
Merasa diawasi suaminya, Vey memilih memasukkan liontinnya kedalam tas kerjanya. Saat suaminya sudah keluar, ia segera mengganti pakaiannya lagi. Setelah itu, Vey keluar dari kamar dan menyusul suaminya yang sedang berdiri didekat pintu terlihat tengah menunggunya.
"Cepetan, lelet sekali kamu ini." Ucap Dey tanpa memperhatikan istrinya yang berubah penampilannya.
"Aku kan harus berpenampilan dengan baik dan benar, agar aku ini tidak disangka pengawal kamu." Ucap Vey dengan penampilannya yang berbeda.
Seketika, Dey terbelalak melihat penampilan Vey yang benar benar telah mencuri perhatiannya. Dey masih terpesona dengan kecantikan istrinya, bahkan sampai lupa untuk mengedipkan kedua matanya.
"Masuk dan ganti bajumu itu, aku tidak menyukainya." Perintah Dey dengan tatapan tidak suka.
"Kenapa kamu melarangku, ada yang salah? bukankah kamu suka mengejekku ketika aku berpenampilan seperti cowok? setelah aku mengubah penampilanku, kini kamu melarangku." Ucap Vey dengan muka masamnya.
'Lucu sekali anak ini kalau sedang marah.' Batinnya, sedangkan Vey masih menatap Dey dengan kesal.
"Status kamu bukan lagi sendirian, kamu sudah bersuami. Jadi, aku berhak melarangmu tentang apa yang tidak aku suka. Cepat, ganti pakaian kamu yang benar."
Vey yang tidak dapat menolaknya, ia kembali masuk kedalam kamar dan mengganti pakaiannya lagi. Meski terasa geram dan juga kesal, Vey berusaha untuk menahannya.
"Perasaan penampilanku yang barusan juga biasa biasa aja, cuman make up aku aja yang sedikit mencolok." Gumam Vey sambil bercermin, kemudian ia menghapus lipstiknya. Disaat itu juga, Vey kembali teringat saat dirinya mendapatkan ciuman lembut dari suaminya. Senyum senyum tidak jelas, Vey segera menepisnya.
Karena tidak ingin mendapat komentar pedas dari sang suami, dengan terburu buru ia menghampiri suaminya.
"Bagaimana? apakah masih ada yang harus aku ganti? maksudku, apa masih ada yang perlu aku perbaiki penampilanku ini." Tanya Lunika sambil merapihkan kembali penampilannya.
"Tidak ada, ayo berangkat." Jawab Dey, lalu keduanya segera meninggalkan Apartemen yang dijadikan tempat tinggalnya.
Didalam perjalanan, Dey tidak bergeming sedikitpun. Keduanya nampak sibuk dengan pandangannya masing masing, Vey sendiri memilih menatap lurus kedepan. Begitu juga dengan Dey, ia memilih fokus dengan setir mobilnya dan fokus pandangannya lurus kedepan.
Karena tidak ingin ada drama di Kantor, Dey mencoba untuk membuka suara dan bertanya pada istrinya.
__ADS_1
"Kamu mau sarapan dimana? di Kantor atau ... kita mampir ke warung kopi. Tenang aja, warung kopinya menyediakan sarapan pagi." Tanya Dey menawarkan diri untuk mengajaknya sarapan pagi.
"Aku mau sarapan paginya di Kantor saja, aku sedang males mampir mampir. Jika kamu mau sarapan di warung kopi, itu hak kamu. Tapi aku tidak bisa menerima ajakan kamu, aku lebih nyaman sarapan pagi di Kantin bersama rekan kerja lainnya." Jawab Vey tanpa menoleh kearah suaminya.
"Baik lah, kita akan sarapan di Kantor. Nih, kamu hubungi pihak kantin untuk mengantarkan sarapan pagi kita sebelum masuk jam kerja." Ucap Dey sambil menyodorkan ponselnya kepada Vey.
"Kenapa tidak sarapan di Kantin saja, bukankah ruang kerjanya akan tetap bersih."
"Pekerjaku sangat banyak, dan aku sudah menggajinya dua kali lipat. Jadi, aku tidak sia sia memberi pekerjaan."
'Dih! orang kaya kebangetan, bilang aja masih malu karena sudah menciumku.' Batin Vey sambil melirik kearah suaminya.
Disaat itu juga, tiba tiba ponsel milik Vey berbunyi dan menandakan ada seseorang yang tengah menghubunginya. Dengan cepat, Vey langsung mengambil ponselnya didalam tasnya.
"Aduh! jatuh, lagi." Gumam Vey, sedangkan Dey langsung meraih benda yang jatuh dari tas milik istrinya. Seketika, Dey menepikan mobilnya dan menghentikannya secara mendadak.
DUG!
"Kamu sudah gila, ya. Kalau kita kecelakaan bagaimana? aku masih ingin menikmati perjalanan hidupku yang panjang. Tidak mati sia sia, tau." Ucap Vey dengan sungut sambil menatap tajam pada suaminya, bahkan Dey tidak menyadari benda yang jatuh dari tasnya.
"Ini semua gara gara kamu yang sibuk dengan ponsel kamu, matikan ponsel ketika berkendara. Silent, silent, ngerti."
"Iya, maaf. Aku kan tidak tahu, lagian juga lupa. Mana aku tahu jika ada yang menghubungiku, jugaan yang menelponku kak Denra. Eh! tunggu, bukankah kamu sendiri yang menyetir, kenapa mesti aku yang disalahin?"
"Ini, ini, yang membuat mobil ini menepi." Ucap Dey, kemudian ia segera membuka liontinnya tanpa harus meminta izin pada istrinya. Karena rasa curiga dan penasaran, Dey langsung membukanya.
"Eh! itu punyaku, kembalikan."
"Diam! aku mau memeriksanya, ngerti."
__ADS_1
"Jangan, itu liontin milikku, serius." Ucap Vey sambil berusaha untuk merebutnya. Namun sayangnya, tenaga Dey kini jauh lebih kuat darinya.
DUAR!!!!
Bagaikan tersambar petir, tubuh Dey lemas seketika. Dengan rasa sesak untuk bernapas, Dey berusaha untuk membuang napasnya pelan. Sedangkan Vey sendiri bingung dibuatnya, ingin bertanya tapi takut mendapat amukan dari suaminya. Bahkan Vey sendiri tidak mampu mencerna tentang liontin tersebut, yang ia tahu hanya untuk menjaganya.
Karena sudah lumayan membaik, Dey menatap lekat pada istrinya.
"Katakan padaku, kamu dapat liontin ini dari siapa? jawab dengan jujur." Tanya Dey sambil menunjukkan liontinnya pada sang istri.
Vey sendiri bingung untuk menjawabnya, ingin menjelaskannya, ia takut jika penjelasannya tidak akan pernah di terima oleh suaminya.
"Kenapa diam? apakah kamu mencurinya?" tuduh Dey yang sudah tidak sabar atas jawaban dari istrinya.
"Maaf, aku belum bisa menjelaskannya sekarang. Memangnya itu liontin itu punya siapa? punya kamu kah?"
Tanpa basa basi, Dey membuka tas kerjanya untuk mengambil barang yang akan ditunjukkan pada istrinya.
"Lihatlah dengan jelas, sama 'kan? dan kuncinya ada pada liontin yang aku punya." Ucap Dey sambil menunjukkan sebuah liontin yang ada kuncinya.
Seketika, Vey terkejut melihatnya. Vey benar benar tidak menyangkanya, jika liontin yang ia simpan selama ini adalah Dey sang pemiliknya.
'Tidak, tidak mungkin dia orangnya. Kenapa bisa seperti ini, rumit! rumit! benar benar sangat rumit.' Batin Vey yang tidak lagi mampu untuk berpikir.
"Kenapa kamu masih diam? dimana kamu menemukan barang liontin ini? ayo katakan padaku dengan jujur." Tanya Dey yang terus mendesak, Vey sendiri hanya diam seribu bahasa. Bukannya berterima kasih dan memeluk Vey, justru Dey mendesaknya untuk meminta jawaban yang akurat.
"Em ... itu, aku sudah sangat lapar. Aku tidak bisa berkonsentrasi untuk menjawab pertanyaan kamu, ayo cepetan berangkat. Aw! perutku sangat sakit, aku lapar." Jawab Vey dan meringik sambil memegangi perutnya, berharap suaminya mau mempercayainya.
"Jangan banyak alasan, ayo cepat katakan." Dey terus mendesaknya, ia benar benar tidak sabar untuk mendapat jawaban dari istrinya.
__ADS_1
"Setelah sarapan, aku akan menjelaskannya padamu. Aku serius, aku tidak bohong." Jawab Vey mencoba meyakinkan suaminya.