Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Tidak disangka


__ADS_3

Nyonya Afna yang mendapat telfon dari Lunika pun segera menemui suaminya sambil menggendong cucu kesayangannya.


Dengan napasnya yang terengah engah, akhirnya telah sampai dihadapan suaminya yang tengah menunggu kabar dari anak buahnya mangenai keberadaan menantunya yang juga belum pulang. Bahkan sudah mencoba menghubungi Arnal serta Radenra, namun tidak juga Beliau dapatkan kabarnya.


Perasaan cemas dan juga khawatir kini telah menguasai pikiran Tuan Zayen dan juga yang lainnya, termasuk kedua orang tua Lunika sendiri.


"Ada apa? apakah ada kabar dari Lunika?" tanya Tuan Zayen menatapnya dengan fokus.


"Iya, sekarang Lunika sedang berada di Kantor Desa. Entah ada apa, Lunika tidak mau menjawabnya. Lunika bilang, kita dimintai untuk segera datang." Jawab sang istri penuh kekhawatiran.


"Sekarang juga kamu siap siap lah, bawa keperluan Niko seadanya. Nanti kita titipkan ke Tuan Guntara, karena kita tidak mungkin membawanya untuk menemui Lunika." Perintah Tuan Zayen, kemudian mengambil alih cucunya untuk Beliau gendong. Sedangkan Nyonya Anfa segera bersiap siap dan menyiapkan keperluan cucu kesayangannya.


Sambil menggendong cucu kesayangan, Tuan Zayen menelpon beberapa anak buahnya untuk ikut bersamanya. Takut, jika terjadi sesuatu pada dirinya serta pada menantunya.


Saat sudah memberi perintah pada beberapa anak buahnya, Tuan Zayen akhirnya menghubungi Tuan Seyn untuk menemaninya. Kemudian Beliau segera keluar dari ruang kerjanya bersama sang cucu.


Setelah dirasa sudah tidak ada yang tertinggal, Nyonya Afna mengambil alih untuk menggendong cucu kesayangan. Kemudian segera berangkat bersama sang suami serta dikawal beberapa anak buah yang sudah diperintahkan, ada yang terlihat nyata dan juga ada yang sebagai mata mata yang sulit untuk dikenalinya.


Selama perjalanan, Tuan Zayen maupun sang istri sama khawatirnya. Ditambah lagi dengan suara Lunika yang terdengar meminta pertolongan. Dengan kecepatan yang tinggi, pak Supir segera mempercepat perjalanannya.


Tidak menunggu waktu yang lama, Tuan Zayen akhirnya sampai di rumah Tuan Guntara. Dengan tidak sengaja, Tuan Seyn pun telah sampai pada waktu yang sama.


"Kak Seyn," panggilnya.

__ADS_1


"Iya, bagaimana dengan Lunika?" tanyanya penasaran.


"Kita hanya diminta untuk segera datang, itu saja kata Lunika." Jawab Tuan Zayen.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita berangkat." Ucap Tuan Seyn yang sudah tidak sabar.


"Lebih baik kamu tinggalkan saja mobilmu disini. Kita berangkat satu mobil, aku takut terjadi sesuatu diantara kita dalam perjalanan." Sahut Tuan Zayen yang mulai khawatir, takut jika musuh akan datang kapan saja dan di manapun berada.


Setelah menitipkan sang cucu pada Besannya, Nyonya Afna berpamitan untuk berangkat.


"Zayen, bagaimana kalau aku takut?" pinta Tuan Guntara.


"Keselamatan Niko jauh lebih penting, biarkan aku dan Seyn, serta istriku yang akan mendatanginya." Jawab Tuan Zayen yang juga mengkhawatirkan keselamatan cucu kesayangannya, apalagi hanya Niko lah satu satunya penerus Tuan Zayen. Apapun demi sang cucu, Tuan Zayen lebih memilih keselamatan sang cucu.


"Baik lah, semoga tidak terjadi apa apa pada putriku. Aku titipkan putriku padamu, semoga kalian semua pulang dengan selamat." Ucap Tuan Guntara yang juga ikut mencemaskan akan keselamatan putrinya.


Setelah berpamitan, Tuan Zayen bersama sang kakak dan juga sang istri segera berangkat ke suatu tempat yang sudah diberitahu oleh menantunya.


Sedangkan disuatu tempat, tepatnya dimana beberapa orang tengah berbincang mengenai sebuah rencana yang sedang didiskusikan.


BRAK!!!!!


Suara gebrakan meja tengah mengagetkan beberapa orang yang ada dihadapannya.

__ADS_1


"Dasar bo*doh! bo*doh! kalian semua, melakukan pekerjaan yang mudah saja tidak becus. Aku tidak mau tau, secepatnya kalian cari tau siapa yang sudah menggagalkan rencanaku." Bentaknya dengan penuh amarah, bahkan raut wajahnya serasa terbakar kemarahan yang begitu besar.


"Lihat lah, aku pasti dapat menemukanmu yang sudah berani menghancurkan rencanaku." Ucapnya bergeming sambil mengepalkan kedua tangannya, seakan ingin melayangkan tinjuannya pada seseorang yang ia benci.


Dan kini, Lunika yang juga masih menyimpan rasa kekesalannya pun sudah tidak ingin mendapatkan pembelaan dan dapat lepas dari masalah yang menurutnya tidak masuk akal, pikirnya.


Tidak lama kemudian, sebuah mobil mewah diikuti beberapa mobil pengawal yang kedatangannya mengagetkan para warga sekitar, termasuk bapak Kepala Desa. Semua yang melihat kedatangan mobil mewah yang tidak hanya satu, membuat semua warga bingung serta ketakutan saat melihat sosok orang orang yang menjadi pengawal Tuan Zayen dan sang kakak serta sang istri yang berjalan dengan wibawanya.


Bahkan banyak warga yang tengah berbisik untuk membicarakan, meski menyimpan rasa takut yang begitu besar.


"Kamu mendatangkan pasukan? wah, rupanya kamu dari keluarga yang sangat tajir, ya." Ledek Rayan sambil senyum menggoda. Lunika yang mendengarnya pun semakin kesal dan ingin sekali menampolnya. Karena tidak ingin tangannya menjadi kotor, Lunika berusaha untuk tetap tenang. Ditambah lagi ada ayah mertua dan juga ibu mertua, serta sepupunya sendiri.


"Selamat siang, Bapak Kades. Maaf sebelumnya, ada masalah apa sehingga kami harus dimintai untuk datang kemari?" sapa Tuan Zayen dengan sopan, kemudian menanyakan maksud kedatangannya. Setelah itu, Tuan Zayen menoleh kearah seorang laki laki seumuran putranya yang tengah duduk disebelah menantunya.


Tidak hanya itu, Tuan Seyn pun ikut memperhatikan satu persatu dari orang orang yang tengah berkerumunan dan mencoba menangkap maksud dari keramaian tersebut.


"Begini Tuan, maafkan kami jika ucapan kami tidak patut untuk diucapkan dihadapan Tuan sekalian. Kalau begitu saya akan bicara langsung pada intinya, bagaimana?"


"Silahkan, karena kami sendiri tidak mempunyai waktu yang panjang untuk melakukan debat." Jawab Tuan Zayen yang tidak menyukai pembicaraan yang basa basi, Beliau lebih suka bicara pada pokok intinya dari pada harus membuang buang waktu.


"Begini, Tuan. Sebenarnya putri Tuan telah kepergok bersama seorang lelaki di sebuah kamar kost oleh beberapa warga. Karena kami mempunyai aturan, keduanya harus dinikahkan hari ini juga."


"Apa!!!" teriak Tuan Zayen, Tuan Seyn, dan juga nyonya Afna bersamaan dengan reflek karena kaget bukan main.

__ADS_1


"Tidak! tidak mungkin putri saya melakukan kesalahan. Saya yakin, ini pasti ada yang melakukan perencanaan untuk menjebak putri saya." Ucap Tuan Zayen tidak terima, kemudian Beliau menoleh kearah seorang laki laki yang tengah duduk disebelah Lunika dengan tenang. Bahkan sedikitpun tidak menunjukkan rasa bersalah maupun penyesalan, ataupun ketakutan sekalipun.


"Ma, Pa, ini semua tidak seperti yang Mama pikirkan. Lunika mendapatkan jebakan, Ma ... Pa. Lunika juga tidak mengenali laki laki aneh ini, percayalah sama Lunika, Ma ... Pa." Sahut Lunika langsung menimpali untuk mencari sebuah pembelaan. Lunika benar benar merasa takut jika kenyataannya dirinya harus menikah dengan paksa, ditambah lagi ia sendiri tidak mengenalinya.


__ADS_2