
Lunika masih menatap suaminya dengan penuh tanda tanya yang menguasai pikirannya.
"Kenapa kamu membawa pistol? apa benar, jika pekerjaan kamu adalah Mafia?" kalimat yang ia tahan akhirnya keluar juga dengan sendirinya.
"Membawa pistol?" bertanya sambil mengernyitkan dahinya.
"Iya, membawa pistol. Memangnya membawa apa? karung buat wadah hasil rampokan?"
Rayan tersenyum mendengarnya, kemudian mendekati sang istri yang nampak sedikit gugup saat Rayan menatapnya.
"Ini pistol buat kamu, untuk berjaga jaga jika ada musuh mendatangimu. Bukankah kamu lihai mengoprasikan sebuah hempasan peluru lewat bibir pistol? jaga diri kamu baik baik di rumah, dan jangan pernah untuk keluar dari rumah ini." Ucap Rayan, disaat itu juga kecurigaan Lunika semakin kuat. Namun mau bagaimana lagi, Lunika belum bisa untuk mendesaknya.
Mau tidak mau, Lunika berusaha untuk tetap tenang. Meski dalam pikirannya tersimpan sejuta rasa penasarannya terhadap sang suami.
"Aku berangkat, ingat! jangan keluar dari rumah ini." Ucap Rayan berpamitan.
"Iya," jawabnya singkat. Karena tidak ingin mengulur ngulur waktu, Rayan segera pergi dari rumah.
Sedangkan Lunika langsung menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Rasa kenyang yang dirasakannya kini telah membuatnya mengantuk.
"Niko, kesayangan Mama. Baru sebentar, Mama sudah kangen banget sama kamu Nak. Mama terasa terpenjara di rumah ini, Mama takut jika Mama akan di singkirkan dan dipisahkan denganmu." Gumamnya sambil menatap langit langit kamar.
Seketika, Lunika terperanjat dari posisinya. Kemudian ia teringat akan sesuatu yang sudah dipikirkan sedari tadi.
"Aku harus memeriksa isi dalam rumah ini, aku harus bisa memastikan siapa dia sebenarnya." Gumam Lunika sambil mencari ide.
__ADS_1
Sebelum memeriksa isi dalam rumah suaminya, Lunika mengambil sebuah pistol yang diletakkan oleh suaminya didalam lemari kecil untuk berjaga jaga.
"Pertama, aku harus memeriksa kamar. Iya, biasanya kamar dijadikan tempat sembunyian yang paling utama." Gumamnya, kemudian membuka lemari satu persatu dan tidak ada yang tertinggal jejak yang ia temukan.
Berkali kali membuka isi lemari, yang ia dapati hanya kesialan. Yakni tidak ia mendapatkan titik terangnya, yang ia dapatkan hanya rasa capek dan juga kesal.
"Sial! aku tidak mendapatkan apapun hasilnya, aku harus memeriksa apa lagi. Bahkan aku sudah membuka tempat tempat rahasia yang ada didalam lemari." Gumamnya yang terus berpikir.
Disaat itu juga, pandangannya tertuju pada sebuah laci yang membuatnya penasaran. Dengan cepat, Lunika segera memeriksa sebuah laci yang berukuran kecil.
"Ah! sial, tetap aja tidak ada bukti. Ah iya, aku baru ingat jika disebalah kamar ada ruangan kecil? baiklah aku akan memeriksanya." Pikir Lunika yang terus berusaha untuk menyelidik.
"Terkunci, lagi. Pasti didalamnya ada sebuah paket komplit tentang siapa dia sebenarnya. Jika tidak ada rahasia, mana mungkin terkunci." Ujar Lunika yang terus bermonolog.
Lunika terus berpikir untuk mencari cara agar pintunya terbuka tanpa harus meninggalkan bekas kerusakan.
Sampai didalam kamar, Lunika meletakkan kembali pistolnya di tempat semula. Kemudian, Lunika menjatuhkan badannya diatas tempat tidur dan memejamkan kedua matanya untuk beristirahat.
Sedangkan di tempat lain, Sessorang tengah sibuk bersama orang orang kepercayaannya. Dengan cepat kilat, ia segera menyelesaikan pekerjaannya tanpa memperdulikan orang orang yang ada di sekitarnya.
"Tuan, rencana apa lagi yang akan Tuan lakukan?" tanya seorang laki laki yang sudah setia menjadi kepercayaan Tuan nya dari awal bertemu dan saling mengenal.
"Lakukan sesuai perintahku dengan rencana yang sudah aku susun dengan rapi untuk kalian kerjakan." Perintah nya pada anak semua anak buahnya.
Berbeda di tempat yang lain, sosok yang selalu menyimpan dendam kesumat tengah tertawa puas saat rencana yang dirancangnya akan berhasil.
__ADS_1
"Aku tidak perlu turun tangan untuk menghabisinya, cukup senjataku yang akan melakukannya." Ucapnya dengan penuh rasa percaya diri, kemudian menenggak minumannya hingga tandas.
Waktu yang terlewati begitu cepat, tidak terasa langit sudah gelap. Hanya bintang bintang yang bertaburan indah di Langit.
Karena sudah tidak mempunyai pilihan, Lunika akhirnya menyibukkan dirinya di dapur untuk memasak dengan bahan yang ada.
Aroma sup yang begitu menyengat, membuat indra penciuman seseorang yang baru saja pulang tergoda dengan aroma masakan dari arah dapur. Entah ada rencana apa lagi, Lunika sengaja memasak sup kesukaan suaminya dulu. Entah untuk memancing reaksi, atau ... memancing emosi.
"Wah, jago masak juga kamu nya." Puji Rayan basa basi menyapa, Lunika sendiri hanya melirik.
"Jangan banyak memuji, aku tidak suka. Sekarang juga, cepat ganti pakaianmu. Bila perlu sekalian mandi, agar tubuhmu tidak terasa lengket dan gerah." Perintah Lunika dengan santai, Rayan sendiri merasa aneh mendapati istrinya berbanding terbalik sebelum ia pergi dari rumah.
"Kamu sedang tidak bermain drama, 'kan?" tanya Rayan mencoba menyelidik.
"Kalau iya, kenapa?" jawabnya dengan santai sambil mengaduk sup ayamnya.
"Hem, baik lah kalau mau bermain drama. Aku akan mengimbanginya, siapa tahu saja kamu sedang khilaf." Goda Rayan sambil mengedipkan matanya.
"Jangan kepedean, aku tidak akan pernah khilaf." Jawabnya dengan ketus, kemudian ia segera menyiapkan makan malamnya di ruang tengah. Meski cukup sempit ruangannya, tetapi masih mampu untuk menampung sepasang suami istri untuk menikmati makan malam berdua.
Rayan yang malas mencerna perubahan dari istrinya, ia langsung masuk ke kamar. Tanpa ada rasa curiga, Rayan tidak kepikiran akan sebuah jejak rekaman CCTV di dalam rumah.
Satu persatu, pakaian yang ia kenakan akhirnya lepas juga. Kemudian ia segera membersihkan diri sesuai perintah dari sang istri.
Sedangkan Lunika masih berkutat dengan aktivitasnya di dapur, sekian lamanya ia tidak pernah memasak dengan menu yang sederhana. Disaat itu juga, Lunika teringat masa kecilnya yang begitu berat jalan hidupnya yang harus di lewati. Cacian, hinaan demi hinaan sering ia terima. Ditambah lagi dengan statusnya yang tidak jelas karena anak jalanan, Lunika sering mendapatkan cibiran dari orang orang yang tidak menyukainya.
__ADS_1
"Kenapa aku tiba tiba merindukan Ibu, apa karena aku sedang dalam mode kesepian?jshst sekali aku ini. Mengingat Ibu ketika aku sedang mendapat masalah seperti ini, memalukan sekali jika aku menghubunginya. Aku benar benar merindukan makan berdua dengan menu yang sederhana, dan dibarengi dengan riuh tawa diantara kami. Aaah, semoga saja aku diizinkan untuk bermain di rumah Ibu." Gumam Lunika sambil mengelap meja.
Setelah selesai beres beres dapur, Lunika segera kembali ke kamar untuk membersihkan diri karena badan terasa lengket dan sangat risih.