
Waktu yang begitu cepat, tidak terasa sudah dua tahun usia Niko Wilyam. Keseharian Lunika tidak lepas dari buah hatinya dari masih bayi hingga sudah berusia dua tahun. Semakin hari waktu pun terus berganti, begitu banyak yang dilalui oleh Lunika bersama Niko di kediaman keluarga Tuan Zayen. Ditambah lagi dengan pertumbuhan Niko yang semakin aktif dalam kesehariannya. Membuat Lunika semakin ksalahan menghadapi putranya yang super aktif dan sulit untuk diam, ada saja sesuatu yang membuatnya gemas.
Lunika yang baru saja selesai membersihkan diri, tiba tiba ia dikagetkan dengan sebuah pesan. Segera ia meraih ponselnya diatas nakas, dan melihatnya siapa yang mengirimnya sebuah pesan untuk nya.
"Apa!! reuni anak anak sekolah? jangan lupa bawa pasangan? hem, tidak masalah. Aku ada Niko sebagai jagoanku, pasti beda dari yang lain." Gumamnya, namun tiba tiba raut wajahnya berubah sedih dan kembali teringat akan sosok suaminya. Ditambah lagi ketika menghadiri acara pernikahan sahabatnya, dan dirinya harus menerima kenyataan pahit karena penghianatan dari seorang sahabat yang disangkanya baik. Namun kenyataannya begitu busuk dibelakangnya.
"Aku absen lagi apa, ya? tapi ..." gumam Lunika sambil menatap pada cermin.
"Kenapa kamu terlihat sedih, Lun? apakah kamu ada masalah?" tanya sang ibu mertua mengagetkan. Lunika pun kaget dibuatnya, segera ia membalikkan tubuhnya dan menghadap pada ibu mertuanya.
"Mama, tidak ada apa apa. Ini, Lunika dapat pesan dari teman sekolah, bahwa besok ada acara reuni teman sekolah di sebuah Hotel milik teman Lunika." Jawab Lunika dengan gugup.
"Kenapa kamu jadi gugup? Mama tidak melarangmu untuk ikut berbaur bersama teman teman kamu, kamu berhak beradaptasi dengan yang lainnya. Lagian juga kamu tidak pernah keluar rumah, kecuali mengajak Niko berlibur. Itupun didampingi Mama dan Papa, iya 'kan?"
"Lunika sudah nyaman berada di dalam rumah Ma, Lunika tidak mengharapkan kebebasan. Asalkan bersama Niko saja sudah sangat bahagia, meski selalu berada di dalam rumah." Jawab Lunika kembali teringat akan sosok suaminya yang sudah melekat pada jiwanya.
__ADS_1
"Mama mengerti, tapi ... apakah kamu akan terus terusan seperti ini? mengurung diri didalam rumah? kamu berhak mendapatkan kebahagiaan selanjutnya, sayang." Ucap sang ibu mertua sedikit merasa takut jika Lunika akan mengurung diri terus menerus.
"Ma, Lunika sudah bahagia dengan keadaan yang seperti ini bersama Niko. Ma, yakinlah Putra Mama tidak akan tergantikan sampai kapanpun, dihati Lunika hanya ada nama Zicko, tidak untuk yang lain." Jawab Lunika yang dapat mengerti apa yang dimaksudkan oleh ibu mertuanya.
"Mama mengerti perasaan kamu, Mama juga tidak melarang kamu untuk pergi dan berkumpul dengan teman teman kamu. Mama percaya, jika kamu mampu menjaga diri. Dan Mama maupun Papa tidak melarang kamu untuk ... untuk mencarikan figur seorang ayah untuk Niko. Maaf, jika ucapan Mama ini lancang. Mama hanya ingin memberi kebebasan untuk kamu, lagi pula kamu sudah dua tahun sendirian." Ucap sang ibu mertua dengan sangat hati hati, takut akan melukai perasaan menantunya. Mau bagaimanapun, Lunika tetap menantunya, yakni sudah menjadi bagian keluarga Tuan Zayen.
"Iya Ma, Lunika tahu apa yang Mama maksudkan. Lunika hanya ingin fokus pada Niko, karena Niko sangat membutuhkan banyak perhatian dari Lunika." Jawab Lunika berusaha untuk tetap terlihat tenang, meski dirinya begitu gelisah saat dirinya akan memasuki masa masa yang dimana dirinya akan memperkenalkan diri pada putra kesayangannya.
"Ya sudah, itu hak kamu. Mama hanya mendukungmu, dan juga memberi semangat untuk kamu dan juga Niko. Kalian berdua ada nafas dari bagian keluarga Papa dan Mama. Oh iya, sekarang sudah waktunya makan malam. Kalau begitu, ayo kita turun. Soal Niko, sudah tidur pulas tadi bersama mbak Lena." Ucap sang ibu mertua, dan mengajaknya untuk makan malam.
Lunika yang hendak membalas pesan dari teman sekolahnya, ia memijat pelipisnya yang terasa berat untuk memilih antara berangkat atau menghindari.
"Ikut tidak, ya? jika aku ikut, terus ... apa kata teman temanku. Semua pasti akan menghinaku habis habisan, bahkan bisa jadi semua akan memojokkan aku." Gumam Lunika sambil membayangkan sesuatu yang pernah ia alami ketika menghadiri acara pernikahan sahabatnya, yakni Hana.
"Ah, lebih baik aku absen saja. Andai saja, kamu masih ada. Mungkin aku tidak lagi gelisah seperti ini, tapi ... apa dayaku yang harus menerima takdir menjadi seorang janda. Aku tidak mungkin untuk lari dari kenyataan ini, aku harus siap segala resikonya. Apapun itu, aku harus berani menghadapinya. Jika aku teryata terusan berada didalam rumah ini, mana bisa aku melihat dunia luar yang orang bilang sangat kejam. Semoga saja, aku bisa mendapatkan titik terang akan nasib baik untukku dan putraku." Gumam Lunika sambil menatap pada cermin, lagi lagi bayangan suaminya kembali muncul. Seketika, Lunika segera menepis pikirannya yang tidak karuan.
__ADS_1
Karena tidak ingin larut dalam lamunannya, Lunika segera keluar dari kamarnya untuk makan malam bersama mertuanya.
Dilihatnya ruang makan yang biasa ia duduk bersama sang suami, kini hanya sebuah kenangan yang tertinggal.
"Loh, kok melamun? sini duduk, ayo kita makan malam bersama. Malam ini Mama meminta pelayan untuk menghidangkan makanan kesukaan kamu, bebek bakar. Sudah lama kamu tidak menikmatinya, 'kan?"
DEG!
Seketika, Lunika kembali teringat makanan kesukaan suaminya. Dengan senyum yang dibuat, Lunika duduk dihadapan ibu mertuanya.
"Ayo, kita makan. Nanti keburu dingin Bebek bakarnya loh, bisa hambar nanti rasanya. Mama tahu, kamu dan Zicko sama sama menyukai bebek bakar, 'kan? tidak perlu kamu menghindarinya. Kamu harus bisa untuk membiasakan kembali, jangan menghindari. Kalau kamu menyembunyikannya, yang ada kamu akan tersiksa batin kamu." Ucap sang ibu mertua yang tidak ingin Lunika menjadi sempit jalan pikirannya.
"Iya Ma, Lunika akan mencobanya." Sahut Lunika berusaha untuk tetap tenang, meski terasa sesak didalam dadanya.
"Iya Lun, kamu jangan menyiksa diri. Kamu berhak untuk selalu menjaga cintamu pada Zicko, tapi kamu juga harus bisa menyikapinya. Jadi mulai sekarang, kembalilah ke Lunika yang dulu. Bukan Lunika yang lebih memilih untuk mengurung diri didalam rumah, karena hanya ingin menjaga cintanya suami." Ucap sang ayah mertua ikut menimpali.
__ADS_1
"Iya Pa, Lunika akan mencobanya sebisa mungkin. Terima kasih atas perhatian dari Mama dan Papa untuk Lunika dan juga Niko, Lunika benar benar sangat beruntung mempunyai seorang Ayah mertua dan Ibu mertua yang begitu baik dan sangat perhatian." Jawab Lunika merasa begitu bahagia dan sangat beruntung mendapat mertua yang kasih sayangnya begitu tulus sama seperti orang tua kandungnya sendiri, pikir Lunika.