
Selesai mendapatkan penanganan dan pemeriksaan, Dey diminta untuk menemui Ibu Dokter di ruangan Beliau. Dengan perasaannya yang cukup menegangkan, Dey berusaha untuk tetap tenang.
Sedangkan Tuan Viko bersama sang istri segera menemui menantunya yang tengah berbaring diranjang pasien.
Dey yang nampak gelisah saat berhadapan dengan Ibu Dokter, berharap tidak ada apa apa dengan istri tercintanya. Berulang kali mengatur napasnya dan tetap berpikiran yang positif, pikirnya.
"Maaf Bu Dokter, Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Dey membuka suara karena tidak dapat menahan kesabarannya.
Sang Ibu Dokter pun tersenyum mendengarnya, Dey sendiri semakin bingung dibuatnya. 'Dokter aneh, udah tau aku sangat khawatir, eh! senyum senyum tidak jelas.' Batin Dey memperhatikannya sedikit geram.
"Selamat ya, Tuan. Sebentar lagi Tuan akan menjadi seorang ayah, tepatnya menjadi orang tua." Ucap Ibu Dokter dengan memberi ucapan selamat pada Dey.
Dey masih tercengang dan seperti tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Bahkan dirinya berulang kali menepuk kedua pipinya agar kesadarannya pulih dan tidak sedang bermimpi.
Ibu Dokter yang melihat Dey seperti tidak percaya, sebuah bukti yang akurat pun telah diberikannya langsung pada Dey.
"Tuan sedang tidak bermimpi, ini nyata apa adanya. Istri Tuan memang benar benar sedang hamil, usia kandungannya sudah 6 minggu. Saya minta untuk tetap pantau istri Tuan, agar tidak ceroboh saat beraktivitas dan soal mengenai makanan untuk dijaga keseimbangannya. Tidak hanya itu saja, susu dan vitamin jangan sampai lupa. Buah buahan pun tidak boleh diabaikan, tetap dijaga kesehatannya. Untuk calon ibu maupun calon sang buah hati." Ucap Ibu Dokter menjelaskannya dengan panjang lebar.
"Serius ini Dok? saya tidak sedang bermimpi, 'kan? saya takut ini hanya mimpi semata." Tanya Dey untuk memastikannya.
"Benar, Tuan. Coba dilihat dengan seksama untuk hasil pemeriksaannya." Perintah Ibu Dokter sambil menunjukkan bukti yang sudah dipegang oleh Dey.
Dengan penan, Dey membuka hasilnya dan memeriksanya dengan teliti. Satu kata demi satu kata tidak ada yang terlewatkan ketika membacanya.
"Positif! benarkah istriku sedang hamil? ya, hasilnya memang benar positif. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah, statusku akan berubah menjadi orang tua." Gumam Dey dengan perasaan bahagia, wajahnya pun berseri seri saat melihat hasil tesnya.
"Terima kasih Dok, terima kasih banyak atas hasilnya yang positif." Ucap Dey yang langsung pergi dari ruangan Ibu Dokter dan segera menemui istri yang cintainya.
__ADS_1
"Sayang!!!! kamu hamil." Teriak Dey sambil berlari yang cukup kencang dah dengan perasaan yang cukup girang saat mendapatkan kabar gembira. Dey tidak peduli dengan orang orang yang melihat tingkahnya, yang ada dalam pikirannya adalah kebahagiaan tentang kabar gembira yang ia terima.
"Sayang!!!" Teriak Dey cukup nyaring, kedua orang tuanya maupun sang istri pun tercengang mendengarnya. Semua menoleh dengan serempak dan menatap Dey dengan tatapan keheranan.
"Ada apa Dey? teriak teriak segala, udah kek menang lomba aja, kamu ini." Tanya sang Ibu sambil menatap serius pada putranya.
"Kebiasaan kamu ini, selalu mengagetkan orang yang sedang serius mengobrol." Tuduh sang ayah pada putranya, Dey sendiri memilih untuk tersenyum pasta gigi. Tuan Viko yang melihat ekspresi dari putranya hanya mengerutkan keningnya.
Dengan pelan, Dey mulai mendekati istrinya dengan membawa selembaran kertas hasil pemeriksaan.
"Sayang, aku bawa kabar gembira nih. Kabar gembira untuk kamu dan Mama Papa." Kata Dey sambil memberikan hasil pemeriksaannya.
Dengan rasa penasaran, Vey membuka lipatan kertas yang diberikan dari suaminya. Dengan seksama Vey membaca setiap kalimatnya tanpa ada yang terlewatkan satupun.
"Positif hamil!!" Ucap Vey cukup nyaring, kemudian menutup mulutnya dengan telapak tangan kirinya seperti tidak percaya dengan apa yang tengah ia baca.
Namun ekspresi dari Vey diluar dugaan, Vey menitikan air matanya dengan perasaan yang sangat bahagia. Terlalu bahagianya, Vey menangis sesenggukan.
Ibunda Adellyn yang yang mendengar dan juga melihatnya pun langsung mendekati menantunya, Beliau langsung memeluknya erat.
"Selamat ya, sayang. Akhirnya penantian kamu dan kita semuanya telah hadir ditengah tengah kita. Lama ikut bahagia mendengarnya, tidak hanya bahagia, tetapi sangat bahagia." Ucap ibunda Adellyn sambil mengusap lengan menantunya.
"Ya, Ma. Vey sangat bahagia menerima kabar bahagia ini, penantian yang sudah sekian lamanya kami tunggu tunggu, dan akhirnya Vey masih diberi kesempatan untuk menerima kabar bahagia ini." Jawab Vey masih sedikit terisak, Ibunda Adellyn pun melepaskan pelukannya dan menatap wajah menantunya.
Dengan lembut, jari jemari milik Ibu mertuanya tengah menghapus air mata Vey, kemudian menc*ium kedua pipinya. Tidak hanya itu, tangan sebelah kanannya pun mengusap perut milik menantunya.
"Dijaga kesehatan mu, sayang. Jangan beraktivitas yang berat berat, dijaga pola makan nya juga. Vitamin maupun susu tidak boleh diabaikan." Ucap Ibunda Adellyn memberi pesan baik untuk menantunya yang tengah hamil.
__ADS_1
Setelah itu, Dey duduk disebalah istrinya dan memeluknya. Kemudian mencium pucuk kepalanya dan juga kedua pipinya secara gantian.
"Sayang, aku pingin buah asam yang masih muda." Kata Vey dengan sebuah permintaannya.
"Asam muda? carinya dimana, sayang? yang ada juga di makam. Yang benar saja, jangan yang aneh aneh, sayang. Bayangin aja udah ngeri, udah gitu kamu memintaku untuk memanjat. Ooh! Tidak bisa, sayang." Jawab Dey yang merasa keberatan. Bukannya tidak bisa mencari, hanya saja ia merasa kesulitan untuk mencari dimana pohonnya, pikir Dey dengan sejuta lokasi.
"Sudah sana buruan kamu carikan asam mudanya, kasihan bayinya nanti." Usir sangat ibu pada putranya.
"Tapi, Ma ... cari dimana?" tanya Dey yang tidak tahu harus kemana dirinya untuk mencari asam
mudanya.
"Carinya di toko kueh, ya di pohon lah." Kata sang ayah ikut menimpali.
"Dey kan tidak tahu, Ma. Memangnya cari Mama muda, yang gampang dan mudah." Celetuk Dey tanpa sadar dengan gurauannya.
"Apa kamu bilang!!!!" teriak sang ibu sambil menjewer telinga milik putranya. Sedangkan Dey berusaha untuk melepaskan sebuah jeweran pada daun telinganya.
"Ampun Ma, ampun!" rengek Dey sambil meringis kesakitan saat menerima jeweran dari sang ibu.
Vey yang melihat ekspresi suaminya hanya menahan tawa ketika sang ibu memberikan hukuman pada putranya.
Dey yang sudah berhasil melepaskan diri dari hukuman orang tuanya, Dey langsung lari kabur untuk menghindarinya. Agar tidak semakin menjadi hukuman yang akan ia Terima dari sang ibu.
Sedangkan didalam ruang pasien, Vey dan ibu mertua maupun ayah mertuanya akhirnya tertawa lepas saat mendapati Dey yang ketakutan.
Sedangkan Dey yang tengah dalam perjalanan, dirinya mulai kebingungan untuk mencari buah asam muda nya. Sesekali ia menghubungi orang kepercayaannya, tetap saja tidak mendapatkan jawaban. Dey semakin prustasi dibuatnya, akhirnya ia menepikan mobilnya.
__ADS_1