
Ketika Dey sudah menceritakannya pada sang adik, segera ia bangkit dari posisinya. "Ngapain kamu senyum senyum kek gitu, jelek tau. Ayo pulang, nanti Papa marah bisa bahaya." Ucap sang kakak sambil menyikut Vellyn.
"Hem, iya ya." Jawab Vellyn sambil memasang muka masamnya, sedangkan Dey tidak peduli dan memilih untuk segera pulang.
"Kak Dey, tunggu." Seru Vellyn memanggil sang kakak sambil berlari mengejarnya.
"Kak Dey! jangan cepat cepat dong, jalan kakinya." Ucap Vellyn sambil ngos ngosan saat mengimbangi langkah kaki sang kakak. Dey terus berjalan dan tanpa menghiraukan Vellyn yang terus terusan merengek dengannya.
"Kak Dey, gendong aku dong. Aku juga pingin seperti yang lainnya, dapat perhatian penuh dari sang kakak laki-lakinya." Ujar Vellyn terus merayu.
Seketika, Dey menghentikan langkah kakinya dan membalikkan badannya dan menatap sang adik dengan lekat. Disaat itu juga, Dey berjongkok dan memberi peluang untuk Vellyn layaknya adik kecil yang merengek untuk digendong.
"Cepetan, sudah malam."
"Kak Dey serius? Kakak sedang tidak bercanda, 'kan?" tanya Vellyn tidak percaya.
"Hem, kamu pikir Kakak ini bohong? cepetan jangan banyak drama."
"I -- iya," ucap Vellyn sedikit rasa takut dan juga malu karena usianya yang sudah sama dewasanya.
"Tapi bohong, wek ..." sahut Vellyn dan menjulurkan lidahnya didepan sang kakak yang tengah berjongkok. Kemudian Vellyn segera pergi meninggalkan sang kakak dengan berlari. Dey menarik nafasnya panjang dan membuangnya kasar, lagi lagi Dey dikerjain sama adik perempuannya.
"Das*ar! adik tidak punya akhlak." Umpat Dey sambil mengusap mukanya kasar.
Karena sudah tertinggal jauh dari sang adik, Dey segera menyusulnya dengan cara ikutan berlari yang sangat kencang.
BRUG
__ADS_1
"Aw!! maaf, aku minta maaf. Aku tidak sengaja menabrakmu Bang, maaf aku tidak bisa menolongmu." Ucapnya dan pergi begitu saja, Dey yang merasa sakit pada bagian pinggangnya hanya meringis menahan rasa sakitnya.
"Sial! cuman berkata maaf, enak saja. Awas saja kalau aku bertemu dengannya, aku akan menghukumnya. Lihatlah, pinggangku terasa mau patah." Umpatnya sambil menggerutu.
Sambil menahan sakit, Dey terpaksa harus berjalan kaki sampai rumah. "Mana tidak bawa ponsel, lagi. Benar benar sial, ini malam." Ucapnya terus bergeming.
Sedangkan Vellyn yang sudah berada di depan rumah, ia tidak berani untuk masuk ke rumah jika tidak bersama sang kakak. Alih alih Vellyn meluruskan kedua kakinya sambil bersandar.
Seketika, Vellyn tercengang melihat kondisi sang kakak yang terlihat sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan cara jalannya yang terlihat pin*cang sambil memegangi area pinggangnya.
Karena rasa penasarannya, Vellyn segera bangkit dari posisi duduknya diteras rumah. Kemudian ia menghampiri sang kakak.
"Kak Dey, kenapa jalannya udah kek orang pincang segala sih? Kak Dey jatuh? duh ... kasihan amat dah." Tanya Vellyn sambil memeriksa kondisi sang kakak yang tengah menahan rasa sakitnya.
"Sudah diam, jangan banyak tanya. Ini semua gara gara kamu main lari aja, nih! akibatnya Kakak harus cidera seperti ini." Jawab Dey dengan kesal, Vellyn hanya tersenyum mendengar penuturan dari sang kakak.
"Cih, masih sempat sempatnya kamu berbicara seperti itu pada Kakak kamu ini. Bukannya mencari solusi, nih malah cari masalah. Ayo masuk, nanti keburu ketahuan sama Papa, mam*pus! kita." Sahut Dey, kemudian dengan pelan dan sangat hati hati, Dey dan Vellyn masuk ke rumah.
Karena pintu rumahnya tidak menggunakan kunci pada umumnya, dengan mudahnya Dey membukanya dengan sebuah kode yang mudah untuk dihafalkannya.
Dengan pelan pelan, Dey maupun Vellyn berjalan sambil meraba di ruang tamu.
"Kak, dimana tombol untuk menyalakan lampunya?" tanya Vellyn berbisik didekat sang kakak.
"Mana Kak Dey tahu, bukankah kamu yang sudah lama tinggal dirumah Paman? aneh sekali kamu ini." Jawab Dey yang juga sambil merabanya.
"What!!!" Teriak Vellyn dengan reflek karena dikagetkan dengan nyalanya lampu yang cukup terang dan membuat kedua matanya silau.
__ADS_1
"Dari mana saja kalian berdua ini, hah!" Bentak sang ayah memergoki kepulangan kedua anaknya.
"Em ... anu Pa, itu."
"Apa kalian tidak lihat jam, sampai sampai pulang hingga larut malam. Ngapain aja kalian berdua ini diluaran sana? hah."
"Tadi Dey tidak sengaja di tabrak sama orang yang larinya sangat kencang, Pa. Dey serius, Dey tidak bohong." Jawab Dey berterus terang.
"Sekarang juga kalian segera masuk ke kamar kalian masing masing. Ingat, besok pagi kalian berdua sudah mulai masuk ke Kantor. Mau tidak mau, kalian harus siap menerima tugas kalian masing masing. Dan dihari besok juga, kita sudah tidak tinggal di rumah ini." Ucap sang ayah dengan tegas, Dey maupun Vellyn sama sama mengangguk.
"Iya Pa, kita berdua mengerti." Jawab Kakak beradik bersamaan, kemudian keduanya segera kembali ke kamarnya masing masing.
Setelah memergoki kedua anaknya, Tuan Viko segera kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
"Viko, tunggu." Panggil Tuan Zayen sambil berjalan mendekati adik iparnya.
"Kak Zayen, ada apa?" tanya sang adik yang merasa kepergok.
"Sepertinya tadi kedengaran jika kamu habis marahin anak kamu, benarkah?" tanyanya untuk memastikannya.
"Oh, soal Dey dan Vellyn? iya, tadi aku habis memarahi mereka berdua. Bayangkan saja, pulang sampai larut malam. Mau tidak mau, aku memarahinya." Jawabnya dengan santai.
"Oh iya, aku sampai lupa. Besok aku dan akan istriku mau kembali ke rumah, aku tidak ingin putraku dirumah ini menjadi kesalahpahaman di mata putra kamu." Ucap Tuan Viko yang tiba tiba teringat saat keponakannya merasa cemburu pada sikap putranya ketika menolong istri keponakannya.
"Soal Zicko dan Dey? anak muda, biasalah. Terkadang yang sudah tua saja bisa salah paham, apalagi usia yang masih muda dan masa masa yang dimana tengah diuji coba memantapkan diri untuk menjadi jati diri dengan sebaik mungkin."
"Maka dari itu, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada keponakanku maupun putraku sendiri. Sebisa mungkin aku harus bisa memberi jarak pada keduanya, ditambah lagi Dey baru saja pulang dari luar Negri. Aku takut jika Dey tidak kerasan untuk tidnggal di Tanah Air, dan memilih untuk kembali ke Luar Negri." Jawab Tuan Viko menjelaskannya, Tuan Zayen pun mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita istirahat. Bukankah besok pagi kita harus berangkat ke Kantor, ayo kita masuk ke kamar masing masing." Ajak Tuan Zayen.