
Usai mengatur pernapasannya, Zicko memilih untuk mengajak istri pulang. Zicko tidak ingin membicarakan hal mengenai masa lalunya.
"Sayang, bagaimana kalau kita pulang saja? aku ada janji soalnya. Aku ada janji dengan temanku dekatku, namanya Joni. Aku sudah mintanya untuk menjadi sekretaris baruku, karena Arnal sudah mengundurkan diri dari Kantor."
"Arnal mengundurkan diri? apakah ada masalah dengannya? atau ... karena aku?" tanya Lunika memberondong pertanyaan.
"Tidak ada hubungannya denganmu, itu privasinya. Kamu masih memikirkannya? atau ..." seketika Lunika membungkam mulut suaminya.
"Iya, iya, ya ... aku percaya kok sama kamu. Aku hanya bercanda, tidak lebih. Aku tidak bisa merubahnya, karena pengunduran diri adalah keinginannya. Jadi, biarkan dia mencari kenyamanannya sendiri." Ucap Zicko, kemudian menyentil hidung mancung milik istrinya itu.
"Ih! teganya, sayang." Sikap manja mulai terlihat pada sosok Lunika, Zicko pun tidak ambil diam. Zicko terus mengambil kesempatan untuk mengerjai istrinya.
Sepasang mata dari kejauhan, masih menatapnya dengan seksama. Lunika dan Zicko sama sekali tidak merasa jika dirinya tengah diperhatikannya.
Detak jantung yang berdegup kencang, membuat seseorang merasa kesal dan cemburu melihatnya.
"Lihat saja! aku akan segera memisahkan kalian berdua, aku tidak akan membiarkan ada benih di rahimnya. Apapun itu, aku akan membuat mereka berdua akan saling membenci." Ucapnya menggerutu dengan tatapan tajamnya.
Sesampainya di rumah, Zicko dan Lunika segera mencuci tangan dan kakinya. Kemudian keduanya segera duduk di ruang makan untuk menikmati sarapan paginya.
"Sayang, apakah aku boleh meminta sesuatu?" tanya Lunika sambil mengambilkan sarapan pagi untuk suaminya.
"Katakan saja, apa yang kamu inginkan. Asal jangan yang aneh aneh saja, aku masih banyak pekerjaan. Kamu tahu? sejak Papa dan Mama pergi ke Amerika, tugasku semakin menumpuk." Jawab Zicko sambil meraih air minumnya.
"Aku ingin menemu ibu kerumah, tapi ... jika kamu melarangmnya aku tidak akan memaksamu."
__ADS_1
"Kata siapa aku melarangmu, kebetulan juga aku mau menjemput Joni. Jadi, sekalian aja kita ke rumah ibu. Lagian juga, rumahnya Joni tidak jauh dari rumah ibu kamu.
"Tidak jauh? memangnya alamatnya dimana? kenapa kamu tidak memberitahuku dari awal? jika kamu ada teman di sekitaran rumahku."
"Hem, aku tidak suka bergosip. Jadi, bagiku memang tidak penting membicarakan orang lain."
"Iya iya ya ... aku percaya, kamu akan menganggapnya penting jika orang tersebut ada hubungannya dengan pekerjaan kamu."
"Sudah, ayo kita sarapan. Nanti keburu hambat rasanya, tidak enak." Ajak Zicko yang tidak ingin membicarakan hal yang tidak bermanfaat, pikirnya.
Setelah sarapan pagi, Zicko dan Lunika segera bersiap siap untuk berangkat ke tempat yang dijadikan tujuan utamanya.
Dengan pelan, keduanya menuruni anak tangga. Dilihatnya mbak Yuyun tengah menunggu majikannya dibawah anak tangga.
"Ada apa mbak Yuyun?" tanya Zicko yang sudah berada dianak tangga yang paling akhir.
"Iya mbak, aku mengerti maksud dari mbak Yuyun. Kalau begitu, aku dan istriku mau pergi ke rumah orang tua istriku. Jadi, jika ibu menanyakan keberadaanku, mbak Yuyun jangan khawatir. Katakan saja yang sebenarnya, atau boleh juga suruh menunggu jam pulang. Kalau tidak malam, ya sorean." Ucap Zicko memperjelas maksudnya.
"Baik Tuan, saya permisi." Jawabnya dan segera kembali melanjutkan pekerjaannya.
Didalam perjalanan, keduanya sambil berbagi cerita satu sama lainnya. Sedangkan pak Yitno hanya menjadi pendengar setianya, dan sekaligus menjadi CCTV pada majikan utamanya. Siapa lagi kalau bukan kedua orang tua Zicko, serta kakek Alfan yang sudah memberikan amanat untuk supir pilihannya itu.
Tidak memakan waktu yang cukup lama, Zicko dan istrinya telah sampai di rumah ibu Ruminah.
Dengan ramah, Lunika dan suami bertamu dengan sopan.
__ADS_1
"Lunika, nak Zicko. Apa kabarnya kalian berdua, Nak?" sapa ibu Ruminah dengan senyum bahagianya.
"Ibu ..." panggil Zicko dan Lunika bersamaan. Kemudian, keduanya mencium tangan milik ibu Ruminah secara bergantian.
"Kabar kita berdua baik baik aja kok, Bu. Ibu sendiri, bagaimana kabarnya? terus ... ibu Arum dimana?" jawab Lunika dan balik menyapa pada ibunya.
"Kabar ibu seperti yang kamu lihat, ibu juga baik baik saja. Oh iya, ayo silahkan duduk. Ibu Arum sedang pergi ke pasar, sebentar lagi juga pulang." Jawab ibu Ruminah.
"Maaf Bu, saya mau menjemput teman saya terlebih dahulu. Rumahnya tidak jauh dari sini, hanya sebentar. Sayang, kamu jangan pergi kemana mana. Jika ada seseorang yang tidak kamu kenal, jangan kamu layani. Ingat, musuh bisa datang kapanpun saja. Dimanapun berada, cukup berhati hati untuk menjaga diri. Ya sudah kalau begitu, aku pamit untuk ke rumah Joni." Ucap Zicko pada istrinya dan mengingatkannya.
"Iya, kamu jangan khawatir. Aku akan mengingat pesan darimu." Jawab Lunika mengangguk dan meyakinkan suaminya.
Habis berpamitan, Zicko segera pergi ke rumah Joni. Namun, tiba tiba ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
" Maaf Tuan, kenapa tiba tiba Tuan Muda mendadak terlihat gelisah?" tanya pak Yitno yang dapat menangkap ekspresi wajah tuan mudanya lewat cermin depan.
"Pak, sepertinya kita putar balik aja deh. Aku ngerasa ada seseorang yang tengah mengikuti kita, dan pastinya akan mencelakai istriku. Perasaanku benar benar sangat mengkhawatirkannya." Jawab Zicko yang sudah tidak bisa tenang untuk berpikir jernih.
"Baik Tuan, saya akan putar balik menuju rumah orang tua Nona muda." Ucap pak Yitno, tidak memakan waktu lama pun telah sampai didepan rumah. Dilihatnya rumah yang cukup sepi dan tidak ada tanda tanda mencurigakan, tepatnya tidak ada sosok orang yang dapat ditangkap melalui indra penglihatannya.
"Sepertinya aman kok, Tuan. Tidak terlihat ada seseorang yang datang, ataupun yang tengah jalan dijalanan ini." Ucap Pak Yitno, namun tiba tiba sepasang mata miliknya tengah menangkap bayangan yang menurutnya sangat mencurigakan.
"Maaf Tuan, aku menangkap bayangan seseorang yang tidah jauh dari sini. Semoga saja bukan orang kita maksudkan, tepatnya orang yang mencurigakan." Ucap pak Yitno lagi.
"Begini saja, pak Yitno sekarang lebih baik jemput Joni. Zicko memilih untuk berada dirumah saja, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan telah terjadi." Ujar Zicko memberi solusinya.
__ADS_1
"Baik Tuan, itu akan jauh lebih baik lagi. Kalau begitu, saya pamit untuk menjemput Joni. Sedangkan untuk Tuan Muda, saya persilahkan untuk turun." Jawab Pak Yitno yang menyetujui ide dari majikan mudanya, sedangkan Zicko mengangguk dan segera turun.
Pak Yitno yang tidak ingin terjadi sesuatu, segera menambah kecepatannya agar sampai ke tempat tujuannya. Yakni, menjemput calon sekretaris barunya.