Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Sangat Penasaran


__ADS_3

Karena badan terasa pegal dan tidak karuan, Lunika dan Zicko terbangun dari tidurnya di jam yang masih sepi.


"Sayang, aku mau bangun. Badanku terasa pegal pegal dan tidak karuan, aku mau berendam air hangat. Mungkin dengan cara berendam, tubuhku akan lebih mendingan." Ucap Lunika yang masih berada dipelukan suaminya.


Zicko yang juga merasa pegal pegal karena ritualnya, Zicko memilih untuk kembali memejamkan kedua matanya sambil menunggu istrinya selesai berendam.


Tidak lama kemudian, Lunika telah selesai dengan ritual mandinya. Apa yang dirasakannya, kini sedikit berkurang rasa sakit dan pegal pegal pada bagian anggota tubuhnya itu.


Kemudian, ia segera keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaiannya kembali. Setelah itu, Lunika kembali ke tempat tidurnya. Dilihatnya sang suami yang tengah tertidur dengan pulas, seakan iabtidak berani untuk membangunkannya.


"Kamu sudah selesai mandinya?" tanya Zicko yang tiba tiba mengagetkan istrinya yang hendak mau berbaring disebelahnya.


"Sudah, aku bingung harus ngapain? jam masih terlalu pagi untuk beraktivitas." Jawab Lunika sambil menatap suaminya.


"Ya sudah sini, temani aku tidur saja kalau begitu. Hari aku libur untuk menemanimu, anggap saja bulan madu." Ucapnya sambil meraih tangan milik istrinya dan menariknya semakin dekat.


Zicko yang tergoda akan aroma wangi pada istrinya, semakin melang lang buana pikirannya. Pikiran kotornya kembali lagi menguasainya, hingga membuat pertahanannya tidak bisa di cegahnya.


Lunika yang berniat ingin melanjutkan tidurnya, kini dia harus menerima keinginan suaminya yang sudah tidak terkendali lagi. Tanpa pikir panjang, Zicko langsung melanjutkan ritual panjangnya di pagi buta yang sangat pas dengan cuaca di luaran semakin dingin.


Lunika sendiri tidak dapat melakukan penolakan, keduanya sama sama menikmati pagi butanya dalam balutan selimut.


Tanpa disadarinya, durasi waktunya pun telah menunjukkan dititik puncaknya. Hingga keduanya terkulai lemas, dan kembali berbaring lemas diatas tempat tidur dalam satu balutan didalam selimut.


Zicko kembali mengeratkan pelukannya, kemudian ia mencium kening istrinya dengan lembut. Setelah itu, keduanya sama sama membersihkan diri di kamar mandi. Lalu, melakukan aktivitasnya seperti biasanya.


Tidak terasa mentari pagi yang begitu cerah tengah memasuki cela cela rumah, hingga menyisahkan kehangatan didalamnya.


Karena tidak tahu harus berbuat apa, Lunika memilih menyibukkan diri dengan ponselnya. Sudah beberapa hari ia tidak mendapatkan kabar dari ibunya, rasa rindu kini tengah mengingatkan dirinya pada suatu kenangan dengan ibunya.

__ADS_1


"Sedang ngapain kamu?" tanya Zicko yang tiba tiba sudah berdiri didekat istrinya yang tengah duduk di sofa.


Dengan reflek, Lunika langsung menoleh ke sebelahnya. Lalu, ia mendongakkan pandangannya pada sang suami.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? aku tidak lagi melakukan kesalahan, 'kan?" tanya Lunika dengan rasa gugup. Meski sudah tidak ada lagi sesuatu yang terpendam, Lunika masih saja menyimpan rasa gugupnya.


"Kamu ingin tahu? kenapa aku menatapmu seperti itu? karena kamu sudah menjadi bagian canduku." Ucapnya semakin merendahkan volumenya untuk berbicara, tepatnya berbisik didekat telinga istrinya pada beberapa kalimat terakhirnya.


Lunika yang mendapati bisikan dari suaminya semakin geli saja mendegarnya.


"Sudah, tidak perlu kamu pikirkan ataupun kamu bayangkan. Terlalu kepedean nanti orangnya, ayo ikut aku." Ucap Zicko, kemudian ia langsung menggendong istrinya untuk turun kebawah.


Dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan, Lunika dan Zicko seakan dunia milik berdua. Sedangkan yang lainnya hanya mengontrak, itulah sepasang suami istri yang tengah dimabuk asmara.


"Selamat pagi, Tuan .. Nona." Sapa mbak Yuyun yang sedang melakukan pekerjaannya.


Setelah berada didepan rumah, Zicko menurunkan sang istri dari gendongannya.


"Seperti janjiku kemarin, aku mau mengajakmu jalan jalan pagi. Bagaimana menurutmu? kamu mau 'kan?" ucap Zicko dan bertanya pada istrinya.


"Tentu saja aku tidak akan menolaknya, aku menyukai sesuatu yang bermanfaat untuk tubuh kita. Selain sehat, kita juga mendapatkan energi baru pada tubuh kita. Apa lagi dengan berlari, aku sangat menyukainya." Jawab Lunika yang tiba tiba teringat sesuatu yang membuat dirinya merindukan masa masa mudanya dikala itu.


"Baik lah, jika kamu mau berlari. Aku akan mengimbangi langkahmu, seberapa lebarnya lang kaki mu itu. Akupun sudah lama tidak berolahraga, apa salahnya aku untuk mencobanya. Mungkin, mulai sekarang aku akan sering berolahraga. Karena apa? ada jadwalku dimalam hari untuk membuat staminaku semakin kuat." Ucap Zicko sambil mengedipkan satu matanya, seakan ia memberikan kode sinyal pada istrinya.


Lunika yang mengerti akan maksud dari suaminya itu, Lunika hanya tersenyum lebar padanya. Tanpa pikir panjang, Lunika mengambil star terlebih dahulu untuk berlari. Zicko yang kalah duluan, segera ia mengejarnya.


Semakin jauh, semakin sulit untuk mengejar istrinya. Zicko sendiri sulit untuk menandingi istrinya yang terlihat kuat darinya.


Karena jarak yang cukup jauh diantara keduanya, Lunika memilih untuk mengatur pernafasannya sambil menunggu suaminya sampai.

__ADS_1


Dengan nafasnya yang tersengal sengal, Zicko akhirnya dapat mengejar istrinya. Dengan pelan, Zicko mulai mengatur pernapasannya.


Karena merasa risih, Zicko melepas sepatunya dan duduk di sembarang tempat. Kemudian ia meluruskan kakinya dengan cara tanpa mengenakan sepatu.


Disaat itu juga, sepasang mata milik Lunika tertuju pada sebuah bekas jahitan pada kaki suaminya.


Pelan pelan Lunika mendekatinya, kemudian ia jongkok didekat ujung kaki milik suaminya.


Zicko yang tidak mengerti maksud dari istrinya, sedikitpun ia tidak mencurigainya. Zicko hanya memperhatikan istrinya tanpa berpikiran yang menjurus kearah masa lalunya.


"Jahitan," ucap Lunika dan menoleh kearah suaminya. Seketika, Zicko kaget mendengarnya. Dengan reflek, Zicko menarik kakinya dan langsung bangkit dari posisinya.


Lunika mendadak bingung dibuatnya, seketika ia ikut berdiri dan mendekatinya.


"Kenapa kamu sekaget itu? apakah ada masalah dengan kakimu, sayang?" tanya Lunika yang tidak mengerti.


"Tidak, tidak apa apa. Ini hanya sebuah kecelakaan kecil saja, ini masa laluku yang cukup lama." Jawabnya beralasan.


"Ooh, kirain kenapa. Maaf, jika aku mengingatkan masa lalumu." Ucap Lunika yang masih menyimpan rasa penasarannya.


Sedangkan seseorang yang tidak jauh dari Zicko dan Lunika, kini sedang memperhatikan keduanya yang tengah mengobrol.


Zicko yang merasa tidak ingin mendapatkan banyak pertanyaan dari istrinya, ia segera mencari ide untuk beralih pembicaraan.


'Maafkan aku yang belum siap untuk berkata jujur, aku sedang menunggu waktu yang tepat. Aku takut, ketika aku berterus terang kamu tidak mau lagi hidup bersamaku. Setidaknya aku mempunyai sebuah sesuatu yang dapat aku pertahankan untuk memilikimu, karena aku sudah terlanjur jatuh cinta denganmu.' Batin Zicko yang takut akan kehilangan istri yang sangat ia cintai.


Begitu juga dengan Lunika, dirinya pun ikut sibuk dengan lamunannya.


'Kenapa aku merasa ada sesuatu pada suamiku, mungkinkah lelaki itu yang aku tolong adalah suamiku sendiri? aku masih ingat begitu jelas ucapan darinya.' Batin Lunika yang terus mencoba menerka nerkanya.

__ADS_1


__ADS_2