan! perempuan itu yang sudah merebut Zicko dari genggamanku. Gara gara perempuan itu, Zicko tidak mau menerima perjodohan.' Batin Jennyta berdecak kesal ketika melihat keserasian dan kemresaan Zicko dengan istrinya.


"Nak Jenny, jeng Elima, ayo silahkan duduk. Jangan sungkan sungkan nak Jenny, ini ada keponakan tante. Vellyn, ayo kenalan sama putrinya anaknya teman paman Zayen." Ucap ibunya Zicko pada Jenny dan Vellyn keponakan sendiri.


Dengan malas, Vellyn terpaksa melakukan perkenalan. Mau tidak mau, Vellyn mengulurkan tangannya sebagai tuan rumah.


"Perkenalkan, namaku Vellyn. Aku keponakan tante Afna, anak dari saudara kembar paman Zayen." Ucap Vellyn memperkenalkan diri. Begitu juga dengan Jennyta ikut mengulurkan tangannya dan menjabat tangan milik Vellyn.


"Namaku Jennyta, putri semata wayang dari keluarga Guntara." Jawab Jennyta dengan percaya dirinya.


'Cih! dia kira dirinya saja yang terlihat cantik dan tajir, untung saja kak Zicko tidak menerima perjodohan dengan perempuan ini. Rupanya yang namanya Jennyta yang seperti ini, mendingan juga kak Lunika." Batin Vellyn dengan kesal.


"Maaf ya, jeng. Aku tinggal sebentar, mari silahkan duduk." Ucap ibunya Zicko.


"Iya tidak apa apa, silahkan." jawab istri Guntara menahan kesal. Kini tinggal Omma Zeil, Lunika, Vellyn, dan Jennyta dengan ibunya.


"Salam kenal dariku, nyonya Guntara. Aku ibunya Zayen, namaku Zeil, sekaligus Omma dari Zicko dan Vellyn." Ucap Omma Zeil dengan ramah.


"Iya, saya istri kedua dari Guntara setelah meninggalnya istri pertama saat mengandung anaknya." Jawabnya dengan percaya diri, sedangkan Omma Zeil tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Kamu sangat beruntung memiliki suami seperti tuan Gantara, yang pekerja keras." Ucap Omma Zeil memujinya.


"Iya, suami saya orangnya pekerja keras. Bahkan tidak mengenal lelah, hingga pada akhirnya menjadi orang yang sukses." Jawabnya dengan bangga, sedangkan Vellyn sendiri terasa menyimpan ketidaksukaannya pada istri dari tuan Guntara.


'Emak sama anak sama aja, bangga gitu jadi orang kaya. Padahal kekayaannya diawali oleh istri pertamanya, gini gini aku juga sudah mengikuti penyelidikan kalian bersama papaku yang super detail.' Batin Vellyn sambil melihat nyonya Guntara dengan ketidaksukaannya.


Sedangkan dalam perjalanan menuju ke tempat kediaman keluarga kakek Alfan, ibu Ruminah mendadak kepikiran akan dirinya ketika bertemu dengan besannya.


"Ibu Arum, bagaimana ini? aku sangat takut berhadapan dengan kedua orang tua menantuku. Aku takut, mereka akan kecewa denganku. Kamu tahu sendiri, 'kan? aku seorang ibu yang tidak berpunya. Bahkan aku sangat lah miskin, Bu Arum." Ucap ibu Ruminah dengan gelisah.


"Ibu Ruminah tidak perlu takut, semua akan baik baik saja. Bahkan barusan saja Romi mengirimkan pesan padaku, kata Romi keluarga nak Zicko sangat lah baik. Semua bayangan buruk ternyata tidak ada sama sekali, itu hanya perasaan takut saja." Ujar ibu Arum menenangkan.


"Benar Bu Ruminah, keluarga nak Zicko sangat baik. Romi sudah membuktikannya, bahkan disambut dengan hangat." Sahut ayahnya Romi menimpali.


"Semoga saja, apa yang dikatakan kalian memang benar adanya." Jawab ibu Ruminah berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Setelah memakan waktu yang cukup lama, tidak lama kemudian, ibu Ruminah serta kedua orang tua Romi telah sampai di depan rumah keluarga kakek Alfan.


Disaat itu juga, sepasang matanya tengah tertuju pada sebuah tulisan yang terlihat begitu sangat jelas.


"WILYAM. benarkah? tidak, kita salah alamat! bukan ini rumahnya." Ucap Ibu Ruminah tidak percaya.


"Benar Bu, ini memang benar rumahnya Tuan muda Zicko. Nanti setelah berada didalam rumah akan lebih jelas lagi, bahwa Nona muda Lunika putri ibu berada didalam.


Seketika, tubuhnya mendadak lemas. Nafasnya terasa sulit untuk bernafas, ia seperti terbangun dari mimpi panjangnya. Air matanya seakan sulit untuk dibendung, bahkan ia tidak tahu harus berkata apa.


"Bu Ruminah, Bu ... ibu baik baik saja, 'kan?" tanya ibu Arum penasaran. Kemudian menghapus air matanya dengan tissu.

__ADS_1


Sesampainya di didepan rumah yang sangat megah, ibu Ruminah masih berdiam diri.


"Katakan padaku, rumah ini milik siapa? ayo jelaskan!" tanya ibu Ruminah sedikit membentak.


"Lebih baik, kita turun dulu ya, Bu. Nanti setelah ini, akan saya beritahukan pemilik rumah ini." Jawab pak Yitno meyakinkan, ibu Ruminah hanya bisa mengangguk. Kemudian segera turun dibantu oleh kedua orang tua Romi.


"Tunggu! pak Yitno, katakan padaku sekarang juga. Siapa pemilik rumah ini, cepat." Panggil ibu Ruminah yang semakin penasaran dan campur aduk yang ada dalam pikirannya.


Sedangkan pak Yitno tidak memiliki alasan lain untuk menolak, mau tidak mau tetap mengatakannya dengan jujur.


'Lagi pula sudah berada didalam lingkungan rumah tuan Besar, semua penjaga sudah dilakukan dengan sangat ketat. Jadi, tidak mungkin akan kabur.' Batin pak Yitno yang mulai terasa sedikit tenang.


"Rumah ini, rumah ini adalah milik Tuan Besar Alfan dan Nyonya Besar Zeil Wilyam."


DUAR!!!


Seketika, tubuh ibu Ruminah terasa tersambar petir. Tubuhnya mendadak berubah menjadi lemas, pikirannya seakan sulit untuk mencernanya kembali. Begitu dalam bayangan yang tengah menghantuinya, ia seperti terbangun dari mimpi panjangnya.


Sekian lamanya tidak pernah bertemu, sekali bertemu terlalu menyayat hatinya begitu dalam.


Ingin rasanya putar balik arah, namun itu semua tidak mungkin.


"Alfan, Zeil, Maura, Ganan, Tirta, Dan --- na ..." Begitu sesaknya ia menahan sedihnya dimasa lalunya, dan begitu pahit perjalanan hidupnya yang tidak pernah ia temukan kebahagiaannya.


Sakit, sangat sakit untuk diingatnya kembali. Sebuah kenangan yang menjadikan sebuah pelajaran hidup yang tidak untuk dilupakan, namun kenyataannya harus bertemu kembali dengan keadaan yang tidak pernah ia bayangkan.


"Bu Ruminah, ibu tidak apa apa 'kan? apakah ibu Ruminah sudah siap untuk masuk kedalam?" tanya ibu Arum memastikannya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa berbuat apa apa, ini demi putriku yaitu Lunika. Aku harus bisa melakukannya, Lunika adalah putriku satu satunya. Aku tidak mau membuatnya bersedih dan terluka karena aku." Jawab ibu Arum dengan pasrah.


Sedangkan yang berada didalam rumah terdengar suara para pelayan yang tengah menyambut kedatangan ibunya Lunika.


__ADS_2