Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Ingin kejujuran


__ADS_3

Setelah pak Yitno pergi, Zicko memeriksa sekitaran rumah ibu mertuanya.


"Loh, ada nak Zicko rupanya. Kok, kamu tidak masuk? dimana Lunika?" seru ibu Arum sepulang dari pasar sambil berjalan membawa beberapa tentengan plastik.


"Lunika sudah ada didalam kok, Bu. Tadi rencana saya mau jemput teman disekitaran sini saja, tapi tidak jadi. Saya memilih untuk menyuruh pak Yitno. Akhirnya saya balik lagi kesini, Bu." Jawab Zicko berterus terang.


"Ya sudah, ayo kita masuk." Ajak ibu Arum, Zicko pun mengangguk dan berjalan dibelakang ibu Arum.


Sesampainya didalam, Zicko melihat pemandangan yang sangat mengharukan. Zicko menatap lekat istrinya yang tengah menemani sang ibu dan mengajaknya mengobrol terlihat jelas keakraban pada keduanya.


'Meski bukan berasal dari darah yang sama, keduanya memiliki ikatan yang sangat kuat. Betapa beruntungnya aku ini, memiliki istri yang begitu sempurna untukku. Pantas saja, kamu dijadikan bahan rebutan. Aku yang sudah menjadi suami sah kamu saja, semakin takut akan kehilangan kamu. Karena kamu ada perempuan yang sangat berharga didalam hidupku. Apapun itu, aku tidak akan mengizinkan laki laki manapun merebutmu.' Batin Zicko yang begitu khawatir akan kehilangan istri tercintanya.


"Hei, sayang. Kenapa kamu melamun? kata kamu mau menjemput tema kamu, kok sudah balik lagi." Tanya Lunika yang sudah berada dihadapan suaminya yang tanpa disadari oleh Zicko sendiri.


"Itu, tiba tiba perut aku terasa mules. Jadi, aku meminta pak Yitno untuk menjemput Joni." Jawab Zicko beralasan, ia tidak mungkin untuk berkata jujur pada istrinya. Takut, jika Lunika akan merasa ketakutan. Atau bisa jadi, Lunika tidak akan percaya bila Zicko menceritakannya.


"Loh, kok sudah balik? pak Yitno mana, nak Zicko?" tanya ibu mertua sambil celingukan mencari sosok Pak Yitno.


"Pak Yitno sedang menjemput teman Zicko, Bu. Kebetulan, tadi perut Zicko mendadak mules. Akhirnya, Zicko meminta diantar balik ke rumah." Jawab Zicko yang lagi lagi harus beralasan.


"Oooh, begitu. Kirain ibu Pak Yitno masih ada didepan rumah." Ucap ibu mertua.


"Tidak kok, Bu. Sebelumnya Zicko minta maaf, Bu. Sepertinya setelah Pak Yitno datang, Zicko harus segera pulang. Ada sesuatu yang harus diselesaikan, soal Lunika di lain waktu kita akan menginap di rumah ibu." Jawab Zicko dan berucap sedikit tidak enak hati. Mau tidak mau Zicko mencari alasan, agar istrinya tidak terancam bahaya, pikirnya.

__ADS_1


"Tidak apa apa , Nak Zicko. Kalian berdua menyempatkan untuk mampir saja, ibu sudah sangat senang." Ucap ibu mertua.


"Ibu yakin tidak apa apa? maafkan Lunika ya, Bu. Lain waktu, Lunika akan menyempatkan lagi untuk menemui ibu." Sahut Lunika menimpali.


"Kirain ibu, kalian berdua mau menginap. Ya sudah jika mau langsung pulang, ibu bisa mengerti kesibukan nak Zicko. Karena Romi saja sudah mengabari ibu dengan pekerjaan yang sekarang sangat padat. Jadi, benar saja jika nak Zicko lebih sibuk dari Romi." Ujar ibu Arum ikut menimpali.


Setelah cukup lama mengobrol, terdengar jelas suara mobil didepan rumah. Zicko dan Lunika segera berpamitan dan segera langsung pulang.


Kini, suasana rumah ibu Ruminah kembali menjadi sepi lagi. Obat rindu yang baru saja datang, kini harus pergi untuk pulang.


"Bu Ruminah jangan bersedih, Lunika baik baik saja." Ucap ibu Arum mencoba untuk menenangkannya.


"Bukan itu yang aku maksud, yang sedang aku pikirkan adalah kedua orang tua Zicko. Aku belum pernah mengenalnya, aku takut jika Lunika tidak mendapatkan restu dari mertuanya. Karena aku sendiri mengalaminya, sakit ... rasanya. Bertahun tahun aku harus memendam perasaanku, ketika bahagia sudah dihadapanku, disaat itu juga aku harus kehilangan harapanku. Sangat sakit, sakit ... Bu Arum." Jawab ibu Ruminah bersedih.


"Iya Bu, saya mengerti dengan yang diucapkan ibu Rum. Saya sendiri tidak sanggup untuk membayangkannya, yang terpenting kita selalu berdoa untuk Lunika. Agar hidupnya akan jauh lebih baik dari masa kecilnya dan masa mudanya yang penuh kesedihan." Ucap ibu Arum yang terus berusaha untuk meyakinkan ibu Ruminah.


"Aamiin, semoga. Sekarang ibu Ruminah lebih baik beristirahat, agar segera pulih dan dapat beraktivitas seperti biasanya." Ucap ibu Arum, kemudian membantunya untuk berjalan menuju kamarnya.


Sedangkan didalam perjalanan, Zicko masih kepikiran dengan ucapan ucapan Pak Yitno. Yang dimana ada sosok orang yang sangat mencurigakan itu, tepatnya di sekitaran rumah ibu mertuanya.


Joni yang duduk didepan bersama Pak Yitno hanya bisa berdiam diri, ia sangat malu ketika satu mobil dengan istri temannya sendiri.


'Orang yang sering aku ejek karena asal usul yang tidak jelas, rupanya bersuamikan seorang Zicko yang kaya raya. Benar benar membuatku merasa malu, semoga saja Lunika tidak menaruh benci denganku.' Batin Joni yang teringat masa mudanya ketika masih menginjak dibangku sekolah SMP, pikirnya.

__ADS_1


"Kalian berdua ini padahal saling kenal, kenapa seperti patung? hem." Zicko yang sengaja membuka suara.


"Malu Bro, sekarang Lunika sudah menjadi istrimu. Bisa bisa aku mendapat terkaman darimu, canda ..." jawab Joni yang mulai aktif dengan sifat aslinya.


"Hem, kamu diam tidak ada sesuatu yang lain 'kan?" sindir Zicko yang sengaja untuk membuat Joni bertanggung jawab atas perbuatan di masa lalunya.


"Iya ya, deh. Aku mengaku salah, dulu mulutku ini kaya ember pecah. Tapi, kalau sekarang aly sudah belajar untuk menyaringnya." Jawab Joni mengakuinya.


"Lunika, maafin aku yang dulu sering mengejek kamu, ya. Dulu aku masih terbawa oleh pergaulan yang tidak benar, dan aku mudah mengikuti orang lain ketimbang dengan kata hati sendiri. Ternyata perbuatan aku dulu sangatlah tidak baik dan sangat buruk. Sekarang, aku tidak akan mengulangi hal buruk lagi." Ucap Joni pada Lunika dengan penyesalan.


"Tidak apa apa kok, aku sendiri tidak pernah menyimpannya sebagai rasa kebencian. Aku tidak peduli dengan orang orang yang tengah membicarakanku, serta mengejekku sekalipun." Jawab Lunika, kemudian menoleh ke arah suaminya.


"Kamu tahu dari mana? jika Joni pernah mengejekku." tanya Lunika menyelidik.


"Kamu tidak perlu curiga, Lun. Suami kamu itu serba tahu apa yang diinginkannya, bahkan masa lalumu sekalipun." Sahut Joni memperjelaskannya.


"Benarkah? termasuk ..." seketika, Lunika menggantung kalimatnya.


"Termasuk apa?" tanya Zicko balik bertanya.


"Tidak, tidak ada apa apa." Jawab Lunika, kemudian ia kembali menatap kedepan.


'Termasuk kecelakaan itu, 'kan? maksudmu. Aku tidak mungkin mengatakannya didalam mobil ini, tidak mungkin.' Batin Zicko berusaha untuk menahannya.

__ADS_1


Tiba tiba hening, tidak ada satupun yang berucap. Lunika dan Zicko sama sama diamnya, keduanya sama halnya menatap lurus kedepan tanpa menoleh sedikitpun.


'Kenapa dia diam? apakah suamiku orangnya? atau ... dia takut untuk mengakuinya? padahal aku hanya ingin kejujuran, bukan kebohongan.' Batin Lunika.


__ADS_2