
Dengan rasa penasarannya, ibu Ruminah menatap lekat satu persatu pada Aden dan Romi secara bergantian.
"Romi, dimana Lunika? kenapa dia belum juga pulang?" tanya ibu Ruminah dengan penasaran.
Romi yang mendapati pertanyaan dari ibunya Lunika, ia mencoba menarik nafasnya pelan.
"Ibu Rumi, ayo kita masuk kerumah terlebih dahulu. Tidak baik membicarakan sesuatu di depan rumah, setidaknya kita tidak menjadi bahan sorotan tetangga yang lainnya." Ajak ibu Arum mengingatkan, ibu Ruminah sendiri pun mengangguk dan segera masuk kedalam rumah dengan langkah kakinya yang tertatih tatih.
Tidak hanya ibunya Lunika yang menyimpan rasa penasarannya, Aden sendiri menyimpan begitu banyak rasa penasarannya terhadap Lunika dan Zicko sahabatnya sendiri.
'Kenapa Lunika belum juga pulang? benarkah Zicko dan Lunika sudah sah menjadi suami istri? aku harus melakukan sesuatu, aku harus menyingkirkan mobilku agar tidak diketahui oleh siapapun yang tengah memata mataiku.' Batin Aden sambil memutar ota*knya, kemudian segera ia menghubungi seseorang yang dijadikan kaki tangannya.
Tidak menunggu lama, mobil milik Aden sendiri kini sudah tidak terlihat lagi. Perasaan lega tengah menenangkan pikirannya yang sedang berkecamuk tidak karuan.
Sedangkan Zicko masih dalam perjalanannya bersama sang istri dengan posisinya yang masih dipangkuannya.
"Maaf Tuan, kita mau kemana lagi? sedari tadi kita sudah mengelilingi jalanan ini." Tanya pak Yitno yang sudah mulai bosan mengelilingi jalanan hingga kepalanya terasa pening, pikirnya.
"Kita pulang saja, Pak." Jawab Zicko yang masih dengan posisinya memejamkan kedua matanya.
Begitu juga dengan Lunika yang juga fokus menatap luar dengan sejuta lamunan, Lunika terus berpikir akan nasibnya setelah berada di rumah.
Zicko yang merasa cukup ketika berada dipangkuan istrinya, sesekali Zicko membuka kedua matanya dengan pelan. Dilihatnya wajah cantik milik sang istri, Zicko terpesona melihatnya dan juga tersenyum menatap lekat istrinya tanpa Lunika menyadarinya.
__ADS_1
"Rupanya kamu sudah bangun, ayo duduk lah. Aku pun sudah merasa capek, dan aku ingin duduk tanpa beban." Ucap Lunika yang tengah mendapati sang suami membuka kedua matanya.
Zicko hanya tersenyum mendengarnya, sedangkan Lunika sendiri kembali menatap luar dengan lamunannya. Setelah itu, Zicko kembali untuk duduk seperti semula didekat istrinya. Disaat itu juga, Lunika menoleh kearah suaminya.
"Senyum senyum, lagi. Jelek, tau! tidak lucu." Ucap Lunika dengan cemberut
"Terima kasih ya, kamu sudah menyempatkan waktu untukku beristirahat di pangkuanmu. Aku merasa nyaman ketika tidur dipangkuanmu, dan aku merasa kamu tempat yang paling ternyaman setelah ibuku." Jawab Zicko sambil menatap wajah cantik milik istrinya begitu lekat dan dengan reflek, pelan pelan Zicko mendaratkan sebuah ciu*mannya tepat di bibir ranum milik istrinya dengan lembut.
Seketika, Lunika mendadak tercengang dan membelalakan kedua bola matanya serasa tidak percaya seperti mimpi ketika sang suami tengah mengambil ciu*mannya tanpa ada rasa malu pada pak Yitno selaku supirnya. Kemudian, Zicko mengusap bi*bir ranum milik sang istri dengan ibu jarinya.
"Kam! ..." ucapnya seketika terhenti, Zicko lebih dulu membungkam mulut milik istrinya itu dengan telunjuknya hingga Lunika terhenti dari ucapannya sendiri.
"Maaf, aku khilaf. Aku sudah menghapusnya kok, jangan khawatir." Ucap Zicko dengan enteng, kemudian dengan fokus ia menatap kedepan tanpa menoleh kearah istrinya yang tengah menahan terhadap ulah dari suaminya sendiri.
'Ini orang punya hati atau tidak, sih? seenaknya sendiri main nyosor begitu saja. Memangnya, dia kira aku ini perempuan gampangangan, begitu. Benar benar, dia. Dengan entengnya tanpa berdosa, melakukan apapun dengan seenaknya sendiri.' Batin Lunika sambil menunjukkan muka masamnya, Zicko pun kembali menoleh kearah istrinya dan tersenyum.
Setelah dirasa aman, Zicko dan Lunika segera turun dari mobil. Kemudian, keduanya langsung masuk ke dalam rumah. Seketika, Zicko dan Lunika tercengang saat melihat sosok Aden yang tengah duduk didekat ibu Ruminah.
Aden yang masih dikuasai emosinya, ia menatap pada Zicko dengan tatapan penuh kebencian. Ditambah lagi, disebelahnya ada sosok perempuan yang sangat ia sukai. Tanpa pikir panjang, ia langsung bangkit dari posisi duduknya dan mendekati sahabat dekatnya itu.
Dengan jiwanya yang penuh amarah, Aden langsung mencengkram kerah baju milik Zicko dengan tatapan yang begitu be*ngis. Zicko tetap dengan posisinya yang tenang, bahkan sedikitpun tidak melakukan perlawanan.
"Jadi, kamu benar suaminya Lunika? ayo! jawab dengan jujur." Tanya Aden dengan sorot matanya penuh kebencian dan emosinya yang siap meledak.
__ADS_1
Seketika, ibu Ruminah kaget mendengarnya. Dengan sigap, Romi segera menyangganya tubuh ibu Ruminah agar tidak terjatuh begitu saja.
"Iya! aku suaminya Lunika, Puas! kamu." Jawab Zicko dengan suaranya yang meninggi, lalu menyingkirkan kedua tangan milik Aden dengan tenaganya yang kuat hingga lepas begitu saja.
DUAAARR!!!!
seketika, ibu Ruminah terasa tersambar petir disiang bolong tatkala mendengar ucapan dari Zicko yang terdengar begitu jelas dan nyaring.
Begitu juga dengan Aden yang masih serasa tidak percaya dengan jawaban dari sahabatnya sendiri. Disaat itu juga, ketika dirinya mendengar jawaban dari Zicko, Aden langsung mengepalkan kedua tangannya dan melayangkan salah satu tangannya ke arah Zicko.
Dengan sigap, Lunika langsung menangkisnya. Aden sendiri meringis kesakitan dibagian lengannya, kemudian ia mundur satu langkah dari hadapan Lunika.
"Cukup!!" satu kalimat begitu jelas untuk didengar, Lunika dan Zicko maupun Aden segera menoleh kearah sumber suara.
"Ibu," panggil Lunika pada ibunya, kemudian ia melangkah maju kedepan untuk mendekati ibunya.
"Jangan mendekat, jawab pertanyaan ibu terlebih dahulu. Apa benar, kamu sudah menikah dengan seorang laki laki yang kamu akui sebagai Bos kamu itu?? ayo! jawab! dengan jujur." Ucap sang ibu dan melontar sebuah pertanyaan yang membuat Lunika sendiri bingung harus menjelaskannya.
Lunika yang mendapati pertanyaan dari ibunya mendadak lemas dan tidak berdaya, Zicko yang mengerti kondisi istrinya yang sedang tidak baik. Segera ia mendekati istrinya, lalu menggandeng tangannya. Lunika berusaha untuk melepaskannya, namun Zicko semakin mempererat genggamannya.
"Maafkan saya, Bu. Saya telah lancang menikahi anak ibu tanpa meminta restu dari ibu, saya mengaku bersalah. Tolong, jangan benci Lunika. Ini murni kesalahan saya yang meminta Lunika untuk menikah dengan saya, tolong maafkan Lunika." Ucap Zicko berusaha untuk berkata jujur, sedangkan Aden masih merasa kesal bahkan benci dengan sahabatnya sendiri.
"Dengan mudahnya kamu berkata maaf, tanpa kamu pikir perasaan sebagai ibunya yang serasa tidak lagi dianggap. Sekarang juga! kamu pergi dari hadapanku, jangan pernah kamu tunjukkan wajah kamu itu. Satu lagi, ceraikan Lunika secepatnya."
__ADS_1
DUAR!!!
Seketika, Zicko tercengang mendengarnya. Sebuah perceraian yang sudah ia rencanakan sebelum pernikahan, kini ia telah menerimanya tanpa ia harus memutuskannya.