
Tidak terasa waktu pun telah berganti hari demi hari, waktu yang tidak terasa menjalin hubungan selama satu bulan.
Hari hari Zicko disibukkan dengan pekerjaannya yang semakin padat, bahkan ia sudah mulai jarang untuk sekedar mengajak istrinya pergi berlibur. Zicko lebih memilih untuk menikmati hari liburnya hanya di rumah bersama sang istri.
Selain di rumah sangat sepi, juga tidak ada penghuninya selain para pelayan dan dirinya dengan istrinya. Namun, kabar gembira rupanya telah Zicko terima.
Dengan semangat, Zicko memilih untuk bangun pagi pagi. Ia mengajak istrinya walau hanya sekedar jalan jalan pagi di sekitaran jalanan rumah.
Semua yang biasa bertemu Zicko dan Lunika ketika jalan jalan, kini kembali melihat pemandangan yang seperti biasanya. Sapaan yang ramah dengan senyuman yang bikin orang lain adem melihatnya.
"Sayang, hari ini mama dan papa akan pulang. Tidak hanya itu, kakek dan Omma juga akan ikut pulang. Satu lagi, kakek Dana akan ikut pulang juga. Nanti malam, akan ada sebuah pertemuan dan jamuan. Dan untuk kamu, siapkan diri kamu. Jangan pernah gugup, mereka semua baik baik. Tidak ada yang memandang status apapun, mereka mempunyai masa lalu sendiri sendiri. Sama halnya dengan dirimu, jadi ... jangan malu dengan situasi apapun. Semua ditakdirkan sama, tidak ada yang berbeda. Hanya saja, jalan hidup yang dilewati berbeda beda jalan kehidupannya." Ucap Zicko sambil berjalan pulang ke rumah.
"Benarkah kakek dan Omma akan ikut pulang? beruntung sekali kamu, memiliki keluarga yang masih lengkap. Berbeda denganku, tidak ada satupun yang aku miliki dari keluargaku selain ibuku." Jawab Lunika yang tiba tiba merindukan sosok seorang ayah sebagaimana seperti yang lainnya. Bahkan, sampai menikah pun masih memiliki orang tua yang lengkap, pikir Lunisolar dalam lamunannya.
"Jangan dijadikan beban, kamu masih ada kesempatan untuk mencari keberadaan orang tua kamu atau bagian keluarga kamu. Tapi, itu tergantung dari masa lalu kamu. Jika tidak memiliki sebuah bukti yang akurat, maka kamu akan kesulitan untuk membuktikannya." Ucap Zicko, seketika sang istri menoleh kearah suaminya.
"Mencari keberadaan orang tuaku? mana mungkin bisa. Negri ini tidak kecil bagaikan daun kelor, Sayang ... sulit untuk mencari kebenaran. Ibaratnya kita mencari jarum didasar laut, mustahil."
"Lancang sekali kamu berkata mustahil, apa kamu mau bukti?" Zicko semakin tertantang dengan ucapan istrinya. Seakan akan dirinya mendapatkan tantangan baru untuk mencari kebenaran.
__ADS_1
"Bukti? bayangkan saja. Aku sendiri saja tidak mengetahui asal usulku dari mana. Kamu tahu? aku seperti mimpi, bangun bangun usiaku sudah 10 tahun. Bagaimana aku bisa kembali pada mimpiku itu? mustahil, 'kan?"
"Tidak! tidak ada yang mustahil, kamu bukan orang amnesia. Jadi, aku masih mempunyai peluang yang kuat untuk mencari kebenarannya. Papaku contohnya, dua puluh tahun lebih hilang dari keluarga. Tapi kenyataan berkata lain, semua yang tidak mungkin menjadi mungkin. Apa salahnya dengan diri kamu, kenapa mesti tidak yakin? dangkal sekali jika kita pasrah begitu saja tanpa usaha." Ucap Zicko yang tetap bersikukuh untuk mencari kebenaran tentang istrinya.
"Benarkah begitu? maafkan aku, karena aku begitu lemah untuk percaya dengan sesuatu yang bagiku sulit untuk aku cerna." Jawab Lunika, kemudian ia berhenti dijalanan dan duduk serta meluruskan kedua kakinya.
"Ayo bangun lah, ngapain kita duduk dipinggir jalanan. Kita sedang tidak baik baik saja mulai sekarang, banyak yang pasang mata memperhatikan kita serta menangkap pembicaraan kita." Ucap Zicko mengingatkan istrinya.
"Sebenarnya seberapa detailnya sih, orang orang yang mengawasi kita? kenapa kamu selalu mengatakan hal yang sama padaku. Selalu ada orang yang mengintai kita lah, mengikuti kita lah, dan masih banyak lain alasan kamu. Kenapa begitu rumit kehidupan kita ini, seakan kita tidak sedang bebas layaknya burung berterbangan." Tanya Lunika semakin tidak mengerti dengan jalan pikir suaminya itu.
"Karena kamu sangat berharga! semua yang menyukaimu akan bertahan untuk mendapatkan kamu. Begitu juga orang yang membencimu, tanpa belas kasih akan mencelakai kamu serta dengan terang terangan akan meleny*apkan kamu, itu bahasa kasarnya. Seseorang yang sudah dikuasai dengan egonya, apapun tidak ada yang bisa mengendalikan. Hanya kamu sendiri yang melakukannya, yaitu berjaga diri." Jawab Zicko menjelaskan panjang lebar.
Zicko yang melihat istrinya kesulitan untuk berpikir tantang yang dibicarakannya, segera membantu istrinya untuk berdiri dan mengajaknya untuk pulang.
Saat hendak melangkahkan kakinya, tiba tiba terdengar suara ponselnya seperti ada yang memanggilnya. Dengan cepat, Zicko merogoh saku jaketnya untuk mengambil ponselnya.
Setelah berada dalam genggaman tangannya, dilihatnya nama si penelfon, Zicko mendadak tidak percaya melihatnya. Seketika ia mengernyitkan dahinya tatkala membaca kontak penelfon. Kemudian, ia segera menggeser warna hijau untuk menerima panggilannya. Dengan terang terangan, Zicko memperjelas suaranya.
"Hei! kakak pertama yang jelek, cepetan! pulang. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kakak iparku yang cantiknya sebanding denganku. Hei! kakak pertama, apakah kamu tidak mendengarku? ayo lah, cepetan pulang." Zicko mendadak kaget dan menoleh kearah istrinya. Kemudian segera ia mematikan panggilannya.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Lunika penasaran.
"Nanti kamu akan tahu, ayo kita pulang. Mama dan kakek rupanya sudah pulang, benar benar mengerjai ku." Jawab Zicko.
"Katanya kamu tidak mempunyai adik? kenapa tadi memanggilmu dengan sebutan kakak pertama?" tanya Lunika yang masih penasaran.
"Anaknya paman Viko dan tante Adelyn, adiknya papa sekaligus saudara kembarnya. Ah, nanti kamu akan tahu sendiri. Ayo kita pulang, mereka pasti sudah menunggu kita." Jawab Zicko dan keduanya segera pulang.
'Pasti sangat ramai di rumah, bagaimana ini? apa aku bisa beradaptasi dengan keluarganya? apa yang harus aku jawab jika mereka semua bertanya tentang keluargaku? aaah! kenapa aku mendadak menjadi gugup? sungguh, aku sangat takut.' Batin Lunika yang berkecamuk dalam pikirannya.
Tidak lama kemudian, Zicko dan Lunika telah sampai di rumah. Detak jantung Lunika berdegup sangat kencang, pikirannya semakin tidak karuan. Ia terus memikirkan sesuatu yang buruk akan menimpa dirinya. Berkali kali Lunika mengatur pernapasannya, berharap ia tetap terlihat tenang. Pikirannya tidak lagi panik dan gelisah.
"Kakek, Omma... kakek Dana, apa kabarnya?" sapa Zicko dengan ramah dan mencium tangan secara bergantian. Begitu juga dengan Lunika ikut bergantian dengan suaminya.
"Kabar kami semua baik baik juga, cucuku? oh iya, ini istri kamu, 'kan? sangat cantik. Dan kalian berdua apa kabarnya? siapa nama kamu, Nak?" Jawab Omma Zeil dan bertanya pada Lunika.
"Lunika, Omma." Jawab Lunika dengan malu.
"Nama yang cantik seperti orangnya, ayo ikut Omma. Kalian berdua pasti belum sarapan pagi, 'kan?"
__ADS_1
"Kakak iparku? benar kah? cantik banget ... aku kalah telak deh." Seru gadis cantik yang tiba tiba sudah berada dihadapan Lunika.