
"Sudah selesai?" tanya Rayan yang tiba tiba sudah berada di hadapan istrinya. Lunika yang hampir saja menabrak suaminya, akhirnya ia dapat berhenti dengan reflek.
'Untung saja tidak ada drama menabrak segala.' Batin Lunika saat dikagetkan yang hampir saja bertabrakan dengan sang suami.
"Hei, kenapa bengong? ayo kita makan. Aku sudah sangat lapar, ngomong ngomong tadi di dapur kamu masak apa?" tanyanya basa basi.
"Sup ayam, soalnya adanya cuman ayam sama wortel dan kentang." Jawab Lunika.
"Cuman itu?"
"Tidak, ada kok makanan yang lainnya." Jawabnya dengan malas.
"Baik lah, aku akan menjadi dewan juri masakan kamu. Jika enak, apa yang kamu mau akan aku turuti." Ucap Rayan, kemudian ia langsung berjalan menuju ruang makan yang ukurannya tidak begitu besar.
'Palingan juga cuman jalan jalan, atau ... belanja.' Batin Lunika, kemudian ia segera mengikuti langkah suaminya ke ruang makan.
"Duduk lah," pinta sang suami sambil menarik kursinya. Lunika yang mendapat perlakuan yang sama seperti suaminya yang dulu, ia hanya bisa nurut.
"Wah, aroma yang menggoda." Ucapnya sambil menghirup aroma sup ayamnya.
Lunika yang sudah mulai memiliki sebuah rencana, akhirnya idenya pun keluar. Dengan telaten, Lunika mengambilkan sup ayamnya beserta nasi dan juga makanan yang lainnya.
"Rupanya kamu jago masak juga ya, selain beladiri kamu menguasai segala bidang. Hebat hebat, aku benar benar sangat beruntung mempunyai istri sepertimu, sudah pintar, perhatian, lagi. Sayangnya, aku belum bisa mengambil cintamu. Tapi percayalah, aku tidak menyerah untuk mendapatkan kamu." Ucapnya memuji serta merayunya.
Lagi lagi Lunika hanya tersenyum getir mendengarnya, berbeda dengan sang suami yang terlihat senyum menggoda. Ditambah lagi sambil mengedipkan matanya, semakin bergidik ngeri Lunika melihatnya.
Karena tidak ingin makanannya menjadi hambar, keduanya menikmati dengan caranya masing masing tanpa bersuara. Hening, suasana seperti tengah berada di dalam ruang persidangan.
__ADS_1
"Ini apaan?" tanya Rayan sambil menunjukkan makanan yang ia ambil pada istrinya.
"Itu perkedel kentang." Sahut Lunika sambil mengunyah makanannya.
"Oooh, kirain apaan." Ucap Rayan, kemudian menikmati satu gigitan perkedel buatan istrinya.
"Enak, enak sekali. Besok besok buatkan aku makanan ini, ok. Ingat, bila perlu kamu campurin gilingan daging ayam. Rasanya pasti akan lebih enak, ditambah lagi dengan minumannya teh hangat. Cocok buat bersantai bersama istri ter -- tercantik sepertimu." Pujinya, kemudian melesatkan kalimat terakhirnya.
'Ini orang lama lama kenapa jadi lebay? kurang sajen kali ya.' Batin Lunika sambil mengunyah perkedelnya.
Usai menikmati makanannya, Lunika segera bergegas membersihkan meja makan serta mencuci piring.
"Sini, aku bantu. Kamu ke dapur aja, nanti aku yang akan membereskan meja makannya."
"Aku bisa melakukannya sendiri, cepat lah menyingkir. Aku tidak mau setelah membantuku, kamu akan meminta imbalan dariku." Sahut Lunika sambil membawa piring kotor dan lainnya.
"Aku capek, aku ingin segera tidur. Jadi, aku pastikan malam ini tidak ada drama apapun." Ucap Rayan yang kenyataannya ia sangat lebih. Selain menguras pikirannya karena sesuatu yang harus diselesaikan, ia pun harus bolak balik menangani hal yang begitu sangat penting baginya.
Setelah selesai beres beres, Lunika dan suami segera kembali ke kamar. Disaat itu juga, Lunika bingung dibuatnya.
Berdiri mematung, itulah yang sedang Lunika lalukan. Dirinya bingung harus tidur dimana, lagi lagi kamarnya hanya ada satu. Sedangkan yang satunya menjadi ruangan privat suaminya.
"Kenapa masih berdiri di situ? hem."
"Aku harus tidur dimana?"
"Di tempat tidur lah, memangnya tidur dimana lagi? di lantai? hem."
__ADS_1
"Hem, gitu ya."
"Sudah, cepetan istirahat. Kalau kamu takut, kamu bisa kasih pembatas dengan banyak guling. Tenang, aku sudah menyiapkannya ada lima bantal guling. Nanti akan aku ambilkan bantal gulingnnya, lebih baik sekarang kamu segera menggosok gigi kamu sekalagus mencuci muka." Perintah suaminya, Lunika sendiri hanya pasrah mendengarkan. Setidaknya apa yang ditakutkan, Lunika terus waspada. Takut, yang tidak diinginkannya akan terjadi.
Rayan yang mengerti kemauan istrinya, ia segera mengambilkan beberapa guling untuk menjadi pembatas tidurnya.
'Kamu pikir aku tidak bisa jauh lebih cerdik darimu? akan membuatmu semakin dalam untuk berlabuh bersamaku malam ini.' Batin Rayan dengan penuh kemenangan, senyum merekah tengah menghiasi wajah tampannya.
Lunika yang mendapati suaminya senyum senyum tidak jelas, ia hanya memperhatikannya heran sang suami yang tengah menata bantal guling ditengah tengah tempat tidur.
Karena tidak ingin banyak drama yang terjadi di malam hari. Lunika memilih untuk segera berbaring diatas tempat tidur sambil memejamkan kedua matanya.
Lagi lagi dirinya tidak mampu untuk memejamkan kedua matanya, pikirannya kembali teringat dengan putranya. Rasa yang begitu tidak dapat lagi untuk ditahan, mau tidak mau ia harus menerimanya.
Gelisah, itulah yang sedang dirasakan oleh Lunika yang harus berpisah dengan putra kesayangannya. Ia menatap tembok kamar penuh dengan pandangan kesedihan. Air matanya pun membasahi kedua pipi mulusnya, sesak yang dirasakannya seakan telah menghimpit didalam dadanya.
'Niko anakku sayang, Mama merindukanmu Nak ... maafkan Mama yang sudah tega meninggalkan kamu. Bersabar lah, Mama akan berusaha untuk bisa lepas dari dalam sangkar ini. Mama akan membawamu pergi jauh dari hadapan orang orang yang tega memisahkan kita.' Batin Lunika penuh kesedihan, ditambah lagi ia tidak mendapat dukungan untuk tetap bersama putranya. Baginya satu minggu berpisah dengan sang buah hati, yang dirasakannya serasa bertahun tahun lamanya.
Rayan yang dapat menangkap ekspresi sang istri, ia menyingkirkan sebuah guling yang menjadi pembatas. Kemudian ia mendekatkan dirinya semakin dekat posisi tidurnya.
Deg
"Jangan lepaskan, aku masih ingin memelukmu. Aku mohon, jangan lepaskan. Aku hanya ingin memberimu reaksi saat aku memelukmu, apakah kamu merasa nyaman berada dalam pelukanku? hanya itu." Pinta Rayan yang bermaksud untuk memberi ketenangan pada istrinya yang saat ini tengah bersedih.
Lunika hanya terdiam, ia sendiri tidak dapat untuk memungkirinya jika dirinya sangat membutuhkan sandaran yang dapat menenangkan pikirannya yang tengah dirundung rasa tidak berdaya dalam menerima sebuah kenyataan yang menurutnya sangat lah menyakitkan.
Jangankan rasa cinta, untuk mengenalinya saja terasa enggan. Itulah dilema Lunika saat berhadapan dengan seorang laki laki yang kini sudah berstatus suaminya yang sah. Ingin menolak perlakuan suaminya pada umumnya sebagai sang suami, tetapi ia sendiri takut akan menjadi bumerang untknya, pikir Lunika yang terus memikirkannya.
__ADS_1
Semakin erat memeluknya, semakin was was dalam pikiran suaminya apabila tiba tiba akan memberontak.
'Aku seperti mengenal perlakuan yang seperti ini, tapi ... tidak mungkin, tidak mungkin semua karakter suamiku diikutinya.' Batin Lunika yang terus untuk berusaha berpikir.