
Masih di ruang tamu, posisi masih belum juga berubah. Tuan Guntara, kakek Dana, kakek Alfan, kakek Ganan, dan juga yang lainnya masih menyimpan rasa penasarannya.
Semua tidak ada yang berucap sepatah katapun. Semua hening ketika istri kakek Dana berbicara akan menceritakan semuanya.
"Elin, apa yang ingin kamu ceritakan?" tanya kakek Ganan akhirnya membuka suara karena beliau sudah tidak sabar untuk menunggunya.
"Begini, aku berharap semuanya akan tenang. Apapun itu, tenanglah. Aku akan menceritakan sesuatunya, dan aku berharap untuk tetap tenang." Jawabnya.
"Baiklah, ayo ceritakan." Perintah kakek Ganan yang sudah siap untuk mendengarkannya, begitu juga dengan yang lainnya yang sudah antusias untuk ikut mendengarkannya.
"Sebenarnya Lunika atau putriku, dia bukanlah putriku yang sesungguhnya."
"Apa!!!" teriak kakek Tirta dengan reflek.
"Diam, Tuan. Apa tuan tidak mendengarkanku berbicara? jangan menyahut sepatah katapun saat aku sedang berbicara maupun bercerita." Ucapnya, sedangkan tuan Tirta hanya mengangguk.
"Lanjutkan saja, jangan menghiraukan jika ada yang menyahut." Ucap kakek Ganan menimpali.
"Begini ceritanya, Lunika memang lah bukan putri kandungku. Aku menemukannya ketika ada sosok gadis kecil tengah berlari dengan ekspresi ketakutan.
Flash back on
Disaat itu ibu Ruminah alias Elin tengah berada dijalanan yang cukup ramai, semua orang banyak yang lalu lalang kesana kemari lewati pinggiran jalan tanpa berkendara. Tidak hanya itu, banyak para pedagang kaki lima yang tengah menjajakan dagangannya. Entah ada sebuah acara apa, jalanan tiba tiba dipadati oleh para pedang kaki lima maupun pedagang lainnya.
Ketika semua berubah mendadak ramai, tiba tiba banyak anak jalanan yang tengah mengamen. Namun entah ada angin apa setelah cukup lama acara yang diselenggarakan berjalan dengan lancar, tiba tiba datanglah dari pihak satpol PP tengah mengepung jalanan tersebut.
Tidak hanya anak anak jalanan saja yang mencari keselamatan, para pedagang kaki lima pun ikut cemas dan segera angkat kaki dari lokasi tersebut.
"Tolong! tolong, aku." Teriak anak anak jalanan berulang ulang untuk mencari pertolongan serta keselamatannya. Semua telah berhamburan, tidak ada satupun para pedagang kaki lima yang dapat menyelamatkan dagangannya.
"Hei gadis kecil ... kamu jangan takut, ayo ikut bapak." Tawar dari seseorang yang tidak dikenalnya dan mulai mendekati serta menarik tangannya.
BUG!!!
Akhirnya! sebuah tendangan dari gadis kecil tersebut melayang kearah barang berharga milik laki laki yang terlihat menyeramkan.
__ADS_1
"Tolong ... tolong, aku takut. Tolong ... ada penculik." Teriaknya gadis kecil dengan keras sambil berlari sangat kencang.
Dengan nafasnya yang terengah engah karena mendapat kejaran dari sosok laki laki yang terlihat sangat menakutkan. Gadis kecil tersebut langsung bersembunyi dibalik sosok perempuan paruh baya.
Karena mengetahui seorang gadis kecil terlihat ketakutan, perempuan tersebut segera mengajaknya ke tempat yang sepi.
"Gadis kecil, kamu kenapa sayang? apakah ada yang jahat denganmu? ayo, katakan pada Ibu." Tanyanya sambil berjongkok dihadapan gadis itu.
"Nika takut, Nika takut dengan orang jahat tadi, Bu." Jawabnya yang kemudian memeluknya sangat erat dengan gemetaran.
"Ya sudah, lebih baik kamu ikut saja dengan Ibu ke rumah. Nanti kalau sudah aman, ibu akan mengantarkan kamu pulang." Ajaknya menenangkan, gadis itu hanya mengangguk.
Sesampai di rumah, gadis itu mulai sedikit tenang. Rasa takut yang tengah menguasainya mulai sedikit berkurang.
"Oh iya, nama kamu siapa Nak?" tanyanya.
"Namaku ... nama -- ku, namaku Ve -- ro -- nika." Jawabnya terbata bata.
"Ooh Veronika? nama yang cantik, seperti kamu. Kalau ibu, nama ibu Ruminah. Kamu panggil saja Ibu, rumah kamu dimana?" tanyanya lagi.
Ibu Ruminah yang mendengar dan melihatnya pun langsung memeluknya.
"Malang sekali nasib kamu, sayang." Ucapnya sambil membelai rambutnya.
"Ibu, Nika tidak mau pulang. Nika takut, Nika takut sama bang Martha dan Cece. Nika boleh tinggal sama Ibu, 'kan?" ucap Nika sambil menangis sesenggukan.
"Tapi ... kalau Ibu ketahuan pak polisi bagaimana? tapi, kasihan juga kamu. Jika kamu sudah besar, kamu pasti akan dimanfaatkan. Baiklah, Ibu menerimamu untuk tinggal di rumah ibu. Nanti, ibu mau minta tolong sama ibu Arum untuk mengakui keponakannya dari daerah sebrang." Jawab ibu Ruminah.
"Ibu tidak bohong 'kan?" tanya Nika dengan girang.
"Tentu saja, nanti Ibu akan memanggil Ibu Arum untuk dimintai tolong. Kamu sekarang mendingan bersihkan badan kamu, nanti ibu pinjamkan baju anaknya ibu Arum." Jawab Ibu Ruminah dan tersenyum.
Flash back of
"Seperti itu ceritanya tuan Ganan, sepertinya Lunika adalah gadis yang terpisah dengan orang tuanya." Ucap istri kakek Dana menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
"Yang harus kita cari adalah bang Martha yang disebutkan tadi. Aku rasa orangnya masih ada di Kota ini, kita kerahkan semua anak buah kita untuk menyelidikinya sampai ke akar akarnya. Untuk sementara sampai hasilnya membuktikan kebenarannya, kita tetap menahan anak dan istri dari tuan Guntara." Ucap kakek Alfan memberikan sebuah ide yang menurutnya sangat tepat.
"Kalau menurutku, lebih baik tuan Guntara kita kawal ke rumah sakit untuk dilakukan tes DNA. Agar permasalahannya cepat terungkap, kita tidak mempunyai waktu yang lama." Ujar kakek Tirta menimpali.
"Benar, benar sekali apa yang dikatakan tuan Tirta. Bagaimana menurutmu, tuan Guntara?" Ucap kakek Ganan dan bertanya.
"Guntara, apa yang dikatakan kakek Tirta itu sangat benar. Soal Lunika, biar kakek Ganan dan Zayen yang mengatasinya. Tenang saja, banyak penyelidik dari anak buah Viko yang sangat handal dalam hal ini." Ucap kakek Dana yang juga memberi saran pada adiknya.
"Baik, Kak Dana. Aku akan melakukannya.
Tanpa disadari, sudah ada sosok yang tengah berdiri mendengarkan obrolan di ruang keluarga.
"Maaf, aku datang terlambat." Ucap seseorang yang tiba tiba datang mengejutkan.
"Kakak Seyn! kamu, akhirnya datang juga." Panggil Zayen pada kakak laki lakinya.
"Aku sudah menemukan jalan keluarnya, Zicko telah menghubungiku dan menceritakan semuanya. Kebetulan, aku sudah mendengarnya. Lunika! iya, Lunika yang dimaksud Veronika, 'kan? kenapa semuanya tidak ada yang tersentuh dengan nama Veronika adalah Lunika? kenapa tidak sekalian dilakukan tes DNA?"
DUAAARRRR!!!
Seketika, semua mendadak tercengang mendengarnya. Semuanya baru tersadar dari obrolannya sendiri, bahkan tuan Guntara sendiri baru menyadarinya ketika Lunika berteriak ketika menyebut nama Veronika. Bahkan, istri dari kakek tuan Dana sendiri pun tengah menyebutkan siapa Lunika yang sebenarnya.
"Lunika? iya! Lunika." Ucap semuanya serentak.
Disaat itu juga, Zicko dan Lunika sudah berdiri dan ikut mendengarkannya. Namun, Lunika masih sulit untuk menerima kenyataan yang menurutnya sangat lah rumit.
Istri kakek Dana yang tidak lain ibunya Lunika, kini mendekati putrinya.
"Sayang, kamu sudah mendengarkannya? ibu minta sama kamu, ikutilah permintaan ibu. Bukankah kamu merindukan seorang Ayah? seorang ibu?" tanyanya sambil mengusap lengan Lunika.
"Tapi, Bu ..."
"Tidak ada tapi tapian, sayang ... semua demi kebahagiaan kamu." Ucap Zicko menimpali, Lunika yang mendengarnya pun hanya bisa pasrah dan menganggukkan kepalanya.
Maaf ya, Readers ... untuk notif END nya lagi eror lagi kaya yang dulu. Novel ini masih tetap up ya... nanti kalau memang tamat akan ada pengumuman diakhir cerita, dan tentunya ada tulisan Tamat diakhir cerita.
__ADS_1
Salam bahagia... semangat membaca