Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Penasaran


__ADS_3

Dey yang mendapat pesan dari sang ayah, ia mengangguk.


"Iya Pa, Dey akan berusaha sebaik mungkin untuk mengembangkan Perusahan ini." Jawab Dey meyakinkan sang ayah, lagi lagi Dey tidak dapat menyembunyikan rasa sakit pada bagian pinggangnya yang masih dirasa sakit dan nyeri.


"Dey, pinggang kamu masih sakit?" tanya sang ayah yang melihat putranya meringis menahannya.


"Tidak begitu sakit kok, Pa." Jawab Dey meyakinkan, meski yang sebenarnya tengah berbohong pada sang ayah dan juga pamannya.


"Tidak!!!" teriak Vey dari balik ruangan. Semua terkejut mendengarnya, kemudian saling melempar pandang satu sama lain secara bergantian.


"Paman," panggil Vey yang mendadak bengong saat melihat ada tiga sepasang mata yang tengah menatapnya.


"Vey, kamu sudah bangun?" tanya Tuan Zayen.


"Iya, Paman. Oh iya, disebelah Paman Zayen siapa? keponakan Paman?" tanya Vey yang tidak lagi memanggilnya dengan sebutan Bos.


"Kemarilah, kalian berdua harus saling mengenal. Siapa tahu saja, kalian berdua sangat cocok untuk berteman." Jawab Tuan Zayen mengajak Vey untuk mendekati keponakannya.


"Vellyn, ayo perkenalkan diri kamu. Kalian berdua masih bau saudara loh, ya ... meski sangat jauh. Sambung menyambung, tetapi kalian berdua bersaudara." Perintah Tuan Zayen dan menjelaskannya kepada keponakannya yang bernama Vellyn.


"Perkenalkan, namaku Vellyn. Aku adiknya kak Deynan, tuh orangnya. Dan ini, Papa kesayanganku." Ucap Vellyn memperkenalkan diri dengan cara mengulurkan tangannya, Vey pun menerimanya dan keduanya saling berjabat tangan.


"Namaku Vey, nama jelasnya Raveyza. Paman Zayen adalah Pamanku, meski aku dari keluarga yang sangat jauh sekalipun." Jawab Vey yang juga memperkenalkan dirinya.


"Senang berkenalan denganmu, apakah kamu ada waktu untukku?" ucap Vellyn yang tiba tiba menyimpan rasa penasaran pada sosok Vey.


"Waktu, tentu saja ada. Karena aku belum memiliki jabatan apapun di Kantor ini, aku hanya karyawan biasa. Jadi, aku mempunyai banyak waktu untuk Nona." Jawab Vey mencoba menghormati bagian keluarga Wilyam.

__ADS_1


"Jangan panggil aku Nona, panggil saja namaku. Kita kan masih saudara kata Paman Zayen, Iya 'kan?"


"Iya Vey, jangan panggil Vellyn dengan sebutan Nona. Panggil saja namanya, itu jauh lebih enak dan tidak merasa canggung." Ujar Tuan Zayen menimpali.


"Iya, Paman. Vellyn, ayo ikut aku. Nanti aku tunjukkan tempat tempat yang ada di Kantor ini, termasuk kantin." Ajak Vey pada Vellyn.


"Baik lah, dengan senang hati." Jawab Vellyn dengan senyum mengembang.


Sedangkan Dey yang mendengarnya pun merasa lega, dikarenakan tidak lagi berhadapan dengan Vey yang menurutnya sangat menyebalkan.


Setelah keluar dari ruang kerja milik Dey, Vey segera mengajak Vellyn untuk berkeliling di area Kantor tersebut.


Kini di dalam ruangan tinggal lah Dey bersama sang ayah dan pamannya, disaat itu juga Zuko telah datang dengan tepat waktu.


"Maaf Pa, Zicko datang terlambat. Sudah diskusi dari tadi, ya? jalanan macet total." Ucap Zicko sambil mengatur pernapssannya setelah berlari sepanjang turun dari mobil hingga sampai ke ruangan kerjanya dahulu.


Setelah dirasa cukup tenang, Zicko menarik nafasnya pelan dan membuangnya dengan pelan juga.


"Kamu tidak sedang dikejar bidadari, 'kan?" tanya Dey sambil memperhatikan penampilan Zicko dari atas hingga bawah.


"Hem, bidadari dari hongkong kamu bilang." Sahut Zicko sambil melepas jasnya karena merasa gerah. Terlihat jelas postur tubuhnya yang tidak kalah tampannya dengan Dey.


'Cih! benar adanya, rupanya lelaki yang sudah menikah akan terlihat sempurna penampilannya. Meski kolor ijo sekalipun yang menempel pada kulitnya.' Batin Dey yang entah kemana arah tujuannya melamun.


"Ngelamun aja kamu Dey, ayo kita pindah tempat. Bukan disini tempatnya, tetapi di ruangan khusus untuk membicarakan soal pekerjaan." Ucap Zicko mengagetkan.


"Aw! sialan ini pinggang," pekik Dey menahan rasa sakitnya.

__ADS_1


"Kata kamu sudah mendingan, hem. Kamu pasti berbohong, jawab jujur." Ucap sang ayah mendesak.


"Srius, Pa. Namanya juga baru diurut, mana ada ceritanya langsung sembuh. Pasti pelan pelan sembuhnya, Pa." Jawab Dey beralasan.


"Terserah kamu aja, yang merasakan sakit kan kamu." Ucap sang ayah setengah menakuti, kemudian segera keluar dari ruangan tersebut.


"Papa kamu itu tidak bisa dibohongi, jangan banyak alasan untuk menjawab pertanyaan dari Papa kamu. Karena apa? karena bisa jadi orang tuamu tidak akan pernah bisa mempercayaimu, ingat pesan Paman kamu ini." Ucap Tuan Zayen mengingatkan.


Disaat itu juga, Dey merasa bersalah atas alasan yang ia ucapkan untuk menjawab pertanyaan dari sang ayah. Meski jawaban itu sangat spele sekalipun.


"Sialan! ini semua gara gara perempuan tengil tadi, membuatku pinggangku terasa sakit yang mematikan untuk bergerak." Umpatnya sambil menahan rasa sakitnya.


Mau tidak mau, Dey segera menyusul ke ruangan privat yang dijadikan untuk melakukan pertemuan. Dey ditemani oleh orang kepercayaan dari Tuan Zayen sampai ke tempat tujuan.


Sedangkan dilain tempat, semua tengah disibukkan dengan pekerjaannya masing masing. Tidak hanya itu, Vey sendiri tengah disibukkan oleh keponakan Tuan Zayen untuk menemaninya berkeliling kantor.


"Vey, apakah kamu sudah lama bekerja di Kantor ini?" tanya Vellyn sambil berjalan beriringan.


"Sejak sekretarisnya mengundurkan diri, disaat itulah aku ditarik untuk bekerja di Kantor ini." Jawabnya dengan santai, Vellyn sendiri masih menyimpan rasa penasarannya.


"Oooh, begitu ya. Kok aku tidak pernah melihat kamu, padahal aku tinggal bersama Paman Zayen dan juga kak Zicko loh. Katanya kamu saudaranya, tapi aku tidak pernah melihatmu. Kalau boleh tau, siapa nama orang tua kamu? mungkin saja aku bisa menebaknya."


"Bukankah Paman Zayen sudah mengatakannya sendiri, jika aku adalah keluarga yang sangat jauh. Maksud aku, sambungannya. Entah lah, aku sendiri tidak tahu menahu soal kekeluargaan yang sambungannya jauh. Yang aku tahu, Paman Zayen adalah bagian keluargaku. Kalau soal orang tuaku, aku sudah tidak memiliki orang tua. Ibu mapun Ayah sudah meninggal, dan sekarang aku hanya anak yatim piatu." Jawab Vey menjelaskan.


"Apa lagi aku, mana aku tahu juga. Aku sendiri tidak tahu menahu soal silsilah keluarga Wilyam dan keluarga Danuarta, karena aku sendiri telah lama tinggal di luar Negri." Ucapnya.


"Apakah kamu mengenal kakek Dika? tapi ... Beliau sudah berpulang lama, karena sakitnya." Tanya Vey yang tiba tiba teringat dengan sosok kakek yang pernah memberi kasih sayang padanya.

__ADS_1


"Kakek Dika? aku mengenalnya, bahkan masa kecilku aku sering diajak kakek aku untuk main kerumah kakek Dika. Iya, aku pun sudah tahu jika kakek Dika sudah berpulang. Aku pun merasa sangat kehilangan dengan kakek Dika, namun takdir telah berkata lain. Oh iya, apakah kamu cucu dari kakek Dika?" tanya Vellyn mencoba untuk menebaknya.


__ADS_2