
Waktu pun telah berlalu, tidak terasa sudah beberapa hari telah dilewati oleh sepasang pengantin baru. Yakni, Zicko dan Lunika. Sambil menarik nafasnya panjang, Lunika membasahi sekujur badannya dari ujung kepala hingga ujung kaki saat membersihkan dirinya ketika usai tamu bulannya berakhir.
Rasa penat yang pernah bersemayam dalam pikirannya pun sedikit demi sedikit telah pudar dengan seiringnya waktu. Meski berat dengan hati yang lapang, Lunika tetap berusaha untuk tegar dan merelakan semua kenangannya di masa lalunya bersama waktu yang telah menentukan pada jodohnya masing masing.
Kini, tidak ada lagi beban yang begitu berat untuk ia pikul. Meski Lunika sendiri masih ada sedikit beban, yaitu tentang siapa dirinya. Namun, ia tidak mempunyai kuasa untuk segera membuka tentang asal usulnya.
Saat mengingat sebuah kenangan dimasa kecilnya, tiba tiba Lunika teringat saat mendapatkan penyiksaan dari seorang perempuan yang begitu kejam pada dirinya Bahkan, begitu pahit untuk dikenangnya.
Setelah selesai membersihkan diri, segera ia mengenakan pakaiannya.
Sedangkan Lunika sendiri masih dengan posisinya didepan cermin, ia terus menatap dirinya sendiri dengan penuh kekhawatiran.
'Kenapa tiba tiba aku teringat akan masa laluku, padahal aku sangat membencinya.' Batinnya dengan penuh kenangan pada masa lalunya. Tanpa Lunika sadari, sang suami tengah berada dibelakangnya sambil membungkukkan badannya dan memeluk istri tercintanya penuh mesra.
"Sayang, kenapa kamu melamun? apakah kamu sudah merindukan ibu?" tanya Zicko pada istrinya dengab cara mengagetkan.
Disaat itu juga, Lunika terasa geli ketika suaminya sudah berada didekatnya dengan sikapnya yang menggoda.
"Aku teringat akan masa kecilku, banyak teman tapi tidak merasa memiliki teman." Jawab Lunika sambil mendongakkan pandangannya pada suaminya, Zicko tersenyum. Kemudian tiba tiba Zicko tertarik dengan jawaban dari istrinya itu, lalu ia segera menarik sebuah kursi yang ada didekatnya dan duduk sejajar dengan istrinya.
"Masa kecil kamu? wah, kenapa aku tidak kepikiran sampai disitu. Apakah kamu bersedia untuk berbagi cerita akan masa lalumu itu, padaku?" tanya Zicko sambil memberi sebuah pertanyaan.
__ADS_1
Lunika yang merasa enggan dan takut, ia berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri. Lunika percaya, jika suaminya benar benar dapat dipercaya seratus persen, pikirnya. Setelah ia menimbangnya lagi, Lunika mengangguk.
"Jadi semakin penasaran, boleh lah jika kamu bersedia untuk bercerita dengan suami kamu. Aku tidak akan keberatan jika membutuhkan sesuatu padaku, aku akan selalu ada untukmu, sayang." Ucap Zicko meyakinkannya.
"Aku teringat akan perbedaan sebuah perhatian, apalah aku ini yang mungkin saja aku anak pembawa sial. Mungkin, nasibku tidak semujur dari teman temanku. Aku yang selalu tersisih kala itu, sangat menyakitkan dan menyayat hatiku." Ucap Lunika memulai bercerita, Zicko yang mendengarnya pun mulai tertarik akan cerita masa kecil istrinya sendiri.
"Tidak baik kamu berbicara seperti itu, sayang. Setiap sesuatu yang telah kita lewati dan kita jalani, pasti kita akan menuai diwaktu kemudian hari. Kamu boleh bersedih dalam waktu yang menurutmu begitu lama. Namun, apakah kamu tahu? bahwa kebahagiaan yang kamu dapatkan bisa jadi jauh lebih lama dari kesedihanmu yang sudah kamu jalani." Ucap Zicko mengingatkan.
"Iya, aku tahu itu. Tapi, dulu aku begitu rapuh. Bahkan waktuku yang aku pergunakan untuk mengemis, padahal orang yang menampung anak anak jalanan adalah orang yang sangat kaya raya. Tetapi ... entah lah, aku masih belum bisa mencernanya. Begitu sakit untuk aku kenang, hingga aku merasa kesulitan untuk berpikir.
Seketika, Zicko mendadak kaget mendengarnya. Zicko terus berpikir untuk mengorek akan masa lalu istrinya itu.
"Apakah kamu masih mengingat nama dari seseorang yang sudah menjadikanmu anak pengamen?" tanya Zicko yang terus menyelidik.
Zicko yang masih belum juga mengerti, dirinya hanya menganggukkan kepalanya.
"Oh iya, sayang. Sepertinya kita sudahi dulu obrolan kita ini, nanti kita lanjutkan lagi. Karena hari ini aku sudah mulai aktif untuk masuk ke Kantor lagi, kamu tidak keberatan, 'kan?"
"Tidak apa apa kok, sayang. Aku tahu, kamu sangatlah sibuk dengan dunia kerja kamu. Maka aku tidak akan protes dengan kesibukan kamu, aku akan menunggumu dirumah. Tapi ..." tiba tiba Lunika menggantungkan ucapannya, kemudian ia berusaha menutupi apa yang ingin disampaikannya.
"Tapi kenapa, sayang? apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Zicko penasaran.
__ADS_1
"Aku tidak menginginkan sesuatu, aku hanya ingin keluar rumah saja. Itupun jika kamu menyetujuinya, aku tidak akan pernah memaksamu." Jawab Lunika dengan sikapnya yang terlihat begitu santai.
"Nanti setelah aku pulang dari Kantor, aku akan mengajakmu jalan jalan. Untuk waktu yang sekarang, aku tidak bisa menemanimu. Dan aku sangat melarangmu pergi keluar tanpa aku yang mendapampingi kamu, aku tidak ingin terjadi apa apa pada diri kamu. Apapun itu, aku akan selalu menjagamu. Meski satu nyawa yang harus dijadikan korban, aku rela untuk melakukan pada istri teecintaku." Ucap Zicko meyakinkan istri kesayangannya.
Lunika yang mengerti akan maksud dari suaminya sendiri pun, ia hanya mengangguk dan tersenyum padanya.
"Ya sudah kalau memang tidak ada masalah, aku mau bersiap siap untuk berangkat ke Kantor. Setelah itu, kita akan sarapan pagi bersama." Ucap Zicko dan segera bersiap siap.
Usai sarapan pagi, Lunika memeriksa penampilan suaminya sendiri. Setelah tidak ada lagi yang mengganjal dihatinya dan tertinggal, Zicko segera berpamitan untuk berangkat ke Kantornya.
Ketika berada di depan rumah, Zicko menc*ium lembut kening milik istrinya dengan mesra. Lalu ia masuk kedalam mobilnya, sedangkan Lunika sendiri hanya bisa melihat bayangan mobil suaminya tidak lagi terlihat.
Didalam perjalanan, Zicko terus teringat akan cerita masa lalu dari istrinya sendiri.
'Kenapa tiba tiba aku sangat penasaran dengan masa kecilnya istriku? apakah benar yang diceritakan ibunya Lunika? jangan jangan kelahiran Lunika itu tidak diharapkan oleh keluarganya. Tapi ... apa mungkin, aku bisa menemukan identitas istriku? aku rasa itu sangat sulit.' Batin Zicko yang semakin pusing memikirkannya.
Setelah memakan waktu lama karena jalanan macet, Zicko telah sampai di Kantornya. Ketika ia turun dari mobil, tiba tiba pandangannya tertuju pada sosok laki laki yang tengah duduk dengan gusar.
Karena rasa penasarannya, Zicko segera mendekatinya. Namun, saat Zicko berjalan menuju kearah laki laki tersebut, ia mengurungkan niatnya untuk mendekatinya. Zicko memilih menyuruh salah satu karyawannya yang masih berada di depan Kantornya untuk menyampaikan sebuah pesan dari dirinya sendiri.
"Pak, sini." Panggil Zicko yang masih berada didekat mobilnya. Dengan langkahnya yang tergesa gesa, bapak tersebut segera mendekati Bos mudanya.
__ADS_1
"Maaf Bos, ada apa ya?" tanyanya.
"Tolong ajak seseorang yang tengah duduk disudut sana ke ruang kerja saya, sekarang juga." Perintah Zicko pada karyawannya.