Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Panas yang gerah


__ADS_3

Lunika yang masih dikuasai rasa penasarannya, segera ia memeriksa sebuah paperbag dari suaminya itu. Detak jantungnya masih berdegup kencang, ia takut di dalamnya ada sesuatu yang membuatnya kaget.


Pelan, pelan, Lunika membukanya sebuah lipatan kain begitu ringan. Namun tidak terlihat modelnya yang seperti apa.


"Apa ini? warnanya dan jenis kainnya kenapa begitu menggelikan sekali, semoga saja bukan." Ucapnya lirih yang mulai menangkap apa yang dimaksudkan suaminya.


Dengan nyata dan terlihat begitu jelas sesuatu yang sudah berada ditangannya. Seketika itu juga, Lunika mendadak tercengang dan menelan ludahnya kasar.


"Yang benar saja, ini. Maksudnya ... tidak!!!!!!!!" ucapnya lirih dan tiba tiba berteriak sangat kencang.


"Jadi, habis ini ..." kalimatnya pun menggantung. Lunika menarik nafasnya panjang, ia sulit untuk berpikir jernih. Ota*knya pun akhirnya ikut traveling kemana mana, seketika ia bergidik sendiri membayangkannya.


Saat dirinya terhanyut oleh lamunannya, tiba tiba ponselnya kembali bergetar. Segera, Lunika meraihnya dan membuka pesan masuk.


"Sebentar lagi aku sampai rumah, jangan membuatku kecewa."


Begitulah pesan yang Lunika terima dari suaminya, ia segera meletakkan kembali ponselnya diatas meja. Lalu ia memulai berpikir jernih, apa yang sudah menjadi milik suaminya adalah sepenuhnya hak nya.


Lunika tidak memeliki sebuah alasan lagi untuk menolaknya, apapun itu. Dengan rasa canggung dan gelisah, Lunika melepaskan handuknya. Kemudian, ia merubah penampilannya seperti yang diminta oleh suaminya.


'Cih, kenapa aku seperti perempuan mura*han begini? memalukan.' Batin Lunika sambil menatap dirinya didepan cermin.


Lunika masih menatapnya begitu fokus, sampai sampai ia lupa ada seseorang yang tengah memperhatikannya.


Lunika masih fokus dengan bayangannya sendiri, Lunika sendiri bergidik ngeri membayangkan sesuatu yang akan terjadi dimalam hari. Dengan pelan, Lunika menarik nafasnya dan membuangnya dengan pelan juga.


Seketika, Lunika tercengang saat merasakan ada sentuhan pada kedua lengannya. Sesuatu yang ia rasa telah menjalar pada jenjang lehernya, Lunika semakin geli dibuatnya.

__ADS_1


Detak jantungnya mulai berdegup tidak karuan, pikirannya tertuju pada satu arah. Lunika yang mengerti siapa yang memperlakukannya, segera ia menoleh kebelakang hingga keduanya saling berhadapan.


"Kamu sudah pulang? kenapa mengagetkan aku." Ucap Lunika menatap suaminya yang terlihat sudah tidak sabar melihat istrinya yang berpenampilan begitu menggoda.


Zicko tidak merespon pertanyaan dari istrinya, ia sibuk melepaskan baju kemejanya hingga tersisa dada bidang yang polos dan terlihat menggoda.


Zicko semakin mendekatkan dirinya pada sang istri semakin dekat. Lalu, ia membisikkan sesuatu pada istrinya.


"Aku mau sekarang, apakah kamu akan membrikan semuanya untukku?" bisik Zicko dengan lembut.


Lunika yang mendapat pertanyaan dari suaminya, ia tidak bisa berbuat apa apa selain pasrah dan menuruti kemauan suaminya. Dengan yakin Lunika mengangguk dan melingkarkan kedua tangannya pada tengkuk leher suaminya. Senyum kemenangan terlihat jelas pada sudut bib*ir keduanya. Tidak hanya itu, celana panjang milik Zicko pun ikut berserakan entah kemana.


GLEK!!!


Lunika menelan salivanya kasar saat melihat sosok suaminya itu yang sudah berada dihadapannya dengan postur tubuh yang terlihat sangat sempurna.


Dengan pelan, Zicko mengarahkan istrinya untuk berbaring diatas tempat tidur. Lunika hanya menuruti apa yang dihendaki suaminya sendiri.


Dengan rakus, Zicko melepaskan semua yang melekat pada istrinya maupun dirinya. Keduanya kembali terhanyut dalam balutan selimut tebalnya dengan ruangan yang semakin dingin karena AC, namun semakin panas dengan pergulatan diantara keduanya hingga menuju puncaknya. Keduanya sama sama tidak lagi berdaya karena ulahnya masing masing. Tubuh yang berawal terasa bugar, tiba tiba terasa lemas.


Zicko membenarkan posisinya, keduanya masih terbalut dalam satu selimut. Setelah itu, Zicko memeluk erat tubuh istrinya. Kemudian, Zicko meng*ecup kening istrinya dan pindah pada pipi kirinya.


"Terima kasih ya, sayang. Kamu sudah memberikan mahkota berhargamu untukku, aku sangat bahagia mendapatkannya. Aku janji, aku akan selalu membuatmu bahagia. Aku akan selalu berada disisimu, aku akan menjadikan seorang istri yang berharga bersanding denganku. Apapun itu, aku akan bersamamu sampai kapanpun. Ingatkan aku, jika aku berbuat salah padamu. Sayang, aku sangat mencintaimu." Ucap Zicko dengan kata kata mesranya pada istri yang dicintainya.


Lunika yang mendengarnya pun, ia mendongakkan pandangannya pada suaminya itu. Lalu, ia mengangguk dan tersenyum. Lunika ikut memeluk suaminya dengan erat, dan menenggelamkan pandangannya didada bidang suaminya.


Setelah melakukan ritual kewajibannya, Zicko dan Lunika segera beranjak menuju kamar mandi.

__ADS_1


Lunika mulai merasakan nyeri dan sedikit ada rasa yang berbeda pada dirinya, Zicko yang memperhatikan istrinya sedikit cemas. Segera, ia menggendong istrinya untuk membersihkan diri.


Setelah cukup lama didalam kamar mandi, Zicko dan Lunika segera keluar. Kemudian, keduanya segera mengenakan pakaiannya. Lunika yang melihat ada bercak darah pada seprei, segera ia menggantikannya.


"Biar mbak Yuyun saja yang mengganti sepreinya, sayang. Sekarang sudah malam, kita makan dulu aja." Ucap sang suami yang menahan istrinya ketika mau mengganti sepreinya.


"Hem, apa kata mbak Yuyun jika mengetahui perbuatan kita ini? sungguh tidak baik untuk dilihatnya. Biar aku bersihkan dulu nadanya, kemudian kita meminta mbak Yuyun untuk mengganti sepreinya." Ujar Lunika yang karasa malu.


"Biarin aja, kamu gulung aja itu sepreinya. Nanti kalau bersih, semakin curiga lagi. Kamu mau? jika kamu digosipin tidak pera*wan lagi? hem." Jawab Zicko yang pikirannya sudah menjalar bak ibu ibu penggosip.


"Dih! udah kek ibu ibu aja kamu, ini. Sudah bisa beramsumsi yang tidak tidak, hem. Tidak baik ah, berpikiran buruk seperti itu." Ujar Lunika bicara soal suaminya.


"Hem, terserah kamu saja. Ayo, kita turun untuk makan malam." Ajak Zicko yang sudah tidak lagi sabar dan memilih untuk menggendong istrinya sampai di ruang makan.


Mbak Yuyun yang sudah menjadi kepercayaan keluarga kakek Alfan, semua sudah menjadi tanggung jawab mbak Yuyun selaku asisten rumah yang paling dipercaya.


"Mbak Yuyun, tolong bereskan kamar kami sekarang juga. Jangan lupa, sepreinya diganti." Perintah Zicko dengan santai, berbeda jauh dengan sang istri yang tiba tiba terasa malu saat suaminya meminta untuk mengganti sepreinya.


"Baik Tuan, saya akan segera membereskannya. Kalau begitu, saya permisi." Jawab mbak Yuyun dan segera melakukan pekerjaannya sesuai perintah tuan mudanya.


"Sayang, ayo makan. Kenapa muka kamu mendadak seperti kepiting rebus?"


"Aku malu, tau. Bagaimana kalau mbak Yuyun bikin gosip dengan pelayan lainnya? muka aku ini, mau ditaruh dimana?"


"Kamu ini, tidak tahu apa pura pura amnesia sih, sayang? asal kamu tahu, tidak akan ada yang bisa melakukannya. Walaupun itu hanya membicarakan hal sepele sekalipun, tidak akan ada yang berani. Apa lagi mbak Yuyun, asisten rumah yang sangat menjaga privasi keluarga. Jadi, kamu tidak perlu takut." Jawab Zicko memperjelas penjelasannya, Lunika pun mengangguk mengerti.


Sedangkan mbak Yuyun yang sudah berada didalam kamar, senyum mengembang terlihat begitu jelas pada sudut bibirnya.

__ADS_1


'Akhirnya, akan ada kabar baru untuk Tuan Besar dan Nyonya Besar. Rupanya, cinta pada keduanya benar benar telah tercipta tanpa harus menunggu lama. Sekarang, sudah tidak ada lagi alasan untuk berpisah. Semoga, nona muda segera hamil dan mengandung keturunan keluarga Tuan Besar dan Nyonya Besar. Yakni, keluarga Danuarta dengan keluarga Wilyam. Meski tidak ada hubungan darah sekalipun, keluarga Wilyam tetap menganggapnya sama dengan keturunannya sendiri.' Batinnya yang sudah mengetahui akan silsilah keluarga majikannya sendiri.


__ADS_2