
Setelah merasa cukup bersama putra kedatangannya, Lunika dan suami segera menghampiri ayah dan ibu mertua.
Dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, sang ibu mertua akhirnya memilih untuk memeluk Lunika dengan erat. Kemudian Beliau mengusap punggungnya berulang ulang, lalu melepaskan kembali pelukannya dan ditatap nya dengan intens.
"Apakah kamu sudah siap?" tanya sang ibu mertua sambil mengusap air mata milik menantunya.
Lunika yang tidak memiliki jawaban lain, dengan berat ia hanya mengangguk dengan tatapan sedihnya. Tidak dapat dipungkiri, begitu berat untuk meninggalkan tempat yang menurutnya sudah cukup nyam dan tanpa beban. Meski beban soal rindu dengan suaminya, Lunika masih dapat untuk menahnya. Namun tidak untuk bertahan dengan suami barunya, Lunika merasa begitu sulit dan juga berat untuk menerimanya.
"Mama yakin jika suami kamu ini orangnya baik, dan tidak kalah sempurnanya dengan Zicko yang kamu kenal." Ucap sang ibu yang mencoba untuk meyakinkan Lunika, lagi lagi Lunika hanya tersenyum. Apapun yang sudah menjadi keputusan tetaplah keputusan, Lunika sendiri tidak akan bisa mampu untuk menolaknya.
"Rayan, Mama titipkan Lunika sama kamu. Jaga Lunika sebagaimana kita yang sudah menjaganya dengan penuh kasih sayang untuknya, dan jangan pernah untuk menyakiti nya. Apakah kamu mengerti dengan apa yang Mama Minta? katakan saja dengan jujur." Ucap. Nyonya Afna dengan tatapan yang serius.
"Iya Tante,"
"Tante?" sahut Tuan Zayen sambil menautkan kedua alisnya dengan penuh herenan saat mendengar Rayan memanggil istrinya dengan sebutan Tante.
"Ya benar, Tante. Apakah ada yang aneh dengan saya, Paman? aku rasa tidak ada yang aneh." Ucap Rayan dengan santai.
"Panggil saja Mama, dan juga Papa." Ucap nyonya Afna ikut menimpali.
"Benar itu, Rayan. Kamu panggil saja dengan sebutan Mama dan Papa. Oh iya, hampir saja lupa. Jaga Lunika dengan baik, jika Lunika melakukan kesalahan, tegur dia dengan tutur kata yang bijak dan dapat dipahami. Jika kamu sudah tidak lagi mencintai Lunika, kembalikan Lunika pada kedua orang tuanya dengan baik pula. Apakah sudah jelas untuk kamu dengar? jika ia, bawalah istri kamu untuk pulang ke rumah kamu." Ucap nyonya Afna berusaha merelakan kepergian menantunya.
"Iii -- iya, Pa ... Ma." Jawab Rayan sedikit terbata.
__ADS_1
"Rayan janji akan selalu membahagiakan Lunika, dan juga akan selalu menjaganya. Tidak hanya itu, Rayan juga akan selalu memberi kebahagiaan untuknya dan juga Niko kecil." Jawab Rayan mengucap janjinya sendiri pada Tuan Zayen dan istri.
"Papa percaya sepenuhnya denganmu, doa yang terbaik untuk kalian berdua. Semoga bahagia untuk selamanya, berbahagialah." Ucap Tuan Zayen dengan penuh yakin, Lunika hanya menatapnya heran. Dimana mana itu jarang ditemukan untuk merelakan menantunya menikah lagi, tetapi kenyataan yang dialami Lunika berbanding terbalik, pikir Lunika yang belum mengerti jalan pikiran ayah dan ibu mertuanya.
'Aneh sekali, seharusnya itu tidak mengizinkan aku untuk menikah. Tapi ini, sungguh diluar dugaanku. Justru begitu semangat untuk menjadikannya suami istri, seharusnya marah karena sama halnya harus melupakan mendiang suaminya.' Batin Lunika yang tidak mengetahui jalan pikiran mertua.
Setelah berpamitan untuk membawa pulang ke rumah, Rayan mencium tangan milik Tuan Zayen dan nyonya Afna secara bergantian dengan Lunika.
Lambaian tangan seakan mengisyaratkan perpisahan yang mendalam, Lunika menatap sedih. Sedangkan Nyonya Afna justru tersenyum dengan senyumnya yang bahagia. Lunika terus menerus mencerna apa yang terjadi pada ayah maupun ibu mertuanya, apa lagi tidak ada kesedihan apapun yang terlihat.
Akhirnya, keduanya kini sudah duduk berdekatan didalam mobil. Karena merasa curiga, akhirnya Lunika memberanikan diri untuk bertanya.
"Sebenarnya ada niat terselubung apaan sih, antara kamu dan ayah maupun ibu mertuaku? ayo jelaskan padaku. Sepertinya kamu itu tengah bersengkokol, gelagatnya itu loh! benar terlihat bahagia. Apa mertuaku sudah tidak menyukaiku? terus, memisahkan aku dengan Niko? terus ... aku dijebak untuk menikah denganmu? terus ... mertuaku berhasil mendapat hak asuhnya. Lalu ... aku dibuang bagaikan barang yang sudah tidak layak dipakai? ayo jelaskan padaku." Tanya Lunika memberondong banyak pertanyaan yang mencurigakan, pikirnya.
"Aw! sakit, tau." Pekik Lunika sambil mengusap keningnya yang lumayan sakit akibat sentilan dari sang suami.
"Ngawur! kamu ini, mana ada mertuamu setega itu. Hem, mau ditaruh dimana muka mertua kamu itu didepan keluarga kamu sendiri. Buang jauh jauh pikiran burukmu itu, tidak baik berprasangka buruk terhadap orang lain. Apalagi terhadap mertua kamu yang sudah bersikap baik denganmu, bahkan menjagamu dari segi bahaya yang bisa jadi akan melukaimu." Jawab Rayan mengingatkan.
"Habisnya sangat mencurigakan, bagaimana aku tidak curiga? hem."
"Kecurigaan kamu itu kelewat batas, kesannya tidak baik. Ah sudahlah, ayo kita turun. Kita sudah sampai, jangan banyak drama jika berada di rumahku." Ucap Rayan, kemudian ia segera turun dan diikuti oleh Lunika.
Saat berada didepan rumah, sepasang mata Lunika memandangnya seperti tidak percaya. Lunika begitu lekat memperhatikan bangunan rumah yang menurutnya begitu sederhana, bahkan seperti tidak ada seorang pelayan maupun pekerja yang lainnya. Suasana benar benar terasa sepi, bahkan tidak terdengar suara apapun.
__ADS_1
"Mau masuk atau mau berdiri aja didepan rumah?" tanya Rayan sambil melambaikan tangannya telat didepan wajah Lunika.
"Masuk lah, ngapain didepan rumah. Yang ada nanti aku diculik orang, aku masih ingin menikmati hidup. Oh iya, ini serius rumah kamu? kok terlihat sepi." Sahut Lunika dan bertanya karena penasaran.
"Iya, ini rumahku yang ukurannya berbanding terbalik dengan keluarga mertuamu maupun orang tua kamu sendiri." Jawab Rayan, kemudian berjalan menuju pintu dan membuka kunci pintunya diikuti Lunika dari belakang.
'Apakah dia seorang sebatang kara? tidak mempunyai keluarga dan juga sanak saudara.' Batin Lunika bertanya tanya.
Saat berada didalam rumah, Lunika melihat lihat isi didalam rumah. 'Sebenarnya siapa dia? kenapa didalam rumahnya begitu sepi?' batin Lunika bertanya tanya.
"Eh tunggu," panggil Lunika. Seketika, Rayan memutar badannya dan mendekatinya.
"Ada apa? rumahku jelek? kamu harus terbiasa hidup denganku dengan keadaan yang seperti ini."
'Benar, Mama dan Papa sengaja memisahkan aku dengan Niko dengan cara seperti ini.' Batin Lunika yang terus menyelidik secara diam.
"Kalau kamu capek, kamu bisa istirahat didalam kamar. Itu kamarnya, masuk lah." Ucap Rayan sambil menunjuk pada kamar yang dimaksudkan, Lunika hanya mengangguk dan berjalan menuju kamar yang ditunjukan oleh suaminya.
"Aku mau keluar sebentar, jangan kabur. Yang ada kamu menyusahkan diri kamu sendiri, ingat itu." Ucap Rayan, kemudian segera pergi begitu saja.
Sedangkan Lunika dengan pelan masuk kedalam kamar, ia berpikir kamar khusus untuknya.
Seketika, kedua bola mata Lunika mendadak membulat. Apa yang dilihatnya seperti tidak percaya dengan desain kamarnya, benar benar diluar dugaannya. Kemudian Lunika tiba tiba dapat menangkap sebuah benda yang tergeletak di atas nakas, pikirannya pun semakin tidak karuan.
__ADS_1