Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Kejujuran


__ADS_3

Karena rasa penasarannya yang terus menghantui pikirannya, Lunika mendekati sebuah benda yang mengerikan itu.


"Pistol, yang benar saja. Kenapa ada pistol didalam kamar, apakah dia seorang penjahat? rampok, maling, atau ... mafia. Tidak! jika ia, maka habis lah riwayatku. Jangan jangan ... aku mau disingkirkan, tidak!!!!!" gumamnya dan diakhiri dengan teriakan.


CTAk!!


"Aw! sakit, tau."


"Ngapain kamu teriak kencang, seperti orang tidak jelas saja kamu ini."


Dengan cepat, Lunika meraih benda yang membuatnya curiga.


"Ini, ini apaan? katakan padaku sekarang juga. Kamu itu sebenarnya siapa? rampok, maling, garong, atau ... mafia kelas kakap. Cepat! cepat katakan padaku, katakan yang sejujurnya sekarang juga. Atau ... pelatuk ini akan melayang ke arah kamu." Tanya Lunika mendesak, kemudian mengarahkan sebuah bibir pistol ke kening suaminya yang ia kira bukanlah orang baik.


"Lakukan, jika kamu bisa melakukannya." Sahut Rayan dengan santai dan dengan senyumnya yang khas. Sedangkan Lunika sendiri dibuatnya bingung, ia pun tidak menyadari akan aksi kenekatannya dalam mengoperasikan sebuah pistol.


"Kenapa masih diam? lakukan jika kamu ingin melakukannya, dan jangan menyesali setelah itu." Ucap Rayan sambil tersenyum.


"Nih, aku tidak jadi. Percuma juga aku membu*nuh kamu, apa untungnya buatku." Sahut Lunika dan menyerahkan pistolnya pada sang suami.


"Ini pistol hanya untuk berjaga jaga, tidak untuk kejahatan. Karena aku takut akan ada yang melukaimu, hanya itu. Nih, tadi aku beli makanan ringan untuk kamu. Makanlah, agar kamu tidak sendirian. Biasakan untuk berada di rumah sendiri, tidak ada pelayan maupun pekerja yang lainnya. Jadi, gunakan waktumu sebaik mungkin untuk mengenaliku. Agar kamu terbiasa melakukan keseharianmu di rumah ini, apakah kamu sudah mengerti? jika belum, itu resikomu sendiri." Ucap Rayan, kemudian menyodorkan sebuah belanjaan dari mini market.


Dengan tatapan yang masih penuh kesal, dengan terpaksa Lunika menerimanya. Kemudian, ia duduk disofa dan meletakkan belanjaan dari suaminya.


"Kalau mau makan, makan lah di ruang santai. Ini kamar, tempatnya untuk beristirahat dan ... kamu pasti tahu sendiri gunanya kamar itu untuk apa. Jadi, tidak perlu aku jelaskan kamu dapat mengartikannya sendiri." Ucap Rayan dengan senyum menggoda, Lunika hanya menelan ludahnya kasar.


"Da*sar! me*sum." Sungut Lunika asal menebak, kemudian ia memilih mengambilnya kembali belanjaan yang baru saja ia letakkan diatas meja. Kemudian pindah ruangan untuk bersantai dan menikmati jajanan dari suaminya. Sedangkan Rayan sendiri pura pura tidak mendengarnya dan memilih melepas jaketnya dan mengganti pakaian santainya.

__ADS_1


"Kenapa juga aku mesti tersesat disini, seharusnya aku masih bersama Niko bermain bersama. Mana TV nya sudah tua gini, layarnya yang buram apa penglihatanku yang sudah kabur. Perasaan aku masih sehat dan juga tidak ada keluhan apapun deh, dih! benar benar suami kejam dianya. Tunggu, nanti malam aku tidur dimana?" gumam Lunika tanpa ia sadari sudah ada sang suami dibelakangnya selama dirinya menggerutu.


"Tidurnya satu kamar denganku, dan juga satu tempat tidur denganku. Jadi, siapkan mentalmu mulai dari sekarang untuk menjadi istriku." Ucap Rayan mengagetkan yang tiba tiba duduk disebelahnya.


"Aku tidak mau tidur denganmu, lebih baik aku tidur dilantai saja." Sahutnya dengan sungut.


"Terserah kamu saja, aku mau istirahat. Karena malamku harus bekerja, bukan untuk bercinta di dalam kamar." Ucap Rayan, sedangkan Lunika hanya menatapnya geram.


"Dih! siapa juga yang mau bercinta denganmu, kepedean." Sahut Lunika dengan ketus, sedangkan Rayan tidak menggubris celotehan dari suaminya dan memilih untuk beristirahat.


Berbeda ditempat yang dimana ada beberapa orang yang tengah sibuk membicarakan sesuatu, siapa lagi kalau bukan mengenai masalah yang tidak kunjung selesai.


"Cepat! tunjukkan identitasnya padaku, siapa lelaki itu sebenarnya. Apakah ada dalang dibalik lelaki misterius itu, cepat! tunjukan padaku." Perintahnya dengan emosinya yang sudah memuncak.


"Ba -- baik, Bos. Ini identitas lelaki yang Bos inginkan, saya sudah mendapatkannya." Jawabnya sedikit terbata, kemudian menyodorkan sebuah bukti pada Bosnya dengan tubuhnya yang gemetaran.


"Sial! benar benar sial, aku harus menghadapi lelaki misterius itu. Aku pastikan, dia akan ikutan lenyap ditanganku."


"Pengawal!!" panggilnya dengan lantang.


"Iya Bos, apa yang harus saya lakukan."


"Kamu sedang tidak salah membawa buktinya 'kan?" tanyanya dengan sorot matanya yang tajam.


"Tentu saja saya tidak salah mengambil sidik jarinya, Bos." Jawabnya dengan gugup.


Karena prustasi tidak bisa mendapatkan hasil yang memuaskan, sebuah peluru melayang ke arah sebuah Gucci yang begitu bagus modelnya. Dengan sekali hempasan, sebuah Gucci telah terbelah berkeping keping hanya dengan sekali tembakan.

__ADS_1


Semua anak buah yang menyaksikannya pun sangat ketakutan mendapati seorang Bos begitu menakutkan ketika sedang dalam mode emosi yang memuncak.


Berbeda di rumah yang cukup sederhana, namun begitu megahnya isi dalam kamarnya. Rayan masih dengan pulasnya ketika sedang tidur, berbeda dengan Lunika yang terasa hampa di ruang santai. Bahkan jajanan yang dibelikan suaminya habis tak tersisa, hanya bungkusan bungkusan yang berada diatas meja.


Tidak terasa sudah hampir siang hari, Rasa kantuk karena bosan hanya duduk sambil mengemil dan menonton televisi. Hingga akhirnya Lunika tertidur diatas sofa dengan pulasnya.


Rayan yang terbangun dari tidurnya, ia segera mencuci mukanya. Setelah itu, dilihatnya jarum jam yang menunjukkan sudah waktunya untuk makan siang. Masih dengan menguap, Rayan mencari keberadaan istrinya yang entah dimana posisinya.


Saat berada di ruang santai, Rayan mendapati istrinya yang tengah tertidur pulas. Dilihatnya wajah polosnya yang tidak pernah berubah, diusap nya pipi kanannya dengan lembut.


"Bersabarlah, ada waktunya untukmu bahagia tanpa harus berada dalam ketakutan." Gumamnya, kemudian menggendongnya sampai didalam kamar.


Dengan pelan, Rayan menurunkan istrinya di atas tempat tidur. Lalu membelai rambutny yang panjang, dan menyelipkannya dibalik daun telinganya. Perlahan, Rayan mendekatkan wajah tepat pada wajah istrinya. Ditatapnya wajah istrinya dengan intens, bahkan tidak terlewatkan sedikitpun.


Seketika, Lunika membulatkan kedua bola matanya tatkala dirinya tengah melihat siapa yang ada dihadapannya saat ini. Bahkan sepasang netranya telah saling bertemu, detak jantungnya pun semakin tidak karuan. Dengan sigap, Rayan segera menahan kedua tangan milik istrinya agar tidak dapat bergerak sedikitpun.


"Lepaskan! aku bilang, jangan sentuh aku. Aku mohon, jangan sentuh aku sedikitpun. Kamu memang suamiku, tapi aku belum siap untuk merelakan siapapun menyentuhku."


"Kenapa? apakah kamu masih memikirkan suami kamu yang sudah meninggal?" tanyanya menyelidik.


"Kalau iya, kenapa?"


"Tidak apa apa, aku hanya bertanya saja. Aku salut denganmu, rasa cinta yang kamu jaga benar benar menunjukkan berapa besarnya rasa cintamu pada suami kamu, yakni Zicko." Jawabnya.


Rayan pun akhirnya duduk disebelah istrinya, kemudian membuang muka ke sembarang arah. Sedangkan Lunika segera membenarkan posisinya dan keduanya duduk bersebelahan.


"Aku bukan seorang perempuan yang mudah untuk menyakiti pasanganku, meski sudah meninggal dunia sekalipun. Maaf, jika kejujuranku ini membuatmu kesal dan kecewa. Setidaknya aku sudah berkata jujur pada seseorang, yakni suamiku yang sekarang." Ucap Lunika berterus terang, meski kejujurannya akan menyakiti pasangan barunya, pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2