Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Merasa takut


__ADS_3

Selesai membereskan barang bawaannya, Bunda Afna kembali meminta tolong dengan salah satu pelayan di rumahnya.


"Sudah lah Vel, biarkan asisten rumah saja yang akan membawa kopernya sampai dibagasi mobil. Sekarang lebih baik kita turun, kasihan Vey dan Dey yang sudah menunggu kamu." Ajak Bunda Afna sambil menepuk punggung milik keponakannya itu.


"Iya Tante, tapi ... kalau Papa tau jika Vellyn tinggal bersama kak Dey, bagaimana Tante? Vellyn takut jika Papa akan murka sama Vellyn." Ucap Vellyn kembali tertunduk sedih.


"Kenapa sekarang kamu menjadi lemah seperti ini, Vell? mana Vellyn yang Tante kenal. Vellyn yang ceria, Vellyn yang suka heboh, Vellyn yang selalu mengajak Tante bersenda gurau, hem?"


"Vellyn tidak tahu, Tante. Hari hari Vellyn masih saja sepi, hambar." Kata Vellyn dengan lesu.


"Sini, Tante mau peluk kamu lagi. Tari napasmu, lalu pejamkan kedua mata kamu, kemudian kamu buang napasmu dengan pelan dan rasakan dengan rileks." Ucap Bunda Afna memberi saran, Vellyn pun hanya menggelengkan kepalanya. Sedangkan Bunda Afna segera melepaskan pelukannya, kemudian menatap lekat pada keponakannya yang wajahnya terlihat begitu lesu dan tidak bersemangat.


"Semua orang tidak ada yang menginginkan musibah itu terjadi, Vellyn. Tapi yang namanya takdir, kita tidak bisa untuk mengelak, apalagi untuk menolak, kita tidak akan pernah bisa. Lagian juga, Vey dan Dey tidak menyalahkan kamu, 'kan?"


"Tidak pernah, Tante. Tapi Papa yang masih bersikap dingin dengan Vellyn." Kata Vellyn berterus terang.


"Terus ... kenapa kamu takut?"


"Entah lah Tante, Vellyn sendiri merasa asing saja jika berada di dekat Papa. Apa karena Vellyn bukan anak Papa dan Mama ya, Tante? buktinya kadang baik kadang dingin dan kaku."


"Hem, kamu ini. Bukankan Papa kamu itu sebelas duabelas dengan Paman Zayen? hem."


"Tetap aja beda, Vellyn dan merasakannya. Vellyn seperti diasingkan, itu aja sih Tante." Kata Vellyn dengan wajah yang ditekuk.

__ADS_1


"Kata siapa kamu bukan anaknya Papa Viko? kamu jangan ngada ngada Vellyn. 100% kamu itu anak dari Papa Viko dan Bunda Adellyn, nama kamu aja Vellyn. V, yang berarti Viko. Sedangkan ellyn, yang berarti Adellyn." Ucap Bunda Afna untuk meyakinkan keponakannya.


"Entah lah Tante, Vellyn hanya bisa berharap aja. Selebihnya Vellyn pasrah aja dengan yang namanya nasib baik untuk Vellyn." Jawab Vellyn yang susah pasrah.


"Jangan terlalu dibuat pikiran, lebih baik sekarang ayo kita turun." Ajak Bunda Afna yang tidak enak hati dengan Dey dan Vey yang sudah cukup lama menunggu.


Vellyn sendiri hanya mengangguk, kemudia ia akhirnya keluar dari kamarnya untuk menemui kedua kakak nya, yakni Dey dan Vey.


Sampai di ruang keluarga, Vey dan suami langsung bangkit dari posisi duduknya untuk berdiri.


"Yakin nih jika kalian berdua mau langsung mengajak Vellyn pulang? tidak nanti malam aja pulangnya? nanggung loh udah sore." Kata Bunda Afna mencoba untuk menebaknya.


"Sebelumnya terima kasih, Tante. Karena kami berdua mau mengajak Vellyn untuk makan malam di Restoran milik Paman Kazza, sekalian juga mau mengajak Vellyn untuk jalan jalan, Tante." Jawab Dey sebaik mungkin.


"Oooh ya sudah kalau begitu, Tante titip Vellyn sama kalian berdua, ya. Ada satu lagi pesan dari Tante, jika kalian ada masalah yang sulit untuk dipecahkan atau diselesaikan, Tante harap jangan dipendam sendiri, ceritakan saja kepada Tante, atau Paman Zayen ataupun yang lainnya. Kalian bertiga mengerti apa yang Tante maksudkan, 'kan?"


"Loh loh loh, ada apa ini? kok kelihatan serius banget." Tanya Zicko yang tiba tiba sudah pulang ke rumah.


"Hai Niko ganteng ... yah ... tidur deh, gak asuk. ah." Kata Vellyn yang tiba tiba mendapati keponakannya sudah tertidur pulang saat berada digendongan Zicko.


"Aku dan Vey mengajak Vellyn pulang ke rumah untuk tinggal bersama lagi, dan Vellyn pun tidak mengiyakan. Ini semua karena istriku yang memintanya, katanya di rumah kesepian saat aku pergi ke Kantor." Sahut Dey untuk memperjelas apa maksudnya datang ke rumah Paman nya.


"Ooh, kirain ada apa. Kalau Vellyn nya mau sih, aku ok ok aja. Lagian istrimu juga sendirian kalau di rumah, siapa tahu aja Vellyn bisa jadi teman dekat istri kamu. Kalau istriku sih karena ada Mama, jadi tidak merasa sendirian kalau berada di rumah. Memang sih setiap orang itu beda beda, ada yang suka sendirian, ada juga yang lebih suka ada temannya." Ucap Zicko ikut menimpali.

__ADS_1


"Kak Lunika, apa kabarnya?" sapa Vey saat suaminya telah berhenti berbicara dengan sepupunya.


"Kabar Kakak seperti yang kamu lihat, Kak Lunika baik baik aja. Kamu sendiri apa kabarnya? sudah lama tidak pernah bertemu. Oh iya, apa tidak terlalu buru biru nih kalian langsung pulang begitu saja. Kenapa tidak nanti malam aja, kita makan malam bersama Sudah lama loh kita tidak pernah makan malam bersama." Jawab Lunika dan balik menyapa dan mengajaknya untuk makan malam bersama.


"Kabar Vey juga baik baik saja, Kak. Untuk makan malamnya Vey minta maaf, Kak. Bagaimana kalau lain waktu aja ya, Kak? karena malam ini kita mau mengajak Vellyn untuk makan malam di Restoran Paman Kazza." Jawab Vey dan sebaik mungkin untuk menolak ajakan dari Lunika.


"Tidak apa apa, lain waktu juga masih ada."


"Kalau begitu kita pamit pulang ya Tante, Kak Zicko dan Kak Lunika. Sampai bertemu kembali, permisi." Ucap Dey berpamitan, begitu juga dengan Vey maupun Vellyn yang ikut berpamitan dan mencium tangan milik Bunda Afna secara bergantian.


Usai berpamitan, Vey mau suami dan Vellyn segera meninggalkan kediaman keluarga Tuan Zayen.


"Sayang, aku duduk dibelakang bersama Vellyn tidak apa apa, 'kan?"


"Tidak apa apa, sayang. Kamu duduk aja dibelakang bersama Vellyn." Sahut Dey sebelum membuka pintu mobilnya.


Sedangkan Vellyn sendiri entah kenapa ia terus kepikiran dan ingatannya kembali diwaktu satu tahun yang lalu. Vellyn masih berdiam diri membisu didekat pintu mobil.


Dey yang melihat sang adik yang tidak seperti biasanya pun merasa heran. "Vellyn, kamu kenapa?" tanya Dey mengagetkan.


"Eh, Kak Dey. Vellyn sedang mengingat sesuatu Kak Dey, takut masih ada yang tertinggal di rumah Paman Zayen." Jawab Vellyn beralasan.


"Hem, coba diingat lagi. Siapa tahu aja ada yang tertinggal di rumah Paman, rumah kita jauh loh sama rumah Paman." Kata Dey mengingatkannya.

__ADS_1


"Em ... sepertinya memang sudah tidak ada deh Kak." Jawab Vellyn diakhiri dengan senyum pasta gigi.


"Kalau sudah tidak ada yang tertinggal, ayo kita masuk kedalam mobil." Ucap Vey ikut menimpali.


__ADS_2