Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Menepis rasa curiga


__ADS_3

Pagi yang cerah, namun tidak untuk Lunika. Tanpa bersemangat, Lunika mengelilingi taman ditemani Vellyn.


"Kak Lun, kok diam terus sih dari tadi. Ngobrol kek sama Vellyn, berasa dicuekin gitu. Mana baru punya ipar saja sudah berpisah, ini Kak Lunika terus diam dan tak bersuara." Ucap Vellyn sambil menunjukkan muka masamnya, Vellyn pun tak lupa mengerucutkan bibirnya karena dicuekin oleh kakak iparnya sendiri.


"Bukan begitu, Vellyn. Kakak hanya lagi malas aja untuk bersuara, tapi bukan berarti sengaja membuatmu kesal. Maafkan Kak Lun jika sudah membuatmu kesal, bagaimana kalau kita sibukkan dengan membuat puding. Sepertinya cocok dengan cuaca panas dan gerah, ayo kita ke dapur." Sahut Lunika, kemudian ia mengajaknya untuk pergi ke dapur.


"Serius nih Kak, wah! mantap kek nya. Vellyn pasti tidak akan menolaknya, ayo Kak kita eksekusi bahan bahannya yang akan digunakan membuat puding. Selain bisa menikmati pudingnya, Vellyn bisa mendapatkan ilmunya dari Kak Lun." Ucap Vellyn, lalu ia menggandeng tangan milik kakak iparnya.


Setelah itu, Vellyn dan Lunika segera pergi ke dapur untuk membuat puding kesukaan keluarga.


"Permisi Nona," salah satu pelayan rumah tengah menghampiri Lunika sambil menunduk ketika berhadapan majikan mudanya.


"Ada apa ya, Mbak?" tanya Lunika penasaran.


"Ada telfon dari Tuan Zicko, Nona." Jawabnya, senyum merekah pun tengah menghiasi kedua sudut bibir milik Lunika hingga terlihat semakin manis untuk dipandang.


"Cie ... Kak Lun dapat telfon dari Kak Zicko, asik nih." Ledek Vellyn sambil memainkan matanya dengan genit, Lunika sendiri hanya melempar senyumannya dan mengikuti dari belakang.


"Silahkan, Nona." Ucapnya, kemudian segera menjauh dari Nona mudanya. Sedangkan Lunika segera menerima panggilan dari suaminya dengan perasaan lega dan juga tenang.


Dengan perasaan bahagia, Lunika menempelkan sebuh telfon di dekat daun telinganya.


"Sayang, apa kabarnya? kamu sedang apa? sudah mandi? sudah sarapan? sudah berolahraga? bagaimana di sana, kamu baik baik saja 'kan?" tanya Lunika dengan memberondong berbagai banyak pertanyaan pada suaminya. Zicko sendiri yang berada di sebrang telfon pun hanya mengernyitkan dahinya ketika ia mendapat pertanyaan yang cukup banyak, bahkan sangat kebanyakan.

__ADS_1


"Tidak ada yang buruk tentangku, sayang. Semuanya baik baik saja. Kamu sendiri bagaimana kabarnya? dan untuk kabar Zicko junior, bagaimana kabarnya?" jawabnya dan balik menyapa sang istri dari balik benda pipihnya.


"Syukurlah, kabarku pun baik baik saja. Begitu juga dengan kamu, semoga selalu dijauhkan dari segi bahaya serta dari keburukan apapun itu." Ucap Lunika.


"Ya sudah kalau begitu, aku mau bersiap siap. Karena hari ini akan ada pertemuan, nanti aku telfon lagi. Aku cinta kamu, dan juga anak yang kamu kandung. Baik baik kesayanganku, jaga diri kamu baik baik, dan juga Zicko juniornya." Sahut Zicko dari sebrang telfon.


"Iya sayang, aku pun mencintai kamu. Hati hati di sana, aku selalu mendoakanmu." Ucap Lunika, kemudian sambungan telponnya diputus.


Perasaan tenang dan gelisah tetap masih menyatu jadi satu, kekhawatiran terus bersemayam dalam pikirannya. Lunika yang berusaha menepisnya, tetap saja masih sama.


Karena tidak ingin larut dalam bayangan yang bisa mengganggu kesehatan sang buah hati, Lunika kembali menyibukkan diri ditemani Vellyn.


"Kak, bagaimana kabar Kak Zicko? kok Kak Lun masih terlihat sedih gitu sih." Tanya Vellyn sambil menakar gulanya.


"Kabarnya baik, Kak Lun hanya takut ada sesuatu padanya. Itu saja sih Vell, takut juga sesuatu yang pernah terjadi akan terulang kembali." Jawab Lunika sambil mengaduk ngaduk gulanya agar cepat larut.


Sedangkan di sebuah Apartemen, Vey maupun Dey kembali merasakan sakit pada bagian pinggangnya. Sakit bukan karena sesuatu yang dilewatinya penuh cinta, tetapi keduanya sama terjatuhnya ke lantai akibat perbuatan diantara keduanya sendiri hingga tubuh mereka berdua terasa remuk.


"Kamu itu perempuan, seharusnya sikap kamu itu lembut. Nah! kamu, udah kek mau sabung dengan lawan. Lihat nih, badanku sakit semua karena kamu." Ucap Dey menahan rasa sakit sambil menyisiri rambutnya, kemudian ia meraih dasi diatas tempat tidur.


Dengan cepat dan gesit, Vey langsung menyambarnya. Dey yang melihat istrinya mengambil dasi miliknya, pikirannya pun kembali yang tidak tidak. Yakni mencekik lehernya dan menariknya dengan kuat.


"Cepat berikan dasinya padaku, ini sudah siang. Aku mau berangkat ke Kantor, pekerjaanku sangat banyak. Apa kamu lupa, Mama memberiku pesan untuk menggantikan posisi kak Zicko." Ucap Dey meminta untuk dikembalikan dasinya. Tanpa pikir panjang, Vey langsung mengenakan dasi pada suaminya dengan sangat rapi.

__ADS_1


"Vey, biar aku aja yang melakukannya." Ujar Dey yang tidak ingin merepotkan sang istri.


"Sudah, jangan banyak bicara. Lebih baik kamu diam, itu akan jauh lebih baik." Jawab Vey, kemudian ia meraih jasnya dan membantu untuk mengenakanya. Lalu, Vey kembali merapihkan penampilan suaminya.


Seketika, Dey cukup terkejut dengan istrinya yang begitu cekatan saat membantu mengenakan dasi dan juga jasnya.


"Sudah, sekarang silahkan jika kamu ingin berangkat." Ucap Vey, ia sendiri sampai lupa dengan pekerjaan barunya yang menjadi sekretaris suaminya.


"Hem, apa kamu lupa pekerjaan kamu di Kantor? hah."


"Ah! iya, aku lupa. Baik lah, aku mau bersiap siap. Jika kamu terburu buru, silahkan kalau mau berangkat lebih dahulu."


"Sudah, cepetan ganti pakaian kamu. Apa perlu aku yang harus melepaskan dan menggantikannya? hem."


"Dih! dasar mesum, iya ya ya aku tahu. Kamu itu di Amerika pasti sudah banyak wanita yang kamu ajak untuk berkencan, iya 'kan? ngaku aja deh."


"Sok tahu kamu ini, enak aja main tuduh. Sudah cepetan ganti pakaian kamu, aku tunggu di luar." Sahut Dey, kemudian ia memilih menunggu istrinya duduk di sofa sambil menyibukkan dengan ponselnya.


Sedangkan Vey tengah bersiap siap untuk berangkat ke Kantor, setelah selesai mengganti pakaiannya tiba tiba ia teringat sesuatu yang ia bawa dan juga belum ia simpan dengan benar.


"Liontin! ya ampun, aku sampai lupa. Aku belum menyimpannya, untung saja aku ingat. Kalau ketahuan itu orang bisa berabe. Yang ada dia menuduhku yang tidak tidak, dih! punya suami super aneh. Sabar Vey, sabar ... kamu pasti bisa menghadapi suami kamu yang super aneh dan nyebelin itu."


"Ehem, siapa yang menyebalkan? kamu, ya. Tadi kamu bilang apa barusan, liontin? punya siapa?"

__ADS_1


"Tidak ada, aku bohong. Aku hanya mengerjaimu saja, karena aku tahu jika kamu sudah ada di kamar ini. Lihatlah, kamu sendiri dapat tertangkap lewat pantulan cermin itu." Ucap Vey beralasan dan menunjuk kearah cermin yang dumaksudkannya.


'Hem, anak ini rupanya pandai juga berdalih. Tunggu, tadi dia mengatakan liontin. Ah, setiap perempuan kan memang suka barang barang seperti itu.' Batin Dey dan menepis pikiran tentang mencurigai istrinya sendiri.


__ADS_2