
Setelah mengobrol dengan Enja, Daka melihat diatas meja yang masih ada satu porsi makanan yang belum disentuh.
"Oh iya, kamu sudah sarapan belum?" tanya Daka.
"Belum, tadi nasinya masih panas."
"Ibu Melin kemana?" tanya Daka yang sedari tadi ia tidak melihatnya.
"Ibu Melin masih keluar sebentar, ada apa?" jawabnya dan bertanya.
"Tidak ada apa apa, aku hanya tanya aja. Oh iya, aku suapin ya?"
"Aku bisa makan sendiri kok, kamu tidak perlu repot repot untuk menyuapiku." Kata Enja sambil dengan tatapannya yang selalu lurus kedepan.
Daka yang melihat kondisi perempuan yang ia sukai selama ini, hatinya pun terasa teriris perih ketika calon istrinya tak mampu untuk melihat dengan sempurna.
"Sudah lah, biar aku aja yang akan menyuapi kamu. Aku ingin mengganti kesalahan ku yang dulu, dan aku ingin memberi perhatian penuh untuk mu." Ucap Daka sambil meraih piring yang ada dimeja sebelah istrinya.
Dengan telaten, Daka menyuapi Enja hingga tidak terasa nasi satu piring telah habis dan tak tersisa. "Sudah, sekarang minumlah." Ucap Daka sambil menyodorkan air minum, Enja pun menerimanya dengan hati hati. Setelah itu, Daka membantunya untuk mengelap mulutnya dengan tissue.
"Terima kasih ya, kamu sudah begitu perhatian denganku. Maafkan aku yang sudah merepotkan kamu, kelak jika aku sudah sembuh, giliran aku yang akan memberi perhatian untuk mu."
"Kita akan sama sama melengkapi, dan kita akan jalani hidup kita bersama. Kamu dan aku, seperti itulah dari sekarang." Kata Daka menyakinkan calon istrinya.
"Kamu serius mau membawaku ke Luar Negri? apa tidak terlalu merepotkan mu? aku takut akan menghabiskan biaya sangat banyak. Nanti tabungan kamu habis, bagaimana? aku tahu jika membutuhkan biaya yang tidak sedikit." Tanya Enja yang sedikit merasa tidak enak hati.
"Untuk mu, tidak ada yang mahal. Semua gratis demi kesehatan kamu, aku sudah menyiapkan nya dari dulu. Jadi, kamu tidak perlu bertanya habis berapa dan bagaimana bayarnya. Semuanya aku bisa melakukannya karena adanya dukungan dari kedua orang tuaku dan keluargaku." Jawab Daka yang terus meyakinkan calon istrinya yang terlihat mencemaskan sesuatu.
"Benar, ya ... jika kamu tidak sedang membohongi aku. Kalau sampai aku menemukan kebohongan dan kamu melakukannya tidak sesuai dengan ucapanmu, aku akan membencimu selama lamanya dan aku akan mengembalikan mata kepada orang lain." Ucap Enja sedikit mengancam, sedangkan Daka tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
"Loh, ada Nak Daka rupanya. Maafkan Ibu ya, tadi Ibu sedang sarapan pagi di luar. Oh iya, Nak Daka sudah datang dari tadi kah? dan apakah sudah sarapan juga? jika belum, saya belikan di luar sana."
"Daka sudah sarapan di rumah, Bu." Jawab Daka disertai senyum ramah.
"Kirain Ibu belum sarapan, maka dari atu saya menanyakan sama Nak Daka." Kata Ibu Mala, Daka sendiri tersenyum mendengarnya.
Setelah cukup lama berapa di rumah sakit, tidak terasa waktu untuk pulang sudah tinggal beberapa menit lagi. Sedangkan Romi yang sudah berada dalam titik jenuh, akhirnya ia segera menyelesaikan pekerjaan nya agar bisa beritirahat dan makan siang.
'Gile itu orang, padahal udah jam makan siang ini loh. Tapi kenyataannya dia lebih mementingkan pekerjaannya.' Batin Kalla sambil memperhatikan lelaki yang sudah membuatnya kesal, Pikir Kalla. Sedangkan Romi sendiri tetap menyelesaikan pekerjaannya.
Karena memang sudah waktunya untuk beristirahat, Kalla akhirnya membereskan meja kerjanya. Kemudian ia menyibukkan diri denhN ponselnya, alih alih untuk membuang kebosanan dan juga kejenuhan.
Romi yang tidak sedikit selesai, sesekali ia memperhatikan perempuan yang menjadi sekretarisnya. Lalu, Romi kembali menatap layar pintarnya.
Dirasa sudah selesai, Romi membereskan meja kerjanya. Kemudian ia bangkit dari posisi duduknya dan menghampiri Kalla yang tengah sibuk dengan benda pipihnya.
"Aku mau pergi ke Kantin, kamu mau ikut atau tidak?" tanya Romi sambil berdiri dihadapan Kalla. Disaat itu juga, Kalla mendongakkan pandangannya.
Semua karyawan memperhatikan Kalla saat berjalan dengan Romi, semua berbisik membicarakannya.
"Duh, pasangan paling aneh yang aku lihat. Udah kek Tommy and Jerry aja mereka berdua, kasihan sekali, tampan tampan dianggurin." Kata salah satu karyawan.
"Hus! jangan bilang kek gitu kalian, sapa tahu aja mereka kakak beradik. Kalau yang kemarin itu mungkin pacarnya, soalnya berbeda tingkahnya si sekretarisnya." Satunya ikut menimpali.
"Bisa jadi mereka berdua itu Kakak beradik, iya 'kan?"
"Berarti kita dapet kesempatan nih, kita bisa dapetin si pak Bos." Timpal yang satunya lagi. Kalla yang dapat menangkap bisikan dari para karyawan, ia hanya meliriknya tajam. Sampai sampai diantara yang tengah berbisik segera menyingkir dan pergi begitu saja.
"Dimana Kantin nya? kamu kan sudah pernah istirahat di Kantor ini, pastinya kamu tahu tempatnya." Tanya Romi sambil berjalan, dengan terpaksa Kalla menunjuk kearah yang dimaksudkan.
__ADS_1
"Disana, kalau mau istirahat dengan karyawan lainnya ada di sana. Kamu tinggal pilih, mau yang privat atau yang ramai." Kata Kalla tanpa mengarahkan pandangan nya ke Romi.
"Oooh begitu ya, baik lah aku akan istirahat di Kantin privat aja." Sahut Romi dan berjalan menuju tempat yang di tunjukan oleh Kalla.
"Apa!! ruang privat? oh! tidak. Bagaimana ini? kenapa aku tadi menunjuk ke ruang privat itu? kalau macam macam denganku, bagaimana? semoga sana tidak." Gumam Kalla sambil berkacak pinggang, lagi lagi dirinya harus mengejar langkah Romi yang sudah tertinggal jauh. Bahkan Romi sudah berada didepan ruangan tersebut.
Dengan napasnya yang terengah engah, akhirnya Kalla telah sampai di ruangan tersebut. Dengan terpaksa karena lapar, akhirnya Kalla ikut masuk bersama Romi.
Sampainya didalam ruangan tersebut, Kalla duduk berhadapan dengan Romi. Niat hati ingin pindah, namun tidak ada bangku yang lainnya.
'Benar dugaanku, kenapa kursinya jadi dia kek gini? pasti ini kerjaannya Papa kalau bukan Paman Zayen. Menyebalkan banget sih, Paman Zayen sama Papa udah kek gak punya kerjaa lain aja deh. Benar kataku, aku harus minta untuk tukeran aja sama Vellyn. Agar si Vellyn yang dekat sama ini laki laki yang menyebalkan.' Batin Kalla, kemudian ia mengambil sendok untuk makan.
"Eh kamu kok mau sih jadi penggantinya kak Daka, kamu kan orang kepercayaan nya Paman Zayen." Akhirnya Kalla membuka suara karena sudah tidak bisa untuk menahannya.
Sambil mengunyah makanannya, Romi mencari jawaban untuk menjawab pertanyaan dari Kalla.
"Karena ini sudah menjadi tugas saya yang selalu dijadikan pengganti untuk yang tengah pergi ke Luar Negri, atau ... yang tengah sibuk dengan pekerjaan yang lainnya." Jawab Romi menjelaskan.
"Hem, memangnya orang kepercayaannya cuman kamu aja?" lagi lagi Kalla terus memberi pertanyaan untuk Romi.
"Tidak juga, ada Arnal dan yang lainnya. Mungkin pekerjaan mereka juga sama padatnya, jadi tidak bisa untuk ditinggalkan. Sedangkan aku sendiri masih nganggur karena baru pulang dari Luar Negri."
"Hem, begitu ya."
"Ya, mungkin aja begitu."
"Nyebelin banget sih, jawaban kamu itu."
"Sudah lah jangan banyak tanya, habiskan dulu tuh makanan mu, Nona." Kata Romi sambil mengunyah makanannya, Kalla sendiri langsung cepat cepat untuk menghabiskan makanannya.
__ADS_1
Tidak terasa, setelah cukup lama berbicara sambil makan, akhirnya selesai juga menikmati makan siangnya.