
Persiapan yang sudah tertata rapi, kini tinggal menunggu tamu undangan untuk keluarga kakek Ganan, tuan Guntara, dan orang tua Lunika serta keluarga sahabatnya.
Sedangkan kakek Tirta memilih untuk tidak pulang, karena hanya akan membuang waktu saja dan akan banyak memakan waktu di perjalanan.
Berbeda dengan Zicko dan istri, sepasang pengantin tengah sibuk dengan persiapannya untuk menyambut tamu undangan. Yang tidak lain adalah ibunya Lunika serta keluarga Romi yang kini menjadi kepercayaan Zicko. Begitu juga dengan kakek Dana, kini kakek Dana tengah sibuk dengan penampilannya.
"Tuan Tirta, lihatlah penampilanku. Aku merasa seperti masih muda saja, rambutku pun seperti mendapat sulap dari penyihir." Ucap kakek Dana sambil bercermin, ingin mentertawakan diri sendiri namun sangat menyakitkan. Sedangkan kakek Tirta hanya menahan tawanya agar tidak melukai perasaan sahabatnya.
"Justru, agar lebih segar untuk dipandang. Apalagi yang memandang perempuan cantik, aduhai ... aku seperti mencium bau bau parfum yang tidak asing." Jawab kakek Tirta yang tiba tiba merasa ada sesuatu yang aneh menurutnya. Kemudian, Beliau segera menoleh ke belakang.
"Bah ... kamu sudah datang?"
"Jangan jadi kompor Tuan Dana, ayo keluar."
"Ah! iya ya, pujaan hatiku ... Tuan Dana, aku pamit keluar. Sudah tidak aman lagi, jangan lupa dandan yang keren." Ucap kakek Tirta dan memberi pesan pada sahabatnya, kemudian segera keluar dari kamar.
"Duh, kamu ngapain masuk ke kamar segala. Kasihan Tuan Dana, dia butuh teman." Ujar kakek Tirta.
"Teman yang suka berbagi kompor, begitu maksud kamu? jangan seperti itu, kasihan dengan kakek Dana." Ucap sang istri.
"Iya, aku tahu batasannya. Lagian kamu ini, kenapa tidak ikut ngerumpi sama group eyang putri saja." Ujar kakek Tirta.
"Kamu bilang apa tadi, Eyang?" tanya sang istri sambil berkacak pinggang didepan suaminya.
"Sudah ah, aku mau menemui tuan Alfan. Masih ada sesuatu yang harus dirundingkan lagi, aku tidak ingin acara malam ini gagal apa sia." Jawab kakek Tirta menberikan penjelasan pada istrinya, sang istri pun mengangguk mengerti.
Usai bersama sang istri, kakek Tirta segera menemui besannya. Kemudian keduanya saling mengobrolkan sesuatu yang sesuai direncanakannya.
"Yakin nih, rencana kita benar adanya. Kalau salah, bagaimana?" tanya kakek Tirta sedikit ragu akan sebuah rencana yang sudah disusun sangat rapi.
__ADS_1
"Semua sudah diatur oleh tuan Ganan, semua akan berjalan dengan baik. Penyusup tidak akan lagi bisa masuk, sudah diamankan dengan baik." Jawab kakek Alfan meyakinkan besannya.
"Syukurlah, semoga apa yang sudah menjadi rencana kita akan berjalan dengan lancar tanpa suatu halangan apapun." Ucap kakek Tirta penuh harap.
"Semoga saja, karena kita hanya bisa berharap yang terbaik. Sekarang ini kita tinggal menunggunya saja, soal apa yang akan terjadi kita tinggal pasrah." Jawab kakek Alfan meyakinkan.
Setelah semua sudah bersiap siap, anggota keluarga kakek Alfan tengah berkumpul bersama untuk menyambut kedatangan tamu undangan. Yakni keluarga kakek Ganan, tuan Guntara selaku adik dari kakek Dana dari istri kedua. Tidak hanya itu, ada ibunya Lunika beserta keluarga sahabatnya yaitu Romi yang menjadi kepercayaan Zicko.
"Kak Lun, cantik banget sih kak Lun. Pantas saja, kakak pertama sudah kebelet nikah. Ini toh, perempuan cantik nan baik yang sudah mencuri hati kakak pertama. Semoga saja, kakak keduaku juga bernasib baik seperti kakak pertama." Ucap Vellyn memuji kakak iparnya, Lunika tersenyum mendengarnya.
"Jangan berlebihan, tidak baik. Kamu juga cantik dan baik, semoga segera mendapatkan suami yang baik juga." Jawab Lunika ikut memuji.
"Kamu masih kecil, Vellyn. lulus juga baru kemarin, mendingan kamu fokus dengan cita cita kamu." Sahut Zicko menimpali.
"Cita cita Vellyn tuh, pingin seperti Mama."
Semua menautkan alisnya masing masing dan saling menatap satu sama lain bergantian, termasuk tuan Zayen yang mendengarnya.
"Mendapatkan suami di Tanah Air dan membawanya kabur ke Amerika, kabuuuuur!!!" jawab Vellyn dan berteriak di kalimatnya yang terakhir dan pergi berlari.
BRUGG!!!!!
"Aw!! maaf, aku tidak sengaja." Ucap Vellyn dengan menunduk.
"Lain kali hati hati, Nona." Jawabnya, kemudian Vellyn mendongakkan pandangannya.
Dilihatnya sosok laki laki yang tidak kalah tampannya dengan sepupunya sendiri, yaitu Zicko. Karena ingin membuang rasa malunya, Vellyn memasang senyum lebarnya dihadapan laki laki yang tidak ia kenal.
"Maaf, aku tidak sengaja, habisnya kamu tidak minggir." Ucap Vellyn membela diri.
__ADS_1
"Nah, kan ... cita cita kamu sudah terkabul." Goda Zicko yang sudah berada di dekat Vellyn dengan berbisik didekat telinganya.
"Apa apaan sih, kakak pertama ini. Tidak lucu, tau!" jawab Vellyn dengan ketus. Kemudian ia berbalik arah dan kembali bersama Lunika dan yang lainnya.
"Kenapa sendirian? dimana ibu mertuaku dan kedua orang tuamu, Rom?" tanya Zicko sambil celingukan.
"Maaf Tuan, jika aku datang sendiri. Ini adalah permintaan tuan Zayen, Beliau memintaku untuk tidak berangkat bersama ibu Ruminah dan kedua orang tuaku." Ucap Romi menjelaskan, Zicko pun mengangguk mengerti.
"Romi, kemarilah. Sini, kita kumpul bersama." Panggil tuan Zayen pada Romi sambil berjalan mendekatinya. Dengan sedikit canggung, Romi berusaha untuk tenang ketika berhadapan dengan keluarga orang orang sukses, pikirnya.
"Kamu tidak tidak perlu minder, kita berawal sama seperti kamu. Canggung, malu, dan akhirnya menjadi keluarga." Ucap tuan Zayen dengan ramah.
"Terima kasih banyak, Tuan." Jawab Romi sedikit gugup.
'Lunika, beruntung bangat kamu Lun. Mempunyai keluarga yang begitu sempurna menurutku, kamu layak mendapatkan kebahagiaan.' Batin Romi teringat akan sosok sahabatnya dari kecil.
"Romi, dimana ibuku?" tanya Lunika sambil celingukan.
"Ibu kamu sedang dalam perjalanan bersama kedua orang tuaku, kamu tidak perlu khawatir. Percayalah, semua akan baik baik saja. Bagaimana kabar kamu, Lun?" jawabnya dan menyapanya.
"Kabarku sangat baik, kamu sendiri?"
"Seperti kamu, aku pun baik baik saja." Jawabnya dan tersenyum.
"Maaf, hampir saja lupa. Selamat malem kakek, Nenek ... Nyonya." Sapa Romi seramah mungkin.
"Selamat malam juga nak Bagus, apakah kamu bagian keluarga Lunika? maksudku cucu menantuku?" Jawab kakek Alfan dan bertanya.
"Bukan, saya Romi sahabat kecilnya Lunika. Meski kami bersahabat, saya menganggap Lunika bagian keluarga saya. Saya menganggapnya adik perempuan, tidak lebih." Jawab Romi meyakinkan, ia takut kedekatannya dengan Lunika akan disalah artikan.
__ADS_1
"Omma, panggil Omma jangan Nenek. Omma dan yang lainnya sudah mengetahuinya hubungan kalian berdua, buat kami tidak ada masalah. Asalkan tahu batasannya saja, kami tidak mempermasalahkannya." Sahut Omma Zeil menimpali.
"Iya nak Bagus, kami semua percaya sama kamu. Ayo, silahkan duduk. Sambil menunggu yang lainnya kita bisa saling bercerita." Ucap kakek Tirta ikut menimpali dan mempersilahkannya untuk duduk bersama di ruangan yang sudah di persilahkan.