Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Menghadiri acara pernikahan


__ADS_3

Pagi yang cerah, namun tidak secerah harapan Lunika seperti yang sudah ia bayangkan sejauh sebelum hinaan demi hinaan yang ia terima.


'Hari ini, Hana akan menikah. Sedangkan aku masih dengan kesendirianmh, dan aku pun masih sibuk untuk membayar hutang pengobatan Ibuku. Hidupku, sungguh benar benar menyedihkan. Semua orang pasti akan mentertawakan aku dengan penampilanku yang berbeda jauh dengan teman teman lainnya. Aku absen saja apa, ya? atau ... datangnya malam saja.' Batin Lunika yang dilema dengan dirinya sendiri.


"Lun, kenapa kamu melamun? buruan mandi. Nanti kamu terlambat, dan tidak bisa mendengar kalimat sakralnya." Ucap sang ibu mengagetkannya.


"Eh ibu, iya. Lunika akan segera mandi, ibu mau keluar?"


"Iya, ibu mau duduk bersantai didepan rumah. Kamu cepetan mandi, ibu bisa melakukan sendiri. Luka pada ibu sudah lumayan mendingan, asal tidak untuk melakukan sesuatu yang berat." Jawab ibunya sambil berusaha untuk bangkit dari posisinya tanpa bantuan Lunika, sedangkan Lunika tidak lepas mengawasi ibunya karena takut terjadi apa apa pada ibunya sendiri.


Setelah sang ibu tengah duduk santai, Lunika segera mandi untuk membersihkan diri. Sambil menuju kamar mandi, Lunika terbayang bayang bila dirinya akan mendapatkan sebuah cibiran yang pedas dari teman sekolahnya. Namun, sebisa mungkin untuk menepis pikiran buruknya itu. Saat hendak mau membuka pintu kamar mandi, seketika Lunika berhenti dan melamun.


'Kenapa tiba tiba aku terasa malas untuk menghadiri pernikahannya Hana, ya? ah! terserah orang lain mau berkata apa tentangku. Setidaknya aku menghadiri pernikahannya Hana, setelah itu aku akan langsung pulang.' Batin Lunika dan menepis pikiran buruknya dan segera mandi.


Setelah dirasa sudah selesai, Lunika segera bergegas untuk masuk ke kamar ibunya. Kemudian, ia memilih baju yang kiranya pantas dan cocok untuk ia pakai.


"Untung saja, aku telah dibelikan baju saat mau menikah. Setidaknya ini baju tidak begitu buruk untuk menghadiri acara pernikahan Hana." Ucap Lunika lirih, kemudian segera ia bersiap siap untuk berangkat ke acara pernikahan sahabat terdekatnya itu.


Karena tidak ada lagi yang tertinggal, Lunika segera keluar dari kamar dan segera berpamitan pada ibunya.


Sesampainya di ruang tamu, dilihatnya sang suami tengah mengobrol bersama ibunya. Kemudian, ia mendekatinya. Setelah berada di dekat sang ibu, Zicko pun menoleh ke arah sang istri.


Dilihatnya penampilan Lunika yang terlihat sangat sederhana dan biasa biasa saja, Zicko sendiri langsung memutar otaknya untuk merubah penampilan istrinya sedemikian rupa. Agar tidak ada satu orang pun yang berani memandangnya rendah dan juga hina.


"Bu, Lunika mau pamit untuk berangkat ke acara pernikahan Hana. Lunika janji untuk tidak berlama lama, secepatnya Lunika akan segera pulang. Nanti Lunika mampir tempat ibu Arum untuk meminta menemani ibu selama Lunika belum pulang." Ucap Lunika berpamitan.

__ADS_1


"Tidak perlu, Lun. Kalau hanya menunggumu pulang, ibu bisa dirumah sendirian. Sudah! cepetan berangkat, mau dimulai ini acaranya. Buruan kalian berdua berangkat, bukankah kalian sama sama may menghadiri acara pernikahan?" jawab sang ibu.


"Bagaimana jika Lunika saja yang berangkat duluan, Bu? biar Zicko yang menemani ibu di rumah. Lagian juga, acara pertemuan bersama rekan kerja Zicko masih lama. Jadi, dari pada Zicko menunggu lama. Sembari menunggu Lunika pulang, Zicko menemani ibu terlebih dahulu." Ucap Zicko pada ibu mertuanya.


"Ya sudah kalau begitu, Ibu tidak akan memaksanya." Jawab sang ibu, Zicko pun mengangguk dan tersenyum. Sedangkan Lunika segera mencium punggung milik ibunya dan pergi meninggalkan rumah.


"Pak Yitno, antarkan Lunika sampai didepan gedung pernikahan sahabatnya." Perintah Zicko pada supirnya.


"Baik Tuan, saya akan mengantarkan Nona sampai di lokasi." Jawab pak Yitno mengangguk, kemudian segera menyusul istri majikannya.


Lunika yang sudah berada didepan rumah, segera ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi tukang ojek yang tidak jauh dari rumahnya.


"Maaf Nona, tuan muda meminta saya untuk mengantarkan Nona sampai di lokasi." Ucap pak Yitno.


"Maaf Nona, ini sudah menjadi perintah tuan muda. Jika saya gagal mengantarkan Nona, maka saya bisa dipecat sekarang juga." Ucap pak Yitno dengan serius, Lunika hanya membuang nafasnya kasar ketika dirinya serasa seperti remot kontrol kedua setelah pak Yitno, pikirnya.


"Baik lah, terserah bapak saja." Jawab Lunika dengan pasrah, mau tidak mau Lunika terpaksa naik mobil milik suaminya. Meski dirinya berusaha untuk menolaknya, tetap saja tidak akan bisa berbuat apa apa selain pasrah.


Selama perjalanan, Lunika hanya berdiam diri sambil menatap luar jendela. Karena merasa dirinya belum juga sampai, Lunika memberanikan diri untuk bertanya.


"Pak, kok belum sampai? masih jauh kah?" tanya Lunika yang sudah tidak lagi sabar.


"Sebentar lagi sampai kok, Non. Bersabarlah, tidak lama lagi kita akan sampai." Jawab pak Yitno dengan fokus pada setir mobilnya, tidak lama kemudian telah sampai ditempat yang dimintai oleh tuan mudanya.


"Loh, kok kita berhenti di salon sih, Pak?" tanya Lunika penasaran.

__ADS_1


"Maaf Nona, Tuan muda telah meminta saya untuk mengantarkan Nona ke salon sebelum menghadiri pesta pernikahan. Dikarenakan tuan muda ingin melihat istrinya terlihat istimewa, Nona." Jawab pak Yitno menjelaskan.


"Tapi, pak ... penampilan saya ini tidak buruk buruk amat, kok."


"Mari Nona, silahkan turun." Ucap pak Yitno yang tidak menanggapi ucapan dari istri majikannya, Lunika sendiri hanya pasrah dengan apa yang diminta oleh suaminya sendiri.


Cukup lama didalam salon, penampilan Lunika benar benar dirubahnya bak Cinderella. Semua yang berada di salon memandangnya takjub akan kecantikan Lunika yang tidak pernah disangkanya. Begitu juga dengan Lunika sendiri, dirinya pun tidak percaya dengan sosoknya yang benar benar berubah menjadi cantik dan terlihat anggun.


"Sempurna!" ucapnya dengan puas akan hasilnya.


"Mbak nya jangan berlebihan, saya masih banyak kekurangan." Jawab Lunika malu.


"Tapi menurut saya, Nona sangat lah cantik dan juga terlihat anggun." Ucapnya yang terus memujinya.


"Oh iya mbak, apakah saya sudah diperbolehkan untuk keluar?" tanya Lunika yang semakin risih mendapatkan pujian.


"Maaf Nona, saya sampai lupa. Tadi supir Nona telah meminta saya untuk segera merubah penampilan Nona secepatnya. Mari Nona, saya antarkan sampai depan." Jawabnya merasa yang bersalah karena telah membuat lama menunggu.


Setelah meninggalkan salon, pak Yitno senyum puas melihat penampilan Nona mudanya tanpa sepengetahuan Lunika.


'Aku yakin jika tuan muda bakal jatuh cinta setelah melihat Nona muda berubah menjadi sangat cantik dan mempesona. Dan para tamu undangan juga akan terkagum kagum melihatnya, semua akan terbungkam setelah melihat penampilan Nona muda.' Batin pak Yitno.


Tidak memakan waktu lama, Lunika telah sampai didepan gedung yang cukup besar.


"Mewah sekali acara pernikahan Hana, pasti suaminya golongan orang kaya. Bahagianya Hana, aku kapan sebahagia sepertinya? kapan aku bisa bahagia seperti Hana." Ucapnya lirih tanpa memperhatikan sebuah papan nama besar yang bertuliskan nama sepasang pengantin baru.

__ADS_1


__ADS_2