
"Permisi, Tuan. Ini, minyak urut dan juga bawang merahnya." Ucapnya yang sudah berada di ruangan kerja milik Dey.
"Kamu bawa lagi ini minyak urutnya ke ruang istirahat yang dikhususkan, aku akan menuju kesana." Perintahnya, kemudian menoleh kearah Vey.
Tanpa pikir panjang, Dey segera menarik tangan milik Vey. Dengan reflek, Vey terkejut.
"Om! kita mau kemana? kenapa tidak di ruangan ini saja?" tanya Vey sambil menahannya.
"Kamu ini dengar tidak sih! hah. Bukankah aku sudah mengatakannya dari tadi, aku itu tidak menyukai bau bawang merah. Apa jadinya jika ruanganku ini menjadi bau bumbu masakan, jangan gila kamu." Jawab Dey masih dengan tatapan kesalnya.
"Iya ya ya deh, huh!" sahut Vey dan membuang nafasnya kasar.
"Cepetan, lelet amat kamu ini." Ucap Dey sambil menarik tangan Vey tanpa peduli banyak beberapa karyawan yang tengah memperhatikan Vey dan juga Bosnya.
"Om! jangan kebut kebut dong, pelan aja kenapa sih." Sahut Vey sambil mencoba melepaskan tangan Dey yang tengah menggenggamnya erat.
Selwy yang melihat Vey tengah digenggam erat tangannya pun serasa panas dan terbakar api cemburu. Sedangkan Yenifa tersenyum mengembang saat sahabatnya digandeng sama Bosnya.
"Duh ... meski jaim jaim ingin melepaskan, Vey sangat serasi dengan Bos Dey. Hanya tinggal satu untuk mengubah Vey, iya! aku tahu sekarang. Vey harus merubah penampilannya, agar si Bos terpesona dengan Vey." Gumam Yeni serasa meleleh hatinya saat melihat sahabatnya dekat dengan Bosnya yang sangat tampan.
"Jangan mimpi, kamu itu. Vey, mana bisa dandan. Lagian ekspresi Vey itu seperti sedang mendapat amukan dari si Bos, lihat dong dengan mata yang jeli. Agar kamu tidak salah lihat. Jelas jelas ekspresi Bos seperti sedang kesal, makanya kamu lihat dengan jeli." Sahut Selwy menimpali.
"Dih! kenapa ikut mengomentari ucapanku, suka suka aku dong. Mau serasi atau tidak juga bukan urusan kamu, bilang aja kalau kamu cemburu. Secara Vey orang kepercayaan Bos besar, alias pemilik perusahaan ini. Lagian juga cantikan Vey dari pada kamu, lihat saja penampilan kamu. Sangat sangat jauh, bahkan lebih bagusan Vey. Meski tomboy, Vey masih menunjukkan wajah cantik serta manis. Emangnya kamu, usia sudah tua juga masih belagu." Ucap Yeni yang tidak memiliki rasa takut sedikitpun, meski yang dihadapinya seorang Selwy yang terkenal keberaniannya.
"Awas! kamu ya, Yen. Lihat saja, aku yang lebih dulu akan membuat si Bos jatuh cinta denganku." Jawabnya dengan rasa percaya diri.
__ADS_1
Karena tidak mau buang buang waktu hanya untuk berdebat, Yeni segera meninggalkan tempat dan kembali ke tempat kerjanya.
Sedangkan Vey, kini sudah berada didalam ruangan khusus untuk beristirahat dan lainnya.
Sambil celingukan, Vey menyelidik isi di dalam ruangan tersebut.
"Tenang, ruangan ini ada CCTV nya. Kamu tidak perlu takut, aku tidak akan melakukan hal kotor padamu." Ucap Dey, kemudian ia masuk ke ruang ganti. Dey segera melepas jasnya serta baju kemejanya dan juga celana panjangnya.
Kini yang tersisa hanyalah celana kolornya yang terbalut handuk, sedangkan Dada bidangnya nampak lah mempesona setiap perempuan yang mengaguminya.
Sedangkan Vey memilih untuk duduk ditepi tempat tidur yang berukuran kecil. Seketika, kedua bola matanya terbelalak ketika melihat postur tubuh Dey yang benar benar menghipnotis kedua matanya.
"Woi! ngelamun saja, kamu ini. Buruan pijat pinggangku, awas! kalau sampai salah urut. Aku bakalan urut balik pinggang kamu itu, ngerti." Ucap Dey membuyarkan lamunan Vey yang tercengang saat melihat dirinya tanpa mengenakan baju apapun.
"Naksir ya, sama aku. Ngimpi! perempuan laki kek kamu itu tidak pantas naksir pria tampan sepertiku."
"Kirain, kamu sukanya yang bahe*nol. Secara penampilan kamu itu kek laki laki saja, syukurlah kalau kamu masih normal. Kirain aja sudah pelangi pelangi." Ucap Dey, kemudian segera duduk disebelah Vey yang sudah siap untuk dilakukan pemijatan.
"Memangnya kalau pelangi, kenapa? masalah gitu sama Om Dey? hem."
"Masalah banget, mau ditaruh dimana reputasiku jika mempunyai sekretaris pelangi. Yang pastinya aku akan menyembuhkanmu, aku akan mengajakmu menikmati ..." ucap Dey sengaja menghentikan kalimatnya.
Vey yang mendengarnya pun seakan ingin melayangkan tinjuannya ke arah Dey yang benar benar sudah menguras emosinya.
"Sudah jangan kelamaan, cepat urut pinggangku. Badanku sudah terasa sakit semua karena ulah kamu diwaktu malam itu, kamu harus bertanggung jawab." Perintah Dey sambil menepuk punggung Vey.
__ADS_1
Tanpa bersuara, Vey segera membuka minyak urutnya dan mere*mat remat bawang merahnya. Semakin terasa kesal, beberapa kali rematan, bawang merahnya pun hancur lembut seketika.
Dey yang merasa baunya sangat menyengat, segera ia menutup hidungnya. " Pelan pelan, awas kalau sampai babak belur." Ancam Dey sambil jaga jaga, takut Vey akan memijatnya dengan semaunya.
Vey tidak menghiraukan ancaman dari Dey, ia tetap fokus pada kegiatan tangannya untuk mengurut pinggang milik Dey. Dengan pelan, Dey berhati hati takut sangat empunya berteriak histeris.
"Aaaa!!! gila, kamu! sakit, tau." Teriak Dey sekencang mungkin, bahkan lengan Vey pun ikut menjadi sasaran gigitan dari Dey yang benar benar reflek karena menahan sakit yang sangat hebat. Sedangkan Vey sendiri tetap bersikap tenang, meski Dey sudah memberikan gigitan sampai mengeluarkan darah pada bagian lengannya.
Seketika, Dey tercengang saat melihat lengan Vey yang tengah cidera karenanya, entah ada angin apa Vey tidak merespon sedikitpun tentang gigitan yang diberikan oleh Bosnya sendiri. Justru Vey hanya menggigit bibir bawahnya yang juga sangat kuat hingga mengeluarkan darah segar dan ikut terluka.
"Diam! aku belum selesai mengurutmu." Bentak Vey yang tiba tiba ekspresinya berubah menjadi dingin kaku, hingga membuat Dey terdiam. Ditambah lagi dirinya sudah melukainya hingga lengannya harus cidera karena gigitannya.
Dey yang hendak menjerit pun, ia tahan sekuat mungkin untuk tidak bersuara. 'Jangan jangan Vey marah besar denganku, karena aku sudah melukainya.' Batin Dey penuh sesal.
Vey tetap fokus mengurut pinggang milik Dey dengan telaten, bahkan ia tidak bersuara sejak lengannya mendapat gigitan dari Bosnya sendiri. Dey yang merasa bersalah ingin segera menyudahinya, namun ia justru takut akan mendapatkan bentakan yang kedua kalinya.
Vey sendiri tidak memperdulikan bibir bawahnya yang terus mengeluarkan darah segar, Vey tetap fokus menyelesaikan tugasnya.
"Sudah, sekarang bersihkan badan Om. Aku mau kembali ke tempat kerjaku, permisi." Ucap Vey tanpa ekspresi apapun, bahkan sikap yang tanpa rasa canggung pun telah lenyap bak ditelan bumi.
Dey pun segera beranjak berdiri dari posisinya, dilihatnya bibir Vey ada darah segar. Segera ia meraih pundak Vey dan menatapnya dengan lekat. Sedangkan perempuan yang ada di hadapannya pun hanya diam beribu bahasa.
"Bibir kamu? kenapa dengan bibir kamu?" tanya Dey panik dan juga penasaran. Vey sendiri tidak bersuara. Tanpa pikir panjang, Dey mencium dan menyesap habis darah segar pada bibir Vey hingga tidak lagi mengeluarkan darahnya.
Vey terus memberontak, namun tenaganya kalah banding dengan Dey. Setelah dirasa sudah cukup, Dey melepaskan ciumannya.
__ADS_1
PLAKK!!!