
Daka yang mendapati tatapan yang cukup tajam dari sang adik, ia hanya mengernyitkan keningnya.
"Kamu kenapa? kok mendadak jadi judes plus galak begitu, hem." Tanya Daka menatap heran pada sang adik.
Kalla yang mendapati pertanyaan dari sang Kakak, ia langsung angkat bicara.
"Sejak kapan sih, Kak Daka itu jadi orang yang pecundang dan tidak bertanggung jawab, hah."
Kata Kalla masih menunjukkan muka kesalnya.
"Pecundang dan tidak bertanggung jawab, kamu bilang? apa Kakak tidak salah dengar dengan apa yang kamu tuduhkan? hah." Ucap Daka dengan sorot matanya yang cukup menakutkan.
"Iya, buktinya saja Kak Daka tidak melakukan tindakan apapun untuk kesembuhan perempuan yang Kak Daka sukai, bahkan Kakak cintai. Dimana letak kesetiaan Kakak dan perhatian Kakak selama ini? hah." Sahut Kalla dengan berani, meski ada sedikit rasa takut.
"Kamu yang melihat, dan kamu juga bukan yang menjalaninya. Gampang banget kamu seperti itu dengan Kakak, hah. Apa kamu lupa, bagaimana Papa memberi tugas yang cukup berat untuk Kakak? apa pernah Papa memberikan waktu luang yang cukup banyak untuk Kakak kamu ini? hah. Kakak kamu ini selalu di tuntut untuk kerja, kerja dan kerja. Kamu yang seharusnya bisa terjun di Kantor atau Restoran, justru kamu menjadi pemalas." Ucap Daka panjang lebar untuk menjelaskannya dengan detail terhadap adik perempuannya.
Disaat itu juga, Kalla yang mendengarkan penjelasan dari sang Kakak pun langsung tertunduk malu serta merasa bersalah besar. Baru sekarang Kalla menyadarinya atas ketidakpeduliannya terhadap kesibukan yang dijalani oleh Kakak laki lakinya.
"Maaf, Kalla tidak tahu. Yang Kalla tau, Kakak egois tidak peduli dengan nasib orang lain. Bahkan keadaan pasangannya sendiri aja harus dikorbankan, semua itu pasti sangat menyakitkan untuk Kakak. Maafkan Kalla yang sudah berprasangka buruk terhadap Kakak dan juga sudah berkata kasar, Kalla yang egois." Sahut Kalla yang merasa sangat bersalah atas sikapnya yang cukup membuat sang Kakak merasa dongkol.
"Kak Daka," panggil Kalla masih dengan perasaan sedikit takut.
"Ada apa?"
"Apakah Papa dan Mama sudah mengetahui hubungan Kak Daka dengan Kak Enja?" tanya Kalla yang masih menyimpan rasa penasarannya.
__ADS_1
"Tidak ada yang tahu, Kakak sengaja menyembunyikan hubungan Kakak dengan Kak Enja. Yang Papa tahu hanya sebatas kerja, tidak ada yang lebih." Jawab Daka berterus terang.
"Kenapa Kakak menyembunyikan hubungan Kakak dengan Kak Enja? Bukankah keluarga kita tidak memandang status sosial dan juga fisik maupun yang lainnya?" tanya Kalla yang terus ingin mengetahui secara detail.
"Karena waktu itu Papa dan Mama melarang keras untuk menjalin hubungan bersama perempuan lain, Papa meminta Kakak untuk fokus dengan karir. Makanya, Papa mengirimkan Kakak ke Amerika untuk melanjutkan pendidikan Kakak serta ikut mengurus kerja sama bersama Paman Viko." Ucap Daka memberi penjelasan kepada sang adik.
Disaat itu juga, Kalla yang mendengar curhatan dari sang Kakak pun mulai tersentuh hatinya atas perjuangan dari seorang Kakak untuk tetap bertahan dengan cintanya demi menuruti kemauan dari orang tuanya.
"Jadi waktu Kakak berangkat ke Amerika itu, Kak Enja sudah celakaan?" tanya Kalla yang masih penasaran.
"Iya, Kakak terpaksa berangkat. Dan disaat itu juga, Kakak tidak bisa mengawasi keadaan Enja. Pengeluaran Kakak saja dibatasi, bagaimana Kakak bisa membantu kebutuhan anak anak panti, dan juga kebutuhan Enja yang sudah tidak lagi bisa bekerja." Ucap Daka memperjelas cerita yang sesungguhya.
Lagi lagi Kalla yang mendengarnya pun merasa prihatin atas pengawasan dari orang tuanya yang cukup ketat dan tidak bisa berkutik.
"Karena Papa tidak ingin Kakak akan dimanfaatkan oleh perempuan, serta akan menjadi budaknya. Disitulah, Kakak hanya bisa melewati hari hari Kakak dengan kerja dan bekerja hingga pada titik keberhasilan." Ucap Daka yang juga tidak merasa keberatan ketika dimintai untuk menjawab pertanyaan dari sang adik.
"Tapi sekarang Kakak sudah mendapatkan kebebasan dari Papa, 'kan?" Kalla masih terus bertanya. Entah kenapa, Kalla merasa asik ketika mendengar penjelasan dari sang Kakak.
"Sudah, semua Kakak lah yang mengendalikannya. Yang Papa tahu hanya mengawasi saja, tidak lebih." Kata Daka.
'Aku yakin jika Papa sudah mengetahui hubungan Kak Daka dan Kak Enja, dan keduanya memang sengaja tengah diuji oleh Papa. Dan aku tidak percaya jika Papa tidak mengetahuinya, mustahil.' Batin Kalla mencoba untuk menebaknya.
"Kak Daka benar benar hebat, sekarang sudah waktunya untuk Kakak berterus terang pada Mama dan Papa atas hubungan Kakak dengan Kak Enja. Agar secepatnya mendapat penanganan khusus untuk Kak Enja." Kata Kalla mencoba untuk memberi saran kepada sang Kakak.
"Tidak semudah itu, Kalla."
__ADS_1
"Maksud Kakak?"
"Kakak masih ragu untuk berterus terang dengan Papa dan Mama, Kakak takut jika Papa akan menentang keras hubungan Kakak dan Enja." Kata Daka dengan ragu.
"Kakak belum mencobanya. Jika Papa menentang keras, Kalla yang akan menjadi pembela Kakak."
"Terlalu pendek cara berpikirnya kamu, hem."
"Kalla kan cuma memberi saran, apa salahnya untuk mencobanya." Ucap Kalla yang terus memberi semangat untuk sang Kakak.
"Sudah lah, kamu tidak perlu ikut memikirkannya. Biar Kakak aja yang akan menyelesaikan masalah Kakak sendiri, kamu cukup doakan Kakak kamu ini saja." Kata Daka.
"Hem, apa salahnya jika Kalla ikut berperan untuk menjadi pengingat untuk Kakak." Ujar Kalla penuh harap.
"Terserah kamu aja, sekarang sudah waktunya untuk melanjutkan pekerjaan kita. Ayo, kita kembali ke ruangan kerja." Ajak sang kakak, Daka pun segara bangkit dari posisinya dan keluar dari ruangan tersebut diikuti oleh sang adik dari belakang.
Dengan jalannya cukup lebar, Kalla terburu buru mengejar langkah kaki Daka. Bagi Kalla sangat privat untuk membeberkan dirinya untuk menunjukkan identitasnya didalam Kantor nika dirinya adalah adik dari pemilik perusahaan yang cukup terkenal itu.
"Kak Daka sekali kali jalannya kek siput napa, agar kaki Kalla ini tidak capek bin lempoh." Ucap Kalla sedikit berbisik sambil menggandeng lengan Daka layaknya sepasang kekasih dimata para karyawan yang lainnya.
"Hem, tidak usah lebay juga sikap kamu ini. Jalannya juga biasa aja, kenapa. Tenang, di Kantor ini tidak ada yang berani mendekati Kakak kamu yang ganteng ini." Kata Daka yang juga dengan suaranya yang lirih.
"Biarin aja, Kalla mau melindungi kekasih Kak Enja dari godaan perempuan lain. Kalla tetap dukung Kak Enja, titik. Jika ada yang menggoda Kak Daka, maka akan berurusan dengan Kalla Danuarta." Ucap Kalla dengan rasa percaya dirinya ketika sudah berada didepan pintu ruang kerjanya.
"Tumben kamu berpihak dengan Kakak, hem." Sahut Daka, kemudian ia langsung membuka pintunya dan masuk kedalam ruangannya diikuti Kalla dari belakang.
__ADS_1